
Kay melihat sekali lagi pesan yang ia kirimkan melalui WhatsApp grub IndoSad dan tandanya tak berubah, tetap centang dua putih. Grub mereka berisi empat orang termasuk dirinya, lantas mengapa disaat-saat seperti ini ketiga-tiganya tidak memegang ponsel. Bukahkah sekarang adalah zaman dimana ponsel tidak pernah terlepas dari genggaman pemiliknya?
Dia sudah menunggu satu jam, ditempat yang dia sendiri masih asing. Pulau Bali memang berdekatan dengan pulau Jawa, tapi itu kan di peta, pada kenyataannya Kay merasa ini seperti tempat yang benar-benar baru. Dia pernah ke Bali memang, tapi itu tujuh tahun lalu saat Study Tour SMP.
Baru saja dirinya menyingkir untuk duduk di bangku taman bandara karena satu jam tadi ia habiskan dengan berdiri, ponselnya berbunyi. Panggilan yang ditunggu-tunggu.
"Sumpah ya kalian, kemarin aja ngeyel gue harus ikut katanya IndoSad biar lengkap, full team. Giliran gue bisa nyusul eh lo pada ngeghosting gue, bilangnya mau jemput di bandara, ini gue udah sampe berakar, tumbuh di atas tanah Bandara, kalian ga nyampe-nyampe. Panas banget ini gue udah dehidrasi, kalian bisa-bisanya--"
Kay terdiam saat suara yang keluar dari ponsel ditelinganya bukan suara dari teman-temannya. Bukan Hana, Hasna, ataupun Ana. Seperti suara.. cowok?
"Guys?" Kay memanggil sekali lagi untuk memastikan bahwa yang meneleponnya benar-benar anak IndoSad.
"ekhem"
Mati gue! Suara cowok.
Kay tau dan paham betul bagaimana suara Michael, Vigo dan Dika. Tapi yang ia dengar saat ini bukan salah satu suara dari mereka.
"Kayana?"
Kay menjauhkan ponselnya, benar saja, yang menghubungi adalah nomor asing berakhiran 098. Setelah mengatur napasnya sekali lagi, Kay mendekatkan ponsel.
"Iya, ini siapa ya?"
"Ini Jana, kamu yang berdiri pake topi putih, koper pink?"
Kay spontan mengedarkan pandangannya. Was-was.
"oke ketemu"
"halo.. halo ini siapa ya, Jana siapa ya Allah"
Kay menatap layar ponselnya yang menghitam. Tiba-tiba telepon, tiba-tiba mematikan sambungan.
"Kay?"
Kay mengangkat kepalanya. Seorang laki-laki berkulit putih, memakai kaos putih dan celana jeans selutut serta kacamata hitam sedang berdiri menatap dirinya.
"Kayana kan?"
"Iya, kamu siapa?" Kay mundur selangkah
"Jana, saya disuruh Ana buat jemput kamu di bandara. Temen-temen kamu tadi baru keluar cari makanan" tanpa menunggu persetujuan Kay, laki-laki bernama Jana tadi mengangkat koper milik Kay dan memimpin jalan.
Dasar teman-teman laknat!
.
.
.
N
.
.
.
"KAY!!!!"
"AAA Kay datengg yeyy!!!"
__ADS_1
Kay yang baru sampai dan berdiri di depan pintu langsung menjauh. Dia tidak sudi menerima pelukan teman-teman yang tega menelantarkannya di bandara selama 60 menit dan memilih orang lain. yang. tidak. dikenal. untuk menjemput dirinya.
"minggir!!! Ga sudi gue sama kalian. gue udah nunggu SATU jam di bandara, eh kalian enak-enak minum es kelapa muda disini. katanya mau jemput"
"SATU JAM?!"
"Iya SATU jam" Kay menekankan tiap kata yang ia ucapkan
"masa sih?"
"liat aja tuh hp kalian. gue udah kirim chat pas baru aja mendarat"
"bentar-bentar" Ana menyela. "tadi Jana langsung berangkat kok pas tadi gue minta tolong buat jemput lo. bahkan sebelum lo mendarat"
"Jan, lo tinggal muter kemana tadi sampe Kay nunggu lama?"
"ban meletus"
uhuk uhuk.
Kay tiba-tiba saja merasakan tenggorokannya kering dan gatal.
