Anak Untuk Suami Kakak

Anak Untuk Suami Kakak
AUSK - 7. CCTV Rahasia


__ADS_3

Sungguh, jantung Arumi terasa dejavu melihat Alam sudah ada di atas tubuhnya sambil menatap penuh hasrat. Arumi sangat ketakutan, tapi tumbuhnya sudah terkunci erat oleh Alam sehingga dia hanya bisa menggeliat berharap bisa lepas.


"Aku nggak tahan, Rum. Sepertinya Luna menaruh sesuatu di dalam air putih, setelah meminumnya tubuhku jadi panas, gerah dan berhasratt," kata Alam masih mencoba menahan diri agar tidak menerkam istrinya.


"Aku harus apa? Aku takut, Kak." Sungguh dia sangat takut saat ini, hatinya belum siap melayani suaminya.


"Aku tersiksa, Rum."


Alam langsung ambruk di atas tubuh Arumi, dia sembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil berusaha menahan diri. Namun, aroma tubuh Arumi membuatnya semakin tersiksa luar dan dalam.


"Aku juga bingung, Kak." Arumi sampai terbata-bata.


Tak lama kemudian Arumi merasakan geli di area lehernya, seperti ada benda lunak dan basahh menjalar ke seluruh permukaan kulit sehingga tanpa sadar Arumi mengerangg kecil.


"Rum, aku butuh kamu. Kita sudah menikah bukan, jadi ini juga kewajibanmu melayaniku," ucap Alam. Nada bicaranya pun sudah semakin berat, sampai membuat Arumi merinding.


Lama Arumi berpikir sambil membiarkan Alam menjelajahi lehernya, sampai beberapa menit kemudian barulah tangan Arumi bergerak memeluk tubuh suaminya dan memberikan elusan ringan.


"Lakukanlah, Kak. Jika ini membuatmu merasa baik, aku siap sekarang," lirih Arumi.


Meski masih takut tapi dia sudah memikirkannya, bagaimanapun Alam sudah menjadi suaminya dan sepatutnya dia melayani Alam meski keadaannya hanya terpaksa. Dengan menarik nafas panjang, dia tampilan senyuman manis ke arah suaminya.


"Kamu serius?" tanyanya masih tak percaya.

__ADS_1


"Iya, aku seri — ummpptthh ...."


Belum juga Arumi selesai melanjutkan ucapannya, tapi Alam sudah menerjang bibirnya dan melumatt habis tanpa memberikan jeda sedikitpun.


Arumi yang dasarnya belum paham tentang berciumann, hanya bisa diam dan mengikuti alur suaminya. Dia rasakan gigitan kecil di bibir bawahnya, sampai membuatnya membuka sedikit bibirnya.


Alam juga tak menyia-nyiakan waktu, lidaahnya langsung menerobos masuk membelit dan mengobrak-abrik semuanya sampai beberapa menit kemudian Alam menangkap sesuatu benda aneh di pojok ruangan.


"Tunggu sebentar!"


Alam beranjak dari atas Arumi, dia segera turun dan menghampiri benda aneh yang membuatnya curiga. Sedangkan Arumi masih berusaha mengatur nafas, detak jantungnya semakin berdebar-debar ketika mengingat apa yang dilakukannya tadi.


'Apakah tadi itu ciumaan?' batinnya masih tak percaya. Arumi pun menggeleng-gelengkan kepalanya, supaya sadar akan kenyataan jika dirinya hanya seorang pengganti.


"Aku nggak mau cara berhubungan kita diintai orang," balas Alam membuat Arumi bingung.


"Maksudnya?"


"Lupakan, ini nggak penting." Tapi setelah itu Alam berjongkok dan menatap sebuah kotak kecil di depan rak buku milik Arumi.


"Ini kan yang kamu mau, Lun? Kamu membuatku melakukannya dengan Arumi, sekarang aku kabulkan tapi aku nggak mau di intai seperti pencuri. Terima beres dan aku pastikan Arumi akan hamil dalam satu bulan ini!" Meski sangat pelan, tapi terlihat jelas jika Alam sangat marah.


Setelah berkata seperti itu, Alam langsung mengambil kotak tersebut dan membuangnya ke arah balkon. Entahlah jatuh kemana, yang jelas Alam sangat marah.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Luna hanya bisa menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar oleh siapapun. Dia sangat shock sekali mendengar ucapan Alam tadi, belum juga mereda rasa cemburunya melihat suami tercinta berciumann dengan Arumi, tapi kamera yang dia sembunyikan sudah diketahui keberadaannya.


Memang ada rasa lega karena CCTV itu dibuang, karena jujur rasanya sangat sakit melihat suami sendiri bercumbuu dengan wanita lain, tapi karena hal ini dia tak bisa memantau keadaan mereka. Tapi, Luna yakin kalau rencananya berhasil karena obat itu sudah merasuk ke dalam tubuh Alam.


"Kamu kuat, Lun. Hanya satu minggu, hanya satu minggu. Setelah itu akan membuahkan hasil dan kamu bisa hidup bahagia bersama mas Alam."


Tak mau semakin sakit hati, Luna lebih memilih merebahkan tubuhnya. Dia hanya bisa memeluk guling, sambil mati-matian mencoba berpikir positif.


***


"Kak, pelan sedikit. Ini sangat sakit," rintih Arumi merasakan sakit luar biasa saat Alam terus memasuki gua hangat miliknya.


Tubuhnya tak bisa rileks sedikitpun, dia hanya merasakan sakit tak tertahan dari setengah jam lalu. Meski Alam berusaha membuat istrinya menikmati semua, tapi tidak berhasil karena Arumi belum bisa rileks dan terlalu tegang.


"Nikmati, Rum. Jangan tegang seperti ini, coba tarik nafas," kata Alam tak mau berhenti melakukan kegiatannya.


"Nggak bisa, ini sakit. Berhentilah sejenak." Arumi sampai mengeluarkan air mata. Bohong jika orang-orang mengatakan malam pertama itu enak, nyatanya Arumi tak merasakan kenikmatan sedikitpun, hanya bisa merasakan sebelum suaminya memasukkan benda sekeras batu itu.


"Maaf, aku membuatmu sakit, tapi aku benar-benar tak bisa berhenti Rum," ucap Alam sambil mengecupp kedua mata Arumi. Dia merasa kasihan melihat Arumi menangis, tapi Alam tak bisa berhenti karena terlalu nikmat untuk di berhentikan.


Sedangkan Arumi, hanya diam tak membalas perkataan Alam. Dia hanya bisa menangis sambil meremasss kain sprei, berharap semua segera berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2