
SMA Langit Biru memang sekolah yang biasa seperti yang lainnya. Tidak ada sesuatu yang spesial or mencolok dari sekolah ini. Mari kita lihat keseharian murid-muridnya.
"Anjrit! Setan loe!"
"Gahahahaha!"
Seorang cewek berambut pirang berlari sambil ketawa-ketiwi dan dikejar-kejar lima cowok. Bukan, mereka bukan fans cewek itu, tapi... Yah, kalian pasti tau kan? XD #plak
"Setan loe, Jen!"
"Gahahaha, lagian elo! Jadi orang kok b*go banget sih! Hahaha!" Si cewek rambut pirang itu terus saja berlari. Lima cowok yang mengejarnya kewalahan. Yaiyalah! Secara si rambut pirang itu juara umum lari marathon di Kota Dandelion. Larinya cepet banget!
"Gahahaha!" Dia terus-terusan ketawa sambil lari.
BRUUKK
"Aduh.." Tanpa sengaja, dia menabrak seorang cowok berambut merah dan bermata hitam.
"Aduduh.." Cewek pirang itu berdiri sambil membersihkan debu dari roknya. Manis, pikir Gavin (cowok berambut merah itu).
"Kamu gak papa?" Tanya Gavin sopan. Jennie (cewek rambut pirang itu) menoleh.
"GAK PAPA NENEK LOE KERIPUTAN?"
Tweeeeewww..
".." Gavin sweatdrop, kirain pertanyaannya akan dijawab sopan. Ternyata..
"Apa loe liat liat gue hah? Naksir?" Bentak Jennie lagi. Setan, batin Gavin.
"Kalo iya kenapa?" Balas Gavin. Berharap kalo Jennie jadi blushing.
"Oh, gak papa. Tapi sayang, udah banyak yang naksir gue, gue tolak semua termasuk elo." Jawab Jennie santai. Gavin kembali sweatdrop. Bener-bener setan asli! Batinnya kembali.
"Tapi gue tetep naksir elo tuh?"
"Ih, whatever, like I care aja." Jawab Jennie sambil berjalan menjauhi Gavin menuju kelasnya. Gavin menyeringai.
"Ini baru inceran gue.." Gumamnya pelan.
xxxXXXxxx
"Jadi..Planet Yupiter adalah-.."
"Planet kelima di tata surya yang dijuluki tubuh raksasa. Jaraknya 778 juta km dari matahari, diameternya 142.984 km, punya 16 satelit. Bener kan?" Sela seorang cewek rambut pirang sambil berdiri dengan santai di pintu kelas. Guru yang sedang mengajar itu mengehela nafas. Padahal tadi dia udah sorak-sorak karena Jennie gak ada di kelasnya tuh! Eh, malah nongol.
"Nah, karena jawaban gue bener, gue boleh masuk kelas kan?" Kata Jennie santai sambil melangkah menuju bangkunya.
"Iya. Tolong jangan ulangi lagi, Jennie. Lain kali datang tepat waktu." Kata guru itu.
"Berisik loe, kayak gue peduli aja." Jawab Jennie. Setaaaaan! Batin guru itu kesal. Walau dia berusaha sabar.
"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita."
"Jen, sopan dikit napa sama guru?" Kata teman sebangkunya. Seorang setan seperti Jennie punya teman sebangku?
"Diem deh." Jawab Jennie. Cewek berambut Coklat di sampingnya menghela nafas.
"Loe gak takut di blacklist guru?"
"Terlanjur." Jawabnya santai.
"Kalo loe dikeluarin gimana?"
"Ya gue nyari sekolah lain. Apa susahnya?"
"Kalo sekolah lain gak mau nerima elo?"
"Ya gue home schooling. B*go amat sih."
"Kalo gurunya gak mau?"
"Ya gue paksa."
"Kalo-.."
"Kalo gue bekep mulut loe gimana?" Potong Jennie kesal.
