
"Ini yang kamu namakan proposal? Anak TK malah bisa bikin yang lebih bagus dari kamu"
"Uji pasar cuma sekecil ini ruang lingkupnya? Wah, pantaslah produk kita selalu kalah sama merk sebelah"
"Inovasi bahannya seperti ini? Bah, yang ada malah jadi kosmetik gocengan mah ini"
"Perbaiki proposal ini segera. Lelah mata saya ngebaca gagasan yang unfaedah begini"
Gila!!
Aku membanting kesal tumpukan yang sedari tadi ku tenteng. Bolak-balik naik ke lantai atas hanya untuk menyerahkan file ke lantai atas membuat kakinya benar-benar berdenyut sekarang.
Tring
Aku melirik gawaiku yang menampilkan sebuah pesan
(Bos Narendra)
Ke ruangan saya sekarang, bawa perbaikan yang saya suruh tadi
Aku membanting gawaiku ke meja dengan kesal. Wah benar-benar, sebenarnya apasih masalah si bos baru itu denganku?. Bahkan sejak pertama kali masuk kantor dia sudah menerorku dengan berbagai tugas, bahkan yang bukan termasuk job deskku.
"Kamu itu manajer, harus multi tasking"
Ucapnya pongah dengan dagu terangkat.
Multi tasking gundulmu!
Semua orang pasti punya bidang masing-masing dong, dasar keong racun.
Lagi-lagi notifikasi pesan masuk ke gawaiku
(Bos Narendra)
Kalau dalam 5 menit kamu nggak muncul di ruangan saya, liat saja kelanjutannya!!!
Huaaaa. Benar-benar menyebalkan!!!
Dengan kesal aku menghentakkan kakiku, membawa dokumen yang baru saja selesai ku print. Bayangkan saja, aku disuruh memperbaiki ide dan dokumen hanya dalam waktu 15 menit, dan sekarang si bos kampret itu malah memintaku untuk menyerahkan perbaikan ke ruangannya yang notabene berada di lantai 4 hanya dalam waktu 5 menit.
"Bu Nia.."
Aku tak menggubris panggilan salah satu karyawanku. Melangkahkan kakiku lebar-lebar, bersiap menuju medan perang yang diciptakan oleh bos gesrek satu itu.
"Liftnya rusak bu Nia"
__ADS_1
Yang menyambutku pertama kali begitu aku hendak menekan tombol lift adalah pak Agus, cleaning service di kantorku.
Huaa, sial kali aku tuh, lagi begini liftnya malah rusak.
Rasa ngeri semakin menjadi-jadi diriku saat membayangkan aku harus naik tangga. Sebenarnya tak berapa jauh sih, tapi dengan high heels seperti ini, tangga bukanlah opsi yang baik untuk digunakan. Apa... Sebaiknya aku kabur saja ya? Tak usah menyerahkan data ini kepada ini kepada bos Narendra, buat alasan apapun lah, misalnya kram perut karena sedang datang bulan.
Tring
Lagi-lagi pesan masuk di gawaiku. Dengan perasaan horor aku membuka pesan yang baru masuk
(Bos Narendra)
2 menit lagi atau gaji 1 divisimu saya potong
Huaaaa.. Menyebalkan!!
***
"Rasanya pen gue puter-puter tuh si bos baru, terus gue cocolin pake saus berbekyu, bisa jadi spageti yang mantap dia buat ngeganjal perut gue yang capek naik turun tangga"
Ocehku kesal, mengkhayalkan bahagianya bila aku bisa balas dendam dengan si Narendra kutu kupret.
Dimas hanya mangut-mangut, memakan mie ayam di depannya dengan khidmat, tak menggubris sedikitpun ucapanku.
Dengan kesal aku menarik sendok Dimas saat sebuah bakso siap masuk ke mulutnya
Ucapku kesal.
Dimas menghela nafas panjang, merebut paksa kembali sendok ditanganku
"Btw ada mbah keok itu di kompleks kita. Mau gua kawani lu, mayan lah si mbah bisa nyanyet kabarnya"
Jawabnya santai lalu menelan bakso itu cepat-cepat, takut bakalan ku rebut kembali.
