
Saat aku sampai di depan meja makan apa yang kusaksikan benar-benar membuatku tak habis pikir. Bayangkan saja Dimas begitu santai duduk di antara keluargaku, seakan ini adalah rumahnya sendiri.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku sebenarnya tertukar dengan Dimas?. Mengingat ayah dan ibuku bahkan memperlakukan dia lebih istimewa daripada aku. Jiwa halu plus hobi berfantasiku sering berkhayal. Mungkin saja aku dan Dimas yang kebetulan lahir di rumah sakit yang sama pada jam yang sama tak sengaja terukar. Orang tua kami yang baru mengetahui kenyataan ini setelah bertahun-tahun memutuskan untuk menerima kenyataan dan tetap membesarkan kami sebagai anak masing-masing. Lalu ketika cukup usia, kami akan dinikahkan, sehingga mereka bisa mendapatkan anak kandung masing-masing tanpa harus kehilangan anak yang sudah mereka besarkan sejak bayi.
Euhh, aku merinding. Buset dah, amit-amit, bagian terakhirnya ogah banget. Ya walaupun aku senang-senang aja sih menerima Dimas, lumayanlah untuk mengakhiri masa jombloku, menyelesaikan berbagai cibiran tetangga bahkan saudara yang suka kepo dengan kedok silaturrahmi.
"Ngelamun mulu anak gadis, buruan gih makan, kasian Dimas"
Teguran ibu membuat fantasi gilaku yang mulai berkeliaran kemana-mana langsung menghilang.
Aku lalu ikut bergabung bersama keluargaku, menikmati sarapan dengan santai tanpa mempedulikan berbagai tatapan yang kini mengarah ke arahku. Mulai dari tatapan Dimas yang mengisyaratkan aku agar cepat makan, tatapan Randi yang masih memandangku dengan mata memelas hingga tatapan ayah dan ibuku yang mungkin berharap aku akan mendapatkan jodoh hari ini, entah bagaimanapun caranya.
Bodoh amat, ah. Sarapan adalah hal yang paling esensial dalam hidupku, lebih tepatnya makan adalah hal paling esensial dalam hidupku.
***
"Gue gak bisa jemput ya sistur, gue ngelembur hari ini"
Seperti biasa, Dimas mengantarku menuju kantor yang memang searah dengan kantor tempat dia bekerja. Aku meletakkan tangan di depan dahi, melakukan gestur memberi hormat.
"Ashiapp bosque"
Ucapku selebay mungkin.
Dimas hanya memutar bola mata jengah dan langsung mengisyaratkanku untuk segera menutup pintu agar tidak menimbulkan fitnah.
Yaps, di kantorku, nama Dimas sudah tak asing lagi. Dimas yang sering mengantar dan menjemputku digosipkan sebagai pacarku.
"Nasib amat gue digosipin sama lu Tan, rusak reputasi gue"
rengeknya, memaksaku untuk segera membersihkan namanya.
Tentu saja si playboy cap balsem lang satu itu nggak bakalan mau reputasinya rusak, apalagi saat ini dia juga sedang jomblo, ya walaupun gebetannya banyak sih. Dimas bilang, dengan adanya gosip tentang dia sebagai pacarku membuat kesempatannya untuk bertemu jodoh yang memang ditakdirkan untuknya semakin mengecil. Entah apa korelasinya.
__ADS_1
Aku melangkahkan kaki memasuki gedung perkantoran yang sudah hampir 8 tahun menaungiku. Begitu aku putus dari Aryan, aku mencari dan melakukan banyak hal untuk meredakan rasa sakit hatiku kepada dua makhluk tuhan yang paling seksih alias Aryan dan Sarah.
"Pagi bu Nia"
"Pagi"
Aku tersenyum, menganggukkan kepala, menjawab sapaan sopan yang tertuju padaku.
Orang-orang selalu bilang bahwa patah hati bisa membawamu kepada 2 hal, kehancuran dan kebangkitan. Sepertinya aku harus sangat berterima kasih kepada Aryan. Kalau saja bukan karena rasa sakit yang Aryan goreskan, mungkin saat ini aku tak bisa mencapai posisiku sebagai manager di salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia.
"Pagi Nia akoh"
Suara sapaan beserta pelukan erat langsung menyambutku begitu aku memasuki ruangan staff strategi produksi. Aku memandangi Lia, asisten ternyentrik yang hobi melakukan skinship dengan berbagai orang, bahkan benda mati sekalipun. Jadi jangan heran kalau suatu saat melihat Lia sedang memeluk dinding sambil berbicara, entah apa yang dia bicarakan.
