Avarum

Avarum
Rumah Baru


__ADS_3

Saat senja mereka sudah sampai di rumah baru. Semuanya bergotong royong memindahkan barang-barang dari mobil ke dalam rumah baru. Avarum hanya menarik kopernya, tidak memedulikan kesibukan orang tua dan saudaranya yang lain. Avarum masuk ke dalam rumah, mencari kamar yang cocok baginya. Rumah ini rumah kayu dua tingkat, kamar mandi dan dapur di luar rumah.


"Mana ya yang bagus?" Avarum kebingungan mencari kamar


Di lantai bawah ada dua kamar, sisanya ruang tamu dan ruang keluarga. Avarum naik tangga, berusaha melihat dengan baik setiap kamar. Di sini ada 5 kamar, Avarum menuju ujung koridor, di sana ada sebuah kamar yang di dekat pintunya ada jendela. Dia masuk dan menemukan ruangan itu kosong melompong, dia meletakkan kopernya dan melihat sejenak kondisi kamar barunya.


"Kosong semua. Kamar ini masih banyak debunya," keluh Avarum


Setelah melakukan pengamatan pada kamar barunya, dia turun ke bawah. Semua barang sudah dikeluarkan dan siap ditata di tempat masing-masing. Avarum hanya melihatnya saja tanpa reaksi apapun, dia lebih memilih meminta biskuit pada Ibu. Setelah biskuitnya diberikan, Avarum memakannya sambil melamun. Dia sangat ingin tidur sekarang, tapi kasur nya belum diletakkan di kamar.


Sherina melihat adiknya melamun, dia mendatanginya dan mengajaknya main Ludo di Smartphone miliknya. Avarum sangat senang atas tawaran itu, keduanya bermain game sampai jam delapan malam. Kakak mereka menegur dan menganjurkan keduanya untuk tidur atau sholat bareng, terutama untuk Sherina yang harus sholat dulu. Kata kakaknya kasur sudah diletakkan di semua kamar tadi saat mereka bermain game. Sherina mengangguk mengiyakan kakaknya, dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu ditemani kak Sri sedangkan Avarum langsung ke kamar dan tidur.


Kasur Avarum tanpa dipan, jadi seperti melihat orang biasa Jepang tidur di kamar luas tanpa perabotan. Barang yang lain miliknya ada di lantai satu dan akan dipindahkan besok pagi. Lusa besok dia akan mendaftarkan kepindahannya ke sekolah barunya.


***


Embun menetes dari daun menuju tanah, burung-burung berkicau di antara pohon. Udara pagi yang dingin berhasil membuat Avarum sulit bangun. Sherina dan saudara-saudari yang lain sudah sarapan, setelah itu mereka memindahkan banyak perabotan yang kemarin ditaruh di lantai satu atau ruang keluarga. Sebuah lemari kayu kecil berukuran 2,5×3,5 kaki dan tinggi 4 kaki dipindahkan dari bawah ke kamar Avarum, ini lemari milik Avarum. Setelah pintu terbuka mereka meletakkan lemari itu di sudut kiri ruangan, yang mana sebelah kanannya akan digunakan untuk area meja belajar.


"Hooam ..." Avarum menguap tanda ia mulai bangun


"Ada apa ramai-ramai disini yah?" tanya Avarum penasaran


"Memindahkan barang dan perabotan punya Avarum. Mau ikut tidak?" balas Ayahnya


"Tidak. Cuma ingin makan di bawah atau di dapur," ucap Avarum


Avarum keluar kamar menuju tangga, dia turun ke bawah dan melihat meja makan sudah ada. Dia bergerak menuju meja, memeriksa isi tudung.


"Yey! Masih ada telur dadar," sorak Avarum

__ADS_1


Dia mengambil piring di rak dekat sini dan mengambil sedikit telur dadar ke piringnya. Avarum makan dengan lahap sampai kenyang, usai makan dia berdoa. Setelah ini dia berencana untuk olahraga ringan di sekeliling rumah dan melihat apakah ada tetangga baru. Dia berdiam diri disitu selama setengah jam, kemudian pergi ke kamar mandi mencuci tangan serta wajahnya. Tadinya dia makan pakai sendok.


"Ibu aku pergi keluar dulu!" teriak Avarum pada ibunya di dapur


"Iya, tapi jangan jauh-jauh", balas Ibunya


"Oke bu. Avarum tidak pergi jauh kok," ucap Avarum


Avarum berlari di halaman rumah yang luas, halaman rumah ini tanpa pagar. Ada banyak rumput di halaman dan tingginya selutut Avarum atau setinggi tulang kering orang dewasa. Avarum agak jengkel terhadap rumput ini, dia berniat mengatakan pada ayahnya masalah rumput ini. Setelah puas berlari dia mengamati lingkungan sekitar.


