
Cerys duduk didalam mobil tepatnya dikursi pengemudi setelah ia berbelanja bahan makanan bulanan, kemudian Cerys melajukan mobilnya pergi ke suatu tempat. Tempat yang sangat berarti untuknya. Berbagai macam kenangan tersimpan ditempat itu.
Bangunannya masih kokoh, halaman depan asri dengan rumput hijau serta berbagai tanaman disana. Tempat yang sangat bagus namun tak berpenghuni. Dari luar terlihat suram dan sepi, meski terawat oleh penjaga yang ia minta datang seminggu sekali untuk bersih-bersih. Tempat yang sempat di jual, namun ia tebus kembali.
Tempat itu.. Rumah. Rumah yang ia tinggalkan 17 tahun lalu. Saksi bisu kenangan masa kecilnya hingga umur 16 tahun. Setelahnya ia tidak memiliki hak lagi berada disana.
"*Mom, Dad.. Cerys pulang." teriak bocah kecil 7 tahun-an masuk kedalam rumah setelah pulang dari sekolah.
"Cerys.. Kau sudah pulang. Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya wanita paruh baya, yang sedang menyiapkan makan siang didapur.
"Baik Mom. Sangat menyenangkan sekali. Aku belmain belsama empat temanku lainnya. Eva, Fellice, dan Glyta." cerita bocah itu antusias. "Oh, ya Mom dimana Dad?"
"belum pulang, Sebentar lagi pasti Daddy pulang, tunggu saja yaa."
Sang bocah mengangguk. Kemudian berlari kekamarnya. Mandi dan berganti baju rumahan.
"Cerys, Dad pulang." mendengar suara yang sangat ia tunggu, sang bocah bergegas berganti baju. Berlari kecil menuruni tangga.
"Daddy!" teriaknya lalu berhambur ke pelukan pria yang dipanggilnya Daddy itu.
"Tebak, apa yang Daddy bawa untukmu?"
Mata bulat bocah itu bersinar "apa? Hmm coklat, boneka, pita. Kenapa Dad menggeleng telus, apa yang Daddy bawa?"
Pria paruh baya itu tersenyum samar, mengambil sesuatu didalam tas kerjanya. Kemudian Menunjukan tiga buah kertas. Sang bocah, mengerut bingung.
"Besok kita bertiga akan berlibur ketaman bermain."
"Benarkah?"
"Iya."
"Yeeyyy, Mom kita akan liburan. Makasih Dad, Cerys senang." teriaknya riang gembira seraya memanggil sang ibu guna memberitahukan berita bahagia dari ayahnya.
"Mommy juga senang." wanita paruh baya itu menghampiri anak dan suaminya. Memeluk keduanya, penuh kasih sayang.
"Cerys sayang Mom and Dad*"
Air mata terus mengalir melewati pipi Cerys. Bayangan indah masa kecil menghampiri dirinya, setiap kali menatap rumah besar itu.
Rasa rindu penuh sesak, ia rasakan terhadap kedua orang tuanya. dua orang yang telah membesarkannya penuh kasih sayang, harus menelan kekecewaan akan tingkah laku bodohnya. Sungguh Cerys sendiri merasa sangat bersalah dan menyesal.
Keluar dari mobil, melangkah perlahan menuju rumah itu kemudian berdiri termenung didepan gerbang.
"Mom, Dad kalian dimana?, Cerys sangat merindukan kalian." Cerys menunduk, ia terisak menangis seorang diri.
"Maafkan Cerys Mom, Dad. Maaf telah menjadi anak yang memalukan bagi keluarga, anak yang tak berguna dan bodoh."
"Aku ingin bertemu kalian walau hanya sekejap saja. Melihat kalian dari jauh, tak apa. Kembalilah.."
"Tunjukan dimana orang tuaku berada Tuhan."
Sebulan setelah pengusiran oleh orang tuanya, Cerys selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung. Walau hanya melihat dari jauh.
Sebulan, dua bulan ia masih bisa melihat orang tuanya tapi dibulan ketiga orang tuanya menghilang tanpa jejak dan kabar. Bagai hilang ditelan bumi. Saat itu pula kehidupan Cerys semakin hancur dan kacau ditengah kehamilannya. Beruntung kandungannya kuat sehingga tidak berakibat apapun kecuali tubuhnya yang semakin kurus.
Layaknya orang hamil yang akan semakin gemuk, ia malah semakin kurus. Setelahnya Angelina yang berprofesi sebagai dokter dan menjadi ibu angkatnya. Memaksanya untuk perduli dengan kesehatan, perduli pada anak dikandungannya.
Angelina bertemu dengan Cerys, saat hujan deras mengguyur . Cerys pingsan ditengah jalan. Tidak ada satu orang pun yang menolong. Karena memang hari menunjukkan dini hari, membuat keadaan jalanan sepi.
__ADS_1
Pekerjaan sebagai dokter, mengharuskan Angelina pulang malam, dini hari maupun pagi. Dan waktu itu, ia melihat Cerys pingsan di halte, tanpa pikir panjang Angelina membawa Cerys kerumahnya. Kebetulan ia tinggal sendiri. Suaminya telah meninggal dan juga ia tidak memiliki anak.
Angelina orang yang berjasa besar bagi Cerys. Ia dibesarkan dan dirawat bahkan disekolahkan oleh Angelina. Jasa yang tak akan pernah ia lupakan. Angelina, ibu keduanya. Sangat berarti melebihi apapun.
"Mom, Dad bagaimana kabar kalian? Sehat terus, jangan pernah sakit. Temui aku dalam keadaan sehat." lirih Cerys sambil bersimpuh didepan gerbang rumahnya.
"Aku ingin memeluk kalian, aku membutuhkan kalian di setiap langkahku. Peluk aku, tuntun aku melewati semua ini. Beri aku kesempatan. Maafkan aku. Mom, Dad kalian dimana?" tangis Cerys tumpah ruah. rindunya semakin besar dan dalam. Ia hanya berharap bisa segera menemukan kedua orang tuanya.
***
Puas menumpahkan kesedihan yang tidak pernah bisa Cerys tunjukkan dihadapan siapapun itu, ia beranjak untuk pulang dan pergi kerumah sakit. Sebelum..
"Hai, lama tak bertemu."
Menolehkan kepalanya kebelakang, seketika ia terkejut. "Kau..."
"Kebetulan aku lewat disini dan melihatmu . Sebetulnya aku malas bertemu denganmu tapii cukup menarik jika kita berbincang-bincang layaknya teman lama."
Kernyitan tercipta didahi lebar Cerys "Aku tak punya banyak waktu, cepat ucapkan apa maumu?"
"Oh oke, kau masih saja ketus sama seperti dulu." lawan bicara Cerys terkekeh "Aku hanya penasaran, bagaimana rasanya kau kehilangan teman-temanmu?"
Cerys terdiam, enggan menanggapi.
"Pasti sangat menyakitkan bukan. Dibenci dan dituduh. Ck malang sekali nasibmu.."
"Tutup mulutmu Audy." yaps lawan bicara Cerys adalah Audy.
"..Padahal itu bukan kesalahanmu. Pembelaanmu percuma, mereka sudah tidak mempercayaimu lagi." Audy tidak memperdulikan ucapan Cerys malah terus berbicara.
"Itulah akibatnya, kau berurusan denganku."
"Jangan bilang ka.."
"Kau benar, aku lah dalang dari jatuhnya teman-temanmu kesungai." Audy menyeringai licik. "Mudah untukku, tinggal memakai pakaian yang kau kenakan hari itu serta memakai wig sesuai rambutmu, aku pintar kan? Lalu mendorong mereka kemudian berbalik pergi. Mereka cukup mengenali dirimu, menuduhmu, tidak mempercayaimu. Dan itu cukup membuktikan jika mereka bodoh dan mudah ditipu."
"Kau brengsek Audy." desis Cerys tajam "Kau akan mendapatkan balasannya untuk itu."
"Apa? Kau akan melapor pada teman-temanmu? Ah, bukan. Mantan temanmu maksudku. Mereka tidak akan percaya padamu meski kau berbicara sampai tenggorokanmu kering sekalipun. Jadi semuanya percuma saja."
Sejenak Cerys terdiam berusaha mengendalikan amarahnya.
"Mungkin kau benar Audy tapi ingatlah kebusukan akan selalu terungkap bagaimana pun caranya tanpa aku sendiri yang mengungkapkannya. Dan sekarang lebih baik kau pergi dari sini. Pergi!!"
"Aku tidak perduli.yang pasti aku bahagia. Tujuanku selama ini tidak sia-sia. Kalian semua..Hancur."
Senyum mengejek Audy berikan untuk Cerys sambil berlalu pergi. Sedangkan Cerys, ia berusaha mengendalikan dirinya agar amarahnya tidak meledak. Karna marah pada orang yang hatinya telah menghitam itu percuma. Apalagi jika pikiran orang itu hanya memikirkan kepentingan dunia, ya percuma saja.
Seseorang yang tengah bersembunyi didalam mobil tak jauh dari sana diam mematung. Menatap nanar dua wanita yang dikenalinya. Hatinya teriris sakit setelah mengetahui sebuah fakta, sebuah kebenaran.
