
#POV 1 // AMORA
Aku, Stefany, papanya dan juga bunda tengah duduk di sofa ruang tengah. Papa Stefany dengan kertas putih berlabel sekolah yang dibacanya membuat suasana semakin tegang. Anaknya kembali dikeluarkan dari sekolah dan dengan alasan yang sama dari dua sekolah sebelumnya, itu kata papa Stefany setelah membaca kertas yang sedari tadi dipegangnya.
"Pembullyan macam apa yang kamu lakukan?!" tanya papa Stefany setelah berdiri dan mendekat ke anaknya. Stefany tetap diam dan tak mau menjawab pertanyaan itu, "PEMBULLYAN APA, STEFANY!!?" tentu kita bertiga kaget dengan sentakan itu.
Stefany langsung mengangkat kepalanya menatap papa, "pembullyan biasa! lagian sekolahnya aja yang terlalu over! pembullyan itu hal biasa jaman sekarang, pa!" jawabnya. Oh.. ternyata Stefany suka membully.
"Pembullyan itu bukan sesuatu yang baik untuk kamu lakukan! orang tua murid pasti ikut turun tangan dalam kasus kamu, sampai kamu bisa dikeluarin kayak gini! siswa yang kamu bully pasti tertekan! mungkin juga dia depresi atas perbuatan kamu!"
Stefany menghela nafas beratnya. Masih sempat-sempatnya dia santai dan sepertinya rasa tegangnya sudah tidak ada. "Iya deh, terserah. Aku ga disekolahin lagi juga gapapa," ucapnya, lagi-lagi santai.
"Kamu lanjut sekolah di tempat Amora."
Kini aku menjadi pusat perhatian mereka. Bukan menjadi masalah kalau Stefany turut bersekolah di tempatku. Bahkan aku menerima dengan senang hati, karena kita bisa berteman.
"Ada opsi lain ga?" tanya Stefany pada papanya. Mungkin dia tidak tertarik dengan SMA Graverios, tapi kalau sudah menjadi salah satu dari ratusan siswa itu, pasti Stefany akan menyukainya.
"Pilihan satu-satunya hanya di tempat Amora. Mau tidak mau tetap disitu!" tegas papa Stefany-- Dimas, pergi meninggalkan kita bertiga.
"Bunda ke papamu dulu," bunda pun kini ikut menyusul suaminya. Hanya aku dan Stefany sekarang.
Tidak ada yang membuka suara diantara kita. Stefany dengan raut muka kesalnya dan aku yang bingung harus memecah keheningan ini dengan cara apa. "Graverios seru kok, Stef!" kataku pada akhirnya. Stefany hanya melirik tanpa niat membalas perkataan ku.
"Aku bakal temenin kamu terus kalo belum punya temen di sana," lanjut ku. Namun sepertinya Stefany memang tidak tertarik sama sekali dengan obrolan ini. Dia berdiri meninggalkan aku seorang diri disini. Mataku mengekor sampai dia masuk kedalam kamar, benar-benar nasib yang kurang baik Stefany dapatkan.
__ADS_1
Sebaiknya aku juga masuk ke kamar sekarang, karena mereka sudah berada di kamar masing-masing, masa aku di ruang tengah sendiri begini? apalagi malem-malem. Aura nya sungguh betul-betul berbeda.
Aku duduk di meja belajar dengan handphone yang sudah ku pegang. Aplikasi Instagram tengah aku jelajahi untuk mencari username laki-laki yang beberapa hari belakangan memenuhi otakku. Abi. Siapa lagi kalau bukan dia?
Aku dapat informasi nama lengkap Abi dari Klarisa. Dengan modal itu aku mencari username Abi, dan untungnya ketemu. Dari foto profil yang dipasang memang foto Abi, namun bukan berarti akun ini aktif, kan? tidak ada postingan apapun disini.
Karena ke-kepoanku, kubuka followers-following nya yang tidak begitu banyak. Abi hanya mem-follow akun-akun keluarganya, mungkin? bahkan teman-temannya tidak ada yang di follow back.
