Avarum

Avarum
The First Bullying


__ADS_3

"Sakit kak, kumohon lepaskan," ucap Avarum kesakitan


"Kau bayar dulu, baru aku lepaskan," ucapnya dengan seringai yang terlihat jelas


Avarum ingin memberontak, ia tidak ingin memberikan uang jajan satu-satunya itu. Memberikannya cuma-cuma, itu tidak sebanding dengan usaha kedua orang tuanya yang susah payah mencarinya. Tidak untuk permintaan ini.


"Tidak! Aku tidak mau," teriak Avarum dengan kuat, menolak permintaan secara paksa gerombolan itu.


Perempuan itu semakin mempererat jambakannya pada kepala Avarum, jilbabnya hampir terlepas dan memperlihatkan rambutnya. Avarum menyadari hal itu dan ingin melawannya.


"Apa rambut itu juga termasuk aurat kak?" tanya Avarum pada Kakaknya, Sri.


"Iya, itu juga termasuk aurat. Makanya jangan sampai terlihat ya, kecuali oleh keluarga mu. Keluarga inti maksudnya, bukan keluarga besar," jawab Kak Sri sembari mengelus kepala adik bungsunya itu.


Avarum juga mengingat nasihat kakaknya dan itu membuat semangatnya untuk melawan semakin kuat. Tidak ada pemaksaan, tidak ada rasa takut.


'Aku harus melawannya!' teriak Avarum di dalam pikirannya.


"Sekarang, berikan uangnya dan aku akan menghentikan siksaan ini," ucap perempuan itu dengan tersenyum.


Avarum menahan rasa sakit di kepalanya dan bersiap membalas perempuan di depannya ini. Tanpa suara, Avarum meninju perut perempuan itu dengan sekuat tenaganya. Saat itu juga, si perempuan itu melepaskan jambakannya pada Avarum dan meringis kesakitan. Tak sampai disitu, Avarum maju dan mendorong perempuan itu dengan keras ke beton lapangan.


"Mau apa kau?" tanyanya dengan kesal


Avarum memasukkan pisang gorengnya ke dalam plastik dan menyimpannya di saku rok. Tak lama setelahnya, ia berlari. Saat sampai Avarum berhenti sebentar, lalu ...


"Aaaa! Saakiit! Hentikan!" teriak perempuan itu


Avarum menginjak perutnya dengan kuat, selagi kakinya menginjak perut perempuan itu. Avarum juga mencekik lehernya dan menekannya semakin keras saat perempuan itu melotot padanya. Saat perempuan itu berteriak, teman-temannya maju ke arah Avarum. Si laki-laki yang memalak Avarum tadi yang bertindak terlebih dahulu.

__ADS_1


Laki-laki itu menendang Avarum tepat di pinggangnya dan membuatnya terlempar saat itu juga. Lalu ia berbalik dan membawa perempuan yang menjambak Avarum tadi. Perempuan yang lain, yang berada di tempat yang sama tadi berhenti di depan Avarum.


"Berani kamu ya?! Awas saja nanti," ancamnya pada Avarum


Avarum berdiri dengan susah payah karena masih merasakan rasa sakit di pinggangnya akibat tendangan tadi. Ia berjalan dengan langkah tertatih ke kelasnya, tak lupa ia mengeluarkan pisang goreng nya yang ia simpan tadi.


"Untunglah pisangnya masih utuh, tidak rusak sedikitpun," ucap Avarum sembari mengucapkan hamdalah di dalam hatinya.


Perilaku Avarum terlihat sedikit aneh, dia tidak mengkhawatirkan tubuhnya melainkan khawatir pada makanannya. Avarum berjalan hingga sampai ke kelasnya. Farna tiba-tiba menghampiri Avarum dan menanyakan keadaannya setelah peristiwa tadi, anak-anak kelas 2B menyaksikan peristiwa itu dari dalam kelas.


"Aku baik-baik saja kok. Tidak usah khawatir," jawab Avarum menanggapi kekhawatiran Farna.


"Kan sudah aku bilang jangan membuat masalah, kamu sih keras kepala," ujar Farna


"Mereka kan yang memalak duluan, jadi bukan salah aku kalau membalas mereka," ucap Avarum membela diri.


'Dasar anak kepala batu,' ucap Farna di dalam hatinya.


Avarum pun duduk di kursinya sambil memakan pisang goreng miliknya. Sementara itu anak-anak lain kembali ke aktivitas mereka yang tertunda karena kehadiran Avarum. Tak lama setelahnya, bel masuk pun berbunyi menandakan berakhirnya waktu istirahat. Bunyi sepatu siswa-siswi terdengar ramai di penjuru sekolah, semuanya menuju kelas masing-masing. Avarum dan yang lainnya sudah duduk di tempatnya masing-masing, mereka siap menerima pelajaran dari guru mereka.


