
Kennandra memasuki sebuah caffe dekat dengan sekolahnya. Seharian ini banyak aktivitas yang telah ia lakukan, salah satunya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sampai sore hari begini. Sekarang waktunya menyegarkan tenggorokannya dan mengganjal perut.
Walau dikenal pintar sekaligus jenius, ia tetap saja manusia bukan. Butuh minum dan makan, saat lelah menjerat.
Brukkk..
Karena tak fokus, Ken menabrak sesorang. Membuat kopi hitam yang dibawah orang itu tumpah mengenai baju sang pemilik kopi.
"Maafkan aku tu..an." Ken mendongak, melihat dengan siapa ia bertabrakan. Matanya menatap kaget orang itu. "Tuan Kendrick." jujur saja lidahnya kelu, mengucapkan kata tersebut. Padahal ia tahu betul siapa orang yang tengah berdiri dihadapannya kini. Aarav Kendrick. Ayah kandungnya.
"Hmm."
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku akan mengganti minumanmu" Ken membungkuk 90 derajat dihadapan orang tersebut. Memohon maaf.
"Aa, tegakkan tubuhmu. Tak apa. Panggil namaku saja" Ucap Aarav.
Senyum merekah dibibir Ken. "Tidak Tuan Ken.. Maaf maksudku paman Aarav. Kali ini biarkan aku mentraktirmu, bolehkah?"
Sejenak Aarav berfikir kemudian mengangguk. Menerima ajakan Ken.
Pesanan mereka tiba. Ken dan Aarav menganggukkan kepalanya pada pelayan caffe. Bentuk ucapan terima kasih.
"Paman kenapa berada disini?" tanya Ken untuk memecah suasana yang sempat hening.
"Aku baru saja bertemu orang lalu mampir kemari."
"Paman sering kesini?"
Aarav menggeleng, "Dulu, sewaktu sekolah sekarang tidak lagi. Mungkin sesekali."
Ken mengangguk, tak tau mau bertanya apa. Lagi-lagi hening tercipta. Aarav sendiri sibuk dengan macbook nya. Tidak ada waktu tanpa bekerja, kecuali saat malam hari.
'Benar kata Mama, ternyata memang sifatnya sama dengan Rein. Kalau Rein disini bersamanya, sampai kiamat mungkin mereka akan saling diam, beruntung sifatku seperti Mama. Setidaknya aku bisa duduk semeja dengannya, harapan kecilku untuk makan bersamanya terwujud sekarang' batin Ken sembari memperhatikan Aaravs secara intens.
"Kau sendiri sedang apa disini?" bunyi benturan antara meja dan macbook milik Aarav terdengar. Pria itu meletakkan macbook nya diatas meja. Berganti mengambil kopi hitam yang beberapa menit lalu didiamkan, Aarav minum sebelum dingin atau kenikmatannya akan hilang nanti.
"Aku baru saja pulang sekolah kemudian mampir kemari. Aku lapar." ucap Ken seraya memakan spaghetti kesukaannya. Sempat terkejut, mendengar Aarav bertanya padanya. Mungkin sadar jika di perhatikan olehnya sedari tadi.
"Umur 16 tahun, kelas... dua?" Aarav bertanya sedikit ragu.
"Ya, paman dulu sekolah disana juga?" harusnya tidak perlu di pertanyakan, ia sudah tahu jika orangtuanya bersekolah di tempat ia menuntut ilmu sekarang. Ibunya pernah menceritakan padanya.
Aarav mengangguk kecil, "Ya. Jurusan apa?"
"IPS, Paman. Paman tahu, ada dua guru disana sangat menyeramkan. Aku heran kenapa mereka seperti itu, apa dirumah sikap mereka juga sama?" tiba-tiba saja Ken bercerita sangat antusias, entah kenapa anak ini menjadi sangat antusias. Mungkin untuk pertama kalinya, orang yang sudah ia ketahui sebagai ayah kandungnya, bertanya tentang sekolahnya, biasanya hanya Mamanya saja. Hal yang sejujurnya ia inginkan dari dulu, dari ia tahu jika Austin bukanlah ayah kandungnya tapi Aarav.
__ADS_1
Senyum samar terukir diwajah Aarav. Hatinya menghangat, melihat orang didepannya ini begitu terbuka padanya yang notabennya hanya orang baru di ketahuinya. Meski begitu ia tidak keberatan, ia suka, sangat nyaman. Terhitung pertemuan mereka baru dua kali. Padahal biasanya dengan orang baru, ia akan acuh tapi kali ini..terasa berbeda.
"...bagaimana kalau mereka berdua menikah, pasti anak-anak mereka kabur karena tak tahan dengan sikap orang tuanya. Terlalu menderita dan tersiksa batin. Aku saja sebagai muridnya merasa tertekan."
"Pasti yang kau maksud Bapak Osmar dan Ibu Gween."
"Kau benar Paman. Paman pernah di ajar olehnya?"
"Ya, Pernah jadi sasaran kemarahan mereka juga"
"kenapa? paman nakal ya?"
Aarav terdiam menatap kopinya, kemudian bergumam pelan, "kenakalan remaja."
