Aku Bercocok Tanam Dalam Dimensi Rahasia

Aku Bercocok Tanam Dalam Dimensi Rahasia
Rival Cinta


__ADS_3

Yang membuat Evan semakin tidak berdaya adalah Evi segera melepaskan tangan kecilnya setelah memakan permen yang diberikan oleh Veronica. Evi berlari dan memeluk lengan Veronica dengan erat, menunjukkan kedekatan di antara mereka. Evan yang melihat ini benar-benar marah.


“Dasar Rakus!” Evan membalas. Di kehidupan sebelumnya, keduanya paling suka adu mulut, tetapi setelah reikarnasi, kebiasaan ini masih tidak dapat diubah.


Melihat keduanya tidak ingin mengalah, Veronica tertawa tak henti-henti, tawanya semerdu suara burung.


Berbicara dan tertawa sepanjang jalan, ketiganya berjalan keluar dari gang gelap, jalanan di pagi hari sangat sepi, kedatangan ketiganya memecahkan kesunyian, dan tempat-tempat yang mereka lewati penuh dengan tawa.


Mereka bersekolah di SD Trisatya kabupaten Antaboga, dan dibutuhkan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari rumah ke sekolah.


Ada guru dan siswa yang bertugas di gerbang sekolah untuk memeriksa absen, siswa yang masuk dan keluar sekolah harus memakai lencana sekolah dan dasi merah. Evan kembali dari reinkarnasi, sudah sepuluh tahun tidak memakai dua barang itu, dia lupa seperti apa dasi merah dan lencana sekolah itu, jadi tentu saja dia tidak memakai dasi dan lencana sekolah.


Evan baru teringat ketika tiba di gerbang sekolah.


Tetapi Evan mempunyai cara sendiri, dia sangat berpengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini ketika dia sekolah di kehidupan sebelumnya. Dia berjalan di antara adiknya dan Veronica, mengangkat tangannya seolah meluruskan kerah baju, dan berjalan ke gerbang sekolah dengan ekspresi tenang. Biasanya, dia selalu bisa lolos dari pemeriksaan dengan cara itu.


Tetapi pada saat ini, terdengar sebuah suara serak. "Guru, dia tidak memakai dasi merah dan lencana sekolah."


Evan sudah masuk lumayan jauh dari gerbang, tetapi ditemukan oleh teman sekelasnya yang teliti.


Orang yang melaporkan Evan adalah seorang bocah laki-laki yang mengenakan kacamata berbingkai emas. Evan memiliki sedikit kesan terhadap anak ini, dia mencoba yang terbaik untuk mencari dan memanggil kembali nama teman-teman sekelasnya. Dia segera teringat seorang teman sekelasnya yang berpenampilan seperti itu, Budiman, anggota komite belajar di kelas.

__ADS_1


Budiman pintar dan memiliki orang tua kaya. Alasan utama mengapa Evan, yang tidak memiliki ingatan yang baik di kehidupan sebelumnya, dapat mengingat teman sekelasnya ini adalah karena bocah ini sudah berkencan di masa SD.


Budiman menyukai Veronica sejak SD, dan dia bahkan menyatakan cintanya di depan umum pada saat di kelas lima. Karena Evan dan Veronica selalu bermain bersama, dan merupakan tetangga dan teman sebangku, jadi orang yang paling tidak disukai Budiman adalah Evan, dia selalu menghalalkan berbagai macam cara untuk mencari masalah dengan Evan.


Budiman mengandalkan uang untuk memengaruhi teman-temannya, dia sering bekerja sama dengan teman sekelas lainnya untuk menindas Evan. Sulit bagi Evan untuk melupakan ingatan yang pahit ini. Kenangan di masa kecil seperti ini biasanya paling berkesan, bahkan akan mempengaruhi kehidupan seseorang, tidak terkecuali Evan.


Sial, ternyata rival cinta! Dilapor oleh bocah ini, kali ini dia pasti dikritik oleh guru.


“Nak, kau kelas berapa?” Guru yang bertugas datang.


Sebelum Evan sempat menjawab, suara serak Budiman terdengar lagi, "Guru, namanya Evan, dia di ruang kelas 1, Kelas 6." Bahkan pada usia psikologis Evan yang dewasa, dia juga merasa anak ini sangat menyebalkan.


Awalnya, Evan tidak ingin membuat perhitungan dengan seorang anak SD, bagaimanapun secara psikologis dia telah berusia dua puluhan, dan menindas seorang siswa SD akan sangat memalukan. Sekarang Evan telah berubah pikiran, sepertinya dia harus mencari waktu untuk memberi pelajaran pada anak kecil ini, agar kelak dia tidak selalu menjadi target anak yang suka melapor ini.


