
Duduk di bangku karyawan selama beberapa jam dengan tumpukan-tumpukan kertas juga map di meja kantor sukses membuat pantat dan pinggang Flora terasa penat. Pasalnya, hari ini Flora mendapat pekerjaan yang cukup banyak, di saat semua karyawan sudah mengisi perut nya dengan berbagai makanan di Cafetaria kantor sedangkan dirinya masih bergelut dengan kertas-kertas di depannya yang tak kunjung berkurang.
Terdengar ketukan pintu di ruangan Flora, dan hal itu sukses membuat Flora derdecak kala mendengarnya.
'apa lagi ini? Tumpukan kertas lagi?' Batinnya.
"Masuk!" Seru Flora kepada orang di luar sana. Terlihat seorang pria bertubuh tegap dengan setelan kemeja putih yang bagian lengannya terlipat hingga sikunya, sontak membuat Flora bangun dari duduk nya dan mulai menundukkan kepalanya sedikit.
"Eoh Tuan Pa Par Park ..." Mati saja kau Flora bisa-bisanya kau melupakan nama anak dari direktur utama di perusahaan ini.
"Park Jimin, anak dari direktur utama perusahaan ini dan calon direktur utama di perusahaan ini." Pria itu memincingkan sudut matanya untuk melihat ke arah nama yang terletak di atas meja. "Flora Zoltan?" Timpalnya kembali.
"Maaf tuan karna saya belum mengetahui nama anda tadi."
Memberikan senyum ramah terbaiknya meskipun kenyataannya ia ingin sekali berbalik dan menutupi wajah malunya itu.
"Tidak masalah, kau tidak makan siang? sepertinya karyawan yang lain sudah hampir menghabiskan makanannya sedangkan kau masih berjaga di sini." Sepertinya tuan muda yang satu ini sangat perhatian dengan karyawan-karyawan di sini, atau hanya Flora yang mendapatkan perhatian seperti ini?.
"Pekerjaan saya masih sangat banyak tuan, jadi saya akan menyelesaikannya dulu." Ucap Flora dengan sangat gugup kala pria itu menatap wajahnya.
"Temani aku makan, hanya 30 menit setelah itu kau boleh kembali bekerja."
Ucap Jimin yang tiba-tiba duduk di bangku kebesaran Flora.
"A anda mengajak saya tuan? Kenapa tidak karyawan lain saja?"
__ADS_1
Gugupnya, demi apa pun itu Flora sangat terkejut dengan ajakan Jimin, pria yang ia sukai tiba-tiba mengajak dirinya untuk makan siang bersama, ya tuhan mimpi apa dirinya tadi malam.
"Keberatan hm?" Telak Jimin sukses membuat Flora membulatkan kedua bola matanya.
"Ti tidak sama sekali tuan, malah ini adalah sebuah penghormatan untuk saya karena tuan mengajak secara langsung." Ayolah Flora bersikap senetral mungkin dan jangan tersipu seperti ini, begitulah monolog dalam hatinya.
"Baiklah kita turun sekarang!" Ucap Jimin yang kemudian berjalan keluar ruangan di ikuti oleh Flora.
.
.
.
Di sinilah mereka sekarang, mengambil meja yang bersebelahan dengan jendela dan tentunya menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak? Flora adalah karyawan pertama yang di ajak calon Presdir muda lagi tampan bak pangeran di kerajaan, terlebih Flora adalah seorang wanita dan hal itu sukses membuat karyawan-karyawan wanita di kantor menjadi iri hati, tapi jika di lihat dengan jelas mereka berdua memang sangat cocok di sandingkan.
"Sepertinya menaklukkan mu adalah hal yang mudah Flora." Batinnya dengan senyum smirk khas nya.
30 menit berlalu Flora pun kembali ke ruangannya tapi tidak dengan jimin,ia pergi meninggalkan kantor dan berhenti di sebuah mansion mewah dengan pagar tinggi berwarna hitam.
Di dalam mansion ia duduk di sofa ruang tengah di lantai dua sembari memandang ke arah jendela.
"Cantik, tapi sayang sekali kau harus di musnahkan." Ucap Jimin sembari memainkan gelas di tangannya yang berisi wine.
Apa yang Jimin ucapkan? kenapa Flora harus di musnahkan? siapa Jimin sebenarnya? apa bayangan itu juga ada hubungannya dengan Jimin?.
.
__ADS_1
.
.
Tepat pukul 23.00 Flora baru kembali ke rumahnya, menaiki bus seperti biasa dan jangan lupakan bayangan itu kembali muncul tepat saat Flora turun dari bus, di jalanan sudah sangat sepi tidak ada satupun orang yang lalu lalang lagi kecuali Flora, ia bergegas berlari kecil agar cepat sampai ke rumahnya.
Terdengar suara langkah kaki yang mengikuti Flora, membuatnya harus berjalan cepat dan hati-hati. Namun, tiba-tiba saja kaki Flora tersandung batu jalanan dan alhasil ia terjatuh tepat di depan pohon besar yang seharusnya tidak ada di jalan itu, ia pun melihat ke sekeliling nya dan betapa terkejutnya ia dengan apa yang ia lihat sekarang, sebuah hutan yang sangat luas dan gelap.
"Apa aku bermimpi, kenapa ada tempat seperti ini di kota?" Ucapnya sambil mencoba bangun dari duduknya karena sempat terjatuh.
"Ada orang di sini?" teriaknya, "tolong aku... Aku tersesat..." Tidak ada jawaban sama sekali, suara parau nya menggema di disana, bahkan sepertinya suara jangkrik pun tidak ada di hutan itu.
"Ayah... Ibu... Tolong akuuu, aku takut..." Teriaknya lagi, kedua matanya dan pipinya kini terlihat basah karna air yang mulai keluar di balik pelupuk matanya, "aku mohon keluarkan aku dari sini..." Ringisnya sembari terisak, tetap tidak ada jawaban. Tanpa pikir panjang ia membuka tas nya dan mengeluarkan ponselnya, mencoba menelepon seseorang tapi hasilnya nihil karena ponselnya mati, ia pun hanya menangis dan pasrah dengan menyenderkan punggungnya di pohon besar tempatnya terjatuh tadi.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan hitam yang muncul dari balik pohon besar di depannya.
"S siapa kau ?" Tanya Flora dengan wajah ketakutan dan memundurkan dirinya hingga terpojok di Pohon besar yang ia sandari tadi.
"Cantik, tapi sayang kau harus di musnahkan." Ucap bayangan tersebut secara tiba-tiba, suaranya yang berat dan mengerikan membuat siapa saja yang mendengarnya akan ketakutan.
"Musnahkan? Apa maksud mu, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selalu datang setiap malam hari?" Tanya nya lagi dan pertanyaan itu malah membuat bayangan itu tertawa.
"Ha ha haaa ..."
Kemudian bayangan itu pun hilang dengan sendirinya di barengi dengan Flora yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
__ADS_1