
Cerys menelusuri koridor rumah sakit. Ia melangkah menuju tempat yang menjadi tujuannya. Ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang telah terjadi.
"Pergii!"
"Pergiii!"
"Aku benci kalian semua, pergiii!"
Cukup terdengar jelas oleh telinganya. Teriakan seorang wanita. Hanya dengan melihat diujung koridor, Cerys memahami semuanya. Hatinya ikut teriris. Tapi ia tidak bisa untuk berada disana, nekat pun akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi nantinya. Ia memilih berbalik pergi, menuju ruangannya.
***
Cerys merenung diruangannya, banyak hal yang sedang ia fikirkan saat ini. Helaan nafas kecil ia keluarkan seraya memijit pangkal hidungnya.
"Mamaa." suara cempreng mengagetkan Cerys. Ia tidak menyadari jika pintu ruangannya ada yang membuka.
"Grace, kau sudah pulang sekolah?" tanyanya pada bocah kecil bersurai hitam kecoklatan seperti dirinya tapi hanya memiliki panjang sebahu, gadis kecilnya yang masih lengkap dengan seragam sekolah. Ia sendiri tidak tahu kapan anaknya masuk dan berdiri dihadapannya.
"Iya, Ma. Aku datang bersama bibi Lin dan Lakha."
"Dimana bibi Rin sekarang?"
"Aku disini." teriak sebuah suara dibalik pintu yang terbuka. Memunculkan wanita manis bersurai coklat sebahu dan bocah laki-laki kecil seumuran Grace digandengannya. Rinza atau biasa dipanggil Rin, Rin sendiri adalah isteri dari Ben, sekretaris sekaligus orang kepercayaan keluarga Axton.
Rin, orang yang dipercayai Cerys untuk menjaga anak-anaknya terutama Grace selama ia bekerja. Lagipula rumah Cerys bersebelahan dengan rumah Ben. Jadi dirinya tidak perlu mengkhawatirkan anak-anaknya jika sewaktu waktu ia harus bekerja lembur.
"Kak Rin, Rakha." Rin bersama anaknya tersenyum ramah pada Cerys sebagai balas sapaan.
"Hai, bibi Celys." Sapa balik Rakha-anak Rin dan Ben- yang memiliki kesamaan dengan Grace. Sama-sama masih cadel diusia 7 tahun.
"Grace ingin kemari menemui ibunya. Ingin makan siang bersama katanya. Bukan begitu Grace?"
"Ya, Glace udah beli makan siang untuk Mama." jawabnya riang,
"Benarkah?" Grace menganggukan kepalanya "Oh, terima kasih sayang. Ayo makan siang bersama. Masuklah kak Rin." ajak Cerys.
"Kak Rin, boleh aku meminjam Rakha?" dahi Rin mengerut, mendengar pertanyaan Cerys.
"Untuk apa?"
Cerys melihat Grace dan Rakha, mereka berdua bermain bersama sambil nyemil dan nonton Tv diruangan Cerys setelah makan siang bersama tadi.
"Kak Rin ingat, temanku Fellice yang pernah aku ceritakan waktu itu?" Rin mengangguk menunjukkan jika ia ingat. Kental diingatannya, cerita masa lalu Cerys yang wanita itu sendiri pernah ceritakan padanya.
"Dia kecelakaan, anak dalam kandungannya keguguran dan lebih parahnya lagi..." Cerys menggigit bibir bawahnya, "...rahimnya harus diangkat. Itu berarti dia tidak akan bisa mengandung lagi."
"Oh god!"
"Sekarang dia Depresi, menolak kehadiran siapapun. Aku merasa kehadiran anak-anak disekitarnya, sedikitnya bisa mengurangi kesedihannya. Dia bisa bangkit dan sembuh. Bagaimana menurutmu Kakak?"
Rin diam, menimbangkan rencana Cerys. Baik dan buruknya.
"Aku setuju saja, tapi mereka.."
"Mereka anak yang cerdas, pemberani dan penurut Kak Rin. Aku rasa mereka bisa, lagipula kita masih bisa pantau kan?" potong Cerys cepat.
"Baiklah." luluh Rin, ia tidak tahan melihat wajah Cerys yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Awalnya ia segan dipanggil kakak, karena Cerys adalah istri dari bos suaminya. Tapi keteguhan Cerys yang memintanya dianggap seperti adik sendiri, seperti keluarga sendiri, mau tidak mau ia pun menurutinya.
"Terima kasih banyak, Kak Rin"
***
Saat ini Grace, Rakha, Cerys dan Rin sedang berada diujung koridor rumah sakit ruangan Fellice. Tampak sepi dari luar, tidak ada siapa pun disana.
"Disana tempat bibi Fellice, kalian berdua tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Cerys seraya menunjukkan dimana tepatnya ruangan Fellice. Ia tadi sudah menjelaskan semua apa yang harus dilakukan oleh dua anak itu tentunya dengan bahasa yang mudah mereka mengerti.
