Awas Ada Si Bos!

Awas Ada Si Bos!
Bos Baru (1)


__ADS_3

Semenjak kandasnya hubunganku dengan Aryan, aku lebih memilih menutup diri, sembari mencari aktifitas lain yang dapat mengalihkan pikiranku. Tentu saja, kehadiran Dimas menjadi salah satu hiburan tersendiri, terkadang aku bersyukur, tak selamanya Dimas bersikap gila dan absurd. Dia juga bisa bersikap tenang dan dewasa saat dibutuhkan.


Setelah itu aku memutuskan kontak dengan Aryan dan Sarah. Lumayanlah, salah satu cara agar lukaku lebih cepat sembuh. Ya walaupun alasan sebenarnya sih supaya aku nggak kelepasan dan mencakar wajah mereka berdua. Maklumlah, jiwa bar-bar sudah terlalu lama melekat didiriku.


Dan kini, sudah hampir 8 tahun berlalu, terpaksa menahan lelah hati dan pikiran menghadapi pertanyaan perihal kapan nikah. Bahkan saking kesalnya, ayah dan ibuku pernah mengancam akan menjodohkanku dengan siapapun pria pilihan mereka. Sebagai wanita yang tumbuh dengan melihat kemesraan ayah dan ibuku yang mirip-mirip dengan kemesraan almarhum pak habibie dan bu Ainun, tentu saja memotivasiku untuk menikah atas dasar cinta. Tapi sejauh mata meneropong, sepertinya hilal jodoh tak kunjung juga terlihat. Jangankan jodoh, gebetan aja nggak muncul batang hidungnya.


"Lu nikahin gue aja ya Dim, kalau sampe menjelang 40 gue belum nikah"


Pernah sekali aku mengucapkan kalimat itu kepada Dimas saat rasa putus asa melanda diriku. Bukannya mendapat jawaban, Dimas justru hanya memandangku datar kemudian pulang ke rumahnya. Esoknya, ibu Dimas bilang bahwa Dimas demam tinggi dan semalaman dia mengigau bilang nggak pengen nikah. Akhirnya saat itu juga aku datang ke rumahnya, memandang lekat-lekat dirinya yang terkulai lemah di kasur. Aku lalu mengangkat dan menggenggam tangannya sambil berbisik


"Ga jadi Dim, becanda gue"


Dan seketika sorenya Dimas kembali sehat wal afiat. Dasar tuh anak, apa sebegitu nggak pengennya menikah denganku?.


Padahal tawaran itu kuajukan setelah semalam suntuk memikirkan pro dan kontra, untung dan rugi apabila aku menikahi Dimas. Sekalipun lebih banyak ruginya dari pada untung, setidaknya kalau dengan Dimas aku sudah mengenal dia luar dalam, bahkan jadwal pergantian pakaian dalam yang dia gunakan aku juga tahu (ups). Selain itu Dimas juga sudah paham betapa brutalnya aku saat marah. Sudah tentu dia akan selalu setia kalau tak ingin tulang rusuknya begeser menjadi tulang paha. Tapi ya begitulah, si Dimas ogah menerima tawaranku. Dia bilang dia masih belum siap harus hidup bersama satu wanita, apalagi diriku. Katanya hidup denganku bakalan bisa mempersingkat usianya 2 tahun lebih cepat. Gila memang tuh anak.


Sekalipun Dimas begitu absudr dan aneh, tak pernah sekalipun aku melihat dirinya jomblo, selalu saja menggandeng wanita berbeda setiap bulan. Kadang aku suka heran ngeliatnya, kenapa aja masih ada cewek yang demen dengan playboy cap kaki tiga seperti dia. Lagian tuh anak, sok bilang Aryan fucek boy. Toh dia juga sebelas dua belas dengan Aryan.


"Op, jangan samakan jaenab, gue pacaran 1 kali 1 periode. Gak bisa main banyak"


Ucapnya membela diri saat aku meledeknya dengan panggilan fucek boy. Aku hanya bisa mendengus sebal mendengar ucapannya. Toh setelah mengamati dengan seksama, dimataku Dimas dan aryan Ibarat ikan teri dan ikan asin, sama-sama menimbulkan rasa asin berlebih di hidup yang sudah asin ini.


Ya intinya begitulah perjalanan cinta dalam hidupku. Dan sekarang aku selalu memandang langit setiap keluar rumah, berharap menemukan jodoh ketika aku melangkahkan kaki keluar. Nasib-nasib...


***


"Mbak, dah ditunggu bang Dimas tuh"


Aku membalikkan tubuhku, menghadap ke arah Randi yang kini menyelipkan kepalanya di pintu kamarku yang sedikit terbuka. Aku hanya mengangguk sekilas sebelum kembali menata penampilanku di depan cermin.

