
Pagi ini Jennie udah ngedumel panjang lebar dari rumah, di perjalanan menuju sekolah, sampe waktu jalan ke kelas pun umpatan-umpatan terus keluar dari mulutnya. Dongkol banget dia. Gara-gara semalem..
*Kriiing...kriiingg..
"Halo, selamat malam."
"Oh, ada. Jen! Telpon buat loe!" Teriak Keisha. Jennie segera menyambar gagang telepon.
"Yak, siapa?" Tanya Jennie.
"Ini saya, Pak Tomy."
"Oh, mo apa?"
"Besok olimpiadenya akan berjalan." Jennie mangap.
"Kok loe gak bilang dari kemaren-kemaren sih?" Tanya Jennie kesal. Terdengar Pak Tomy menghela nafas.
"Maaf, jadwalnya dipercepat." Jennie mendengus lalu segera menutup telepon. Keisha cengok.
"Loe kenapa Jen? Tampang kusut amat.."
"Kagak!" Keisha mengelus dada. Jennie segera berlari menuju kamarnya dan membanting pintunya keras-keras.
"Buset dah.."*
Oke, dan hari ini Jennie pengen banget nyeburin kepala sekolahnya itu ke empang belakang sekolah.
"Semangat, Gavin, Jennie." Kata Pak Tomy sambil melepas kepergian mereka untuk selama-lamanya (Jennie: loe pikir gue mati?) eh, untuk pergi ke tempat lomba. Gavin senyum, sementara cewek di sampingnya pasang wajah asem.
"Nyantai dong, Jen. Loe punya otak juga gak dongo-dongo amat. Santai aja kali~~.." Kata Gavin sambil mengemudi. Ya, dia bawa mobil ke tempat lomba. Jennie yang duduk disampingnya cuma diem. Nekuk muka.
Sampe di tempat lomba..
"Waktunya masih lama, Jen. Sekitar stengah jam lagi. Loe mau makan dulu gak?" Tanya Gavin. Jennie menggeleng.
"Loe aja sana. Gue di sini aja." Kata Jennie. Gavin hanya mengangkat bahu lalu ikutan duduk di samping Jennie yang lagi duduk di kursi taman.
"Gue nyari minum dulu, ya."
"Hn." Gavin segera berdiri untuk mencari kantin. Tak lama dia segera meninggalkan Jennie. Jennie cuma menghela nafas sambil berusaha untuk santai. Sepintar apa pun dia, kalo dadakan begini pasti bikin nervous.
"Selamat pagi.." Sapa seorang cowok padanya. Jennie menoleh.
"Loe nyapa gue?" Cowok itu senyum.
"Iya, boleh gue duduk di sini?"
"Terserah." Jawab Jennie cuek. Cowok itu senyum lagi.
"Nama gue Len. Loe siapa?"
"Jennie."
"Ooh..loe manis." Jennie belom tanggap. Seenggaknya sampe dia sadar.
Manis? Manis? MANIS?
"Loe kira gua gulali?!" Bentak Jennie kesal. Huh, lagi bad mood, malah pake acara harus marah-marah lagi, batin Jennie. Len senyum again.
"Gue tau kok. Loe cewek paling manis yang pernah gue liat. Loe mau gak jadi pacar gue?" Jennie melotot. Ini orang waras gak sih? Baru kenal langsung nembak.
"Loe.. Gak waras?" Len senyum lagi.
"Oke, semoga kita bisa ketemu lagi 'n gue bisa nembak loe lagi. Bye.." Kata Len sambil berdiri dan meninggalkan Jennie yang cengok seratus persen.
"Satu lagi orang gak waras yang gue temuin di muka bumi." Gumamnya sambil geleng-geleng.
"Tadi siapa?" Mendadak Gavin nongol. Jennie menoleh.
__ADS_1
"Orang gak waras."
"Dia nembak loe kan."
"Hn."
"Loe terima?"
"Menurut loe?" Jennie menatap mata hitam Gavin dengan matanya yang coklat itu. Gavin natap Jennie dengan dingin.
"Gue tanya. Lo terima gak?"
