
Jennie lagi jalan nyantai menuju kelasnya sambil ngunyah permen karet en nyandang tasnya. Pas lewat di koridor, banyak siswa-siswi yang ngeliatin dia dengan tatapan aneh. Biasanya sih tatapan sebel, tapi.. kali ini beda.
"Ck, kenapa sih? Mereka kangen gue jailin kali, ya." Gumam Jennie kesel. Dia mulai menajamkan pendengarannya.
"Beneran?"
"Iya! Gue aja gak percaya!"
"Percaya aja sih, secara dia punya otak encer banget."
"Ckckck.."
Jennie memutar matanya bosan. Kirain apaan, ternyata mereka pada ngomongin hasil olimpiade toh. Dia terus jalan dengan santai, seenggaknya sampe,
"Pagi, Jennieeeee!" Terdengar sorakan dari lapangan basket. Jennie noleh. Segerombolan cewek en cowok lagi bawa-bawa spanduk bertuliskan 'YOU'RE AMAZING, JENNIE'. Jennie ngangkat sebelah alisnya, "Astaga, orang-orang gila itu lagi pada ngapain coba?" Gumamnya, memasang wajah ilfil.
"Kyaaa! Dia makin kereen!"
"Udah keren, pinter lagi!"
Jennie sweatdrop. "Sejak kapan gue punya Fan Club?".
"KYAAA! GAVINNNNN!" Mendadak mereka makin histeris saat ngeliat Gavin. Jennie kembali sweatdrop.
"Ckck.." Jennie langsung masuk ke kelasnya. Dia langsung duduk di bangkunya en memulai ritual biasa. Nyender ke kursi sambil ngunyah permen karet.
Tak lama, bel berbunyi dan semua murid masuk ke kelas masing-masing.
"Pagi, pak!"
"Pagi, anak-anak." Guru kelasnya dateng diikutin seorang cowok berambut silver. Semua cewek pada bisik-bisik sambil wajahnya blushing.
"Kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu." Kata guru itu. Semua murid excited kecuali Jennie tentunya. Dia tetep nyantai ngunyah permen karet tanpa ngeliat ke depan.
"Pagi, nama saya Mark Felton, saya pindahan dari SMA Galaxy, mohon bantuannya!" Sapa cowok rambut silver itu.
"Buh!" Jennie melotot dan memuntahkan permen karetnya. Mark?
"Ada masalah apa, Jennie?" Tanya guru itu. Jennie pura-pura gak peduli.
"Nggak. Terusin aja." Jawab Jennie pura-pura cuek. Padahal jantungnya dag-dig-dug tuh.
"Sialan. Dosa gue apa sih?" Gumam Jennie kesel. Mark senyum.
"Ah, kamu bisa duduk dengan Blake." Kata guru itu. Oke, you're lucky, Mark. Blake duduk tepat di belakang Jennie. Jennie nepuk jidatnya, "Ck, apes banget gue."
"Halo, Jennie.." Sapa Mark.
"Yayaya." Jawab Jennie cuek. Mark senyum.
"Kebetulan banget, ya."
"Yaaa, kebetulan banget gue juga lagi pengen nonjok elu. Gue lagi ogah nyari ribut sih, makanya diem en gak usah ganggu gue, bisa?" Kata Jennie sambil mendelik. Mark terkekeh.
"Loe masih marah?"
"Ahaha, marah apaan? Gue cuma pengen ngehajar elo kok." Kata Jennie sambil senyum sok manis. "Pergi dari hadapan gue sekarang!" Bentaknya kemudian. Mark senyum lagi.
"Btw, siapa yang waktu itu marah en ngehajar gue? Pacar loe, ya?" Tanya Mark.
"Bukan."
"Lah, terus siapa?"
"Supir gue." Jawab Jennie ngasal. Mark mengerutkan dahinya.
"Supir? Masa sih?"
"Elo liat kan dia nyeret gue ke mobil? Berarti dia supir gue." Jawab Jennie kembali ngasal.
"Ohh, sukur deh. Berarti loe masih sendiri." Kata Mark sambil lagi-lagi senyum.
"Loe buta, ya? Di sini ada 32 anak." Kata Jennie, mulai gak sabar ngeladeninnya. Dia segera cabut dari kelas menuju ke taman belakang sekolah. Selena geleng-geleng.
