BEGIN 'First Love'

BEGIN 'First Love'
BAB 16 - MENJENGUK ADI PART 2


__ADS_3

Adi sedang terbaring di kasur rumah sakit. Ia terlihat sangat lemah. Adi yang gue tau sangat menyebalkan, kini hanya bisa diam. Kaku dan tak bersuara.


Suara alat medis di kamar Adi berada sekarang pun cukup membuatku khawatir. Di kepala Adi ada beberapa luka yang sudah diobati dan bekas jaitan operasi. Separah apa sebenarnya keadaan Adi sekarang?


Gue cuma bisa diam dan sedih melihat pemandangan ini. Begitupun dengan Bu Sari. Raut wajahnya sedih dan matanya sudah berkaca-kaca.


"Bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi?" , tanya Bu Sari pada Aji.


"Adi nabrak separator jalan, Bu", jawab Aji yang juga sedih melihat saudaranya seperti itu.


"Dia nggak fokus atau ulah pengendara lain?", tanya Bu Sari lagi.


"Saya pun belum tau pastinya Bu, cuma kata saksi mata sih... ini kecelakaan tunggal", jawab Aji.


"Kasian anak itu..", ucap Bu Sari sambil melihat ke arah Adi.


Dari tadi, gue cuma bisa nunduk. Gue nggak tega liat kondisi Adi sekarang.


"Dimana orang tua mu?", tanya Bu Sari pada Aji.


"Sedang ke Bank Bu, ada perlu", jawab Aji.


"Ah iya. Ibu ada perlu sebentar. Ada sedikit bantuan dari para guru untuk Adi. Biar Ibu urus dulu dibawah ya", ucap Bu Sari lagi.


Aji tiba-tiba menghalangi jalan Bu Sari.


"Bu! Tidak perlu repot-repot. Insya Allah kami masih bisa.", ucap Aji.


"Tidak apa-apa Ji, ini amanah yang harus Ibu sampaikan", Bu Sari mencoba membujuk Aji.


"Yasudah, Biar segera selesai. Ibu urus dulu ya."


Kemudian Bu Sari pergi meninggalkan gue dan Aji.


"Oh ya Anne!"


Tiba-tiba Bu Sari menghentikan langkahnya dan berbalik arah.


"Kamu tunggu disini saja ya. Nanti Ibu kesini lagi", ucap Bu Sari ke gue.


"Baiklah Bu, saya tunggu sini ya", gue pun meng-iyakan


-


"Khawatir?"


Tiba-tiba Aji negur gue.


"Ah. Apa Ji?", tanya gue.


Terus terang gue nggak denger sama ucapan Aji tadi. Gue terlalu fokus liat Adi yang lagi terbaring di kasur.


"Hmh.. Nggak apa-apa. Lo udah makan?", tanya Aji lagi.


"Oh.. makan? Hm.. belum Ji. Tadi Bu Sari langsung ajak gue kesini", jawab gue.


"Mau makan sama gue?"


Aji ngajak gue untuk makan bareng sama dia.


"Hm.. nanti.. siapa yang jagain Adi?", tanya gue khawatir.


"Oh iya yaa.. hehe", ucap Aji sambil garuk-garuk kepala.


Lalu Aji berdiri dari kursinya.


"Tweety.. gue boleh titip Adi sebentar nggak? Gue nggak enak sama Bu Sari, ngurusin sendirian", tanya Aji lagi.

__ADS_1


Oh iya bener juga ya. Bu Sari pasti harus ngegamblangin semua bantuan dari para guru ke Aji kan?


"Oh.. yaudah iya Ji. Gue biar disini aja.", jawab gue.


"Beneran nggak apa-apa?"


Aji meyakinkan gue.


"Iya nggak apa-apa kok..", jawab gue sambil senyumin Aji.


"Oke. Makasih ya tweety.."


Aji pun tersenyum lalu berjalan keluar kamar.


Sekarang, tinggal gue dan Adi yang dari tadi masih terdiam di atas kasurnya. Dalam pikiran gue banyak sekali pertanyaan tentang Adi.


Suara alat medis yang terhubung ke tubuh Adi terus berbunyi. Adi ini sadar atau nggak sih? Kok dari tadi tidur terus.


Gue penasaran. Gue mencoba mendekati Adi dan duduk di kursi yang ada di sebelah kasur Adi.


"Di... ini gue, Anne..."


Gue mencoba menyapa Adi.


Adi nggak nunjukin reaksi apapun.


"Di.. Adi..."


Gue terus manggil Adi.


Tapi Adi tetep diem. Tanpa sadar, air mata gue mulai jatuh sedikit demi sedikit. Gue nggak tega liat keadaan Adi. Gue ngerasa sedih banget.


Kemudian terdengar suara pintu terbuka.


Gue pun menoleh ke arah pintu, dan buru-buru ngelap air mata gue pake tangan.


