Akhir Sebuah Cerita

Akhir Sebuah Cerita
Akhir Sebuh Cerita - Sepuluh


__ADS_3

"Nggghh." lenguh seorang wanita. Matanya mengerjab pelan untuk menerima cahaya yang masuk ke mata. Dapat melihat dengan jelas, ia memperhatikan sekitar ruangan. Semua serba putih. Suaminya tertidur dengan kepala diatas ranjang dengan posisi duduk di kursi.


"Sayang." lirihnya, ia merasa tenggorokannya kering. Tangannya bergerak menyentuh rambut sang suami.


Merasa terusik, Fredo bangun dari tidurnya. Sesaat ia Meliuk-liukkan tubuhnya, ia merasa pegal karna tidur dalam posisi duduk. Ia pun tidak menyadari jika orang yang ditungguinya sudah sadar.


"Sayang" mendengar suara yang sangat dikenalinya, tubuh Fredo seakan kaku ditempat. Secara perlahan ia menolehkan kepalanya. Terlihat oleh netranya, wajah pucat sang istri.


"Fellice kau sudah sadar?"


"Kita dimana?" tanya balik Fellice tanpa menjawab pertanyaan Fredo. "Apa ini rumah sakit?" tanyanya sekali lagi saat secara tidak sengaja melihat infus tertancap ditangannya.


"Y-ya." gugup Fredo. Sejujurnya ada yang ia takutkan sekarang.


Kegugupan Fredo semakin besar saat melihat tangan Fellice menuju perutnya sendiri.


"Sayang, dimana anak kita? Apa sudah lahir? Perutku rata?"


Inilah pertanyaan yang tidak ingin Fredo dengar dari mulut Fellice.


"Tapi tidak mungkin jika aku sudah melahirkan. Aku baru mengandung 4 bulan." Fellice menatap Fredo yang setia mengatupkan bibirnya.


"Katakan apa yang terjadi? Kenapa kau diam saja!" teriak Fellice pada suaminya, ia geram karena Fredo tak kunjung berbicara. Tidak memberinya jawaban apapun.


Fredomenutup matanya. Sejujurnya ia tak sanggup mengatakan ini pada sang istri. Fellice pasti sangat terpukul bahkan kini air matanya meleleh saat dirinya belum mengatakan apa-apa. Bagaimana kalau tahu, anak yang selama ini di idam-idamkan sudah tiada. Dan tidak akan pernah ada untuk yang berikutnya.


Namun, siap tidak siap, ia harus mengatakannya. "Kau keguguran, Fellice."


"Aa-pa??" ucap Fellice pelan. "Jangan berbohong Fred! Kau pasti bercandakan?" air mata Fellice pecah, berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. Tidak percaya. Sampai-sampai tidak ada lagi kata sayang dari mulutnya. 'Sayang' panggilan untuk sang suami.


"Semua itu benar, kecelakaan yang kau hadapi membuat kita kehilangan bayi kita. Kau harus menerimanya Fellice. Aku bersamamu, kau tidak sendiri." Fredo memeluk Fellice yang sudah terduduk diatas ranjang. Dalam diam ia ikut meneteskan airmata begitu melihat istrinya menangis lebih deras dari sebelumnya. Kondisinya kacau.

__ADS_1


"Ke-ce-lakaan"


*Fellice merasa bosan berada dirumah sendirian. Ia ingin jalan-jalan. Dalam keadaan hamil membuat suaminya melarang ini itu terutama mengendarai mobil sendiri.


Tapi kali ini sungguh Fellice ingin mengendarai mobil sendiri dan pergi ke toko kue. Mungkin ini keinginan sang jabang bayi.


Tidak mengindahkan larangan suami, Fellice mengendarai mobilnya menuju toko kue.


Sampai dihalaman parkir, Fellice memarkirkan mobilnya kemudian melangkah masuk kedalam toko kue langganan.


"Selamat datang di toko kue kami nyonya. Apa yang anda inginkan?" berdiri didepan etalase kue yang memperlihatkan berbagai macam kue yang sepertinya sangat enak.


Mata Fellice berbinar menatap kue-kue tersebut, berasa ingin membeli semuanya. Tapi sayang, calon anaknya saat ini hanya ingin kue red velvet.


"Satu kue red velvet, dibungkus."


"Baik, tunggu sebentar nyonya."


10 menit menunggu. Penjaga toko kue kembali dengan bungkusan ditangannyan lalu menyerahkan pada Fellice seraya mengucapkan nominal harga yang harus Fellice bayar.


"Jalan-jalan sebentar tidak buruk." gumamnya.


Fellice pun memilih jalan memutar dari rumahnya yang paling jauh agar sampai rumahnya lama.