"Udah deh, diem. Gue juga enjoy enjoy aja.." Lanjutnya sambil bersandar ke kursi. Selena (teman sebangkunya) menghela nafas lagi.
"Loe keras kepala banget."
"Biarin."
Pulang sekolah..
"Iya, iyaaa... Gue jemput elo!" Kata Jennie kesal pada lawan bicaranya di telepon.
"Gak boleh telat!"
"Iyaaa! Cerewet loe!" Jennie segera menutup sambungan teleponnya dan menyimpan hp itu ke saku bajunya.
"Siang.." Sapa seorang cowok berambut merah. Jennie menoleh.
"Kok sapaan gue gak dijawab sih?" Tanya Gavin. Jennie memutar matanya.
"Sok akrab banget loe."
"Hahaha, gak papa dong.."
"Bodo ah." Jennie segera masuk ke mobil dan cabut menuju SMP Antariksa. Ngapain lagi kalo bukan menjemput orang yang tadi dia telepon.
"Khukhukhu,, menarik.." Gumam Gavin sambil memakai helmnya. Dia segera pergi dengan motornya.
Sesampainya di SMP Antariksa..
"Loe lama amat sih?" Protes cewek berambut pirang yang serupa dengan Jennie.
"Berisik! Cepet naik atau gue tinggal!"
"Iya, iya!"
__ADS_1
Akhirnya si rambut pirang segera masuk ke mobil dan Jennie pun tancap gas meninggalkan sekolah itu.
"Jen, bentar lagi kenaikan kelas.."
"Ya terus?"
"Loe gak gugup?"
"Gugup kenapa?"
"Tentang nilai loe gitu?" Jennie tersenyum licik.
"Tenang aja, gue jamin nilai gue perfect."
"Iya nilai loe pasti gede, tapi kan loe kerjanya ribut mulu sama guru. Mana ada yang mau ngasih nilai gede sama loe." Kata si rambut pirang bernama Keisha itu sambil manyun.
"Gahahaha! Kita liat aja.."
Di lain tempat..
"Eric."
"Hn,"
"Pinjem lappie elo dong.."
"Gak boleh!"
"Pelit loe!"
"Biarin." Gavin manyun, akhirnya dia menggunakan laptopnya sendiri. Senyuman licik terpampang di wajahnya.
"Just wait and see, Jennie.."
xxxXXXxxx
"Bentar lagi pembagian raport loh."
"Iya, gue tau."
"Waah, gue gak sabar, nilai gue berapa ya?"
Jennie mendengus mendengar obrolan anak-anak di kelasnya.
"Lebay, biasa aja kali." Komentarnya sadis.
"Eh, elo tuh Jen, gue sumpahin nilai lo ambruk ya!" Kata seorang siswa padanya.
"Hah? Apa? Gue gak denger tuh?" Jennie cuek sambil terus mengunyah permen karetnya. Selena geleng-geleng.
Hari pembagian raport..
"Baiklah, peringkat pertama di kelas ini adalah..."
Semua murid udah excited. Guru itu menghela nafas sejenak.
"Juara bertahan. Jennie Albern."
"Khukhukhu.." Jennie segera ke depan dan mengambil raportnya.
"Pak, boleh kan gue ngomong beberapa patah kata?" Kata Jennie. Gurunya mengangguk ketakutan.
"Oke... Pertama-tama gue mo ngasih peringatan aja sama segerombolan siswa yang nyumpahin nilai gue ambruk. Dengan perolehan nilai gue yang gemilang ini, jangan harap kalian bakal lolos dari inceran gue. sekian.." Kata Jennie. Siswa lain pada merinding. Jennie kan nekat, bisa aja dia ngerjain orang sampe parah banget.
"Hahh..the hell is coming.." Keluh siswa-siswa itu.
Tok..tok..
"Permisi pak, boleh saya menemui Jennie?"
"Si-silahkan, Gavin.." Kata guru itu gugup. Secara sekolah ini dapet banyak banget sumbangan dari keluarganya Gavin.