"wkwk sorry Jan, emang ban mobilnya agak tipis tadi kata bapak Villa nya" Vigo menambahkan
"Oalahh musibah Kay, jangan langsung emosi gitu dong beb. Panas ya Bali makanya emosian"
"emosinya tuh bukan gara-gara Bali panas kali Na, tapi gara-gara Kay abis sama Bim--"
"Kay!! mending lo naik dulu ke kamar, istirahat, pasti capek kan? kamar lo no 3, tapi barang-barang kita masih di kamar no 1, terserahlah mau ke kamar berapa. nih biar dibantu Hasna" Hana mendorong Hasna yang barusan dia bekap mulutnya. Mulut Hasna memang suka nyeplos, tak tau situasi dan kondisi.
"hehe ayo Kay gue bantu"
"abis lo Has sama gue" Kay melotot tajam
"Kay, ntar turun aja, gue mau nyantai di belakang, seger lo pasti suka" pesan Ana sebelum Kay benar-benar naik
Setelah Kay benar-benar naik, Ana beringsut mendekati Jana yang sudah bermain tenis meja bersama Vigo di teras.
"heh Jan, temen gue ga lo apa-apain kan di mobil tadi?"
"ga"
"serius Jan. lo nggak mencoba buat rayu-rayu Kay kan? ga lo ajak bicara hal-hal negatif kan?"
"enggak. Temen lo aja duduk di kursi belakang nggak mau didepan"
"ahahahah. syukur deh, bisa mati gue kalo sampe Kay marah gara-gara yang jemput doi itu elo"
"Ga mungkin berani gombalin Kay dia mah, sayang. Ya kan Jan?"
"hm"
.
.
.
N
.
.
__ADS_1
.
"Has jangan lupa dibalik dong, ini gosong tantee"
"Han bumbunya bikin lagi ini udah abis"
"Anaa mana dagingnya cepet sini gue bakarin"
"santai Kay.. selow ini cuma bbq an bukan master chef jadi ga cepet-cepetan" kata Michael
"Chael, lo mending mabar sana kek sama Vigo sama Dika jangan disini" usir Kay
"lah kan gue mau bakar-bakaran juga Kay. lo pms ya?"
"MICHAEL!!"
"BEBB!!"
"hah? eh? bener ya Kay lo pms? ehe sorry, ini gue minggir ya Kay, mau mabar. jangan lupa dibolak-balik Kay, tapi kalo gosong gapapa juga Kay tetep gue makan"
Michael memilih untuk duduk sembari bermaim Mobile Legends daripada membantu Kay yang hari ini sedang RED. namun meski begitu, Kay tetap cekatan seperti biasa. daging, sosis, jagung manis dan makanan bakaran lainnya tiba-tiba saja sudah tersaji diatas karpet beserta minuman soda dan cemilan lainnya.
"yeyy waktunya makan sambil ngobrol" Hasna berteriak antusias dan langsung duduk di samping Michael.
"Has duduknya sini jangan pasangan" kata Ana sambil sudut matanya melirik Kay.
"Eh iyaa. Maaff. kalo gitu aku duduk samping Kay ajaaa"
sesuai kata Ana, mereka berdelapan duduk melingkar dengan tanpa berpasangan. dari arah kanan ada Ana, Kay, Hasna, Hana, Michael, Dika, Vigo kemudian Jana disamping Ana.
Malam ini bulan diatas langit Bali benar-benar bersinar cerah menemani malam-malam yang rasanya enggan mereka lewatkan begitu saja. setelah makanan habis, tak habis ide mereka menghidupkan malam dengan bermain gitar dan bernyanyi, hal yang disukai Kay meski dirinya buruk dalam hal tarik suara. namun tak apa, hanya mendengarkan sambil sesekali ikut bernyanyi meski suara tak bagus, Kay merasakan moodnya membaik malam ini. tak salah bila setelah beberapa perempuan lelah, Vigo malah memanggil Kay untuk bermain poker bersama laki-laki.
"cielah moodnya udah baik aja nih mak lampir" sambut Michael begitu Kay duduk disampingnya
"diem atau gue sobek ni kartu"
"Iya iya gitu aja marah"
"minum guys" Ana datang membawa beberapa kaleng minuman dingin dan segera duduk menyender Vigo
"kamu kalo main ini jadi manggil Kay terus ya, bukan aku lagi" Ana mulai bersuara
"kamu kan gabisa"
"Iya sih, makanya ajarin dong"
"tiap hari juga diajarin kamunya males nginget"
"hahaha yaudah Aku nonton kamu main aja"
ekhem.
"ini jadi main nggak ya bapak ibu" Kay berseru
"Jan, lo bagiin kartunya"
"sini"
"Jan, besok lo sama Kay ajalah, biar pas kita semua pasangan. Biar Kay juga jinak ga kaya tadi"
"Michael abis ini gue botakin pala lo"
"lah kan tujuan bawa Jana kesini buat jadi pasangan lo Kay."
__ADS_1
"MICHAEL!!!"
...~N~...