"Loe tebak aja sendiri." Gavin menghela nafas.
Skip time..
"Jen, gue mau ke supermarket dulu. Loe mau ikut atau pulang duluan?" Tanya Gavin. Jennie mikir sejenak. Hmm, kalo pulang duluan pasti naik taksi or bus, n itu artinya harus bayar. Keluar duit.
"Gue ikut." Jawabnya kemudian. Gavin senyum dan mulai menjalankan mobilnya.
Mereka pun sampai di salah satu supermarket. Gavin segera ngambil kereta belanja dan mulai memilih-milih apa yang harus dibeli. Hidup berdua dengan Eric memang membuatnya harus belanja dan masak untuk dia dan adiknya. Beda sama Jennie yang sama sekali gak peduli soal makanan Keisha. Walau dia care banget sama adiknya itu, Jennie selalu pura-pura cuek.
"Hmm, gue beli ikan salmon aja, ya? Atau.. daging?" Gumam Gavin sambil melihat-lihat di bagian fish and meat. Jennie cuma jalan di sampingnya sambil sesekali ngelirik-lirik si Gavin beli apaan.
Oke, kita skip aja. Mereka lagi jalan menuju lapangan parkir. Saat segerombol cowok nyamperin mereka.
"Maaf, bisa minggir?" Kata Gavin. Jennie cuma cuek. Cowok-cowok itu smirk gaje.
"Minggir? Harus ya?"
"Yap. Kalian ngalangin jalan." Jawab Gavin. Mendadak salah satu cowok (yang kayaknya itu leadernya) menghampiri Jennie yang lagi cuek en anteng sama pikirannya sendiri.
"Halo, manis. Selamat siang.." Mau gak mau Jennie geram juga, dibilang manis mulu dari tadi pagi.
"Siang. Dan jangan sebut gue manis."
"Gue kan gak tau nama loe. Nama gue Alex. Loe siapa?" Tanya leadernya itu.
"Hmm, jadi pacar gue yuk?" Tanya Alex sambil mengelus dagu Jennie. Jennie melotot. Aaargh, kenapa sih hari ini? Di bilang manis, ditembak cowok dua kali pula! Batin Jennie kesal. Baru aja dia mau nampar cowok itu. Gavin meletakkan belanjaannya dan..
BUAGH!
"U-ukh.." Alex tersungkur. Jennie mangap. Gerakan Gavin cepet banget sih. Gavin menatap Alex dengan tatapan kesal.
"Jangan sentuh dia pake tangan kotor loe." Kata Gavin dingin.
"Beraninya loe!" Gerombolan itu langsung menggempur Gavin yang ngeladenin mereka dengan santai. Dan 5 menit kemudian, mereka udah tumbang semua. Jennie bener-bener mangap.
"Udahan bengongnya? Ayo masuk." Kata Gavin masih dengan nada ketus. Jennie cuma menghela nafas lalu masuk ke mobil. Gavin menginjak gas dan mereka pun cabut dari lapangan parkir itu.
"Loe bisa naik taksi kan?" Tanya Gavin mendadak sambil ngerem. Jennie kaget en kedorong ke depan. Untung gak sampe nabrak kaca.
"Emang loe mau kemana lagi?" Tanya Jennie balik.
"Gue ada urusan."
"Oh, oke.." Jennie yang emang gak peka langsung ngelepas sabuk pengaman en keluar dari mobil. Dia mutusin buat naik bus aja. Baru aja dia duduk di halte, seorang cowok nyamperin.
"Siang.."
"Hn.."
"Gue Mark. Loe siapa?"
"Jennie."
"Ohh.. Loe mau gak jadi pacar gue?" Jennie terbelalak. Aarrrgh, kenapa sih? Rasanya ini hari tersial dalam hidup gue! batinnya dongkol.
"Loe gak waras." Jawab Jennie. Mark senyum.
__ADS_1
"Abis lo manis sih." Jennie menggeram. Lagi-lagi gue disebut manis.
Cup.
Jennie melotot. Mark mendekatkan wajahnya en nyium pipinya sebentar.
"Elooo!"
Plak!
