Angel Or Devil?

Angel Or Devil?
Jealous?


__ADS_3

Oke, setelah kemarin Gavin ngamuk-ngamuk, hari ini adalah pengumuman pemenang olimpiade. Pak Tomy udah dag-dig-dug gak karuan. Sementara Jennie cuma nyantai sambil makan permen karet kayak biasa. Gavin? Jangan ditanya. Dia jadi agak aneh gitu sikapnya sama Jennie. Sebentar baik, sebentar datar, sebentar suka bentak-bentak. Walau Jennie gak peduli, Gavin tetep aja jadi ngerasa gak jelas dengan perasaannya sendiri.


"Semoga sekolah kita menang.." Kata Pak Tomy sambil mengatupkan tangannya di depan dada.


"Lebay." Gumam Jennie sambil nyender ke tembok. Mereka lagi ada di tempat lomba yang kemaren. Semua peserta en perwakilan sekolahnya yang kemaren ikutan olimpiade pada dateng. MC pun siap-siap ngumumin juara olimpiade itu.


"Baiklah, seperti yang kita ketahui, kemarin telah diadakan olimpiade di tempat ini. Kami sudah menghitung perolehan nilai dan menentukan siapa juara olimpiade ini."


Semuanya keliatan harap-harap cemas. Yang paling santai ya si Jennie. Gavin malah gak mikirin tuh lomba. Just Jennie in his mind. Ohh, so sweet...*PLAK*


"Juara ketiga, diraih oleh Len Howard dari SMA Galaxy!" Jennie spontan tersentak. Len? Si orang gak waras itu?


"Juara kedua, diraih oleh Jennie Albern dari SMA Langit Biru!" Jennie menghela nafas lalu naik ke panggung. Di sana udah ada Len yang senyum-senyum sama dia. Walau dibales dengan tatapan awas-anjing-galak oleh Jennie.


"Dan juara pertamaaa..."


TEREREREEET


"Kembali diraih oleh SMA Langit Biru! Gavin Calvert, silahkan naik ke panggung!" Terdengar suara putus asa dari peserta lain. Gavin jalan dengan santai ke panggung.


"Baiklah, kami akan menyerahkan medali kepada para juara.." Ketiga juara itu dapet medali dan dadah-dadah sejenak di atas panggung. Kecuali Jennie tentunya.


"Ternyata selain manis, elo juga pinter. Selamat, ya.." Kata Len sambil menyalami Jennie.


"Yaaa, dan jangan sebut gue manis lagi!" Kata Jennie. Len senyum. Mereka bertiga pun turun dari panggung.


"Ng..Jennie, ada acara gak sore ini?" Tanya Len. Jennie menggeleng.


"Mo apa?" Tanyanya santai. Gavin yang jalan di belakang mereka pun harus menahan emosi.


"Err..anu...kalo..jalan..sama..gue..ng..elo...keberatan, gak?" Mendadak si Len kena virus gagap. Jennie menoleh lalu mengangkat alisnya.


"Oke, terserah elo." Jawab Jennie. Dasar gak peka.


"Be-beneran?"


"Uh-huh." Len hampir aja melonjak senang kalo dia nggak malu. Gavin mendidih.


"Permisi, gue mau lewat!" Katanya sadis sambil nyenggol Len en jalan ngeduluin mereka berdua. Jennie yang dasarnya gak pekaaa, cuma ngangkat alis heran.


"Gu-gue tunggu di...alun-alun kota, ya. Jam stengah 4 sore." Kata Len. Jennie cuma ngangguk santai sambil jalan ngeduluin tuh bocah.


"J-Jennie!"


"Apa?"


"Ng...nggak..tapi.." Jennie ngangkat alisnya. Len masih gelagapan.


"S-sampai jumpa nanti sore, ya!" Kata Len sambil lari. Jennie mengerutkan dahinya lalu ngangkat bahu en jalan menuju mobil.


