Avarum

Avarum
Perjalanan Pindah Rumah


__ADS_3

Avarum bangun jam 04.00, dia pergi mencuci muka ke kamar mandi dan berniat belajar hari ini. Dia tidak memikirkan banyak hal seperti pergi sekolah karena dia akan pindah rumah dan sekolah hari ini. Seluruh barang miliknya dan keluarganya sudah dikemas dan siap diangkut nanti pagi. Ayah Avarum merupakan seorang polisi yang suka bertani di waktu senggang, sehingga sering dikira petani karena jarang pakai baju dinas bahkan saat bekerja sekalipun. Dia bekerja di bagian SATRESKRIM¹. Keluarganya tinggal di desa terpencil yang jarang dilewati kendaraan. Alasan keluarganya pindah karena ayahnya dimutasikan ke desa lain dan mengalami kenaikan pangkat dari Sersan Kepala ke Sersan Mayor.


"Dua dikali tiga... enam, sembilan dikali tujuh... enam puluh tiga, se–" Avarum mencoba menghafal perkalian, namun teriakan ayahnya memotong kegiatannya.


"Avarum! Cepat bawa barangmu, nanti yang lain biar ayah yang urus," teriak ayahnya


"Ya, ayah", balas Avarum


Avarum bergegas merapikan buku pelajarannya, setelah itu dia mengambil sebuah koper besar miliknya. Dia sendiri agak kesusahan menarik koper itu, padahal sudah ada rodanya. Dengan semangat dia menghampiri ayahnya yang sibuk menaikkan barang-barang lain ke atas mobil milik ayahnya. Mobil itu sendiri merupakan mobil pickup, di dekatnya ada mobil Jeep lain. Avarum merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, mobil Jeep itu milik abang tertua yang juga tinggal di rumah ini.


Totalnya ada 3 orang yang menjadi polisi di keluarga Avarum dan 1 orang anggota TNI. Oke abaikan itu. Selama 3 jam lebih Keluarga Avarum membereskan dan memuat barang di mobilnya, tidak lama setelahnya rumah itu berhasil dikosongkan. Tanah pertanian yang dimiliki ayahnya tetap dikerjakan dengan cara mempekerjakan orang dan rumah miliknya dijadikan kontrakan. Ayah hobi sekali begitu, dia tak akan mau menjual rumah yang dibeli dengan uangnya, apalagi pertaniannya dia suka menyuruh dan membayar orang. Secara tak langsung ini merupakan pundi-pundi Rupiah. Kalau dihitung-hitung, ada 5 kontrakan yang ayah miliki beserta tanah pertanian atau kebunnya, dari masa abang Rachmad ini terjadi.


"Semua sudah siap?" tanya Ayah


Avarum dan yang lainnya mengecek ulang barang-barang milik mereka, hasilnya semua lengkap. Perjalanan mereka dimulai. Mobil bergerak menuju jalan tanah di depan yang akan terlihat sampai 5 km jauhnya, baru setelah itu akan menemui jalan aspal. Dulunya tempat itu sudah diaspal, namun sudah hancur oleh waktu. Karena alasan ini juga tahun depan akan diaspal kembali.


Perjalanan berlangsung lancar walaupun ada banyak guncangan yang terasa. Untungnya sekarang tidak hujan, kalau hujan tempat ini akan sangat berlumpur yang mana mengakibatkan kendaraan susah bergerak. Satu lagi, tepat setelah memasuki jalan aspal maka bahaya mulai mengintai. Hal ini dikarenakan daerah situ merupakan tempat para kriminal beraksi, begal misalnya. Dari dulu ayahnya sudah bertekad untuk membasmi para pelaku kriminal ini, hasilnya hanya seperempat saja yang berhasil diringkus, sisanya masih bebas.


Di desa ini paling banyak hanya ada 5 personel polisi yang dikerahkan. Kalau ada peristiwa yang lebih besar baru akan dikerahkan personel sebanyak 2-4 mobil, berarti sekitar ... 4-16/5-20 orang. Mobil Avarum bergerak perlahan, setengah jam lamanya jalanan aspal sudah terlihat dari jauh. Dari sini hingga beberapa kilometer mereka harus berhati-hati. Di belakang, mobil Jeep abang tertua Avarum mengikuti.


"Hoaam, ngantuk," gumam Avarum

__ADS_1


"Yuk tidur sini bareng kakak," ajak Sherina, kakak keempat Avarum.