"Kita halus menghibulnya dan membeli makanan yang Mama sediakan." jawab Grace sambil menunjuk suster yang membawa trolli berisi semangkuk bubur serta bunga.
"Kemudian, kita halus mengajaknya belmain belsama. Betulkan bibi?" kini giliran Rakha menambahi ucapan Grace.
__ADS_1
"Anak-anak yang pintar." puji Cerys pada Grace dan Rakha,
"Sekarang kalian pergi,gih?!" suruh Rin.
Keduanya mengangguk, dengan kaki-kaki mungil mereka, Mereka berlari kecil diikuti suster dibelakangnya. Suster yang juga tahu permintaan sang dokter.
***
Ruangan Fellice sudah kembali rapi. Sebelumnya tampak seperti kapal pecah dengan barang-barang berserakan disana sini. Bert dibantu dokter dan suster berhasil menenangkan Fellice, Fellice sendiri kini tampak lebih tenang namun selalu diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun meski diajak berbicara.
Tadi pagi teman-teman serta orang tua Fellice, menjenguk. Tapi pengusiran dari Fellice yang didapat serta lemparan barang seperti biasanya. Jadi mereka memutuskan untuk pergi, meninggalkan Fredo sendiri menunggui Fellice.
"Pelmisi." Fredo yang awalnya sibuk melamun, merenung dipinggir ranjang Fellice. Menolehkan kepalanya ke arah pintu.
Dua orang anak berbeda jenis, menghampiri Fredo bersama seorang suster, membawa trolli berisi makanan rumah sakit dibelakangnya.
"Selamat siang menjelang sole Paman." ujar keduanya serempak.
Fredo berdiri dari duduknya sedangkan Fellice tak bergeming sekalipun, tetap diam dengan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang. Namun matanya tertuju pada dua anak itu.
"Kita mau membeli bunga untuk bibi, ini?" ujar Grace seraya menyerahkan bunga itu pada Fredo.
"Dan kita membawa makanan untuk Bibi." giliran Rakha yang ambil suara.
Senyuman Fredo merekah, ia meletakkan bunga kedalam vas. "Terima kasih anak-anak." tangan Fredo terjulur menepuk pelan kedua bocah tersebut.
"Bibi kenapa paman, kok diam saja?"
Lidah Fredo kelu, bingung ingin mengucapkan apa. Ia kemudian menyamakan tingginya dengan kedua bocah itu.
"Bibi lagi sakit sayang, oh ya siapa nama kalian?" tanya Fredo mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dengan semangat kedua anak itu mengenalkan namanya.
"Aku Glace."
"Aku Lakha."
"Bukan Paman." sahut mereka serempak tapi Fredo sendiri kebingungan. Menurutnya ia benar menyebutkan nama, seperti apa yang kedua bocah itu ucapkan.
"Aku Glace dan dia Lakha Paman."
"Iya, paman benar kan. Kamu Glace dan kamu Lakha." kekeh Fredo, ia juga kebingungan disini. meurutnya ia sudah mengucapkan kata yang benar.
Kedua bocah itu merengut sebal, mendengar Fredo menyebutkan nama mereka salah.
"Huu, paman Fledo." ejek Rakha, seketika itu mata Fredo membulat. Ternyata kedua anak didepannya ini masih cadel, terbukti memanggil namanya dengan Fledo bukan Fredo. Ia merutuki kebodohannya.
"Grace dan Rakha." suara itu bukan milik Fredo tapi...
"Yeey, bibi benal !." keduanya bersorak senang sambil berjoget-joget kecil.
Fredo sempat kaget mendengarkan suara istrinya. Dalam hati ia senang, istrinya ada perkembangan. Kehadiran dua bocah diruang rawat Fellice membuat kesan sendiri di hati Fellice begitu pun Fredo.
"Kita enggak mau belbicala sama paman, kita mau sama Bibi aja." keduanya beralih pergi dari hadapan Fredo kemudian berdiri didekat ranjang Fellice. Mereka berdua menaiki kursi disamping ranjang untuk duduk diatas ranjang bersama Fellice. Tidak memperdulikan teriakan protes Fredo.
"Loh, kok gitu."
Grace dan Rakha bingung, baru saja berdiri
disamping ranjang Fellice namun keduanya malah melihat Fellice menangis.
"Bibi.. Bibi kenapa menangis? Apa Glace menyakiti bibi? Atau Paman Fledo itu yang menyakiti Bibi?" Fredo langsung drop, ia merasa tertuduh, terpojokkan.
Fellice menggeleng. Atas inisiatif Grace dan Rakha sendiri, keduanya menghapus air mata Fellice dimasing-masing sisi.
