
π06.30π
"Dek, udah siap-siap?" Lirikan mata Arini menuju kakak tirinya itu datar seperti biasanya, meski begitu bagi Viki itu bukanlah suatu hal yg perlu dipermasalahkan.
seseorang yang kini telah menjadi saudaranya Rin. itulah Viki kakak tirinya Arini, pria yg selalu mengawasi gerak-gerik arini dari jauh.
Tidak peduli seperti apapun Arini dihadapannya tetaplah masih menjadi seseorang yg begitu spesial dalam hati Viki.
Dimeja makan telah ditunggu oleh dua orang yang sudah tak asing lagi bagi Viki dan Arini. Rutinitas setiap pagi mereka sebelum melakukan aktivitasnya, sarapan pagi bersama adalah hal biasa bagi Viki sang ayah dan sang ibu sambungnya, meski begitu masih ada sedikit rasa canggung dihati Arini.
Seakan-akan dirinya merasa terganggu dengan kebiasaan baru dalam rumah ini.
Disertai dengan tatapan perasaan sang Kakak tirinya itu membuat Arini semakin tak suka dengan ketenangan dalam rumah itu.
Arini tidaklah bodoh untuk peka terhadap sesuatu disekitarnya, dirinya menyadari kehadiran seseorang yang selalu memperhatikannya dengan penuh perasaan. Meski seseorang itu tak pernah mengungkapkannya tapi Arini cukup tahu dengan semua perhatian kecil yang selalu diberikan oleh Viki. Meski begitu Arini bukanlah orang yg mudah tertarik pada sesuatu.
"Ayo pergi" tuturnya yang sudah selesai dengan sarapannya, Arini berjalan dahulu menuju mobil sang ayah sambungnya. Menunggu didalam mobil sehingga mau tak mau Viki pun mengikuti langkah Rin disertai dengan sang ayah yang akan mengantarkan mereka ke sekolah.
Sesaat sampai didepan sekolah
Rin yang keluar dari mobil tanpa berkata apapun menundukkan kepalanya untuk mengucapkan terimakasih pada sang ayah sambungnya. Diikuti dengan Viki yang juga mengikuti sang adik sambung.
Melewati beberapa koridor sekolah yang masih dalam keadaan sepi tak membuat Rin merasa takut akan sesuatu.
Seperti biasanya Rin akan berjalan tanpa memerhatikan sekitarnya tanpa dia sadari dia akan menabrak seseorang.
"Au, (*hampir terjatuh*)" namun tertahan oleh tangan Kokoh seorang pria asing dihadapannya itu membuat Arini masih dapat menahan tumpuan tubuhnya..dengan hela'an napas beratnya Rin mencoba melihat siapa orang yang telah ditabraknya kini
" (huh)"sambil mendengus Rin terpaksa harus meminta maaf atas kecerobohannya kali iniπ
"sorry"hanya kata-kata singkat memang yang terbiasa keluar dari mulut wanita cantik berwajah datar itu.
siapa yang akan menyangka jika orang yang ditabraknya adalah Kenny,
"ma- maafkan aku, aku tak melihat kau lewat.
Ap- apa kau baik-baik saja?." Sembari mencoba membantu memegangi Rin yang hampir terjatuh kala itu.
Kenny sangat terkejut tak menyangka seseorang yang tak sengaja menabraknya saat ini adalah wanita yang membuatnya tertarik pada saat pertama kali melihatnya duduk termenung ditaman belakang waktu itu.
*(Huuff merepotkan)pikirnya. Sambil melihat sekilas pria yang tak sengaja ditabraknya ini membuat Rin semakin merasa tak nyaman dengan situasinya sekarang. Ia tak menyangka bahwa akan bertemu lagi dengan pria yang menyapanya kemarin namun dengan tanpa bebannya diabaikan oleh rin saat itu.
Berpikir inilah takdirnya, Kenny bahkan tak menyadari jika seseorang menatapnya dengan tatapan marahnya.
__ADS_1
Viki berjalan menghampiri Rin dan Kenny yg sedang menatap Arini tak henti-hentinya.
"Rin,? Ada apa? Apa kau baik-baik saja? " menatap Kenny dengan tatapan marahnya sembari melepas pegangan tangan Kenny pada wanita tercintanya itu, Viki yang merasa khawatir melupakan dirinya yang telah memberi Rentetan pertanyaan itu membuat Arini merasa pusing.
Seakan dirinya yang sudah terjatuh malah tertimpa tangga pula dengan semua pertanyaan si maniak cinta itu.
Sembari memikirkan sesuatu mau tak mau Rin harus menjawab segala macam bentuk kekhawatiran dari pria yang kini telah menjadi Kakak sambungnya ini.
" Ya, aku tak mati!!" Menatap seseorang yang bahkan belum lamah ini telah dia abaikan itu membuat Viki semakin tak suka pada pria dihadapannya saat itu juga tak lupa dengan tatapan intimidasinya pada Kenny pun tak membuat Kennny takut akan tatapan maut dari pria itu. Fokusnya hanya terarah pada wanita cantik yang telah membuat hatinya bergetar itu.
Viki yang bisa merasakan seseorang yang berada dihadapannya saat ini bersama dengan Arini adalah sebuah saingan baginya. entah mengapa ia merasakan tidak suka. Saat pria dihadapannya saat ini seperti menyukai Arini adiknya.
