
Di Indonesia, provinsi Jawa barat di kota Garut.
Di dalam kota yang ramai, jalan di penuhi orang-orang dan suara yang dibuat oleh mereka terdengar dimana mana. Di kedua sisi jalan ada bangunan yang menjulang tinggi serta ada banyak bangunan komersial dan bangunan hunian diantaranya, aroma khas perkotaan bercampur udara yang sejuk menjadi salah satu daya tarik kota ini.
Diantara bangunan komersial terdapat Bar, Bar nomer 1 di kota Garut bar BUDAK SUNDA, bahkan lebih ramai dan bisnisnya berkembang pesat karena ada di pusat kota dengan laju lalu lintas yang padat.
Di dalam kota Garut, gedung-gedung di bangun dengan gaya yang rapi dan teratur, lekukan gang-gang yang membentuk jalur yang beraneka ragama. Jika kamu mengikuti jalan utama dan melewati bar Budak Sunda, setelah berjalan beberapa puluh meter, berjalan lurus ke gang dan belok kanan anda akan melihat ada bengkel kecil dan sederhana.
Ada seorang lelaki kurus berkulit putih dengan tinggi 167 cm duduk di depan bengkel dengan tangannya menjulur dan menjepit sebatang rokok, terdapat satu gelas kopi hitam sudah habis setengah di atas meja.
"Hiduplah walaupun tidak berguna." lelaki itu adalah ANJAS RIO FERGUSON sedang menghisap rokok saat dia menikmati udara pagi dihiasi sunrise adalah hal yang paling dia sukai, walaupun hidup pas pasan bahkan kadang banyak masalah tapi dengan seperti inilah dia merasa sedikit tenang.
ANJAS RIO FERGUSON seorang lelaki berusia dua puluh dua tahun adalah seorang pemilik bengkel biasa dengan sikap yang bodo amat cenderung anti sosial tapi serakah dan sombong. Bengkel kecil itu di buat oleh Anjas dari hasil tabungan dia bekerja selama 2 tahun di perusahaan elektronik.
Meskipun terlihat seperti bengkel namun tidak ada seorang pelanggan pun yang datang karena memang tempatnya yang kurang strategis di tempat yang terpencil, Anjas memilih tempat yang terpencil ini dikarenakan menjelang malam bengkel akan berubah menjadi tempat nongkrong teman sepergaulannya.
Begitu rokok dan kopi yang menemani Anjas habis, Anjas masuk ke dalam bengkel untuk membersihkan tempat yang kotor dari sisa nongrong semalam, ada puntung dan bungkusan rokok tergeletak di sana sini, kulit kacang yang berhamburan dan kartu remi yang berceceran menjadikan bengkelnya kapal pecah atau rumah yang habis terkena gempa.
Setelah membersihkan bengkel, bengkel terlihat rapi dan bersih kembali. Anjas kemudian melirik dompet yang ada di saku celananya, saat dia melihat 3 lembar uang terselip di dompet, Anjas hanya bisa tanpa daya menghela nafas panjang.
__ADS_1
Uangnya adalah 1 lembar 20 ribu, 1 lembar 10 ribu dan 1 lembar 5 ribu di dompetnya. itu adalah yang terakhir yang dia miliki saat ini.
Sulit membayangkan owner bengkel seperti apa yang hanya memiliki 35 ribu di dompetnya. hanya mampu untuk membeli 1 bungkus rokok dan satu nasi bungkus masakan Padang. Anjas sama sekali tidak percaya bahwa bengkel yang dia miliki tidak memiliki pelanggan. meskipun dia adalah orang yang jago memperbaiki semua jenis kendaraan bahkan elektronik rumah tangga dengan harga tarif yang umum, ketika dia melihat lokasi bengkelnya yang tidak strategis.... Anjas berfikir ini adalah masalah keadaan.
"Sebagai seorang lelaki yang bercita cita menjadi juragan kaya yang ingin bermandikan logam mulia dan tidur di atas tumpukan uang kertas, mana mungkin aku tertekan dengan keadaan terpuruk seperti ini. ayooo. beli rokok 1 bungkus sisanya kopi..!!! masalah makan urusan belakangan"
Itu adalah pilihan terbaik dalam logika Anjas bahwa rokok itu lebih penting karena lebih baik tidak makan dari pada tidak merokok. Walaupun uang yang dimilikinya sekarat, bagi Anjas menahan lapar adalah hal yang biasa baginya.
Beberapa jam setelah Anjas membeli rokok dan kopi.
"Sepertinya impianku menjadi orang kaya akan hancur sebelum aku bisa mengambil langkah pertama, berita besok 'seorang lelaki meninggal karena memilih rokok dari pada makan' itu konyol sialan" Anjas melirik waktu dan kembali menghela nafas dalam hati, dia berdiri, berjalan mencari sesuatu di sekeliling bengkelnya, di kamar dan di dapur, merogoh setiap sela, tangannya meraba di setiap penjuru tempat untuk mencari benda untuk menyelematkan hidupnya
Itu adalah uang 5 ribu yang terlihat kusut dan sedikit robek.
"Untung aku ingat pernah lihat uang di fantilasi kamar mandi."
Kemudian Anjas bergegas ke warung untuk membeli sebuah mie instan dan 1 butir telur untik di masak di dapur agar bisa mengisi perutnya yang kosong dari pagi hari. sampai seketika waktu cepat berlalu menjelang malam hari
"Hari ini masih sama saja tanpa hadirnya pelanggan di bengkel"
__ADS_1
Saat malam hari tempat itu sepi seakan tidak ada satu manusia pun yang terlihat setelah dia mandi, bengkel pun di tutup. Anjas merenung seperti biasa, dia hidup di kota tapi tempat dia tinggal seperti di pedalaman hutan.
Saat malam tiba, bulan di langit terlihat redup dan bintang bintang tidak terlihat karena silau dari cahaya kota yang mengalahkan bintang di langit. Anjas tiba-tiba iri dengan bisnis yang berkembang di bar Budak Sunda yang berada di luar gang, bisnis mereka terlalu luar biasa ada begitu banyak pelanggan sehingga sepertinya pintu masuknya akan di bongkar.
Anjas mulai melamun tentang hari dia sukses seperti bos di bar Budak Sunda,
"Menghayal terus, halu aja tiap hari. kerjaan ngerokok sambil ngopi mana ada yang sukses jadi orang kaya 7 keturunan. mikir lah bos"
Suara yang menggelegar dan nyaring memecah kesunyian di dalam yang sepi, dia kaget dengan suara tersebut dan melihat kedua teman terbaiknya yaitu ASEP NICHOLAS dan JHONI SUNARYA
Anjas sedang duduk di kursi yang diletakan di depan bengkel sambil menikmati suasana malam, dia terpaku sejenak kemudian kembali menghisap rokok di tangannya dan memalingkan wajahnya.
Asep dan Arya sudah biasa dengan sikap Anjas yang terkesan bodo amat dengan lingkungan sekitar. Untung saja mereka membawa banyak makanan, rokok dan segala jenis minuman untuk berpesta malam ini seperti malam-malam yang lain.
Ketika mereka bertiga berpesta seperti biasa,
"Anjas" Asep berkata dengan tegas sambil menunjukan ekspresi yang rumit. Asep dan Arya telah berdiskusi sebelumnya tentang masalah bisnis yang telah di lalui Anjas, hingga mereka mendapatkan sebuah ide yang cukup cemerlang, dangan senyum yang yang mencurigakan dan ekspresi yang licik Asep menatap Arya kemudian Arya pun mengangguk setuju.
"Aku punya ide, cara agar bisnis bengkel kamu maju"
__ADS_1