Pelajaran berikutnya ternyata masih Matematika, waktu mata pelajaran yang satu ini masih ada ternyata. Semua murid nampak memasang wajah putus asa saat Pak Kashem menulis soal di papan tulis, setelah selesai membuat soal, Pak Kashem bersuara,


"Kerjakan soal ini, Bapak akan ke kantor dulu," ucapnya


Pak Kashem pun keluar dari kelas dan bunyi sepatunya terdengar semakin kecil, pertanda ia semakin jauh. Kelas 2B tiba-tiba saja bersuara, kebanyakan mengeluh karena Pak Kashem memberi mereka tugas. Hanya Avarum saja yang terlihat tenang, ia menulis ulang soal di papan tulis. Saat semua soal disalin, Avarum mengerutkan keningnya, tanda ia kebingungan dalam menjawab soal.


"Farna! Ini cara jawabnya bagaimana?" tanya Avarum dengan cara berteriak pada Farna, padahal jaraknya tak terlalu jauh.


"Iya, sebentar, aku juga mau cari caranya juga nih. Tidak usah berteriak juga, aku masih mendengar suara mu disini," keluh Farna setelah mendengar suara keras dari Avarum.

__ADS_1


"Iya, maaf atas suara ku tadi," ucap Avarum meminta maaf pada Farna, setelahnya ia cengengesan sendiri.


Keduanya serta yang lain berusaha memecahkan soal pembagian serta perkalian dari Pak Kashem. Soalnya hanya 5 saja, didominasi soal pembagian. Akhirnya Avarum berhasil menjawab soal sebanyak 3 buah, walaupun dengan cara banyak bertanya pada Farna. Setidaknya ini latihan, kalau ulangan pasti sulit mendapatkan kesempatan seperti ini.


Saat Avarum berhasil menjawab soal keempat, tiba-tiba saja Pak Kashem sudah masuk kelas.


"Apa sudah selesai tugasnya anak-anak?" tanya Pak Kashem sambil tersenyum, senyumnya terlihat ramah.


Melihat senyum Pak Kashem, kebanyakan murid langsung memacu tangan mereka untuk menyelesaikan tugas darinya. Mereka tahu senyum itu bisa bermakna lain bagi diri mereka yang tidak menyelesaikan tugas. Avarum juga menyelesaikan tugas Matematika itu dengan cepat, akhirnya ia dan Farna berhasil menuntaskan tugas itu. Keduanya merentangkan tangan ke atas, tanda bahwa tangan mereka mengalami kelelahan. Seperempat jam berlalu, semua murid berhasil menyelesaikan tugas Pak Kashem. Mereka yang baru selesai ini merasa lega karena adanya harapan tidak dihukum Pak Kashem.


Pak Kashem tersenyum lalu memerintahkan murid-muridnya mengumpulkan tugas itu ke atas meja guru. Semua murid mengantre untuk meletakkan hasil kerja keras mereka, termasuk Avarum dan Farna.


"Bagi murid yang mendapatkan nilai terendah akan mendapatkan 'hadiah' dari Bapak nanti," ucap Pak Kashem tersenyum sekali lagi.


"Karena bapak telah mengajarkan caranya pada kalian tadi dan kebanyakan bilang paham," lanjut Pak Kashem


Semua murid sudah mengumpulkan tugasnya, mereka duduk di kursi masing-masing dengan perasaan was-was. Sementara itu Pak Kashem menilai setiap tugas dengan pena merah khas-nya. Setengah jam Pak Kashem memeriksa tugas itu, itu pun baru seperempatnya. Meski waktunya hanya setengah jam, itu terasa seperti setengah hari ataupun setengah bulan lamanya bagi para murid. 1 jam setelahnya Pak Kashem selesai memeriksa semua tugas muridnya, ia tersenyum lebar sambil menatap para murid. Mereka yang ditatap merasa akan mendapat 'hadiah' dari Pak Kashem, perasaan was-was itu tentu saja semakin menguat.


"Nanti saat pulang akan bapak panggil satu-persatu nanti, sekarang bapak pergi dulu," ucap Pak Kashem


Setelah Pak Kashem keluar kelas, semua murid merasakan kelegaan di hati mereka karena telah terbebas dari mata pelajaran mematikan ini. Namun, di sisi lain mereka juga khawatir tentang siapa saja yang akan di panggil Pak Kashem nanti saat pulang. Hanya Avarum saja yang tidak mengkhawatirkan hal ini, maklum dia pun tak paham konsekuensi dari 'panggilan' Pak Kashem.


Deretan mata pelajaran berbeda dihadapi oleh penghuni kelas 2B. Ada yang senang dengan mata pelajarannya, namun ada pula yang merasa tidak senang, sengsara bahkan mengantuk. Tak jarang ada yang jatuh tertidur saat guru menjelaskan materi, membuatnya sukses mendapat siraman air segar di kepalanya.


Jumlah kata: 1151 kata


Di rilis: Kamis, 23 Februari 2023. Jam 18:37 WIB


Dibuat: Senin-Kamis: 20-23 Februari 2023.

__ADS_1


__ADS_2