
#POV 1 // AMORA
Klarisa pulang bersama temannya yang berbeda kelas dengan kita. Mereka berdua ke parkiran sekolah untuk mengambil motor, sedangkan aku menunggu jemputan sepupuku di halte sekolah.
Sesekali aku menoleh ke arah parkiran motor untuk menunggu Abi keluar. Nah, itu dia! Abi membawa motor ninja berwarna merah, yang populer di cerita-cerita novel. Namun ini benar-benar terjadi di kehidupanku.
Berharap sekali aku menduduki space kosong dibelakangnya itu. Dikala lamunanku yang sulit menjadi kenyataan, sebuah motor scoopy yang dikendarai sepupuku berhenti dan mengklakson hingga menyita perhatian beberapa siswa-siswi. Aku pun terlonjak kaget karenanya.
"Astaga! ih!" kesalku, memukul lengan Geo, yang malah tertawa mengesalkan. Biar saja dia tidak bisa berhenti tertawa, aku menyumpahkan itu!
"Ayo, naik," Geo berkata sembari menyerahkan helm untukku. Dengan rasa hati yang masih kesal karena aksi mengagetkan juga menertawaiku tadi, aku menyahut kasar helm itu dan segera duduk di jok belakang motornya.
"Lo ngelamunin apaan tadi?" tanya Geo, ditengah perjalanan kita menuju rumah.
"Nanti aja di rumah, pengen cerita," ucapku. Sudah menjadi hal biasa kalau kita saling bertukar cerita, Beruntung sekali aku memiliki sepupu yang fun seperti Geo.
#POV 1 // ABI
Cewe itu cantik, tapi gue ga kenal atau bahkan tau namanya. Meskipun kelas kita tetanggaan, gue ga pernah ngeh ada dia disekolah ini. Mungkin karena waktu itu gue terlalu fokus ke pacar gue sebelumnya.
Buat dideketin secara terang-terangan kayaknya ngga dulu, bukan gue banget, kecuali kalau udah bener-bener fix gue mau sama dia.
Gue ngelihat temen dia di parkiran, tapi ternyata mereka ngga balik bareng. Waktu keluar parkiran, ada cowok dateng nyamperin dia, mungkin pacarnya? kayak anak kuliahan. Dari muka emang rada mirip, ada kemungkinan cowok itu abangnya atau itu bukti nyata kemiripan jodoh?
Eits...
Gue nabrak gerobak kakek-kakek tua yang ada di dekat sekolah. Ngelamun.
__ADS_1
Setelah lepas helm plus turun motor, pastinya gue bantu masukin dagangan beliau ke gerobak. Ada dia sama cowoknya yang berhentiin motor buat ikut bantu gue. "Maaf, kek.. saya ganti uang kerugiannya," beberapa uang seratus ribuan gue kasih ke kakek itu, terus gue cium tangannya.
Kasihan, orang tua seperti beliau harusnya sudah pensiun dari dunia pekerjaan dan menikmati masa tua bersama istri, anak dan cucunya. "Maaf sekali lagi, kek." Beliau mengangguk dan bilang terimakasih atas uang ganti rugi yang gue kasih.
Gerobaknya ga begitu rusak, masih bisa didorong sama kakek itu. Tapi, barang dagangannya udah rusak, kemungkinan besar beliau pulang ke rumah. "Hati-hati makanya kalo bawa motor, untung aja kakeknya ga kenapa-napa," kata cowok yang bantuin gue.
Cewe itu cuma diem sambil pegang handphone yang mirip sama punya gue. Refleks tangan langsung ngeraba saku celana dan handphone gue ga ada. "Eh, ini punya kamu," kata dia, nyerahin benda pipih itu. "Tadi jatuh."
"Thanks."
Her smile.. manis banget. Dia senyum ke gue. Tapi, itu pacarnya.
"Udah kali, ayo balik."
Cowok dia bisikin sesuatu yang gue ga bisa denger. Lagian juga buat apa gue tau.
#POV 3
Amora duduk di sofa ruang tengah, bersama dengan Geo. Senyumnya terus mengembang sejak kejadian tadi. Apakah ini yang dinamakan falling in love? entah lah, ia juga tidak mengetahui kebenarannya. Geo sedari tadi menatap aneh kepada gadis yang berstatus sebagai sepupunya, "kesambet apaan dah ni anak," lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.
"Cowok tadi.. ganteng, ya," ujar Amora, merespon ucapan Geo. Oh.. Geo paham apa yang akan diceritakan sepupunya setelah ini.
"Iya, cakep. Lo naksir?" tanya Geo memastikan. Amora kalau sudah menyukai satu orang cowok, pasti akan bertahan lama. Berbanding terbalik dengan Geo si playboy.
Amora menutupi kedua tangannya malu, "ga tau, ah!" terbayang wajah Abi yang tidak manusiawi itu membuatnya salah tingkah sendiri, lagi.
"Santai aja, mbak.. belum tentu juga dia naksir sama lo, /hahaha," ujar Geo, membuat Amora kesal sendiri. Kalau saja lelaki itu bukan sopir yang mengantar jemput nya, pasti Amora akan menjambak-jambak rambut lelaki itu. "Lo kan culun, ngomongnya pake aku-kamu," Geo kembali menambahi.
__ADS_1
"Kan cuma ngomongnya doang, orangnya modis begini, kok!" jawab Amora, tak mau kalah. Tentu ia memihak pada diri sendiri.
"Iya, deh.. si paling modis. By the way, om Fasya semalem nanyain kabar lo, Mor," ujar Geo mampu merubah raut wajah Amora.
"Terus?" tanya Amora, menunggu kelanjutan cerita Geo. Tidak enak memang rasanya, jika harus berkomunikasi dengan ayah lewat orang lain. Mengapa rasa malu untuk mengobrol dengan ayah ada pada diri Amora? padahal ia ingin sekali mengungkapkan rasa kangen secara terang-terangan.
"Dia mau ketemu," refleks kepala Amora menggeleng. Ia bingung harus membicarakan apa ketika bertemu dengan ayahnya nanti. Lebih baik tidak, daripada ia kaku untuk mengobrol dengan ayah.
"Emang lo ga kangen sama om Fasya?" tanya Geo, menatap sepupunya. Ia paham, kenapa Amora tidak mau bertemu dengan ayahnya, tapi kan kalau terus-terusan malu untuk berkomunikasi, kapan Amora akan terbiasa mengobrol dengan ayahnya? apalagi sampai berbagi cerita.
"Ngga," ucap Amora, lantas pergi ke kamar. Tentu itu bukan jawaban yang sebenarnya, Geo pun tahu akan hal itu. Tapi ya, mau bagaimana lagi, itu terserah pada Amora nya sendiri.
TBC~
Sedikit aja, takut bosen xixixi
jangan lupa kasih likenya yawwww👍🏼
favorit nya juga boleh kali ahaha
Makasih bangetttttt buat kalian yang udah baca, kasih like sama tambah cerita ini ke favorit, karena itu berarti BESSSSSAAAAAARRRR banget bagi aku🖤
See you next chap, ya!
OH IYAAAAAA....
STAY SAFE KALIAN SEMUA!
__ADS_1