
Keesokan paginya.
Alin tengah termenung, karena memikirkan apa yang ia curigai, serta melihat sendiri apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Tidak mungkin Kokoh berlaku macam-macam, tapi bagaimana kalau semua itu benar terjadi?" batin Alin ragu-ragu dan merasa bimbang.
"Mama," panggil Yuan seketika membuyarkan lamunan Alin.
"Ya Kokoh sayang," balas Alin.
"Ayo kita ke sekolah!" ajak Yuan menarik lengan ibunya.
Alin tercengang, kejadian semalam sampai membuatnya lupa. "Ya sayang, ini Mama lagi beres-beres."
"Ya sudah, Kokoh tunggu di depan ya." Yuan berjalan menuju halaman rumah dan menunggunya disana.
Sedangkan Alin bergegas menggendong bayi Marlina sambil membawa barang dagangannya, sesekali menyempatkan diri untuk melihat suaminya yang masih tertidur pulas diatas kasur.
"Haruskah aku bertanya?" batin Alin menimbang-nimang. Karena ia takut suaminya itu akan marah dan malah memukulinya karena telah bertanya hal sensitif.
Tak berselang lama kemudian, Alin telah tiba di sekolahnya Yuan. Wanita paruh baya itu langsung disuguhkan oleh pemandangan tidak menyenangkan. Dimana Yulan tiba-tiba saja datang menghampiri dan menyapanya, entah dengan tujuan apa.
Namun wajahnya terlihat begitu senang sekali, seperti ingin menyampaikan sesuatu hal yang menyenangkan baginya, tapi tidak untuk dirinya sendiri.
"Eh Alin baru kelihatan nih, kemana aja?" sapa Yulan bertanya lalu duduk.
"Ya Cik! Biasa cari duit!" sahut Alin.
"Alin, gimana laki elu kemarin? Dia ada ngomong enggak sama elu, kata laki gua kemarin itu dia minta di cariin cewek buat nemenin dia semalem? Bener enggak itu?" tanya Yulan.
Seketika jantung Alin berdegub kencang. "Apa maksud Encik?" balasnya bertanya kembali.
"Waduh, itu berarti si Yudi kagak ngomong ya sama elu. Jadi begini Alin, kemarin itu laki elu sama laki gua dapet bonus gede dari bos Herman. Terus si Yudi minta dicariin cewek yang cantik dan se-ksi dan katanya dia mau jajan. Emangnya elu kagak pernah kasih jatah ya ke laki elu, sampe-sampe dia nyari cewek diluaran?" sindir Yulan dengan suaranya yang sedikit meninggi.
Alin terdiam cukup lama, karena memikirkan dugaan yang ia lihat pada leher suaminya itu serta wangi farfum asing mungkin benar adanya. Dan kebungkaman Alin membuat Yulan merasa sangat puas.
__ADS_1
"Alin, elu kenapa diem aja? Gua nanya kagak dijawab," ucap Yulan membuyarkan lamunan Alin.
"Ya Cik," balas Alin nampak linglung. Karena pikirannya melayang terus kepada suaminya yang berada di rumah.
"Elu denger enggak apa yang gua bilang tadi, tentang laki elu si Yudi itu?" tanya Yulan mengulang.
"Ya Cik, Alin kagak budek. Tapi Alin percaya sama Koh Yudi, dia tidak mungkin begitu," balas Alin membela walau hati masih setengah ragu.
Yulan menggeleng. "Ck ck ck! Alin masa ia elu kagak percaya sama ucapan gua sih? Gua kagak bohong dan gua dapet info langsung dari laki gua sendiri."
Alin kembali diam dan hanya bisa menghela nafas kasar mendengar semua perkataan Yulan mengenai suaminya.
"Alin Alin ... Makanya jadi bini kalau dikasih duit sama laki itu diterima aja, jangan sok-sokan nolak dengan alasan duit tidak halal. Padahal duit dari laki elu itu lumayan loh, elu bisa beli skincare sama beli baju biar enggak kumel kayak gini," cibir Yulan sambil mencubit baju daster Alin dan membandingkan dengan penampilannya yang selalu bergaya.
Alin menghela nafas panjang, sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit serta sedihnya itu agar tidak ada orang lain yang melihat dan menatap rendah dirinya, terutama kepada Yulan.
"Ya Cik, mau begimana lagi atuh. Alin memang seperti ini orangnya, kalau pun Kokoh mau main sama cewek lain. Paling Alin cuma bisa larang dan ingetin itu perbuatan tidak baik," balas Alin.
Yulan berdecih. "Aduh dasar Alin elu itu polos banget sih, yang namanya laki-laki itu kagak bakalan mempan di bilangin apalagi dinasehatin. Dan jalan satu-satunya adalah ya dari elunya berubah, dandan nih muka biar enggak buluk. Baju juga jangan kayak gembel begini!" ketusnya.
Melainkan ia tidak memiliki waktu untuk berdandan dan sangat sibuk mengurus anak-anak, serta mengerjakan pekerjaan rumah. