
Arumi berusaha turun dari atas ranjang, rasa perih dan ngilu di bagian intinya membuatnya kesulitan bergerak. Sesekali dia berhenti sambil meredakan sensasi luar biasa di bawah sana, ingin menangis tapi malu dilihat orang lain.
"Ternyata seperti ini rasanya, nyeri sekali." Arumi bergumam sambil menetralisir rasa sakitnya.
Dirasa sudah mendingan, barulah dia berdiri dan mencoba berjalan. Namun sayang, kakinya seperti tak bertulang sehingga Arumi terjatuh di atas langit.
"Astaga, kenapa kakiku sangat lemas?" Matanya pun mulai berkaca-kaca.
Karena merasa tak sanggup ke kamar mandi, Arumi mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri. Dia lebih memilih naik kembali ke atas ranjang, tapi sebelum itu matanya menangkap sebuah pemandangan mengerikan di atas ranjang.
Banyak sekali bercak darah di sana, sehingga otaknya berputar pada kejadian semalam, dimana Alam terus meminta untuk terus dilayani meski tubuhnya sudah tak bisa merespon apapun.
"Kotor sekali, aku harus membersihkannya." Arumi tak peduli lagi dengan rasa lemas di kakinya, dengan tertatih dia berusaha berjalan membersihkan seluruh ranjang dan setelah beres barulah mandi.
Selesai mandi, Arumi merasa suhu tubuh badannya meninggi. Perutnya sangat lapar, tapi rasa pusing lebih dominan sehingga dia memutuskan untuk tidur saja dan berharap semua akan berakhir saat bangun nanti.
Sedangkan di luar sana, Alam masih tak mau berbicara dengan Luna. Meski dia memakan masakan istrinya, tapi bukan berarti Alam memaafkan tindakan Luna secepat itu.
"Mas, kamu masih marah?" Luna mencoba memecah keheningan di ruang makan.
Lama tak mendapat balasan, Luna hanya bisa tersenyum kecewa. Dia kembali melanjutkan sarapannya sampai akhirnya dia ingat jika Arumi tak terlihat dari tadi.
"Arumi belum keluar juga, padahal kamu keluar sudah lama. Apa dia baik-baik saja?" tanya Luna.
__ADS_1
Seketika Hans menghentikan kegiatannya, dia juga berpikir seperti Luna. Padahal tadi Arumi sempat bilang akan keluar jika selesai membersihkan badan, untuk makan bersama-sama.
"Mas, mau kemana?"
"Masih tanya aku mau kemana?"
Luna seketika diam seribu bahasa, dia lebih memilih melanjutkan makan dan membiarkan suaminya pergi dengan hati terluka. Meski ingin menangis, tapi dia tahan agar tak terlihat lemah di hadapan suaminya.
***
Alam masuk ke dalam dengan perlahan, matanya melirik ke arah makanan yang dia bawa tadi. Ternyata sedikitpun tak tersentuh oleh Arumi, padahal sebelum meninggalkan kamar Alam sempat berpesan agar istrinya itu meminum susu buatannya.
"Rum ...."
"Rum, sarapannya kok belum disentuh?" tanya Alam sangat lembut.
Tapi, tetap saja pertanyaan maupun panggilannya tak di respon oleh Arumi sehingga membuat Alam curiga dan langsung membalik tubuh Arumi.
"Rum!"
Sungguh Alam sangat panik melihat kondisi Arumi. Bahkan dia langsung mengecek suhu tubuh istrinya yang ternyata sangat panas, Arumi mengalami demam dan dia baru mengetahui hal ini.
"Sial, kenapa kamu nggak bilang kalau sedang sakit!" serunya bergegas menggendong Arumi.
__ADS_1
Alam akan membawa istrinya ke rumah sakit, karena Arumi sudah tak sadarkan diri entah sejak kapan dan inilah yang membuat Alam merasa bersalah. Jika tau seperti ini, maka dia tak akan menuruti permintaan Arumi untuk meninggalkannya sendiri dikamar.
"Mas, Arumi kenapa?" Luna juga ikut khawatir.
"Pingsan!" Alam tak memperdulikan Luna lagi, dia terus berjalan keluar rumah dan segera menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dokter pun langsung memeriksa keadaan Arumi, lama sekali Alam dan Luna menunggu di luar sampai akhirnya ada seorang perawat menyuruh mereka berdua masuk.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Alam seakan-akan tak sabar ingin mengetahui kondisi Arumi.
"Kondisinya sangat lemah, asam lambung yang terlalu tinggi dan efek kelelahan membuatnya lemah. Sementara waktu harus menginap di rumah sakit, sampai kondisinya benar-benar pulih. Hindari stres juga," ucap Dokter.
"Tapi, bagaimana dengan proses —"
"Gila kamu Lun! Kondisi Arumi masih seperti ini tapi otakmu masih memikirkan anak!" marah Alam.
Tatapan tajam pun dilayangkan di hadapan Luna, sungguh Alam tak habis pikir istrinya ini tak memiliki hati nurani.
"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Jika memang harus rawat inap maka lakukan, jangan di tunda-tunda lagi."
Dokter hanya menganggukkan kepala dan memberi isyarat pada perawat agar mempersiapkan tindakan selanjutnya, sedangkan Alam di persilakan untuk menandatangani berkas-berkas yang diperlukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1