"Aw.. Loe galak juga.." Kata Mark sambil megang pipinya yang kena tampar. Jennie mengepalkan tangannya keras-keras.
"Pergi dari sini." Kata Jennie dengan aura serem yang bahkan ngalahin setan bioskop manapun. Mark senyum.
"Oke, lain kali gue nembak loe lagi deh. Bye, my love." Jennie menepuk jidatnya. Apa dosa gueeee?
Tak lama terdengar keributan di dekat halte itu. Beberapa orang berusaha melerai, namun kayaknya gagal. Jennie menghampiri keributan itu, sekedar pengen tau. Mendadak matanya membulat.
"Gavin?" Gumamnya pelan. Gavin yang lagi mukulin cowok rambut silver yang tadi nembak Jennie pun menoleh. Jennie terbelalak.
"Loe-.. Loe.. Kenapa?" Tanya Jennie bingung. Gavin segera berdiri dan membersihkan debu di bajunya.
"Kalo loe berani deketin dia. Nyawa loe tuntas!" Ancam Gavin. Mark bergidik.
"Elo apa-apaan sih?" Tanya Jennie kesal. Gavin segera menariknya masuk ke mobil.
"Loe bilang ada urusan. Kenapa masih di sini? Pake acara ngehajar orang segala lagi." Kata Jennie. Gavin masang wajah stoic yang menyeramkan.
"Jangan bilang kalo loe tadi nerima dia."
"Hah?" Gavin mengunci pintu mobil lalu mencengkeram bahu Jennie dengan keras sampe cewek itu meringis.
"Jawab gue, loe gak nerima dia kan?"
"Aduh, lepasin napa!"
"JAWAB GUE!" Bentak Gavin. Jennie mendelik.
"Loe pikir gue cewek apaan? Nerima orang yang baru dikenal. Mikir dong!" Bentak Jennie balik. Walau suaranya kalah keras.
"TERUS TADI NGAPAIN DIA PAKE NYIUM ELO SEGALA?"
"Heh! Loe pikir gue mau digituin? Lagian kenapa jadi loe yang sewot sih? Orang yang ditembak gue kok." Jawab Jennie. Gavin menghela nafas.
"Cuma... Kesel doang." Kata Gavin sambil memegang stir dan menginjak gas. Jennie gak abis pikir. Nih cowok kenapa sih?
'Nggak, gue gak cemburu. Gue gak cemburu.' Batin Gavin. Semenjak insiden si Len di tempat lomba, Gavin jadi amuk-amukan gak jelas. Apalagi pas ngeliat Alex ngelus dagu Jennie. Dia langsung meledak. Lah tadi? Apaan lagi tuh? Mark nyium Jennie? Walau cuma di pipi, Gavin langsung mendidih dan ngehajar tuh cowok.
"Loe kesel sama siapa?" Tanya Jennie santai.
"Enggak." Jawabnya ketus. Jennie memutar matanya.
"Terserah elo deh." Mendadak Gavin kembali ngerem.
"Loe tuh gak bisa ya, ngerem pelan-pelan?!" Bentak Jennie kesal.
"Keluar dari mobil gue." Kata Gavin dingin. Dahi Jennie berkedut menahan kesal.
"Ya terusss, kenapa tadi loe pake nyeret gue masuk, hah?"
"Supaya gak ada yang nembak loe lagi." Jawab Gavin. Jennie sweatdrop.
"Karena ini udah deket sama rumah loe, jadi gak ada yang bakal nembak loe lagi." Sambung Gavin. Jennie mau gak mau jadi heran.
"Okeeee, terserah!" Kata Jennie sambil keluar dari mobil. Gavin diam sejenak dan ngeliatin Jennie ngebuka gerbang en masuk ke rumahnya. Gavin menghela nafas lega.
"Kenapa... Gue jadi marah? Gue gak beneran suka sama dia kan? Enggak kan?" Gumam Gavin sambil megang dadanya sendiri.
"Ukh, setan sialan..." Gavin membenamkan kepalanya ke setir.
__ADS_1
"Loe bikin gue jadi gak jelas begini, Jen.."
~To Be Continued~