"Ngapain loe kesini?" Tanya Jennie sadis. Gavin tersenyum.
"Ikut gue."
"Eeh! Enak aja loe! Lepas! Lepas gak!" Gavin menyeret Jennie ke luar kelas diiringi helaan nafas lega siswa lain.
"Mau loe apaan sih?" Kata Jennie kesal. Gavin terus menyeretnya dan akhirnya berhenti di depan ruang kepala sekolah.
"Ngapain loe bawa gue kesini?"
"Masuk." Katanya sambil mendorong tubuh Jennie. Di dalam sudah ada Pak Tomy, kepala sekolah mereka.
"Duduk lah." Katanya sambil menyimpan buku yang tadi dibacanya ke atas meja. Gavin dan Jennie duduk.
"Jadi, langsung ke intinya saja. Sebentar lagi akan ada olimpiade matematika. Dan aku memilih kalian untuk mewakili sekolah ini." Kata Pak Tomy. Jennie mendelik.
"Kenapa harus gue?"
"Karena kau peringkat dua nilai tertinggi di sekolah ini."
"Peringkat satunya siapa?"
"Orang di sebelahmu." Jennie menoleh. Gavin tersenyum.
"Di-dia?"
"Hm. Jadi kuharap kalian bisa belajar bersama. Dan Jennie, kau harus bisa bekerja sama dengan Gavin, ini perintah." Kata Pak Tomy. Jennie mendengus.
"Baiklah silahkan kembali ke kelas kalian masing-masing."
xxxXXXxxx
"Loe denger kan, Jen? Kita harus selaaaalu bersama-sama.." Kata Gavin dengan nada santai saat berjalan di koridor berdua dengan Jennie.
"Enggak. Yang gue denger 'kita harus bekerja sama' bukan 'selaaaalu bersama-sama'." Katanya ketus. Gavin terkekeh.
"Well, gue punya banyak waktu buat berduaan sama loe.." Kata Gavin. Jennie menoleh dan mendapati wajah mesum si Gavin sedang terpasang jelas.
"Maksud loe?"
__ADS_1
"Yaaah, gue kan pengen banget berduaan sama loe. Abis loe manis sih.." Kata Gavin santai. Jennie sweatdrop.
"Loe..gak waras ya?"
"Hahaha, pulang sekolah kita bisa belajar bareng, makan siang bareng, tidur siang bareng dan banyak lagi.."
"Ikh, go to hell aja loe!" Jennie segera berlari menjauhi Gavin yang tertawa licik.
Skip time..
"Jen, loe gak mau makan?" Tanya Keisha sambil bawa-bawa sepiring nasi goreng.
"Gak laper." Jawab kakaknya sambil terus membaca buku.
Ting..tong..
"Bukain pintu gih." Kata Jennie.
"Loe gak mau repot amat.." Keluh Keisha sambil berjalan menuju pintu.
"Selamat siang.." Sapa si pemencet bel yang ternyata adalah Gavin. Keisha tersenyum.
"Siang! Ada perlu sama siapa ya?" Tanyanya ramah.
"Jennie ada?"
"Oh, ada kok. Jen! Ada yang nyariin elo nih!"
"Siapa?"
"Gavin." Kata Gavin saat Keisha menoleh padanya.
"Gavin!" Teriak Keisha. Jennie melotot. Ngapain si Gavin gak waras itu ke sini? Dari mana dia tau rumah gue?
"Suruh pergi aja!" Sahut Jennie. Keisha melongo. Gavin tersenyum.
"Kamu siapanya Jennie?" Tanya Gavin.
"Adeknya." Gavin sweatdrop. Bisa-bisanya setan punya adek malaikat?
"Ooh.."
Akhirnya Gavin masuk dan mengendap-endap di belakang Jennie yang masih anteng baca buku. Jadinya dia gak sadar kalo ada Gavin di belakangnya.