"Sori yah, dia emang galak begitu.." Kata Selena. Mark senyum.
"Gak papa.."
Di taman belakang..
__ADS_1
"Sial, siaaal!" Jennie mukul-mukul pohon buat ngelampiasin rasa dongkolnya.
"Gue ini kenapa sih? Kemaren, gue ngasih harapan ke si Len. Sekarang? Ngapain lagi si rambut silver brengsek itu pindah ke sini? Aaargh!" Umpatnya kesal.
"Jadi loe di sini?" Jennie noleh. Mata coklatnya beradu sama sepasang mata hitam.
"Elo?"
"Waah, kebetulan banget, ya.." Kata Gavin. Dia mulai bisa nyantai lagi ngomong sama Jennie.
"Jauh-jauh loe! Gue lagi bete!" Katanya, sewot banget si Jennie.
"Oh? Apa hak elo ngusir gue? Ini taman milik bersama loh.." Kata Gavin. Jennie yang lagi nggak mood debat sama tuh orang langsung cabut. Gavin senyum.
xxxXXXxxx
Waktunya Jennie pulang, dia lagi jalan menuju halte, karena mobilnya lagi ngadat di bengkel, dia harus naik bus. Baru aja dia duduk dengan tenang,
"Heh, duit, duit!" Segerombolan cowok –sok- sangar nyamperin dia.
"Loe kondektur? Maaf deh, ini halte, bukan bis." Jawab Jennie. Leadernya kesinggung berat.
"Loe ngajak gue ribut? Serahin duit loe atau-"
"Apa?" Tantang Jennie. Dahi preman itu berkedut kesel.
"Loe berani sama gue?" Bentaknya. Jennie smirk. Lumayan nih, kebeneran gue lagi pengen ngehajar orang.
"Kang, mas, om, mbah, eyang, gue gak takut sedikitpun sama teri tengil macam elo!" Kata Jennie. Leadernya mulai mendidih. Akhirnya gerombolan itu ngegempur Jennie yang cuma nyantai ngeladenin mereka.
"Loe nyari mati?" Bentak seorang cowok. Preman itu noleh en langsung gemeteran takut.
"Ma-maaf.."
"Inget! Loe boleh mangsa siapapun kecuali cewek ini! Ngerti!" Bentak cowok itu lagi. Jennie mengerutkan dahinya. Perasaan gue kenal deh..
"Ng-ngerti.."
"Pergi dari hadapan gue sekarang!"
"Hiii, iya!" Gerombolan itu langsung lari tunggang langgang. Jennie mendelik.
Cowok itu noleh en senyum ke Jennie.
"Siang, manis.." Jennie melotot. Siaaaaaaaaaaaaaaaaal!
"Elo?" Cowok itu kembali senyum.
"Loe inget kan sama gue, honey?" Kata cowok itu sambil ngelus dagu Jennie.
BUAGH!
"Jauh-jauh loe." Kata Jennie sadis. Alex ketawa.
"Hahaha, tonjokan loe boleh juga meskipun loe cewek.." Katanya santai. Jennie mendelik.
"Gue bilang jauh-jauuuh!" Bentaknya kesel. Alex ketawa lagi.
"Oke, oke. Kalo loe dalam bahaya, gue pasti dateng buat elo kok. Love you, honey.." Jennie mau muntah ngedenger kalimat rayuan si Alex. 'Bahaya apaan? Baru aja gue mau seneng-seneng!' Umpat Jennie dalam hati.
Alex pun jalan ninggalin Jennie.
Several days later…
"Akhirnyaaa~ liburan dimulai!" Jennie menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Akhirnya gue bisa lepas dari semua orang gak waras itu." Gumam Jennie.
Ketenangan Jennie gak berlangsung lama. Mendadak bel rumahnya bunyi. Keisha lagi piknik sama temen-temennya, dan itu artinya dia yang harus buka pintu.
"Siapa sih? Ganggu aja!" Kata Jennie kesel sambil jalan menuju pintu.
Krieeeet...
"Hai, Jen..."
WHAAAT?
"E-elo?" Jennie melotot. Mark lagi berdiri di depan pintunya sambil bawa-bawa kantong plastik.