"Kalau Paman itu menyakiti Bibi, Bibi bilang pada kita beldua ya.. Kita akan balas menyakiti Paman itu" ujar Rakha, keduanya pun menatap Fredo sengit,
"Nama Bibi siapa?"
__ADS_1
"Panggil Aunty Fellice." dengan suara bergetar Fellice menyebutkan namanya.
"Oke Aunty Fellice, waktunya Aunty makan? Bial kita suapi. Tidak ada penolakkan." Grace berkacak pinggang, ia berkata seperti ibu yang memarahi anaknya karena tak mau makan.
"Kata Mama kalau tidak makan dan buang-buang makanan nanti ayamnya bisa mati. Kan kasihan ayamnya. Jadi bibi makan ya.." Fellice mengangguk mengiyakan. Tak kuasa menolak permintaan kedua bocah yang terlihat lucu dimatanya. Andai anaknya masih hidup. Mungkin akan lahir selucu ini.
Suster tadi sudah pergi, meninggalkan trollinya disisi lain ranjang Fellice. Rakha mengambil makanan diatas trolli dengan bantuan Fredo. Mereka berdua sempat berdebat kecil tadi. Freodo keukeuh ingin membantu mengambil makanannya dan Rakha yang kekeh mau ambil sendiri. Berakhir dengan kemenangan Rakha. Sementara Fredo tetap was-was takut Rakha menjatuhkan makanan tersebut.
Semangkuk bubur, diletakkan diatas ranjang. Grace mengambil sesendok bubur lalu menyuapi Fellice. Bergantian bersama Rakha.
Fredo melihat interaksi kedua anak itu dengan istrinya terharu jadi terharu sendiri. Ia bahagia.
"Apa kalian juga dirawat dirumah sakit ini?"
"Tidak paman, Mama Glace bekelja disini. Dalipada kita bosan menunggu diluangan Mama, kita ikut sustel membeli makanan dan bunga untuk pasien dilumah sakit ini." Grace menjawab pertanyaan Fredo.
"kalian curang, kalian panggil bibi Fellice, Aunty Fellice.."
"kan bahasa Ingglis nya bibi itu Aunty" balas Rakha,
"kalau paman, bahasa inggrisnya apa?"
"Ucle!"
"Nah, itu panggil paman, Uncle Fredo. biar kerenan sedikit.." ujar Fredo sembari tertawa.
"Enggak mauu!"
"Kok gitu sih, tega ka.."
"Yeey, Aunty pintal. Makanannya sudah habis." teriak gembira Grace, memotong perkataan Fredo.
"Terimakasih." lirih Fellice.
"Sama-sama Aunty. Aunty Fellice istilahat ya.. Glace dan Lakha pelgi dulu." pamit Rakha. Keduanya pun bergantian turun dari ranjang.
"Jangan,tetap disini?" cegah Fellice, ia tidak mau ditinggalkan lagi.
Glace menggelengkan kepala, mata bulatnya menatap Fellice sedih "Kita halus pulang, besok kita janji akan main kesini lagi."
"Iya Aunty, janji kelingking." seru Rakha seraya menyodorkan kelinci mungilnya, diikuti Grace.
Melihat tingkah kedua anak itu, Fellice mengukir senyum diwajahnya. Walau tipis, ia menyodorkan kelingkingnya disatukan dengan kelingking Grace dan Rakha.
"Janji keli.."
"Tunggu kalian tidak mengajak Uncle Fredo." hening tidak ada yang menanggapi ucapan Fredo "Ayolah, maafkan Uncle, Grace dan Rakha. Tuh kan, Uncle tidak salah menyebut nama kalian. Uncle ikut ya.." bujuk Fredo wajahnya dibuat semelas mungkin.
"Baiklah." Setuju Grace dan Rakha.
"Cepat Paman!" seru Rakha tak sabaran,
"Iya..iya."
Fredo kemudian menyatukan kelingkingnya juga.
"Janji kelingking." teriak mereka bersamaan. Lebih dominan suara Grace, Rakha dan Fredo. Fellice hanya berucap lirih.
***
Cerys dan Rin menunggu anak-anaknya, menunggu diruangan Cerys tentunya. Sembari menunggu, Cerys juga melakukan pemeriksaan untuk pasien yang datang.
"Mereka lama sekali." gumam Rin, membuat Cerys mengalihkan matanya dari laporan rumah sakit ke arah Rin yang duduk di sofa.
"Mungkin, sebentar lagi."
"Mama." pintu terbuka menampilkan sosok Grace dan Rakha.
"Bagaimana?" tanya kedua ibu itu bersamaan.
__ADS_1
"Sukses!" teriak Grace dan Rakha seraya mengacungkan kedua jempol tangan mereka.
"Terima kasih sayang." Cerys menghampiri Grace lalu memeluknya. Begitu pula Rin, ia memeluk Rakha.