__ADS_1


Seperti biasa, aku selalu nebeng Dimas saat berangkat kerja. Lumayanlah buat menghemat ongkos. Toh Dimas juga nggak bakalan berani menagih uang bensin. Dia paham bahwa menebengiku setiap hari dan membelikanku makanan secara berkala adalah bentuk lain dari uang 'keamanan' yang harus dia setorkan padaku.


Maklum sajalah, seperti kata pepatah, apa yang kamu tuai itulah yang ditabur. Hal itu juga berlaku untuk si playboy Dimas. Sering kali dia menghadapi berbagai kejadian mengerikan hanya karena mantannya yang terlalu posesif bahkan cenderung obsesif. Saat itulah Dimas akan selalu menghampiriku dan meminta jaminan perlindungan. Kadang memang lebay tuh anak, dikata aku perusahaan asuransi?.


"Astaga mbak, lu dandan 2 jam lagi tetep aja nggak bakal berubah jadi Nia Ramadhani"


Kali ini Randi membuka pintu lebar-lebar, raut kesal terlihat di wajahnya.


"Buset dah, gue nggak pernah ngarap jadi Nia Ramadhani. Gue cinta diri gue sendiri kok. Ingat love yourself"


Jawabku dramatis sambil menepuk dada.


Sekalipun aku terlahir tak secantik Nia Ramadhani, tak sekaya putri sultan dan dengan kemampuan otak pas-pas makan, setidaknya kepercayaan diriku membumbung tinggi, bahkan lebih tinggi dari ratu halu di Indonesia, you know lah siapa.


Dalam prinsip hidupku, bagaimana pola pikir kita terhadap diri kitalah yang menjadi cerminan kita di luar. Oleh sebab itu, love yourself, love myself, peace, love and gaul, eakkk.


Randi hanya memutar bola mata jengah.


lanjutku sewot.


Randi menghentakkan kakinya kesal. Wajahnya terlihat sangat masam.


"Iya memang, tapi dia malah ngerusuh momen gue sama Zulfa mbak. Dah tau kita sama-sama sibuk, ketemunya cuma bisa saat sarapan doang"


Aku hanya nyengir mendengar omelan sepanjang kereta api milik Randi. Dalam hati merasa bersyukur bahwa sikap menyebalkan Dimas tak pilih kasih, antara jomblo atau yang sudah memiliki pasangan.


Mataku memandang Randi yang semula berekspresi masam kini berubah menjadi memelas. Dengan cepat dia berjalan ke depanku, meraih tanganku ke dalam genggamannya


"Please mbak e, bantulah adikmu ini. Kalau mbak bisa aja jauhi mas Dimas dari aku dan Zulfa sebulan aja, mbak ku kasih jatah 50% off skincare kemaren deh"

__ADS_1


Wajahnya menampilkan ekspresi berharap, membuat hatiku yang memang sudah lembek selembek seblak jeletot tak bisa menolak keinginannya


"Kasian kamu dek, pasti mbak usahain bantu kamu"


Wajah Randi langsung berbinar mendengar ucapanku. Tangannya terangkat, bersiap untuk memelukku sebelum aku melanjutkan kalimatku


"70%. Mbak jauhi Dimas dari kamu dan Zulfa"


Tangan Randi yang belum sempat memelukku menggantung di udara. Dia lalu menurunkan tangannya, membuat isyarat berhitung dengan jari jemarinya. Ekspresi horor mendadak memenuhi wajahnya begitu perhitungannya selesai.


"Astaghfirullah mbak. Kejam amat ya, kompeni aja lewat. Gue lagi nabung mbak. Senang amat liat adeknya susah"


"Lah lu juga, senang amat mbaknya makin jadi bahan ghibahan satu kampung. Pake nikah deluan segala"


Balasku sengit tak mau kalah


"Jodoh di tangan tuhan mbak, kalau tuhan menakdirkan aku dan Zulfa nikah cepat, aku bisa apa?"


"Ya kalau naluri jombloku mau muas-muasin ganggu kamu dan Zulfa sebelum janur kuning melengkung, aku bisa apa?"


Randi menatapku frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya. Awalnya dia ingin mengacak-acak rambutku yang sudah tertata paripurna. Tapi dia mengurungkan niatnya begitu melihat bogem mentah yang sudah aku acungkan di depan wajah.


"Oke, 70%"


Jawaban Randi seketika membuatku membelalakkan mata lebar-lebar lalu berteriak


"Yahoo, tengkyu adekkuh"


Dengan gerakan cepat aku melangkah ke arah Randi dan mencium pipinya kuat-kuat, sengaja menimbulkan bekas lipstik di pipi mulus miliknya.

__ADS_1


"Anjrit, mbakkk"


Aku langsung berlari keluar kamar sambil terkekeh. Usia berapapun, tetap saja mengganggu Randi adalah salah satu aktivitas favoritku. Hahhhh, rasanya aku masih belum percaya bahwa adek kesayanganku satu-satunya sebentar lagi akan memiliki status sebagai suami. Seketika jiwa jombloku memberontak, please ya tuhan, kirimkan jodohku secepatnya


__ADS_2