Ia bergegas turun dari mobil setelah satu dari dua wanita itu pergi..
"Cerys."
***
Taman dekat kompleks perumahan tidak terlalu ramai. Hanya ada anak-anak kecil, asyik bermain bersama teman-temannya.
Disinilah 2 orang wanita, memilih tempat untuk berbicara secara empat mata. Duduk dikursi dibawah pohon rindang. Pandangan mata mereka sama-sama menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Semua yang aku dengar, apa itu benar?"
Cerys tersenyum lemah seraya menganggukkan kepalanya, "Iya, Gryta."
Gryta menumpukan kedua sikunya diatas paha sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar, ia menangis.
"Maafkan aku Gryta."
Mendengar penuturan Cerys, Gryta membalikkan tubuhnya menatap temannya yang sudah lama ia tinggalkan itu. Kemudian ia menggenggam tangan Cerys erat.
"Tidak Cerys, kau tidak salah. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku sudah menuduh dirimu yang tidak benar bahkan tidak kau lakukan. Mulutku begitu tajam waktu itu untuk menghinamu."
Cerys berbalik menggenggam tangan Gryta. Posisi mereka kini saling menghadap.
"Jangan katakan apapun Gryta. Aku sudah berusaha melupakannya. Dan diantara kita hanya ada kesalah pahaman. Semua bisa diperbaiki." sebelah tangan Cerys digunakan untuk menghapus air mata Gryta.
"Mau memelukku?" tawar Cerys. Gryta mengangguk. Mengiyakan.
"Gryta, maukah kau berjanji padaku?" tanya Cerys, menyudahi acara pelukannya.
"Apa?"
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan kebenaran ini pada siapapun."
"Tapi Cerys.."
"Aku mohon, berjanjilah Gryta." mohon Cerys.
Gryta diam beberapa menit, mencoba berfikir sebelum memutuskan yang terbaik dari yang paling baik.
"Baiklah. Tapi katakan padaku, sebuah alasan."
Cerys melihat kearah jam tangannya,ia langsung beranjak dari duduknya ketika waktu yang ia punya untuk kembali kerumah meletakkan belanjaan dan berangkatkerumah sakit semakin sempit, ia harus bergegas pergi jika tidak ingin telat, "Aku akan menceritakannya dilain waktu. Aku harus pergi. Nanti malam berkunjunglah kerumahku. Ini kartu nama milikku. Tertera nomor ponsel dan alamat rumahku disana."
"Oke." balas Gryta dengan berat hati membiarkan Cerys pergi.
Sejujurnya didalam hati Cerys, tidak sekalipun terbesit niatan balas dendam pada teman-temannya. Tidak ada sakit hati atau perasaan lain yang berkaitan dengan hal-hal menyakitkan.
Persahabatan mereka tulus. Ini hanya sebuah kesalah pahaman yang perlu diluruskan bukan diperumit.
"Selamat datang dokter Cerys." sapa resepsionis pada Cerys yang baru saja datang kerumah sakit.
"Terima kasih." balas Cerys disertai senyuman ramah. Ia menghampiri meja resepsionis untuk absen kedatangannya. Dahinya mengernyit saat telinganya tanpa sengaja mendengar keributan.
"Kenapa terdengar keributan dirumah sakit ini, apa terjadi sesuatu?"
"Anda tahu dokter, pasien yang mengalami kecelakaan kemarin, aku rasa ia mengalami depresi karena harus kehilangan bayinya dan juga sebagai seorang wanita, hartanya yang berharga diambil, itu sangat menyakitkan. Ia tidak akan bisa menjadi seperti wanita normal lainnya. Aku turut berduka."
Cerys terdiam, kedua tangannya mengepal. Ia mengerti siapa orang yang dimaksud, Fellice. Temannya. Rasanya ia ingin menangis sekarang.
"Semenjak mengetahui kenyataan itu keadaannya memburuk. Menolak siapapun yang datang menemuinya termasuk dokter dan suaminya sendiri. Melempari semua orang dengan barang-barang diruang rawatnya. Tidak mau makan juga. Keluarganya berusaha membujuk tapi tidak ada satupun yang berhasil dokter."
Setetes air mata keluar dari sudut mata Cerys. Ia ikut merasakan penderitaan yang dialami Fellice.
"Terima kasih atas informasinya, selamat bekerja untukmu."
"Sama-sama dokter, selamat bekerja untuk anda juga."
Cerys meninggalkan resepsionis, ia tengah berpikir. Satu cara untuk menyelamatkan sahabatnya Fellice sebelum mengalami Depresi yang lebih parah dari ini.
__ADS_1