"kenakalan remaja seperti apa, Paman?"
"Jangan sepertiku"
"kenapa?"
"Jangan sampai menyakiti perempuan. Membuatnya menangis. Kau akan terbayang air mata dan wajah sedihnya seumur hidupmu. "
"Maksud paman, Penyesalan?"
Aarav mendongak, sepasang matanya bertabrakan dengan mata Ken. "Ya. Kalau dia pergi maaf mu tidak akan tersampaikan, yang ada tertinggal rasa malu saat kau bertemu dengannya kembali"
Suasana hening dan canggung mereka hilang. Tergantikan suasana hangat. Obrolan dari Ken lebih dominan. Menceritakan tentang kampusnya beserta kegiatannya selama di Sekolahnya hari ini, Aarav mendengarnya sesekali menanggapi cerita Ken.
Bahagia itu sederhana. Walau Aarav tidak mengetahui siapa sebenarnya Ken, tapi Ken bahagia. Ia bahagia, sangat bahagia hari ini.
***
Ken memasuki rumahnya dengan wajah yang sangat cerah secerah matahari. Seolah tak mengizinkan matahari kembali keperaduannya padahal hari akan menjelang sore.
Memasuki ruang keluarga sebelum menaiki tangga menuju kamarnya, matanya tak sengaja menangkap kepala Rein duduk disofa membelakanginya.
Senyum Ken semakin lebar, tidak jadi menaiki tangga. Ia menuju si yang sangat dikenalinya itu.
"Yo,adikku sayang."
Disana adik beda lima menitnya, duduk disofa tunggal sambil memangku laptop.
"Hei, adik durhaka. Kenapa kau diam saja?!" Ken kesal adiknya tidak menjawab sapaannya. Ia bersendekap setelah menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang secara kasar.
"Hn."
__ADS_1
"Cih, sama saja." ingat sesuatu, Ken menyeringai jahil menatap adiknya. Ia memiliki cara untuk menarik perhatian Rein "Hei, kau tahu adik. Sepulang dari sekolah tadi, aku bertemu dengannya.." yapz, berasil. Rein melirik dirinya walau hanya sesaat. Itu berarti sang adik tertarik mendengar ceritanya.
"...aku tak sengaja menabraknya, membuat kopinya tumpah. Lalu aku beinisiatif mentraktirnya dan tara kita makan bersama sambil mengobrol. Ya.. Meski lebih dominan aku yang berbicara, sifatnya sama sepertimu. Sok dingin, sok irit kata, sok cool.."
Delikan tajam Rein berikan untuk Ken, tapi Ken tetap biasa saja dan malah terkekeh.
"Apa? Itu benar sikapmu kan? Aku tidak sa..."
Brukk..
Lemparan bantal sofa mendarat mulus diwajah tampan milik Ken sehingga membuatnya berhenti berbicara secara paksa.
"Kau..."
Perang lemparan bantal sofa pun terjadi dan tak terkendalikan. Sesekali kata mengejek keluar dari mulut mereka. Mengejek satu sama lain.
"Stooppp!"
Teriakan melengking seorang wanita, menghentikan tingkah konyol mereka.
"Mama." hentakan hels beradu dengan lantai, terdengar nyaring ditelinga. Cerys menghampiri kedua anaknya itu. Dan...
"Aahh, ampun Ma." teriak Ken,
...ia menjewer telinga Rein dan Ken bersamaan.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Berapa umur kalian? Kalian bukan anak kecil yang menghancurkan barang saat orang tuanya tidak ada dirumah. Kalian sudah besar, harusnya kalian bantu Mama beres-beres" omel Cerys panjang kali lebar.
"Ampun Mama, ini sakit." rengek Ken. Cerys pun melepaskan jewerannya.
"Sekarang bereskan tempat ini seperti semula."
"Baik, Ma." pasrah keduanya,
Rein dan Ken membereskan ruang keluarga yang tampak kacau. Bantal sofa berserakan dimana-mana, makanan kering dalam toples tumpah dan adapula yang menggelinding dari meja kaca bertabrakan dengan kopi hitam milik Rein. Tumpah deh kopinya.
Memang diantara sofa yang dijajarkan membentuk huruf U, terdapat meja kecil terbuat dari kaca. Cerys meletakkan beberapa toples makanan kering dan permen untuk cemilan saat menonton TV atau pun bersantai bersama.
Cerys bersendekap dada, melihat kedua anaknya mulai membereskan ruang keluarga. Grace yang datang bersama Cerys, cekikan menertawai kedua kakaknya itu.
"Sejak kapan Mama pulang?"
"Sejak kamu bercerita mengenai pertemuanmu dengannya, sekaligus mengejek adikmu."
"Berarti sudah lama." Cerys mengangguk.
__ADS_1
"Sekarang, kembali kekamar kalian masing-masing. Istirahat dan bersihkan diri kalian. Saat jam makan malam, Mama akan memanggil kalian." perintah Cerys, setelah Ken dan Rein membersihkan ruang keluarga.
"Baik Ma." ketiganya serempak menjawab dan berjalan menuju kamar masing-masing sebelumnya menyempatkan diri untuk mencium pipi Cerys.