Evan dikritik oleh guru pemeriksa absen, dan tercatat melanggar kedisiplinan. Evan, yang telah hidup selama dua kehidupan mendengarkan kritikan guru dengan tulus. Ternyata benar, sang guru segera melepaskannya setelah melihat ketulusannya.


Evi dan Veronica menunggu tidak jauh darinya. Waktu yang terbuang itu membuat waktu untuk makan sarapan pagi sedikit mendesak.


SD Trisatya di kabupaten Antaboga hanyalah SD negeri biasa, fasilitas sekolah tidak terlalu lengkap. Kantin sekolah juga sangat kecil, sebuah rumah genteng kurang dari 20 meter persegi, hanya ada satu jendela jualan, dan sebuah meja. Di atas meja ada sebaskom besar sayur acar dan toples berisi bumbu. Pada hari hujan, air hujan yang lebat akan membasahi meja.


Sarapan di sekolah seribu rupiah lebih murah daripada kantin di luar, dan siswa-siswa pada dasarnya sarapan di sekolah. Meski rasa masakan sekolah biasa-biasa saja, tetapi porsinya sangat besar, satu mangkok setara dengan dua mangkok yang dijual di luar. Siswa SD dalam masa pertumbuhan, porsi sarapan di kantin sekolah pas untuk anak SD.

__ADS_1


Karena tidak ada tempat duduk di kantin, kebanyakan siswa biasanya makan sarapan di kelas. Ada juga beberapa guru kelas yang tidak memperbolehkan siswa membawa sarapan kembali ke kelas, karena jika banyak siswa yang sarapan di dalam kelas, akan tercium bau sarapan yang kuat di pagi hari. Siswa hanya boleh berdiri atau berjongkok di koridor untuk sarapan.


Saat cuaca cerah, siswa lebih suka berjongkok dan makan di tepi hamparan bunga di lapangan, makan berpasangan atau bertigaan, dan membentuk pemandangan unik di SD.


Siswa-siswa perlu mengantri untuk mendapatkan sarapan. Jika datang lebih awal dan antriannya pendek, maka bisa lebih cepat mendapatkan sarapan. Karena terlambat di pintu sekolah, ketika mereka sampai di depan kantin, antrian sudah sangat panjang.


Adiknya menjadi khawatir ketika melihat antrian yang begitu panjang, diperkirakan ketika selesai mendapatkan sarapan, pelajaran sudah dimulai. Evi di ruang kelas 1, Kelas 3. Wali kelasnya adalah guru baru, sangat ketat dalam mengatur siswa. Siswa diharuskan selesai makan dan masuk kelas untuk belajar sebelum pukul 07.15. Sekarang sudah hampir jam tujuh, ditambah waktu mengantri, Evi pasti akan terlambat setelah menyelesaikan sarapan.


Melihat antrian panjang, Evi kecil menggigit bibirnya dan memiliki ide di dalam hatinya, lalu berkata kepada Evan dan Veronica. "Kak, Kak Vero yang mengantri saja, aku tidak lapar, aku akan langsung ke kelas."


Evan dan Veronica tidak buru-buru. Kelas pagi baru dimulai pukul 7:30, jadi ada banyak waktu.


Begitu Evan mendengar bahwa adiknya tidak berencana untuk sarapan, dan ingin langsung pergi ke kelas, Evan langsung tidak setuju. Adiknya dalam masa pertumbuhan dan masih kecil. Evan pasti tidak bisa membiarkan adiknya pergi ke kelas dengan perut kosong.


Evan berkata kepada Evi dan Veronica tanpa ragu-ragu. "Berikan mangkuk kalian." Kantin tidak menyediakan mangkuk dan sendok, siswa sendiri yang harus membawa mangkuk dan sendok dari rumah.


Evi kecil dan Veronica tertegun sejenak, tidak tahu apa yang akan Evan lakukan. Tetapi Veronica dan Evi tetap menyerahkan mangkuk itu kepada Evan.


“Kalian tunggu aku di sini, sebentar lagi kalian sudah bisa sarapan.” Setelah mengatakan ini, Evan berlari ke barisan depan dengan membawa dua mangkuk, dan langsung tidak kelihatan.


Veronica sepertinya tahu apa yang akan dilakukan Evan, dan merasa sedikit khawatir.

__ADS_1


__ADS_2