Aku Bercocok Tanam Dalam Dimensi Rahasia

Aku Bercocok Tanam Dalam Dimensi Rahasia
Adik


__ADS_3

Keluar dari pintu kayu bobrok, Evan kembali ke ruang yang gelap dan kosong. Dia berjalan menuju pintu lain yang paling dekat. Pintu-pintu di area ini sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya kurang lebih 100 meter.


Pintu kedua yang akan dibuka Evan adalah pintu batu yang dibuat dari bahan batu yang tidak dia kenal, dan terlihat sangat berat. Evan mencoba mendorong sekuat tenaga, tetapi pintu itu hanya bergoyang sesaat lalu berhenti. Pintu ini terlalu berat, jadi Evan tidak bisa mendorongnya dengan kekuatannya yang saat ini hanya 14 poin. Muncul sebuah Informasi di benaknya, yang mengatakan bahwa "Kemampuan Tuan tidak cukup untuk membuka pintu ini."


Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan pintu itu dan pergi ke pintu berikutnya. Seluruhnya ada tujuh pintu, dan Evan akan mencoba setiap pintu. Pintu ketiga juga terbuat dari batu, dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada pintu sebelumnya, dengan corak indah yang dikerjakan dengan sangat rapi, dan terlihat sangat hidup. Coraknya adalah totem yang tidak terkenal, jadi Evan tidak mengenalinya. Namun, secara visual, coraknya sangat indah dan rapi.


Evan juga mencoba mendorong pintu itu, tetapi tidak bisa dibuka sama sekali. Dia kemudian memilih pintu terkecil yang terlihat di antara pintu-pintu itu. Pintu itu terlihat seperti terbuat dari logam misterius yang tidak seperti emas atau perak, dan juga tidak seperti besi. Ketika disentuh, pintu itu terasa dingin, halus, dan lebih berat daripada pintu batu, sehingga sulit untuk dibuka, terlihat seperti terlekat erat pada kusen pintu.


Di area ruang gelap ini hanya ada tujuh pintu, dan pintu-pintu itu terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh di dalam kegelapan. Evan mencoba mendekat, tetapi mendapati pintu-pintu itu tetap kecil di pandangannya, seolah-olah terpisah oleh jarak yang tak terbatas. Evan juga tidak berani berlari sembarangan, khawatir ada bahaya di dalam kegelapan. Di antara tujuh pintu itu ada satu pintu kayu yang lebih bagus daripada pintu kayu yang bobrok di area pertanian. Evan tidak berani menarik pintu itu karena pintu itu terlihat sangat menakutkan, Terdapat ukiran mayat tanpa kepala yang berwarna merah dan aneh di permukaan pintu, seperti mayat yang sesungguhnya, dan seperti disiram oleh darah segar, serta mayat dingin yang dimasukkan ke dalam pintu dengan paksa. Terlihat sangat angker, dan membuat orang takut untuk mendekat. Evan hanya mendekat sedikit dan merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin dan kepalanya merinding, firasat mengatakan bahwa itu adalah pintu yang sangat berbahaya.


Pintu itu terletak di belakang pintu batu dan logam, seharusnya berada di posisi terdalam dari tujuh pintu, dengan jarak tertentu dari enam pintu lainnya. Evan tidak akan mendorong pintu itu kecuali dia itu bodoh.


Evan tidak bisa membuka pintu lainnya, jadi dia kembali ke ruang pertanian di dalam pintu kayu yang bobrok itu.

__ADS_1


Ruang pertanian cukup luas, sekitar satu hektar, tidak meliputi mata air ajaib. Mata air ajaib ternyata lebih luas, sekitar tiga hektar. Ruang pertanian diselimuti oleh kabut, Evan mencoba menjelajahi, dan menemukan bahwa kabut itu seperti dinding nyata dan menghalanginya, sama sekali tidak bisa menginjak daerah yang diselimuti kabut itu. Tidak ada informasi lain yang muncul, sepertinya begitu saja luas ruang pertanian ini.


Evan membayangkan bahwa kelak dia bisa membangun sebuah rumah di dalam ruang pertanian ini dan menambah tanaman dan bunga untuk memperindahnya, selain itu dia juga bisa memelihara ikan dan udang di kolam.


Evan tidak yakin pakah dia bisa membawa orang lain ke dalam ruang misterius ini atau tidak. Jika bisa, dia ingin membawa orang tua dan adik perempuannya untuk tinggal bersama di sini, sehingga mereka tidak perlu tinggal di rumah kecil berukuran 30 meter persegi itu lagi. Saat memikirkan hal itu, Evan langsung bersemangat. Dia memutuskan untuk mencoba mencari beberapa hewan hidup terlebih dahulu. Saat pikirannya bergerak, Evan kembali ke tempat tidur di dunia nyata, setelah beberapa kali beradaptasi dengan perubahan ruang, rasa pusing sudah tidak begitu kuat. Jika tidak, setiap kali masuk dan keluar dari ruang misterius Evan akan merasa sangat pusing."


