Avarum

Avarum
Sedikit Gangguan


__ADS_3

Avarum merapikan buku kembali dan menaruh semuanya ke dalam tas miliknya. Avarum ingin keluar sebentar, mungkin. Tujuannya adalah menghafal lingkungan sekolahnya, meski hanyalah lantai terbawah, lapangan serta bangunan di sekitar lapangan yang akan dia kunjungi. Setelah memantapkan niatnya Avarum keluar kelas. Dari kelas 2B Avarum keluar dan menuju kelas tetangga yakni 2A.


"Hei ada anak baru ternyata!" seru seseorang di depan sana


Kerumunan murid itu memperhatikan Avarum dan menyamperi nya.


"Kamu anak baru kan?" tanya salah seorang di antara mereka


"Iya kak, kenapa ya?" jawab Avarum seraya bertanya kembali


"Berani ternyata nanya balik, bagus juga nyali mu junior." Seorang murid di kelompok itu menyatakan pendapatnya.


Seseorang yang nampak seperti ketua kelompok itu juga mengangguk tanda setuju akan pendapat temannya tadi. Mereka kembali berjalan ke arah kelas mereka sambil mengatakan sesuatu pada Avarum.


"Kali ini kamu selamat, lain kali bersikap sopan lah pada Senior mu. Paham?!" tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat.


Kelompok itu menghilang saat menaiki tangga ke lantai dua. Kemungkinan mereka anak kelas empat atau lima.


"Maksudnya apa ya?" Avarum kebingungan dengan suara ancaman dari kakak kelasnya itu, ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Avarum kembali bergerak ke arah kelas 1A, setelahnya berbelok menuju lapangan. Lapangannya terasa sangat luas bagi Avarum. Avarum kembali melihat ke sana sini. Dia menemukan bangunan lain dekat lapangan, yakni Kantin yang ukurannya juga tak kalah besar. Setelah selesai mengamati lingkungan baru nya Avarum kembali ke kelasnya.


Saat sampai di kelas ternyata kelas sudah penuh oleh siswa-siswi lain, untungnya ini bukan jam pelajaran. Avarum melihat deretan bangku nya sudah penuh, kebanyakan perempuan. Salah seorang di antaranya berdiri dan mengulurkan tangan pada Avarum, mencoba berkenalan pada murid baru.


"Hai, selamat datang di kelas 2B. Namaku Farna, namamu siapa?" tanya anak itu sambil memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


"Namaku Avarum Sri Mulyati, panggil saja Avarum atau semacamnya." jawab Avarum sambil menerima uluran tangan Farna, mengayunkan nya beberapa kali lalu melepaskannya.


Farna sedikit mirip dengan Avarum, yaitu sama-sama pendek. Perbedaannya hanyalah gaya jilbab mereka serta cara berbicara keduanya.

__ADS_1


Tak lama setelahnya bel berbunyi, tanda untuk berbaris di lapangan serta masuk ke kelas untuk jam pelajaran pertama. Avarum dan penghuni kelas 2B lainnya keluar secara serentak, semuanya menuju lapangan. Untungnya hari ini bukan hari senin, kalau tidak maka Avarum akan terlambat karena setiap upacara bendera dilakukan maka waktu bel masuk lebih cepat.


Saat Avarum keluar dari kelasnya, ia melihat banyak orang lain yang menuju lapangan. Lapangan menjadi penuh sesak oleh kerumunan murid-murid. Beberapa murid yang marah tanpa alasan pada Avarum juga ada disana, karena kelas mereka lah pelaksananya. Beberapa murid mengambil posisinya masing-masing, ada yang menjadi pengerek bendera, pemimpin upacara serta komandan regu.


Tak lama setelahnya guru-guru datang, juga membuat barisan tersendiri. Salah satu dari guru tersebut tentunya akan menjadi pembina upacara. Setelah semuanya siap, upacara bendera dimulai.


Masing-masing komandan regu menyiapkan regu-nya dan disusul oleh pemusatan kepemimpinan upacara oleh pemimpin upacara. Pembina upacara dari pihak guru memasuki lapangan, di sampingnya sudah muncul ajudan teks Pancasila. Trio pengerek maju setelah mendengar instruksi dari protokol, selanjutnya komandan regu sebagai dirigen memimpin lagu Indonesia Raya.


Bendera perlahan naik diiringi lagu Indonesia Raya serta hormat dari seluruh orang di lapangan, tak terkecuali Avarum juga ikut hormat pada bendera. Setelah bendera sampai di puncaknya semua orang menurunkan tangan dari posisi hormatnya, saat itu juga lagu Indonesia Raya berhenti dinyanyikan. Regu yang membacakan Pembukaan UUD 1945 dan Sumpah Pemuda juga maju, membacakannya sambil diikuti oleh semua peserta upacara. Usai pembacaan itu, Pembina upacara menerima map teks Pancasila dari ajudan dan membacakannya, yang mana juga diikuti oleh semua peserta upacara. Setelahnya semua regu diperintahkan istirahat di tempat dan mendengarkan pembinaan dari pembina upacara. Usai pembinaan semua regu kembali diatur untuk persiapan akhir upacara dan pembubaran semua regu.


Setelah semua regu dibubarkan, murid-murid berbaris untuk bersalaman dengan para guru. Avarum juga ikut dalam barisan ini meski masih jauh ke depan. Setelah ini pastinya jam pelajaran pertama dimulai.