"Oke deh kak," balas Avarum


Keduanya mencoba tidur di kursi belakang. Dari seluruh keluarganya di kedua mobil, hanya bang Rachmad yang absen. Dia tugas di pulau lain. Di kursi depan, ada ayah dan ibu, sedangkan di samping keduanya adalah kakak mereka, kak Sri atau Kak Ayu. Avarum dengan cepat tertidur pulas di kursi mobil, saudarinya menyusul kemudian.


Tiba-tiba keduanya terbangun karena guncangan mobil, ternyata hanya menabrak batu. Perjalanan kembali dilanjutkan, sayangnya mereka berdua tidak lagi bisa tertidur. Sebagai pengobat rasa bosan, mereka bermain tebak-tebakan.


"Ikan apa yang giginya tajam?" tanya Sherina


"Pertanyaan kakak tak jelas. Jawabannya bisa banyak kak!" protes Avarum


"Ikan apa yang giginya tajam, terus dia tinggal di Amazon?"


"Ikan mas," jawab Avarum


"Mana ada ikan mas disana Rum," ucap Sherina


"Hm ... Ikan Pira ... Ikan Piranha!" ucap Avarum semangat


"Betul," Sherina mengacungkan jempolnya

__ADS_1


Tebak-tebakan itu berlangsung cukup lama. Setelah menguras tenaga untuk berpikir, keduanya berhasil tertidur kembali. Ayah Avarum masih fokus mengemudi, di depan sana jalanan masih gelap. Hari ini pagi sebenarnya, namun karena banyaknya pohon menyebabkan tempat ini cukup gelap.


Jalan aspal sudah dijajal, sudah jauh jaraknya sekarang dari jalan tanah tadi. Tapi jaraknya masih jauh dari tujuan mereka. Perkiraannya sore sampai senja sampai tanpa istirahat, kalau diselingi istirahat maka akan sampai malam. Ayah Avarum melihat kaca spion, masih terlihat Jeep anaknya yang mengikuti di belakang. Walaupun perjalanan lancar, dia masih khawatir akan adanya serangan pelaku kriminal.


"Walaupun lancar begini, tetap aneh rasanya. Karena biasanya tempat ini aktif pembegalan," ucap Ayah Avarum khawatir


"Tenang yah, kan ada anak kita yang sudah dewasa di belakang," ucap istrinya menenangkan


"Haah ... " Ayah Avarum menghembuskan nafas lega


Sebagai obat khawatir, dia menghidupkan musik karya Alexander Rybak-Fairytale. Musik mengalun lembut di sepanjang perjalanannya. Avarum sedang tidur bersama saudarinya, Sherina. Entah apa yang dia mimpikan sampai ngiler seperti itu, saudarinya malah mengigau dalam tidur.


Sri sedang menatap jalan di jendela mobil, memperhatikan apakah ada hal yang mencurigakan. 1 jam lamanya dia melakukannya dan hasilnya nihil. Hal ini membuatnya merasa kantuk, tidak lama setelahnya dia ikut tertidur. Tidur duduk tepatnya.


Akhirnya hari telah siang, jam 1 tepatnya. Mereka masih berada di jalan, tidak ada apapun di sekitar. Bergerak sedikit lagi mereka menemukan anak sungai, mereka berniat istirahat sebentar. Sri sedang meletakkan tikar yang dibantu dengan ibunya. Yang lain menggunakan air anak sungai sebagai tempat berwudhu, mereka akan sholat Dzuhur nanti.


Sherina sudah bangun dan sekarang sedang mencoba membangunkan Avarum. Avarum berhasil bangun, semuanya turun mobil dan sholat Dzuhur di atas tikar. Setelah selesai mereka makan siang, perjalanan kembali dilanjutkan. Saat sore jarak tujuan sudah dekat, mungkin senja nanti sampai di rumah baru mereka. Besoknya kata Ayah, Avarum akan didaftarkan di sekolah baru menggunakan sertifikat menang lomba puisi miliknya.


Alasannya adalah sekolah ini sangat mahal biayanya, Ayah sebenarnya belum cukup uang untuk menyekolahkan disitu. Tapi, apa boleh buat di desa itu sekolah tersebut merupakan SD satu-satunya. Dengan mengandalkan sertifikat itulah, mereka berharap dapat beasiswa. Gaji ayahnya sebenarnya besar, namun dengan banyaknya anak jadi cukup saja. 3 anaknya masih diurus oleh keluarga kecuali dua abang Avarum.


¹ SATRESKRIM: Satuan Resor Kriminal

__ADS_1


__ADS_2