"Loe rajin juga, ya.." Bisik Gavin (sok) mesra di telinga Jennie. Jennie terbelalak.
"Elo? Kenapa loe masuk? Keishaaa! Usir diaa!"
"Ogaaaah!" Gavin smirk gaje. Jennie mendengus.
"Mau apa loe kesini?" Tanyanya galak.
"Kan kita harus belajar bareng. Masa gak inget?" Kata Gavin santai sambil duduk di samping Jennie. Jennie menggeram.
"Gak usah repot-repot, gue bisa belajar sendiri!"
"Tapi ini perintah kepala sekolah lhoo.." Jennie menghela nafas kesal.
"Okeee! Terserah elo!" Akhirnya Jennie kembali membaca tanpa menghiraukan Gavin. Gavin hanya mengangkat bahu lalu mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membaca juga. Suasana jadi hening.
'Ck, sialaaan! Ngapain sih dia pake kesini segala? Lagian siapa lagi yang ngasih tau alamat gue? aaargh!' Umpat Jennie dalam hati.
Sraaak...sraaaakk..
"Pelan-pelan, Jen. Nanti bukunya sobek loh.." Kata Gavin tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku. Jennie menggeram sambil terus membolak-balik lembaran buku di tangannya. Akhirnya dia membanting buku dengan kesal.
"Gue udah muak! Silahkan pergi dari rumah gue! sekarang!" Bentaknya sadis. Gavin hanya meliriknya sedikit.
"Sayangnya gue keberatan." Jawabnya santai sambil membuka lembaran bukunya. Jennie menggemeretakkan giginya kesal.
"Elooo!" Jennie mengayunkan tangannya untuk memukul Gavin. Gavin hanya menangkap tangan Jennie lalu menariknya hingga Jennie jatuh ke pelukan Gavin.
"Wah, Jen..kenapa gak bilang kalo mau gue peluk? Repot amat mesti pura-pura marah.." Kata Gavin santai sambil mendekap tubuh Jennie dengan sebelah tangan. Jennie menggeram.
"Lepaaas!" Teriaknya sambil berusaha melepaskan diri. Sayangnya gagal.
"Jennie?" Gavin menoleh. Terlihat seorang cewek dan cowok berambut coklat dan dark blue berdiri sambil menatap Jennie heran.
"Lepasin guee!" Jennie menggigit tangan Gavin hingga pegangannya lepas.
"Aww... Sadis juga loe, Jen." Jennie terengah-engah. Tangannya sudah mengepal keras.
"Keluar. Dari. Rumah. Gue. Sekarang. Juga." Katanya dengan penekanan di setiap kata. Gavin tersenyum.
"Ahoo, boy and girl, temennya Jennie, ya?" Gavin malah menyapa cowok dan cewek yang ternyata Daniel dan Selena itu.
"I-iya. Loe ngapain disini?" Jawab Selena.
"Ahaha, enggak kok. Cuma lagi berduaan sama Jennie. Iya kan?"
JDUAAAKK
"Salah." Jawab Jennie. Gavin meringis sambil mengelus kepalanya yang tadi kena jitak.
"Well, gue mau tanya. Siapa diantara elo berdua yang ngasih tau alamat gua ke orang ini?" Tanya Jennie dengan aura-aura menyeramkan. Daniel dan Selena bergidik.
"Enggak kok."
"Gue juga enggak."
"Siapa?" Tanya Jennie lagi. Mendadak Gavin merangkul bahunya.
"Gak usah marah-marah dong, Jen.. Gue nyari tau sendiri kok. Gue kan pinter." Katanya narsis. Jennie mendelik.
"Pergi dari sini!" Bentaknya kejam. Gavin tertawa.
"Ahahaha, iya deh, iya.." Akhirnya Gavin pergi dari rumah Jennie.
"Hmm, makin menarik..khukhukhu.." Gavin menyeringai sambil menjalankan mobilnya.
~To Be Continued~
__ADS_1