"Selamat ya, kalian berdua berhasil." Kata Pak Tomy sambil mengemudi. Gavin en Jennie cuma ngangguk.


"Jadi..sebagai..hadiah, saya akan mengabulkan permintaan kalian. Kalian mau apa?" Tanya Pak Tomy.


"Gue mau pulang." Jawab Jennie.


"Saya juga pulang saja, Pak.. terima kasih." Kata Gavin. Pak Tomy cuma ngangkat bahu en terus nyetir.


'Sialan! Sialan! Sialaan! Ngapain lagi bocah itu ngajak Jennie jalan segala? Trus, tadi apaan tuh? Jennie mau? Ikh..' Umpat Gavin dalam hati. Dia dongkol bukan main.


xxxXXXxxx


"Loe mau kemana sore-sore gini, Jen?" Tanya Keisha saat ngeliat kakaknya keluar dari kamar pake kaos warna merah-item en rok pendek warna item.

__ADS_1


"Alun-alun." Jawabnya santai. Keisha melonjak.


"Gue ikut, ya!"


"Mo ngapain?" Keisha mikir sejenak. Kalo dia ikut..ntar siapa yang di rumah? Terus, temen-temennya bilang juga mau ke rumah buat ngerjain tugas bareng. Akhirnya dengan semua pertimbangan Keisha, dia gak jadi ikut.


"Gak jadi deh, tapi..beliin makanan, ya!"


"Hm." Jennie segera cabut. Jarak rumahnya ke alun-alun emang gak terlalu jauh. Dia juga lagi males bawa motor or mobil. Jadi, jalan kaki aja, sekalian olahraga.


"Stengah 4.." Gumamnya sambil ngelirik ke jam tangan item yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jennie!" Panggil seseorang. Jennie menoleh.


"Ha-hai.." Sapa si pemanggil yang tiada lain adalah Len. Dia pake kaos warna orange en jins biru tua.


"Jadi kita kemana?" Tanya Len. Jennie sweatdrop.


"Kan elu yang ngajakin gue, kok malah nanya sih?" Kata Jennie dongkol. Len senyum gugup.


"O-oke..gimana kalo..jalan-jalan di pertokoan?"


"Terserah elo." Jawab Jennie. Len senyum lalu jalan di samping Jennie. Di kejauhan tampak sepasang mata ngawasin mereka.


"Sialan." Gumam orang itu.


Di pertokoan..


"Jen, loe mau apa? Gue beliin deh." Kata Len. Jennie cuma ngangkat alis.


"Baju gue udah banyak. Elo aja." Jawab Jennie. Len senyum bingung. Emang susah suka sama orang gak peka!


"Kalo gitu, loe mau apa gitu? Terserah elo, biar gue beliin." Tawar Len. Jennie cuma jalan santai.


"Beliin makanan aja deh. Kasian adek gue di rumah." Kata Jennie. Len senyum.


"Mau makanan apa? Jepang? China? Barat? Or apa gitu?" Tawar Len kayak salesman.


"Gak usah repot-repot... yang siap saji aja." Jawab Jennie. Len senyum lalu ngajak Jennie ke salah satu tempat makan siap saji.


Setelah beli makanan mereka pun ngelanjutin jalan-jalannya. Ini 100% jalan-jalan loh! Mereka cuma jalan kaki sambil ngeliat-liat barang di etalase.


"Jen, gue boleh megang tangan loe gak?" Jennie mengerutkan dahinya.


"Gue bukan anak kecil. Gak usah."


"Bu-bukan karena gue nganggap loe anak kecil! Ta-tapi, boleh gak gue megang tangan loe?" Tanya Len lagi. Dia udah keringet dingin.


"Yang penting tangan loe gak kotor." Jawab Jennie nyantai. Ketidakpekaannya ini udah nyampe stadium akut, sodara sodara! Len senyum lalu ngegandeng tangan Jennie dan kembali jalan.


"Grrr... Sialaaan.." Gavin ngendap-endap di belakang mereka. Agak jauh sih. Dia makin dongkol waktu ngeliat Len megang tangan Jennie.


