
Evan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, bersandar ke pintu sambil melamun, memikirkan kehidupan selanjutnya di dalam hatinya.
Hal terpenting saat ini tentu saja adalah mencari uang untuk memperbaiki kehidupan keluarganya, agar orang tua dan adiknya tidak lagi hidup dalam kemiskinan. Keluarga Veronica tidak semiskin keluarga Evan, tetapi juga tidak termasuk keluarga kaya.
Veronica adalah istrinya di masa depan, bagaimana mungkin dia boleh membiarkan Veronica hidup dalam kemiskinan, bisa hidup dengan baik Veronica baru bisa semakin cantik.
Dring! Dring!
Bel pelajaran selesai berbunyi. Guru Nia berjalan keluar kelas dengan buku teks di tangannya, melewati Evan dan memelototinya.
Evan ingin sekali berkata, "Apa yang kau lihat?"
Tentu saja dia hanya berpikir dalalm hati, pilihan Evan adalah mengabaikannya.
Nia merasa wibawanya telah ditantang, biasanya setiap siswa akan takut ketika melihatnya.
“Suruh orang tuamu datang menemuiku sore ini.” Setelah berkata, Nia pergi dengan marah. Siswa-siswa paling takut orang tua mereka dipanggil, dan trik Nia ini bisa dikatakan selalu berhasil.
Banyak siswa-siswa menatap Evan dengan tatapan senang atas kemalangan yang ditimpanya.
Evan tertegun sejenak dan tidak bereaksi, dia masih memikirkan masalah bagaimana mencari uang. Dia bingung dengan pandangan siswa-siswa di sekitarnya. Nia sepertinya mengatakan sesuatu kepadanya barusan, dan dia sama sekali tidak mendengar apa yang Nia katakan.
__ADS_1
“Vero, apa yang Bu Nia katakan padaku barusan?” Evan kembali ke tempat duduknya dan bertanya pada Veronica.
Veronica memutar matanya dan merasa tidak berdaya karena sikap Evan yang terlalu acuh tak acuh. Veronica berkata, "Bu Nia memintamu untuk memanggil bibi ke sekolah sore ini."
"Oh, ternyata memanggil orang tua. Si nenek sihir bisanya hanya itu." Evan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh, dan tidak terlalu menghiraukan hal tersebut. Evan duduk di kursinya dan tidak tahu mau melakukan apa, dia menatap Veronica. Loli kecil itu masih begitu cantik, jika Veronica bisa dirawat dengan baik, dia pasti akan menjadi lebih sempurna dari kehidupan sebelumnya, pasti akan menjadi gadis tercantik di masa depan.
"Kenapa kau tidak panik sama sekali? Bibi pasti akan sedih kalau dia tahu kau dihukum lagi oleh guru di sekolah." Veronica tidak berdaya, cemberut dan terlihat tidak senang.
"Asalkan ibuku tidak tahu, maka tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula, ibuku sangat senang memiliki anak jenius sepertiku, bagaimana mungkin dia sedih?" Evan berkata dengan sedikit sombong.
“Evan, kau benar-benar tidak tahu malu, bermuka tebal!” Veronica yang berpura-pura marah tidak bisa menahan diri, dia dikalahkan oleh Evan yang bermuka tebal, dan tertawa terbahak-bahak.
“Apakah kau tidak akan meminta bibi datang ke sekolah?” Sikap Evan membuat Veronica menebak apa yang dia pikirkan.
Veronica menatap Evan dengan ekspresi yang sesuai dengan dugaannya, lalu berpura-pura mengernyitkan dahi dan berkata. "Apakah kau tidak takut kalau Bu Nia datang ke rumahmu dan melapor pada ibumu?" Veronica melototi Evan yang tertegun, dan hampir tertawa lagi. "Kau sudah tahu takut sekarang, bukan?"
