
Jika ada yang tanya, apakah dia sekarang baik-baik saja, maka jawabnya tidak. Hatinya saat ini benar-benar hancur, siapa sih orangnya yang bisa bahagia melihat suaminya menikah lagi?
Semua wanita pasti tak menginginkan itu, tapi Luna harus terlihat tegar dan tak terjadi apa-apa agar suaminya tidak bimbang. Tujuannya saat ini hanya ingin mendapatkan anak, jadi Luna siap menerima apapun agar bisa memiliki seorang anak.
"Kamu kok disini sih, Mas?" tanya Luna terus memancarkan senyuman.
"Terus aku harus kemana, Lun? Kamarku disini," balas Alam langsung memeluk tubuh Luna sangat erat.
"Mas, jangan mulai deh. Temui Arumi, segera laksanakan tugasmu sebagai seorang suami agar semua segera membuahkan hasil," kata Arumi sambil merapikan baju suaminya.
Sekuat tenaga dia menahan agar tak menangis, senyuman manis selalu dia tampilkan agar suaminya pergi dengan tenang.
"Besok saja nggak bisa ya?" tawar Alam. Dia seperti tak ingin pergi, karena hatinya sendiri belum siap jika harus menyentuh Arumi.
"Nggak bisa, Mas! Masa subur Arumi itu hari sampai tujuh hari kedepan, jadi aku nggak mau kalau terlewat sedikitpun. Intinya selama tujuh hari ini kalian harus bersama," tegas Luna membuat Alam shock berat.
"Nggak harus tujuh hari juga, Lun," tolak Alam. Dia sangat keberatan jika harus bersama Arumi selama seminggu, baginya sekali saja cukup.
"Mas, kamu cinta nggak sih sebenarnya denganku?" Luna mengalihkan pembicaraan.
"Apa perlu dipertanyakan? Jika nggak cinta kenapa aku mengikuti hal gila seperti ini, semua demi kamu Luna," balas Alam tulus dari lubuk hatinya.
"Semoga terus seperti ini, Mas. Sekarang pergilah, jika memang mencintaiku selesaikan tugasmu selama seminggu ini."
***
__ADS_1
Di kamar, Arumi terus menggigit-gigit kuku jarinya. Dia benar-benar nervous sekali, perasaan juga campur aduk antara takut sekaligus kaget. Dalam sekejap Arumi telah menjadi istri Alam, bahkan harus melayani orang yang selama ini dia anggap kakak sendiri.
"Bagaimana ini? Apa aku mundur saja, atau kabur?" tanyanya pada diri sendiri. "Eh, tapi kalau kabur nggak mungkin, ini diluar negeri bukan Jakarta, harus pergi kemana malam-malam seperti ini," sambungnya sangat gelisa.
Meski udaranya sangat dingin, tapi Arumi berkeringat karena saking gugupnya. Tak lama kemudian, jantung Arumi semakin berdetak kencang ketika Alam masuk secara perlahan sampai akhirnya pintu tertutup rapat.
Arumi bingung, ingin lari tapi kemana, pura-pura pingsan juga tak mungkin sehingga dia hanya bisa diam sambil menatap Alam gugup.
"A-aku, aku mau —"
"Tidurlah, jangan gugup seperti itu." Alam langsung memotong perkataan Arumi, karena dia tau jika istri keduanya ini sangat takut.
"Terus, itu-nya bagaimana?" Arumi merutuki kebodohannya karena mengungkit masalah penyatuan, padahal dia sendiri masih belum siap.
"Jangan terbebani masalah itu, Rum. Kita sama-sama belum siap, hanya terpaksa karena Luna," balas Alam sambil mengacak-acak rambut Arumi.
"Jangan pikirkan dia, sekarang tidurlah. Nanti aku nyusul setelah selesai merokok," ucap Alam.
Mau tak mau Arumi akhirnya mengikuti perkataan Alam, dia memilih merebahkan tubuhnya sedangkan Alam menuju balkon kamar istrinya sambil menikmati rokok.
Pikiran Alam kali ini benar-benar stres, tak bisa memenuhi keinginan Luna, tapi dia harus melakukannya. Rasanya aneh sekali jika dipaksa berhubungan dengan Arumi, apalagi Alam sudah menganggapnya sebagai adik.
"Kenapa jadi serumit ini, Tuhan?" Keluhnya langsung mematikan rokoknya. Semakin dia diam di balkon, semakin mau pecah kepalanya sehingga Alam memutuskan segera tidur saja.
Namun, sebelum merebahkan tubuhnya Alam memilih untuk minum segelas air putih, ini memang rutinitasnya setiap hari, jadi tak akan pernah ketinggalan. Dirasa sudah lega, barulah Alam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Alam terus menatap langit-langit kamarnya, sambil memikirkan segalanya dia terus mencari jalan sampai akhirnya sesuatu yang aneh menjalar ke seluruh tubuh.
Rasa kering di tenggorokan dan gerah menjadi satu, perasaannya begitu gelisah seperti orang bingung. Karena tak tahan, Alam memutuskan meminum segelas air lagi, tapi sayangnya itu tak membuatnya enakan yang ada semakin panas.
"Sial! Ini pasti kerjaan Luna," umpat Alam segera masuk ke dalam kamar mandi.
Dia lebih memilih mengguyur dirinya dengan air dingin daripada harus merusak Arumi, padahal dia sendiri yang mengatakan tak akan menyentuhnya sekarang, tapi tindakan licik Luna membuat Alam tersiksa.
"Sialan, masih belum reda juga!" Alam merasa kesal karena sudah setengah jam dia berdiri di atas shower tapi belum juga ada perubahan, yang ada dia semakin tersiksa.
Tak kehabisan akal, Alam memilih memainkan adik kecilnya sendiri sampai tangannya terasa pegal, semakin emosilah Alam dan dia memutuskan menemui Luna saja.
Namun, naas ketika dia memencet password kamar selalu gagal lagi dan lagi. "Luna, seniat itu kamu merencanakan semua sampai mengganti password kamar Arumi!" serunya memilih diam di depan pintu.
Sejenak Alam melirik istrinya yang tengah tidur di atas ranjang, rasanya sudah tak tahan lagi tapi kewarasan Alam masih ada, sehingga dia menahan nafsuu nya sendiri sambil melihat Arumi dari kejauhan.
"Tahan Alam, tahan!"
Tubuhnya semakin berkeringat, dia tak bisa berpikir jernih lagi. Tenggorokannya sangat kering, keringat mulai bercucuran, tubuhnya bahkan semakin gerah dan ingin merasakan kelembutan dari seorang wanita.
"Sial, aku nggak tahan lagi!"
Alam pun bergegas mendekati ranjang. Perlahan-lahan Alam naik ke atas tubuh Arumi, sambil sang empu merasakan berat di area kakinya.
"KAKAK!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...