Di kejauhan tampak hutan yang luas sedikit berkabut, sedangkan di sekeliling rumah ada banyak pohon berjajaran. Ada jalan setapak yang lurus dari sini menuju tempat lain. Dia berniat bermain kesitu tapi dia ingat pesan ibunya bahwa jangan pergi terlalu jauh, jadi dia hanya akan menghafal jalan itu saat pergi bersama ayahnya untuk mendaftar ke sekolah baru. Minggu depan rumah akan sepi kembali saat siang sebab ayah dan kakaknya akan bertugas kembali ke kantor polisi, mereka hanya akan pulang malam atau sebaliknya.


Avarum berbalik kembali ke arah rumah, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia kembali ke kamar. Di kamar dia kembali belajar perkalian satu sampai 10. Setengah jam lamanya dia hanya bisa menghafal perkalian satu sampai tujuh dengan banyak usaha mengingat.


"Avarum! Turun yuk main ketapel di bawah," ajak Sherina saat keluar dari kamar


"Enggak, tapi bisa cari di kotak punya saudara yang lain," ucapnya sambil menunjuk kamar kak Sri


"Emangnya boleh?" tanya Avarum lagi


"Masuk sajalah enggak akan kena marah kok," ucap Sherina mencoba meyakinkan saudari bungsunya


Atas paksaan saudarinya dia masuk ke kamar kakaknya. Mereka mengecek semua kotak mainan kakaknya dulu dan hasilnya nihil, tidak ada apapun yang mereka cari disana. Sebagai gantinya mereka berdua mengambil kentang goreng di meja makan dan menonton animasi sampai siang.


Saat hari telah siang keduanya mematikan tv dan menanti adzan dzuhur. Setengah jam mereka menanti


akhirnya terdengar, keduanya berebutan wudhu di kamar mandi. Melihat hal itu Ibu mereka tersenyum senang.


"Jangan berebutan ya nak," nasihat Ibu pada keduanya

__ADS_1


Sherina selesai duluan disusul Avarum. Ibu juga ikut berwudhu dan menyusul kedua putrinya. Sholat berjamaah dilangsungkan dengan Ibu sebagai imam nya karena sedang tidak ada laki-laki di rumah ini.


Avarum masih dilarang dalam menggunakan hp, kemarin dia bermain bersama di hp milik Kak Sherina. Sekarang dia membaca buku sejarah Indonesia punya kakaknya, sedikitpun dia tidak paham apa yang dijabarkan disana. Yang membuatnya semangat dalam mempelajari buku itu karena kakaknya janji akan memberikan coklat kalau berhasil menghafal sebagian besar isinya. Alasan konyol memang.


Saat ini dia sedang membaca halaman yang membahas Perang Surabaya, terpampang foto Bung Tomo di halaman sebelahnya. Dia memperhatikan foto Bung Tomo dengan teliti, berusaha untuk mengingatnya agar tak lupa. Tiba-tiba dia membalik halaman ke halaman terdepan, disana terdapat gambar Garuda yang didominasi warna emas atau kuning. Sekarang dia mengambil buku lain yang memuat gambar yang sama.


"Sama yah? Jadi gambar ini namanya burung Garuda Pancasila." ucapnya setelah membandingkan kedua gambar di buku tersebut


Berkat gambar itu perhatiannya teralihkan menjadi percobaan menghafal Pancasila.


"Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab ... " dia berhasil menghafal 3 buah dari 5 Pancasila


Karena kelelahan Avarum malah tertidur tepat di atas kedua buku tersebut.


***


"Allahu akbar Allahu akbar!" suara adzan Ashar berkumandang


"Eng ... sudah sore ya?" gumam Avarum sambil mengucek matanya


Avarum beranjak dari tidurnya, membereskan buku yang dibacanya tadi siang. Setelahnya dia melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 15.38. Avarum bergegas ke kamar mandi hendak berwudhu dan sholat Ashar.


Setelahnya dia keluar kamar menuju teras rumah yang terbuat dari kayu. Pancaran cahaya matahari sore menerpa wajahnya, cahayanya redup karena terhalang pepohonan. Tak lama setelahnya dia melihat kakaknya Sherina pulang dengan membawa 5 bungkus Mie Instan. Avarum bergegas menghampirinya, menyapa kakaknya dan menggantikan kakaknya membawa mie tersebut ke dapur.


Bersambung...


Maaf ya kelamaan updatenya


Sebentar, aku ngomong sama siapa?

__ADS_1


__ADS_2