Gue pikir tadi itu Aji dan Bu Sari. Ternyataa...


"Anne...!", ucap Tante Mia.


Lalu Ia berlari kearah gue dan langsung meluk gue kenceng banget.


Gue kaget ngeliat Tante Mia yang tiba-tiba meluk gue kayak gini. Gue tau, Tante Mia pasti sedih banget ngeliat kondisi anaknya seperti ini. Cuma gue masih ngerasa sedikit canggung, karna gue baru sekali bertemu keluarganya Adi dan Aji.


Tante Mia terus meluk gue. Pelukan nya penuh kesedihan. Dan tanpa pikir panjang lagi, gue pun akhirnya ikut meluk Tante Mia.


"Doain Adi ya Anne.. Doain Adi..", ucap Tante Mia sambil menangis.


Air mata gue kembali jatuh.


"Iya tante.. Anne pasti doain Adi..", jawab gue.


"Adi.. belum sadar ya?"


Tante Mia melepaskan pelukannya dan mulai melihat keadaan anaknya.


"A.. Apa tante? Adi.. nggak sadar?", tanya gue kaget.


Tante Mia masih menangis.


"Iya Anne.. semenjak kecelakaan itu, Adi belum sadar sampai sekarang...", ucap Tante Mia lirih.


"Tante... Tante dan Om yang sabar ya.. Mudah-mudahan sebentar lagi Adi sadar.."


Gue yang masih nggak nyangka sama kondisi Adi yang separah itu, ikut lirih bersama dengan keluarganya.


Keluarga ini hangat. Gue ngerasa kayak dirumah.

__ADS_1


Tante Mia cuma mengangguk. Om Deri berdiri di belakang kursi Tante Mia, memeluk istrinya yang sedang rapuh.


"Pah. Mah!"


Aji kembali bersama Bu Sari ke kamar perawatan Adi.


"Kamu dari mana Ji?", tanya Om Deri.


"Ini Pah, Aji nganterin Bu Sari ke ruang administrasi", jawab Aji.


"Eh Bu.. terimakasih sudah datang..", ucap Om Deri kepada Bu Sari.


Om Deri dan Tante Mia bersalaman dengan Bu Sari.


"Terimakasih Bu Sari..", ucap Tante Mia.


"Bu, sebetulnya.. bukan saya menolak.. tapi.. kami semua masih mampu untuk merawat Adi disini..", ucap Om Deri mengenai bantuan Bu Sari.


"Iya Pak Deri, saya pun hanya menyampaikan amanah dari sekolah.. tidak banyak Pak, mudah-mudahan bisa memperingan.."


Bu Sari menjelaskan dengan suaranya yang lembut.


"Baik kalau begitu.. Kami sangat berterimakasih..", ucap Om Deri sambil tersenyum.


"Sama-sama Pak.. Bu.."


Bu Sari pun membalas senyuman Om Deri.


"Anneeee.... Anneeee... Anneee..."


Tiba-tiba aja suara Adi terdengar memecah situasi. Adi sadar?!


Tapi... kenapa dia manggil-manggil nama gue?


"Papah.. Aji.. panggil dokter..! Panggil dokter....!", ucap Tante Mia yang mulai panik.


Akhirnya Om Deri dan Aji berlari mencari dokter.


Dokter yang merawat Adi kemudian datang.


Ia segera memeriksa keadaan Adi. Kami semua menjauhi Dokter dan Adi agar tidak menyulitkan.


Sepertinya butuh waktu yang cukup lama untuk melihat keadaan Adi. Ekspresi Dokter itu terlihat sangat serius. Gue cuma bisa berdoa, Adi bisa segera pulih.


Akhirnya Dokter yang memeriksa Adi telah selesai. Raut wajahnya sudah tidak mengkhawatirkan lagi.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?", tanya Tante Mia penuh harap.


Dokter pun tersenyum.


"Alhamdulillah .. Adi sudah sadar.. dan kondisinya perlahan stabil..", jawab Dokter itu.


"Alhamdulillah......", ucap kami semua. Bersyukur karna Adi telah melewati masa kritisnya.


"Terimakasih, Dok!"


Om Deri menjabat tangan Dokter itu sambil tersenyum.


Kemudian Dokter itu meninggalkan kamar perawatan.


Kami semua lega mendengar ucapan Dokter tadi. Sungguh kejadian yang sangat kami semua harapkan. Adi bisa segera pulih dan kembali menjalankan aktivitasnya.


b e r s a m b u n g . . .


💜


Hai , bagaimana episode baru yang berjudul "MENJENGUK ADI Part 2" ini? Silahkan tulis kritik dan saran yang membangun di kolom komentar yaaa! Dan jangan lupa klik LIKE dan VOTE nya! Terimakasih sudah selalu mendukung authorbegin❣

__ADS_1


__ADS_2