Evan mengangguk. “Yah, ini memang masalah, tapi untungnya dia tidak tahu di mana rumahku.” Evan merasa sedikit beruntung, dia tidak takut pada apapun, kecuali ceramah ibunya.
“Tapi aku tahu rumahmu, aku bisa membawa Bu Nia ke rumahmu.” Ekspresi kecil Veronica yang jahat sangat lucu. Gadis kecil itu sudah belajar jahat dan perlu dididik.
"Kau berani? Lihat saja bagaimana aku akan memberesimu." Evan memberikan tatapan kejam, dan bergegas maju untuk menggeliti gadis kecil itu. Veronica paling takut geli, dia tertawa-tawa dan memohon ampun.
__ADS_1
Beberapa orang menatap mereka dengan iri dan benci, salah satunya adalah Budiman. Veronica cantik dan menggemaskan, jadi tidak mengherankan jika banyak siswa seusianya yang jatuh cinta padanya.
Waktu lewat dengan cepat, bel masuk kelas pun berbunyi. Kelas kedua adalah pelajaran matematika. Evan sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari materi matematika SD lagi, dia bisa mendapat nilai seratus dengan mudah, jadi lebih baik tidur selama jam pelajaran ini agar bisa bekerja lebih baik di malam hari. Dia berencana untuk menanam sebanyak mungkin sayuran di ruang pertanian saat semua orang sudah tertidur malam nanti.
Evan menumpuk buku-bukunya di atas meja, dan menambah buku-buku Veronica untuk membuat tumpukan yang lebih tinggi. Dengan demikian, dia bisa menutupi seluruh tubuhnya dengan tumpukan buku-buku tersebut. Karena mejanya terlalu keras, dia juga menggunakan tasnya sebagai bantal untuk bisa tidur lebih nyaman.
Setelah menutup mata sebentar, Evan langsung tertidur. Dia adalah seseorang yang bisa tidur dimana saja, termasuk saat berdiri di kelas.
Tidak tahu berapa lama dia tertidur, dia samar-samar mendengar sebuah suara jelek berkata, "Guru, Evan tidur di kelas!"
Guru matematika yang sedang fokus menjelaskan materi marah saat mendengar ada seseorang yang tidur di kelasnya. Ketika dia melihat ke bawah dari atas panggung, dia melihat Evan sedang tertidur di mejanya.
Veronica yang duduk di sebelahnya menusuk lengan Evan dengan lembut, baru pada saat itu Evan terbangun.
Saat Evan terbangun, guru matematika sudah berdiri di depan mejanya dan mengetuk meja untuk memintanya berdiri dan mendengarkan pelajaran.
Evan tidak berdaya, ini perbuatan Budiman lagi. Dia merasa kalau Budiman sudah terobesesi melaporkan hal-hal kecil kepada guru.
Evan berdiri di kelas, tetapi dia tetap tidak bisa mendengarkan pelajaran dengan serius. Setelah berdiri sebentar, dia kembali tertidur dengan mata terpejam. Dia benar-benar memiliki kemampuan untuk tidur meskipun sedang berdiri, sehingga diberi julukan "Dewa Tidur" oleh teman-temannya.
"Guru, Evan tidur lagi." Tidak lama setelah itu, Budiman kembali melaporkan, dia terlihat sangat senang dengan tindakannya yang menyebalkan itu.
__ADS_1
Evan hampir tidak bisa menahan diri untuk menampar wajah Budiman. Dia berusaha menenangkan dirinya. "Sabarlah, kau sudah dewasa sekarang, jangan bersikap seperti anak kecil." Evan berpikir seperti itu di dalam hatinya.
"Evan, apakah pelajaranku begitu membosankan hingga kau bisa tidur saat berdiri? Kalau kau tidak ingin mendengarkan pelajaran, keluarlah dari kelas ini." Guru matematika juga merasa tidak berdaya saat menghadapi siswa seperti Evan, dia menegur dengan ekspresi serius dan tegas.