Memutar musik kesukaannya, volume lumayan keras, seraya ikut bersenandung.


Dilain sisi sebuah truk melaju kencang. Ini bukan kesengajaan sang supir melainkan remnya blong, tidak bisa dikendalikan. Mau berhenti susah. Sang supir melalui jendela, berteriak meminta para pengendara dan pejalan kaki menghindar.


Braakkk


Namun naas, Fellice yang tidak mendengar teriakan sang supir akhirnya tertabrak. Tabrakan itu cukup keras. Mobil Fellice oleng, berguling kemudian menabrak sebuah toko dalam posisi kebalik. Truk itu sendiri masih terus melaju dan berhenti saat menabrak patung besar yang berada dibundaran jalan. Kecelakaan ini membuat lalu lintas jadi kacau. Macet dimana-mana*.

__ADS_1


"Aahhkkk." Fellice histeris mengingat kejadian yang dialaminya bahkan ia sama sekali tidak merasakan sakit waktu itu. "Aku tidak mau kehilangan anakku, aku mau anakku."


Dalam pelukan sang suami, Fellice terus memberontak.


"Tenanglah Fellice, tenang."


"Anakku, aku mau anakku!"


"Anakkuuuu!"


"Tenanglah Fellice, kita bisa mengadopsi anak kalau kau mau. Kau harus tenang!" bentak Fredo perasaannya campur aduk sekarang.


Fellice diam, ia terpaku. Mendongak menatap wajah Bert. "Apa maksudmu dengan mengadopsi anak? Katakan apa maksudmu? Aku masih bisa hamil Fredo, kau tahu itu. Kenapa kata adopsi keluar dari mulutmu?" tanya Fellice, tidak hanya satu pertanyaan. Tapi bertubi-tubi.


"Sial kau salah bicara Fredo bodoh! Kau keceplosan." maki Fredo pada dirinya sendiri. Tubuhnya terasa lemas, tak mampu lagi berdiri. Ia pun melepas pelukannya pada Fellice dan duduk dikursi. Menundukkan kepalanya membiarkan setetes demi setetes airmata keluar.


"Demi Tuhan, bicaralah Fredo. Jangan diam." lirih Fellice disertai isakan tangis.


"Kita tidak punya harapan lagi memiliki anak Fellice.." sejenak Fredo terdiam, mengumpulkan kekuatan dan menstabilkan suaranya "..rahimmu..Harus diangkat untuk menyelamatkan nyawamu."


***


Fredo memandang wajah istrinya. Tidur terlelap karena suntikan obat penenang. Setelah mengetahui fakta tadi, Fellice langsung berang, tak terima. Barang-barang yang berada didekatnya, dilempar kesegala arah.


Ia sudah berusaha menenangkan Fellice. Walau berakhir sia-sia. Keputusan terakhir memanggil dokter. Kemudian atas bantuan suster, dokter menyuntikan obat penenang dilengan Fellice dengan susah payah. Butuh sekitar empat orang suster, yang di beri tugas oleh dokter untuk memegangi Fellice yang tidak berhenti berontak. Bahkan tadi, salah satu suster menjadi korban dari Fellice. Di lempar dengan ponsel tepat di dahinya. Tidak berdarah, tapi membiru.


Fredo tidak menyangka kehidupannya akan seperti ini. Keluarga kecil yang ia idamkan, pupus sudah. Namun ia harus bisa menerimanya, Semua itu adalah kehendak Tuhan bukan?


Orang tua serta mertuanya pun dengan berat hati menerima keadaan ini. Fredo telah menceritakan hal penting tersebut ketika mereka semua tiba dirumah sakit usai dari bandara.


Fredo meyakini satu hal. Kejadian ini pasti tak luput dari kesalahannya atau Fellice di masa lalu. Mungkinkah ini sebuah karma? Tapi apa? Sebesar apa kesalahan serta dosanya hingga ia dan Fellice harus menanggung semua ini. Oh God!

__ADS_1


Akankah seumur hidupnya, ia tidak akan pernah menggendong buah hatinya sendiri? belajar dan bermain dengan anak kandungnya sendiri? Apa nantinya, ia tidak akan tahu rasanya di panggil 'Papa' saat pertama kali anak bisa berbicara? Jawaban dari semua itu adalah Iya. Karena dirinya tidak ingin meninggalkan Fellice ataupun mengkhianati istrinya. Istrinya menjadi seperti ini akibat dari kesalahannya juga. Kelalaiannya karena tidak bisa menjaga sang istri dan calon anaknya dengan baik. Dan yang pasti, ia tidak akan membiarkan Fellice menderita sendirian.


Itu Janjinya.


__ADS_2