"Follow ngga, ya.." monolog ku, "kalo aku follow, kira-kira bakalan di follback ngga?" sungguh bingung hanya karena menentukan untuk memencet tombol biru bertuliskan 'follow' di bawah namanya atau mending tidak usah.
"Abiii! kenapa sih baru tau ada kamu!" ucapku. Kemana saja aku ini, Abi begitu tampannya dengan kelas yang tidak terlalu jauh dari kelasku, tapi menyadari keberadaannya saja baru-baru ini.
#POV 3
Beberapa hari berlalu, urusan pendaftaran Stefany juga sudah diurus oleh papanya dan hari ini saatnya Stefany menjadi murid baru di SMA Graverios. Stefany berangkat diantar papanya, sedangkan Amora menolak ajakan itu dan tetap berangkat diantar oleh Geo.
"Lama banget, sih! bentar lagi bel, lagi," kesal Amora, kemudian segera menyahut helm yang Geo berikan dan duduk di jok belakang laki-laki itu.
"Ya elah, iya iyaa, sorry. Tadi abis bensin, makanya muter dulu," jawab Geo memberi alasan.
"Iya udah, cepetan jalanin motornya!"
Geo mulai menjalankan motor miliknya dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya agar Amora tidak terlambat. Namun, sepertinya itu sia-sia saja, sesampainya mereka di sana, gerbang sudah ditutup dan ini akan menjadi kali pertama Amora mendapat point.
Kakinya melangkah masuk ke kawasan Graverios dan melewati meja piket pastinya. Ia menghampiri guru itu dan mulai mencatat namanya dengan point pelanggaran yang telah ditentukan. "Kok ya tumben kamu telat, Amora?" tanya Bu Suci, sembari memperhatikan Amora yang tengah mencatat point nya.
__ADS_1
"Abis bensin, bu," jawabnya dengan senyuman kecil. Bu Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Amora. Alasan klasik yang biasanya digunakan anak-anak kalau terlambat.
"Langsung ke kelas, ya!" ujar Bu Suci, ketika Amora menyalami tangannya.
"Baik, bu." Ia mulai melangkahkan kaki untuk sampai di kelasnya. Sudah sepi, karena seluruh siswa sudah masuk kedalam kelasnya masing-masing. Baru saja akan masuk kedalam kelas, Abi keluar dari kelasnya dan menatap aneh kearah Amora yang masih memakai tas di luar kelas saat pembelajaran berlangsung.
Malu rasanya, Amora tak berani menatap Abi lama-lama. Tangannya mengetuk pintu, kemudian membukanya perlahan. "Permisi," baik guru yang tengah mengajar ataupun teman-teman sekelas Amora menoleh kearahnya.
Pak Sastro yang terkenal galak seantero sekolah itu berjalan menghampiri Amora yang berada di pintu kelas. Amora meneguk ludahnya susah payah, ia lupa kalau hari ini pembelajaran Kimia berada di awal jam pembelajaran. "Saya selalu berusaha untuk masuk tepat waktu selama mengajar, jadi kalian harus bersikap hal yang sama seperti yang saya lakukan."
"Dan saya tidak suka terhadap siswa atau siswi yang terlambat, seperti teman kalian!" tegas Pak Sastro.
"Baik, Pak, mohon maaf atas keterlambatan saya. Karena jemputan saya motornya habis bensin, jadi saya terlambat mengikuti pembelajaran bapak," jelas Amora. Ia sudah berkata jujur, kalau tanggapan Pak Sastro lain, itu adalah nasib yang harus Amora terima untuk menjalankan hukuman.
TBC~
Sedikit aja, takut bosen xixixi
jangan lupa kasih likenya yawwww👍🏼
favorit nya juga boleh kali ahaha
Makasih bangetttttt buat kalian yang udah baca, kasih like sama tambah cerita ini ke favorit, karena itu berarti BESSSSSAAAAAARRRR banget bagi aku🖤
See you next chap, ya!
__ADS_1
OH IYAAAAAA....
STAY SAFE KALIAN SEMUA!