Evan memakai jaket dan keluar dari kamar kecil yang gelap. Di luar, sinar matahari bersinar cerah, cuaca sangat baik. Melihat meja dapur yang familier di ingatan dan beberapa papan kayu yang dibangun menjadi dapur sederhana, matanya berkaca-kaca. Ini adalah rumah tempat tinggalnya selama enam tahun di masa kecil. Lingkungan yang keras membuat Evan yang telah dewasa dan berinkarnasi kembali merasa sedih, dia tidak ingin melewati kesulitan seperti di kehidupan sebelumnya lagi. Dengan pengalaman di kehidupan sebelumnya, dia pasti dapat membantu keluarga ini menjadi kaya dengan cepat.


Tubuhnya membeku sesaat, Evan berbalik dan melihat wajah yang mungil dan familier itu. Evan tidak dapat mengontrol dirinya lagi dan air matanya pun mengalir. Dia dengan gembira berlari dan memeluk tubuh kecil yang kekurangan gizi itu. Sesuatu yang hilang di kehidupan sebelumnya, dia tidak akan membiarkan Tuhan mengambilnya lagi di kehidupan ini.


"Kak, ada apa? Apakah perutmu lapar? Makanan sebentar lagi siap," tanya Evi Satria, yang agak gugup. Evi adalah adik perempuan Evan, lebih kecil tiga tahun darinya. Dia tidak tahu kenapa kakaknya tiba-tiba menangis, jadi Evi menebak bahwa perut kakaknya lapar.


Evan memeluk adiknya dan menangis, tetapi dia tidak berani mengeluarkan suara tangisan karena takut adiknya akan menertawakannya.

__ADS_1


Di kehidupan sebelumnya, adiknya mengalami sakit yang parah saat dia masih duduk di kelas 6 SD. Adiknya yang lemah itu akhirnya tidak bisa bertahan dan meninggal di usia 12 tahun. Saat itu, kematian adiknya merupakan pukulan yang besar bagi Evan yang masih duduk di kelas 3 SMP. Kondisi keluarganya yang semakin membaik menjadi sepi karena kehilangan adiknya. Ibunya sering sekali memeluk foto adiknya sambil menangis, ayahnya menjadi pendiam dan hanya mengisi waktu dengan mabuk-mabukkan untuk menghilangkan kesedihannya. Di dalam ingatan Evan, dia tidak pernah lagi melihat senyuman di wajah ayahnya.


Keluarga beranggotakan tiga orang itu hidup dalam keterpurukan, terus tenggelam dalam kesedihan dan tidak bisa keluar dari sana. Di hati Evan, dia bersumpah bahwa dalam kehidupan ini dia pasti akan merawat adik perempuannya, tidak akan membiarkan penyakit mengambil nyawa adiknya yang berharga, dan tidak akan membiarkan adiknya mengalami penderitaan kerena sakit. Dengan mata air ajaib, dia bisa memberi adiknya tubuh yang lebih kuat daripada tubuh orang dewasa.


"Aku tidak lapar, aku hanya ingin memelukmu," kata Evan sambil menyeka air mata dan mencoba agar suaranya tetap tenang. Dia tidak ingin meninggalkan kesan cengeng kepada adiknya yang masih kecil.


"Kak, kenapa kata-katamu berubah menjadi begitu menjijikkan? Mulai sekarang, aku tidak akan pernah mengatakan bahwa kau malas." Evi kecil mengira kakaknya emosional karena kata-katannya barusan. Melepaskan diri dari pelukan kakaknya, gadis kecil itu sedikit malu, wajahnya yang mungil memerah dan sangat imut.


“Kak, segera gosok gigi dan cuci muka, sebentar lagi makan. Ibu pergi menjual sayur dan malam baru pulang.” Anak-anak dari keluarga miskin sangat cepat dewasa, Evi kecil sudah belajar melakukan pekerjaan rumah di usia kecil, biasanya saat ibunya terlalu sibuk bekerja dan tidak sempat pulang untuk memasak, Evi yang memasak untuk kakaknya.


Jika dipikir-pikir, dia cukup lalai sebagai kakak, dia harus dijaga adik perempuannya yang tiga tahun lebih muda darinya.


"Evi, kau tidak perlu sibuk hari ini. Kakak lagi senang hari ini. Aku akan memasak untukmu. Biarkan aku menunjukkan keahlianku." Evan melangkah maju untuk menyiapkan makanan untuk adiknya.

__ADS_1


__ADS_2