"Jen.."


"Hn."


"Gue... Boleh ngomong sesuatu gak?"


"Terserah."


Mendadak Len berhenti en berdiri di depan Jennie. Dia berlutut di depan Jennie.


"Jennie, gue tau, kita emang baru kenal beberapa hari. Tapi..like I said before, loe cewek paling manis yang gue temuin. Dari pertama gue ngeliat elo, gue udah suka sama loe." Len ngambil tangan Jennie lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. Jennie mulai blushing.

__ADS_1


"I love you, Jennie." Sambungnya kemudian. Jennie gelagapan.


BRUUUKK


"Aw.." Jennie en Len menoleh. Terlihat Gavin nyungsep dengan posisi gak elit. Dia kepeleset en nabrak patung manusia (yang suka dipake buat meragain baju itu loh, saya lupa namanya).


"Gavin?" Gumam Jennie. Gavin noleh.


"Ahaha, gak papa kok. Terusin aja, gue gak ngikutin kalian kok. Gue mau kesini dulu ya. Byee!" Kata Gavin buru-buru sambil ngibrit.


"Aneh." Gumam Jennie. Len menghela nafas.


"Jadi..loe nerima cinta gue gak?" Tanyanya kemudian. Jennie kembali gelagapan.


"Ng..gue..belum kenal sama loe." Jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Len senyum.


"Tapi, kalo gue berusaha bikin loe cinta sama gue boleh kan?" Tanya Len.


"Asal jangan maen pelet." Jawab Jennie kembali santai. Len senyum lalu kembali berdiri.


"Oke, gue bakal berusaha bikin loe cinta sama gue." Kata Len sambil ngegandeng tangan Jennie en kembali jalan. Jennie cuma ngangkat sebelah alisnya.


Skip time..


"Loe beneran gak mau gue anter pulang?" Tanya Len. Jennie geleng.


"Gak usah." Jawabnya sambil jalan. Len senyum.


"Sampai ketemu besok!" Jennie cuma ngangguk en terus jalan. Ini udah jam 7 malem, tapi yah, yang namanya alun-alun pasti makin malem, makin rame. Jennie terus jalan. Sampe ada tangan yang narik dia.


"Elo?" Gumam Jennie. Ternyata Gavin yang narik tangannya.


"Loe harus jujur, loe gak nerima dia kan?" Tanya Gavin sambil mencengkeram bahu Jennie keras.


"Aw... Sakit tau!"


"Jawab gue, Jennie! Loe gak nerima dia kan?" Bentak Gavin sambil ngedorong Jennie sampe punggung tuh cewek nabrak pohon. Gavin kembali mencengkeram bahu cewek pirang itu. Jennie meringis.


"Jawab gue." Katanya sambil menatap mata coklat Jennie tajam.


"Gue jadi heran sama loe. Emang kenapa sih? Perasaan dari kemaren-kemaren elo jadi sewot kalo gue ditembak orang? Loe suka-.."


DEG!


"A-apa...e-enggak kok!" Gavin mulai gugup. Jennie ngangkat alisnya.


"Loe suka sama si Len itu, ya?"


Tweeeew...


"..." Gavin sweatdrop. Heran, kenapa ada orang gak peka banget kayak dia sih?


"Nggak kok. Gue kan gak kenal sama dia. Lagian gue normal kali, masih suka cewek." Jawab Gavin kembali kalem. Jennie ngangkat bahu lalu kembali jalan.


"Jen, gue anter ya!"


"Gak usah. Udah deket." Jawab Jennie sambil terus jalan menjauh. Gavin menunduk sambil megangin dadanya yang deg-degan.


"Ukh... gue beneran udah gila.." Gumamnya sambil bersandar ke pohon. Mata hitamnya ngeliat langit yang bertaburan bintang.


"Gue gila.."


"Karena elo, Jennie."

__ADS_1


~To Be Continued~


__ADS_2