Aku membalas pelukan Lia dan langsung membebaskan diriku dengan paksa begitu menyadari tak ada tanda-tanda dia ingin melepas pelukannya. Lia hanya memanyunkan bibir melihat ekspresi dinginku dan kembali ke tempat duduknya semula. Dulu, saat belum mengetahui tingkah aneh Lia, aku sempat berpikir Lia memiliki kelainan seksual. Hanya saja begitu aku mengetahui fakta sebernya, aku langsung tertampar. Lia yang kupikir aneh justru punya mantan pacar yang jumlahnya melebihi jumlah bulan dalam 1 tahun.
Aku tak menggubris gerutuan Lia dan berjalan lurus menuju ruanganku. Meletakkan tasku, aku mulai mengecek beberapa dokumen yang tersusun rapi di meja, beserta kumpulan sticky note yang tertempel di papan aktivitas milikku.
Rata-rata isi sticky note perihal pekerjaan yang sebagian besar ditempel oleh Lia. Survei produk, tester produk baru, inovasi bahan dan... Penyambutan bos baru?.
Ah iya, aku lupa, aku sudah 2 hari tidak masuk kantor. Melakukan refresh otak begitu sebuah undangan bernuansa pink cantik sukses nangkring di atas meja kerjaku minggu lalu.
The Wedding
Aryan & Sarah
Aish dua manusia itu, benar-benar bisa membuat moodku turun ke titik terendah. Ya, mungkin saja dalam 2 hari ini ada perubahan informasi mendadak yang tidak aku ketahui.
Aku lalu melangkah keluar untuk membuat kopi. Tetapi tujuanku langsung berganti begitu melihat kerumunan rekan kerjaku yang sedang bergosip dengan penuh semangat.
"Bosnya masih muda euy, ganteng lagi"
"Ho oh, Jarang-jarang perusahaan kosmetik dipimpin cowok secakep dan semuda itu"
__ADS_1
"Katanya juga masih single, sis"
Aku menggelengkan kepala. Ah, sepertinya mereka sedang menggosipkan bos yang baru. Oalah wanita, lapar dan haus bisa ditahan, tetapi naluri menggibah pantang untuk di tahan.
"Astaga bu Nia, bikin kaget aja"
Teriak Mela begitu menyadari aku berdiri di belakang mereka. Aku hanya cengar-cengir melihat ekspresi panik mereka semua
"Lanjut dong ah, mau denger nih"
Mela dan yang lain sontak saling berpandangan, sepertinya terkejut dengan sikapku yang mungkin sangat jarang mereka lihat.
"Tumben bu Nia mau ikut nimbrung, biasanya ogah kalau soal cowok"
Ucap Tari masih terlihat heran.
'Mana tau jodoh'
batinku dalam hati. Mana tau yakan? Jodoh siapa yang tahu. Mungkin saja tuhan mendengar doa orang-orang yang mengharapkanku segera melepas masa lajang, ya termasuk doaku juga sih.
"Penasaran aja, sekalian mau nyari referensi tentang si bos, mana tahu bisa semakin mempromosikan divisi kita"
Jawabku sok diplomatis. Ada benarnya sih, bukankah kami harus menyesuaikan visi misi dengan bos baru, walaupun ada niat terselubung juga.
Semua kompak ber oh ria dan memasang wajah dengan ekspresi 'seperti yang diduga dari bu Nia'. Hahhh, andai saja mereka tau keinginanku segera melepas masa lajangku.
Mela melanjutkan ceritanya, kali ini dengan semangat 2 kali lipat
"Ganteng cuy, tinggi, kalem, baik, ramah, konglomerat lagi. Dahlah, bahagia lahir dan batin pasti yang jadi istrinya.
'Iya kalau nggak fucek boy', batinku dalam hati.
Aku menggelengkan kepala heran, dasar Mela, memang paslah dia dijuluki sebagai telinganya kantor, apapun gosip terbaru, Mela selalu yang lebih dulu tahu. Apalagi Mela juga tipe pengingat, semakin memudahkannya dalam menyimpan gosip yang autentik, langsung dari pihak pertama tanpa ada penambahan dan pengurangan. Kadang aku heran melihatnya, itu otak atau harddisk komputer?.
__ADS_1
"Sebelumnya dia megang salah satu anak perusahaan yang fokus di bidang fashion, terus di pindah kesini deh. Katanya sih begitu dia yang megang, perusahaan yang hampir mau kolaps langsung perlahan membaik. Keren kan?"
Hmm, benarkah? Bukankah dia dipilih karena dia adalah keponakan dari kepala perusahaan?. Tiba-tiba rasa penasaran melanda diriku. Sehebat apa bos baruku ini? Tiba-tiba tanpa ada sebab, bulu kudukku merinding seakan ada sesuatu hal besar yang membuat hatiku tak enak. Tapi... Apa??