Anak Untuk Suami Kakak

Anak Untuk Suami Kakak
AUSK - 8. Jangan Bertengkar


__ADS_3

"Maaf."


Hanya itu kata-kata Alam sambil mengecupp lembut puncak kepala Arumi. Setelah selesai mandi, dia berniat untuk keluar dari kamar, karena saat dia bangun pintu sudah terbuka sedikit dan password sudah dikembalikan seperti semua.


Pagi ini, Alam berniat membuat sarapan untuk Arumi dan membiarkan istrinya tidur lebih lama. Dia paham betul bagaimana kondisinya saat ini, jadi Alam tak mau mengganggu tidur Arumi.


"Mas, kamu sudah bangun?" Alam melihat Luna sibuk di meja makan menata beberapa jenis lauk pauk di sana.


Karena masih marah akan tindakan Luna, Alam akhirnya tak mengindahkan ucapan istrinya dan lebih memilih mencari bahan makanan lain.


"Mas, aku sudah masak. Kenapa malah cari makanan lain, ini ada sup sehat, beberapa sayuran dan —"


"Stop! Apa sedikit saja nggak ada rasa bersalah di hatimu, Lun?" Alam menatap tajam istrinya.


"Bersalah kenapa?" Luna sedikit tertawa agar tak terlihat jika dia sebenarnya sangat terluka.


"Ck, bisa ya ada orang seperti kamu!" Alam sampai tak habis pikir dengan pola pikiran istrinya sendiri.


"Mas, sejak awal Arumi lah yang menawarkan diri, apa salah jika aku ingin dia melakukan semuanya sampai beres?" Luna akhirnya buka suara.


"Jika kamu tanya apakah aku memiliki rasa bersalah maka, maka jawabnya nggak! Karena dari awal dia yang mau membantu kita dan satu lagi, seharusnya kamu itu tanya apakah hatiku terluka atau nggak, bukan malah menyalahkan aku!" serunya sambil menatap penuh luka ke arah Alam.


Air matanya tak bisa terbendung lagi, yang awalnya dia akan menyembunyikan semua, tapi malah runtuh begitu saja setelah mendapat ejekan dari suaminya.

__ADS_1


"Aku cemburu, Mas. Cemburu melihatmu mencumbu Arumi, hatiku sangat sakit seperti tertusuk seribu anak panah, tapi kamu sama sekali nggak mengerti perasaanku," ucap Luna sambil memukul-mukul dada Alam. Luna bahkan menangis histeris, merasa dunia ini sangat tak adil baginya.


"Berani mengambil keputusan, harus berani menanggung rasa sakit Lun. Dari awal aku juga sudah katakan, lebih baik tinggal disini, jauh dari orang tuaku. Masalah anak nggak perlu dibuat susah, tapi yang ada apa?" Alam juga tak mau di salahkan, karena dia sendiri juga terluka akan perbuatan ini.


"Kamu menolak keinginanku itu dan terus memaksa aku menikahi Arumi. Tanpa memberikan waktu untuk kami berdua, kamu melakukan tindakan konyol dengan cara memberiku obat perangsangg!" seru Alam sambil memegang pundak Luna.


Alam ingin menunjukkan jika Luna juga salah disini dan dia tak mau istrinya merasa paling tersakiti, padahal yang berkorban banyak itu Arumi.


"Masih banyak waktu, Lun. Masih banyak, nggak berhasil bulan ini masih ada bulan depan, kenapa harus memakai cara kotor untuk menyatukan kami berdua? Oh ya, kamu bilang cemburu kan?" Alam terus menekan cengkraman di pundak Luna.


"Siapa suruh memasang CCTV dan menyaksikan semua? Itu namanya kamu cari penyakit, kamu sendiri yang melukai hatimu bukan aku maupun Arumi."


Karena tak mau lebih menyakiti hati istrinya, Alam segera meninggalkan Luna sendiri didapur. Dia mengurungkan niat untuk membuat sarapan, jadi Alam memiliki memesan sesuatu dari delivery.


"Ini semua salahku. Maaf, sungguh aku nggak bermaksud merusak keharmonisan rumah tangga kalian. Maaf ...."


***


Arumi menatap sendu ke arah suaminya yang saat ini membawa beberapa makanan. Dia tersenyum lembut, tapi senyuman itu tak mampu menyembunyikan kesedihan mendalam di hatinya.


"Kamu sudah bangun, Rum?" Alam mendekati istrinya dan menaruh semua makanan keatas meja kecil sebelah ranjang.


"Sudah, Kak."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu mau makan dulu, atau mandi?" tanya Alam lagi. Dia terlihat sangat sibuk sendiri, tanpa melihat kondisi Arumi yang bisa dibilang tak baik-baik saja.


"Kak ...."


"Iya, Rum?"


Mereka berdua pun saling tatap. "Jangan bertengkar dengan Kak Luna, dia sudah terluka dari lama, hanya saja Kak Luna menyembunyikan semua. Jadi wajar jika sekarang dia menggebu-gebu," kata Arumi tak bisa menahan air matanya lagi.


"Jika Kakak marah-marah sama Kak Luna, sama saja Kakak menambah penderitaannya, aku mohon jangan sakiti dia lagi. Cukup tante Ningsih saja, jangan Kakak," sambungnya.


Alam pun terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Luna. Sebenarnya dia juga merasa bersalah telah mengabaikan Luna, tapi semua dilakukan agar istrinya paham akan kesalahannya bukan karena Alam mulai berpaling atau bagaimana.


Dia tak mau Luna menjadi orang yang sangat egois, demi memenuhi keinginannya dia menyakiti orang lain dan berusaha menyetir hidup Arumi sampai Luna merasa puas.


"Kamu tenang saja, Rum. Kakak hanya menegurnya agar sadar akan kesalahannya, jika dia salah terus dibela, maka itu akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri," kata Alam.


"Tegurlah dengan sewajarnya, Kak. Jangan sampai membentak, karena hati yang sedang terluka sangatlah sensitif sekali. Temui kak Luna, dia sudah menyiapkan sarapan untukmu kan?"


Alam hanya menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Arumi. "Iya, kamu benar, Rum," balas Alam.


"Gitu dong Kak, coba kalau kalian bertengkar coba ingat-ingat masa kalian pacar dan menikah dulu. Jangan karena hal kecil saja, hubungan kalian berantakan. Sekarang temui kak Luna, aku bisa mengurus diriku sendiri."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2