Awas Ada Si Bos!

Awas Ada Si Bos!
Bos Baru (3)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 14.00 saat sebuah pesan masuk di gawaiku. Mataku langsung menyipit saat melihat nomor tak dikenal muncul disana


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Turun dari pesawat untuk menemuimu


Apaan dah?.


Aku menghernyitkan alis bingung. Menekan jari telunjuk di kening, mencoba mengingat-ingat apa ada klien yang harus kutemui atau harus kujemput ke bandara hari ini?. Tanganku lalu meraih buku jadwal, semakin merasa heran saat tak menemui jadwal pertemuan apapun hari ini.


Apa ini modus penipuan terbaru?. Mataku tak sengaja menscroll SMS yang masuk ke gawaiku dan seketika merasa miris. Hanya ada beberapa pesan dari rekan kerja tertera disana. Tak lupa pesan dari operator dan yang paling banyak adalah pesan dari koperasi yang menawarkan pinjaman. Nasib-nasib.


Ting..


Lagi-lagi sebuah pesan masuk.


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Di mobil menujumu


Alisku semakin berkerut saat membaca pesan yang kembali masuk. Biasanya modus penipuan atau pinjaman onlen hanya mengirim sms sekali, lah ini kenapa berkali-kali?. Aku menekan tombol dial, mencoba menghubungi pemilik nomor. Awalnya tersambung sebelum akhirnya di sambut kata-kata cinta dari operator bahwa yang punya nomor tidak bisa menjawab. Dengan kesal aku menghapus pesan yang masuk dan kembali fokus dengan layar laptopku.


Tingg..


Oke sip, kalau ini dari nomor yang sama, kukutuk yang punya nomor jadi berlian, biar bisa kujual sekalian, lumayan buat modal nikah.


Dan ternyata dugaanku benar, sebuah pesan dari nomor tadi.


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Aku sudah di gedung YouF untuk menemuimu


Hah? Bagaimana mungkin dia tahu lokasiku bekerja?. Belum habis keterkejutanku, pesan kembali berdatangan.


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Aku sudah di dalam lift


Aku mengelus dada, mencegah keinginan membanting gawaiku atau lebih tepatnya membanting si pemilik nomor. Siang-siang gini ngerjai orang, iseng banget sih. Baru saja aku ingin menekan tombol blokir, tiba-tiba gawaiku kembali berdering.


(08521133xxxx)

__ADS_1


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Aku sudah di depan ruangan divisi strategi pemasaran


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


90 langkah menujumu


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


80 langkah menujumu


Aku membaca SMS yang terus datang secara beruntun. Wah cepat sekali langkah pemilik nomor ini. Padahal belum lama dia mengabari bahwa dia baru turun dari pesawat dan tiba-tiba saja dia sudah 80 langkah menujuku.


Seketika bulu kudukku meremang, teringat sebuah urband legend yang sering jadi bahan gosipan aku dan teman-temanku. Dulu saat SMP, aku dan teman-temanku pernah membahas tentang SMS berantai dari makhluk ghaib. Tentang seorang anak perempuan yang menerima SMS dari nomor asing, mengabarkan bahwa dia akan menemui si anak dan terus melanjutkan SMSnya dengan mengabarkan jarak yang dia butuhkan untuk menuju lokasi si anak.


Dulu aku sempat percaya dengan cerita temanku. Bahkan ketika gosip tentang telpon yang dapat membuat layar merah dan merenggut nyawa seseorang yang mengangkat telepon beredar, jiwa penakutku benar-benar meronta, membuatku mematikan HP tinuninutku setiap malam. Menghindari penelpon yang katanya selalu menelpon di tengah malam.


Setelah lebih dewasa aku paham bahwa semuanya adalah hoax dan alasan dibalik kabar hoax menyebalkan yang sering menghiasi masa remajaku yaitu untuk menghindari penggunaan HP yang berlebihan di kalangan anak remaja dan mencegah radiasi buruk bahkan di saat tidur. Lagian yakali makhluk ghaib bisa pake HP? Bisa tambah kaya tukang jual pulsa dan paket ntar.


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Buset dah, ini orang kakinya sepanjang apa, ya kali tinggal 20 langkah doang. Tapi, bagaimana mungkin dia tahu nama kantor dan nama divisi tempat aku bekerja?.


(08521133xxxx)


Cepat sembunyi, ku akan temukanmu


Aku di depan ruanganmu


tok.. tok..


Tubuhku langsung terperanjat begitu mendengar suara ketukan di pintu. Hampir saja HPku terlempar dari genggaman. Suara ketukan kembali terdengar, membuat keringat dingin mengalir di dahiku. Jujur saja, sekalipun aku mantan preman sekolah, makhluk ghaib bukan termasuk dalam otoritas keberanianku.


