
Ia adalah untaian permata yang bercahaya di tengah jalan kegelapan menuju neraka...
Dan seseorang menemukannya. Apakah ia akan bersinar layaknya permata. Atau malah mati dan menimbulkan suatu dilema?
Ia adalah Ia. Ia adalah Sang Tanpa Nama.
(disclaimer)
Mario Joni adalah seorang polisi. Polisi adalah pembela kebenaran yang harus melawan kebathilan. Segala macam kebathilan. Karenanya penjahat level kakap seperti The Night Spider saja takkan menggetarkannya.
Penjahat yang sangat ia benci harus segera disingkirkan. Namun, tak semudah itu. Suatu malam di perjalanan pulangnya dari aktivitas membela kebenaran. Suatu hal mengusiknya. Suatu hal yang tergeletak di tengah jalan yang dingin dan berdebu.
çóè
Klevin Joni adalah putra Mario Joni yang seorang polisi. Ia gelisah menunggu di rumah. Ayah yang tak kunjung pulang. Ia ingin menjadi orang pertama yang mengetahui alasan ayahnya pulang terlambat. Mengingkari janji untuk membacakan dongeng sebelum tidur.
Waktu telah beranjak pagi. Klevin Joni belum menyerah dalam penantiannya. Ia akan marah pada ayahnya. Tak peduli alasan apa pun yang ia bawa.
Pintu terbuka. Mario mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Ia ingin menunjukkan hadiah yang ia bawa sampai harus pulang terlambat. Senyum Klevin mengempis. Di sisi ayahnya tampak anak yang sepantaran dengannya. Mata kanan dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban. Mata kirinya menyorot tajam bagai binatang buas. Ia pikir, apakah ayahnya terlambat karena memungut sampah atau semacam binatang ini? Di mata Klevin, anak yang berdiri di sisi ayahnya hanyalah sampah hidup. Rupanya seperti sampah. Matanya seperti binatang.
__ADS_1
Rendah.
Hina dina.
Jelek!
"Klevin selalu sendiri. Nggak apa-apa ya kalau mulai saat ini Masanton jadi bagian dari kita. Jadi adiknya Klevin," ujar Mario lembut.
Klevin melihat Masanton bengis. Tak bisa membayangkan harus tinggal serumah dengan sampah sepertinya. Apalagi sampai menganggap saudara. Bisa-bisa ia terjangkit virus korona akut sampai menghirup udara yang sama dengan makhluk menjijikkan itu.
Are you kidding me, Daddy?
"Saya lebih ingin jadi pelayan di rumah ini," kata Masanton datar tanpa intonasi.
Klevin tersenyum puas. Disilangkan kedua tangannya di dada. "Untung sadar diri. Kamu memang lebih cocok sama tumpukan sampah! Dasar binatang! Punya peliharaan kayak kamu pun aku gak bakal mau!" teriak Klevin.
Plaak!!! Tamparan Mario mendarat "mulus" di pipi putranya yang masih berusia sembilan tahun. Klevin sangat terkejut.
Belum pernah Mario segeram ini pada putranya. Ia ingin memukul lagi. "Dasar anak manja!" teriak Mario.
Masanton memeluk kaki Mario. "Jangan sakiti anak Bapak!"
__ADS_1
Mario menenggak ludah. Termenung akan ucapan Masanton. Masanton menghampiri Klevin. Mengulurkan perdamaian. Klevin berlari cepat kembali ke kamarnya dengan tatapan permusuhan level kerajaan.
Anak itu melanjutkan ceritanya pada Mario. Ia bukan seorang gepeng. Sebelumnya ia tinggal di bangunan yang lebih besar dan mewah ketimbang kediaman Mario. Masalahnya hanya ia tak bisa mengingat sedikit pun tentang itu semua. Masanton bersaksi bahwa selama ini ia hidup di antara makhluk yang menyebut dirinya manusia. Namun, mereka semua jahat. Perasaannya mengatakan pertemuan dengan Mario adalah kebaikan "manusia" pertama dalam hidupnya.
Mario tak habis pikir. Ada apa dengan anak ini sebenarnya. Wajahnya tak menunjukkan sesirat pun ekspresi. Hanya dingin dan kehampaan yang terasa diantara wajah yang dipenuhi bekas luka. Seolah menyampaikan petualangan panjang yang pedih. Dan hitam.
Apa yang terjadi padanya?
Siapakah ia sebenarnya?
"Masanton. Nama saya... Masanton."
(disclaimer)
Hari itu Klevin dipaksa keluar dari zona nyamannya. Zona nyaman sebagai satu-satunya putra Mario.
Ataukah terdapat rahasia lain di balik itu? Apa yang akan ia hadapi selanjutnya?
Penderitaan... Kesusahan... Nestapa juga bagian dari agenda Sang Kuasa.
__ADS_1
Dapatkah ia bertahan?
Ikuti terus ceritanya! Jangan lupa share comment and like 👍 see you on my next chapter. Love you guys ٩(♡ε♡ )۶