
...Sesampainya aku di hutan itu dan masuk cukup dalam, aku membaca satu buku sihir dan bukunya sangat menarik, aku mencoba mempraktikkan satu sihir yang berada di buku itu....
...Dua minggu pun berlalu, aku sudah menguasai beberapa sihir dan teknik tombak. Selama dua minggu ini aku tidak ada berjumpa dengan Henry.Aku istirahat dari latihan ku dan duduk sambil bertegun "Hmm Henry kemana ya kok aku tidak pernah melihatnya selama dua minggu terakhir, atau dia berpetualang sendiri ya, apa dia tidak apa apa?" ucapku dengan wajah cemberut dan sedih.Tiba tiba ada yang memegang pundak ku, sontak aku melontarkan sihir ke arah orang yang memegang pundaku tadi. "Aduhhh" ucap seseorang itu. "Hah, suara itu... " suaranya seperti seseorang yang kukenal, aku mendekat perlahan dan terkejut "aduh maaf Henry, aku tidak tahu kalau itu kau, aku sedang melamun tadi" ucapku dengan gelisah. "Ahaha tidak apa apa,kau sudah bisa menggunakan sihir sekuat ini, kalau bukan aku pasti sudah mati" ucap Henry dengan wajah tersenyum dan menepuk kepalaku. Akupun tersipu "apakah sihirnya memang sekuat itu?" ucapku tidak percaya kalau sihir ku benar-benar kuat. "Ya, sihir tadi kuat sekali.Selama ku tinggal kau pasti berlatih dengan giat, sayang sekali aku tidak bisa menemanimu berlatih" ucap Henry memasang wajah agak aneh seperti setengah senang dan setengah sedih. "Haha tidak apa apa, aku bisa berlatih sendiri hingga kuat seperti ini, aku memasang wajah aneh tau" ucapku melek Henry. Kamipun tertawa bersama, rasanya lega melihat ia tidak apa apa dan aku merasa sangat rindu dengannya. "Oh iya omong omong tadi kau sedang mengkhawatirkan ku ya.. kau juga merindukan ku kan" ucap Henry meledek. " Ti-tidak ah, eh mangsudku te-tentu saja aku mengkhawatirkan mu, kita kan akan berpetualang bersama. Kalau kau tidak ada bagaimana, kau juga kemana saja sih tidak kelihatan selama dua minggu ini" ucapku dengan wajah tersipu. "Haha kau pasti sudah tidak sabar ingin berpetualang, aku dua minggu terakhir ini mengambil misi menjelajahi dongeon dan mendapat banyak harta, sekarang kita tidak akan kehabisan uang lagi jadi kita bisa tenang " ucap Henry dengan wajah yang sangat tulus membuatku sedikit jatuh cinta kepadanya. "Ja-jadi kapan kita berangkat?" tanyaku , "aduh kenapa aku jadi terbata bata sih" ucapku dalam hati dan wajah tersipu lagi, wajahku terus tersipu dan terasa panas. Tiba tiba henri memegang jidatku "hmm kalau kita berangkat sekarang sih bisa tapi sepertinya kau sakit" ucapnya sambil memperhatikanku. "Ti-tidak kok, aku tidak sakit. Ayo kita berangkat! aku sudah sangat bersemangat!" ucapku bersemangat aku meninggalkan Henry dan memasuki penginapan. "Haha semangat mu berkobar sekali" ucap Henry tersenyum dan mengikutiku. Kami pun bersiap siap menata semua perlengkapan kami, setelah menata kami pun pergi ke gerbang untuk meninggalkan negeri ini. "Kita mau berpetualang kemana?" tanyaku dengan penuh rasa penasaran. "Kita akan ke negeri Road terlebih dahulu untuk mengambil lencana mu" jawab Henry. "Wah negeri Road, kudengar ada banyak manisan dan camilan yang sangat enak di sana" ucapku penuh bersemangat. "Kau mendengar kabar itu? telingamu sangat tajam ya" ucap Henry tertawa dan mengusap kepalaku. "Hehe" ucapku tersipu, " Kalau begitu ayo kita berangkat" ucap Henry lalu memegang tanganku, "Ayo!!" jawabku dengan semangat. ...