"Si..Siapa?"


Tanyaku sedikit gemetar.


Biasanya aku tak pernah menanyakan siapa yang mengetuk pintu dan langsung mempersilakan masuk, apalagi disaat jam kerja seperti ini.


"Lia, Tan"


Suara Lia membuat nafasku yang sedari tadi tertahan langsung berhembus, lega. Mataku memandang layar gawai yang tak lagi menampilkan tanda-tanda SMS masuk.

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas lagi, merapikan rambutku sejenak dan berdehem, melegakan tenggorokanku yang terasa tercekat akibat SMS dari nomor yang tak bertanggungjawab.


"Masuk"


Kepala Lia langsung menyembul dari sela pintu.


"Bos baru udah datang tuh"


Ucapnya lalu kembali menutup pintu tanpa menunggu reaksiku.


Ah, bos baru sudah datang rupanya. Aku langsung mengambil cermin kecil dari dalam laci, merapikan penampilanku. Sebelum keluar, aku meraih gawai sebentar, menghapus SMS sialan sekaligus memblokir nomor makhluk iseng yang sukses membuat jantungku naik turun.


Setelah memastikan semuanya sempurna, aku langsung keluar ruangan. Di depan ruanganku sudah berjejer para karyawan dari divisiku. Mereka langsung memandangku dengan tatapan lega bercampur bingung.


Sebenarnya aku juga cukup bingung, jarang-jarang pimpinan perusahaan langsung turun ke tiap divisi, terutama di hari pertama mereka bekerja. Apalagi tadi pasukan gosip kantorku yang dipimpin oleh Mela mengatakan bahwa si bos baru saja sampai dari luar kota. Harusnya si bos bertemu dengan jajaran eksekutif perusahaan terlebih dahulu sebelum turun langsung ke masing-masing divisi atau tidak sama sekali.


Si bos baru sedang berdiri membelakangi kami, terlihat tengah berbincang dengan seorang pria yang aku yakini sebagai sekretarisnya. Aku langsung mengambil posisi di sebelah Lia, menarik nafas dalam-dalam.


"Selamat datang pak di kantor YouF dan Selamat datang di divisi strategi pemasaran"


Ucapku ramah, ke arah seorang pria yang berdiri membelakangiku.


Hanya dengan melihat dari belakang saja aku langsung paham kenapa seluruh perempuan di kantorku menggila perihal kedatangan bos baru. Aku jadi teringat saat makan siang di kantin tadi, hampir semua gerombolan membicarakan perihal bos baru.


Kalau yang perempuan membahas perihal kesempurnaan penampilan si bos, maka para lelaki membahas kesempurnaan kinerjanya.


Tubuh si bos tinggi, mungkin sekitar 180 cm sekian. Kalau saja aku berdiri di sampingnya, mungkin tinggi semeter kotorku akan terlihat sangat menyedihkan. Bahunya terlihat lebar, dengan postur tegap. Duh, hampir saja liur jiwa jombloku yang sudah lama tertidur jatuh.


Si bos terlihat berhenti berbicara, entah perasaanku saja, tapi aku bisa melihat bahunya sedikit gemetar begitu aku menyelesaikan ucapanku. Si bos lalu berbalik yang membuat ekspresi terpana muncul di wajah semua wanita.


Defenisi dari pria tampan sebenarnya. Rahang tajam, mata yang menatap lurus dan tegas, hidung mancung, bibir penuh yang tidak terlaly tebal tapi tidak terlalu tipis dengan alis tebal rapi serta bulu mata panjang.


Sementara aku hanya bisa membatin begitu melihat wajah si bos. Oke sip, wajah-wajah fucek boy, spesies yang paling kubenci sedunia. Aku memandang si bos yang entah kenapa tak melepaskan pandangannya sedikitpun dariku. Matanya menatap tepat di depanku.


"Terima kasih, senang bertemu denganmu"


Kali ini rasanya aku benar-benar ingin mengucek mataku, memastikan kebenaran pandanganku. Sekalipun si bos mengucapkan kalimatnya dengan nada ramah, entah kenapa aku melihat ada ekspresi sinis di matanya.


"Saya Narendra Wiryawan"


Dia melangkah mendekatiku, mengulurkan tangannya terlebih dahulu.


Aku memandang tangan yang terulur di depanku sejenak. Seumur-umur, ini kali pertama aku merasa ragu untuk menjabat tangan seseorang, apalagi dia adalah bosku.


Aku langsung menggelengkan kepala, menepiskan semua pikiran aneh yang mulai menghinggapi kepalaku. Aku lalu menerima uluran tangan si bos.


"Saya Tania Indriani"


Dan untuk sesaat, aku yakin seringaian muncul di wajah si bos.

__ADS_1


__ADS_2