Yah itu tak menutup kemungkinan bahwa seseorang akan tertarik pada Arini yang notabenya sangat cantik. Seakan-akan seperti dunia Tak bisa menolak kecantikan paras dari seorang Arini sanvhigo.
*(Siapa pria ini, kenapa dia sepertinya begitu dekat dengan wanita ini)*"pikir Kenny yang mulai merasa seperti akan ada persaingan mendekatinya.
Semakin dibuat heran oleh tingkah seorang pria yang menyerang Wanita yang disukainya ini dengan pertanyaan membuat Kenny tak bisa menahan mulutnya yang sudah kenapasan itu untuk bertanya.
" Ah, ma- maafkan aku, ehm Tapi siapa namamu?" Sambil menatap Rin Kenny tak mau menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk berkenalan dengan wanita cantik itu.
Mendapat tatapan tak biasa dari Arini sempat membuat Kenny ragu untuk bertanya lagi
" Arini sanvhigo "namun siapa yang menyangka jika pertanyaannya bahkan direspon oleh Rin.
Kenny berlalu pergi meninggalkan mereka tanpa melihat Viki yang saat ini menatapnya semakin tak suka kalah Rin mengenalkan dirinya pada orang asing menurutnya..
" Dek, knp kamu.....,,"
*( Plak)*. " Ack." Sambil melihat siapa yang telah memukul kepalanya Viki bahkan tak sempat bertanya pada wanita pujaannya membuatnya sedikit kesal.
" Ivan hufff.."π€πmendapat tatapan maut dari seorang Viki tak membuat pria tampan itu merasa takut " haha...Lo ngapain disini...eh Rin? Bareng viki?"..
"Hm....." (Berjalan meninggalkan) setelah ditinggal pergi oleh Rin. Viki membalas tonyoran dari teman cecunguknya itu. Masih dengan tatapan mautnya pada Ivan
*(Aku ingin membunuhnya)*pikir Viki saat melihat Ivan sang teman.
Sementara dilain pihak....
Kelas:12B1-3.
" Eh Kenny darimana Lo?" Tanya seorang teman yang melihat Kenny entah darimana seperti baru saja mendapat lotre berhadiah uang membuatnya tersenyum sendirian membuat temannya merasa dia sudah gila bahkan setelah sapa'annya tak terbalaskan.
Membuat pria itu mau tak mau mencoba mengagetkan Kenny
__ADS_1
"woe sinting...gila lo yah?" Mendapat kejutan dari temannya membuat Kenny sadar akan dirinya yang baru saja terlihat bodoh.
" Hah? Napa? Hehe" (sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.)"
Sedikit menahan rasa malunya Kenny hanya membalas ringan pertanyaan sang teman.
" Oh, gue abis dari depan..!!"
"Rin dtg bareng kak Viki ya..??" Sambil menyembunyikan senyum malu-malu kucingnya. Neta bahkan tak menyadari bahwa sahabatnya Rin ini tengah menatapnya.
"Hm.."
Sambil menatap sahabatnya Rin sudah tahu jika sedari dulu sahabat satu-satunya ini mempunyai perasaan khusus terhadap kakak sambungnya itu.
Jadi tak heran jika Neta selalu menanyakan tentang Viki padanya.
Seperti seseorang yang sedang dimabuk cinta itu
*(ternyata cinta bisa membuat seorang Neta terlihat bodoh)*pikirnya.
Sementara sibuk dengan pikirannya masing-masing kelas telah dimulai dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia.
ππππππ’ππ’ππ’ππ’ππ’ππ’ππ’π’ππ’ππ’ππ’ππ’ππ’ππ’πππ’ππ’ππ’ππ’π’πππ’ππ’π’πππ’ππ’ππ’ππ
Sementara disebuah rumah π
"Istriku..? Apa yg sedang kau pikirkan..hm?" Menghampiri istrinya sambil memeluk tubuh wanita yang telah dinikahinya itu.
" Pah,.....??"sembari memeluk suaminya itu Renata Aditama. Ibu dari Arini sanvhigo mencurahkan semua isi hatinya dengan suara yang bergetar. Kala dirinya mengingat kembali keadaan anaknya Arini waktu dulu dengan yang sekarang sangatlah berbeda.
Sungguh ibu mana yang tidak merasa sedih jika melihat anak tercintanya yang dulu sangat ceria kini menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa menunjukkan perasaan emosionalnya terhadap apapun disekitarnya.
Kini dia merasa seperti seorang ibu yang gagal membahagiakan anaknya sendiri.
Tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang melihatnya dan mendengar semua keluh kesah dari wanita parubaya yang sudah melahirkannya itu. Dengan tatapan yang tak biasa.
Sungguh sakit rasanya bila melihat sang ibu yang mencurahkan perasaannya dengan suara yang bergetar. Meski demikian Arini yang sekarang tidaklah sama dengan Arini yang dulu yang akan menangis bila di goda sang ibu. Bahkan untuk mengatakan sakitnya saja sekarang sudah tak bisa dilakukannya.
Rasa emosional yang telah mati membuatnya terus tumbuh bagai boneka tanpa jiwa yang hanya bisa berjalan dengan bantuan arahan dari sang pencipta.
*Selamat membaca*
Nantikan bab berikutnya
__ADS_1
..