"Astaghfirullah, gamau gue, sesat"
Jawabku sambil mengelus dada
"Lu temen apa setan sih Dim? ngasih ide kok menyeret ke neraka?"
Lanjutku lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dimas mengerlingkan bola matanya jengah
"Jadi lu mau gue gimana dong, nona besar yang badannya memang besar? Lagian lu lagi makan mie ayam, bahasnya spageti. Mana suara lu kuat banget lagi. Dah di bereng Mang Sobar kita dari tadi noh"
__ADS_1
Dimas menggerakkan dagunya ke arah gerobak depan mie ayam. Benar saja, mang Sobar sedang menandang kami dengan mata disipitkan.
Aku hanya cengar-cengir ke arah mang Sobar, sebelum kembali berbicara dengan Dimas, kali ini suaraku lebih pelan dari biasanya.
"Habisnya gue emosi coeg"
"Lu ga emosi aja suara lu udah ngalahi toa mesjid"
"Lu ya Dim, gue sumpahi keselek bakso baru tau rasa lu"
Ucapku kesal. Ini lagian ya, sahabat dari lahir kok nggak ada so sweet so sweetnya sih. Beda kayak di novel-novel, sahabat cowok biasanya so sweet, perhatian, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, suka menolong, setia kawan eh lengkap deh kayak anak pramuka.
"Serius gue nih Dim, hibur gue dong. Gue takut nih emosi gue meledak, bisa-bisa si bos muncul di surat kabar bunyinya gini 'Seorang pria ditemukan kritis setelah di hajar karyawannya'"
"Lah bagus, lu masuk koran, mana tau gue bakal di liput yakan, terkenal gue"
Balas Dimas sambil mengangkat bahu.
Aku menghela nafas berat, menghentikan segala macam ocehanku dan mulai fokus dengan mie ayam yang ada di depanku. Dasar bodohnya aku, Dimas malah dimintai nasehat, yang ada sampe teletubies nambah personel jadi 5 gak bakalan dapet tuh nasehat yang berfaedah.
Melihat kediamanku, sepertinya Dimas merasa tak enak karena tak serius menanggapi curhatku. Dia lalu memperbaiki posisinya lalu memasang ekspresi serius
"Gue gatau mau bilang apa Tan. Dia bos baru lu, mungkin dia memang tipe yang kerjanya gercep. Jadi lu sabar aja dulu, ikuti ritme bos lu"
"Kalau dia masih begitu juga, gue bakal ngebantu lu kok apapun yang lu pengen lakuin ke si bos lu. Tapi jangan melanggar hukum ya neng, belum kawin gue"
Ucapnya panjang lebar sambil menepuk-nepuk bahuku.
Aku mendengus
"Ya lu yang ada kawin sering, nikah yang belum. Lagian dikata lu doang yang belum nikah"
Balasku masih dengan bibir yang dimanyunkan.
Dimas membulatkan matanya lebar-lebar, memasang ekspresi kaget sekaligus terluka. Lalu membekap mulut dengan tangannya
"Astaghfirullah, gue ga tau ternyata lu punya pikiran seburuk itu dengan gue Tan"
Dia lalu membusungkan dadanya sambil menepuk melanjutkan dengan nada suara bangga
"Gini-gini gue laki-laki yang setia, dapat dipercaya, buktinya gue masih ngejaga keperjakaan gue buat calon bini gue nanti"
Hoeekk!!
Pengen rasanya aku muntah mendengar ucapan Dimas, kalau saja pandangan mang Sobar tak terus-terusan mengawasi kami.
__ADS_1
Aku menghela nafas lagi, mencoba mencerna nasehat Dimas yang baru kudengar. Sepertinya benar juga. Mungkin saja si bos memang tipe orang yang memiliki ritme cepat dalam bekerja. Mungkin akulah yang terlalu berburuk sangka. Bukankah si bos masih baru? Bukankah saat ini harusnya aku lebih memahami cara kerja si bos dan menyesuaikannya dengan diriku?. Ah benar juga, intinya yang kubutuhkan saat ini adalah kesabaran. Ayo Tania, kamu pasti bisa!.