__ADS_1
"Selamat si-"
BRAAAAKK
Tanpa nunggu kalimat itu selesai, Jennie langsung nutup pintu. Dia jadi dongkol banget. Kenapa sih gue gak bisa lepas dari merekaaa? Batinnya frustasi.
"Jen! Gue bawain elo makanan loh!"
"BODO!"
"Ayolah, gue udah capek-capek nyari alamat elo. Masa loe usir begini sih?"
"LIKE I CARE!"
"Gue simpen makanannya di depan pintu deh. Kalo gak mau ketemu ya gak apa-apa. Bye~" Terdengar suara mobil menjauh. Jennie menghela nafas lega. Dia kembali berbaring di sofa sambil ngutak-ngatik hapenya.
Drrrtt.. Drrttt...
Jennie mengerutkan dahi.
**From: Unknown
Hi, Jen. Ini gue Len, save nomor gue ya!**
Dan kali ini Jennie bener-bener pengen nyeburin dirinya sendiri ke empang belakang sekolah.
"Dari mana dia dapet nomer hape gue?" Gumamnya kesel. Tanpa ba-bi-bu dia langsung ngehapus sms itu dan kembali fokus menikmati ketenangan.
Drrrt... Drrrtt..
**From: Selena
Jen, sori, gue ngasih tau alamat elo sama Mark. Sori banget, ya!**
Twitch! Twitch!
Dahi Jennie berkedut. Dia ngelempar hapenya ke dinding sampe berantakan, terus nginjek-nginjek 'bangkai' hapenya.
"Sekarang gak ada yang bakal ganggu gue lagi." Gumamnya sambil menghela nafas tenang.
xxxXXXxxx
"Aku pulang!" Keisha ngebuka pintu dengan riang. Jennie yang lagi tiduran cuma ngelirik dikit.
"Eh, Jen. Di depan kok ada kantong plastik, punya siapa tuh?" Tanya Keisha. Jennie memutar matanya.
"Mana gue tau, gue gak keluar rumah. Udah deh, buang aja tuh kantong! Tau tau bom ntar kita yang celaka." Kata Jennie. Padahal dia tau, tuh kantong isinya makanan dari Mark.
"Iya deh." Jennie menghela nafas lega. Keisha kembali keluar dan membuang kantong itu ke tempat sampah tanpa melihat isinya.
Lain waktu Jennie mungkin bakalan masang kamera cctv di deket pintu, jaga-jaga buat tau siapa yang dateng.
Kriiiing... Kriiiing...
"Halo, selamat malam!"
"Hah? Oh, ada kok. Sebentar ya.." Keisha nutup gagang telepon sejenak.
"Jen! Ada telpon!" Jennie cuma jalan dengan males dan nyamber tuh gagang telepon.
"Yak, siapa?"
"Hai, Jen!" Mata Jennie membulat. Duuuh, kenapa nasib gue harus sesial ini sih? Jangan-jangan gue di stalk lagi!
"Dari mana loe dapet nomor telepon rumah gue?" Terdengar suara di seberang tertawa.
"Hahaha, gue kan pinter. Masa juara satu olimpiade gak tau caranya nyari nomer telepon orang lain?" Dahi Jennie berkerut. Si Gavin sialan ini bener-bener berbahaya! Dulu alamat rumahnya, sekarang nomer teleponnya. Jangan-jangan nanti nomer sepatunya pun dia tau.
"Jadiii, loe mau apa nelpon malem-malem begini?"
"Tumben loe nanya maksud? Biasanya cuek. Gue cuma pengen denger suara loe kok."
"Oh, suara gue. loe udah denger kan? Makasih, selamat malam!" Kata Jennie sebelum nutup sambungan telepon. Haruskah gue ngebanting telepon rumah jugaaa?
"Eeh, Jen! Jennie! Kok ditutup sih?"
Jennie bener-bener frustasi. Hari pertama liburannya kacau! Pagi-pagi, udah ada Mark. Nah, Len pake acara sms dia segala. Malemnya? Gavin malah nelepon dia.
"Apa gue gak bisa hidup tenang?" Umpatnya kesel.
__ADS_1
~To Be Continued~