Avarum dan teman-temannya juga masuk ke kelas setelah barisan mereka mendapatkan giliran masuk. Avarum berada paling depan karena tubuhnya cukup pendek dibanding teman-temannya yang lain, kecuali Farna tentunya. Akhirnya Avarum berhasil masuk ke kelas dan bebas dari 'penjemuran' terjadwal itu.


Saat tiba di pintu masuk, Farna mengucapkan sesuatu sambil menepuk pundak Avarum untuk mendapat perhatian dari lawan bicaranya.


"Hati-hati di sekolah ini ya. Bahaya sesungguhnya tersembunyi di antara para penghuni sekolah ini, jangan berbuat yang berlebihan. " Farna mengucapkannya dengan menekankan nadanya pada kata bahaya.


Keduanya masuk ke kelas, Avarum duduk kembali di kursi nya. Avarum juga berusaha memikirkan apa kesalahan yang telah dia perbuat hingga kakak kelasnya turun tangan untuk 'menegurnya'. Mungkin juga dia lupa memanggil mereka dengan sebutan kakak atau abang, bisa juga ia lupa menyapa dan berkenalan dengan mereka.


Avarum memperhatikan siapa saja yang masuk agar ia tidak bosan. Akhirnya sesuatu yang terlihat tinggi masuk ke kelas, Pak Kashem. Avarum tak tahu beliau ini guru bidang apa, jadi ia hanya terdiam menunggu hal yang akan terjadi selanjutnya.


Bapak itu meletakkan tas miliknya, mengeluarkan buku tebal. Pelajaran berat. Akhirnya bapak itu mengeluarkan alat tulis nya berupa spidol dan penggaris besar. Guru Matematika ternyata. Bapak itu menunjuk Avarum dan menyuruhnya berdiri. Avarum berdiri dan mendengarkan instruksi selanjutnya dari bapak itu.


"Perkenalkan diri mu, lalu duduk kembali," perintah Pak Kashem


Avarum pun memperkenalkan dirinya pada teman sekelas, mulai dari nama sampai sekolah asalnya dulu. Hanya sedikit yang mendengar ternyata, sisanya hanya acuh tak acuh. Setelah perkenalan itu, Avarum duduk kembali di tempatnya.


Pelajaran pun dimulai, hanya pelajaran berhitung dasar seperti pertambahan, pengurangan, perkalian serta pembagian.

__ADS_1


Tentu yang paling sulit bagi Avarum adalah pembagian, otaknya sedikit bingung dalam memproses bilangan-bilangan itu.


Setelah pelajaran Matematika berakhir, bel istirahat berbunyi. Seluruh murid tumpah ruah ingin keluar, mereka berdesak-desakan ingin keluar di pintu kelas. Seakan-akan mereka mencoba keluar dari siksaan, padahal hanya belajar Matematika. Gara-gara perilaku muridnya, Pak Kashem sampai menggeleng. Aneh memang.


Avarum keluar paling terakhir karena sulit untuk keluar dalam keadaan berdesak-desakan. Saat Avarum keluar dari kelas, ternyata Farna telah menunggunya di luar.


"Ayo, ikut denganku saja. Kita ke kantin sama-sama," ajak Farna


"Oke, aku ikut deh," balas Avarum


Keduanya pergi ke arah lapangan, tempat yang cukup dekat dengan kantin. Saat sampai di kantin, suasana sangat ribut. Banyak murid tidak penyabar mengambil makanan atau minuman siap saji berteriak-teriak untuk dilayani terlebih dahulu, agar uangnya cepat mendapat kembalian. Namanya juga anak-anak.


Avarum juga ikut mengambil makanan, satu pisang goreng berbentuk kipas, ukurannya cukup besar. Farna hanya mengambil roti tawar goreng isi coklat sebanyak 2 buah dan menunggu pembayaran bersama Avarum. Saat antrean berkurang, keduanya ikut masuk antrean dan beberapa saat setelahnya menyelesaikan pembayaran.


Avarum membawa makanannya keluar dari kantin, memakannya sepanjang perjalanan ke kelas. Farna terpaksa mengikutinya, daripada ditinggalkan sendirian di kantin. Avarum hampir sampai di kelasnya, tapi segerombolan anak kelas 4 atau 5 menghadangnya. Ada tiga perempuan dan dua laki-laki. Farna langsung menjauh dari Avarum tanpa sebab yang jelas.


"Aku duluan ke kelas ya, Avarum," ucapnya pada Avarum seakan takut sesuatu


"Haha ... kau tinggal sendiri sekarang. Sebagai permohonan maaf dan ganti rugi gangguan mu pada dua cewek di belakang sana. Beri kami uang tutup mulut, semuanya," perintah seorang laki-laki dari gerombolan itu.


"Maksudnya?" tanya Avarum bingung


"Jangan berlagak bodoh pula kau!" Perempuan dengan jam tangan merah muda tiba-tiba menjambak rambut Avarum dan menariknya dengan kuat


"Sakit kak, kumohon lepaskan," ucap Avarum kesakitan


"Kau bayar dulu, baru aku lepaskan," ucapnya dengan seringai yang terlihat jelas


Bersambung ...

__ADS_1


Copyrights. 29 Januari 2023, hari Minggu. Jam 19:45 WIB.


Apabila kalian ingin memberi kritik atau saran yang membangun, harap disampaikan di dalam kolom komentar. Terima kasih. Daah! Sampai jumpa di bab berikutnya di masa yang akan datang.


__ADS_2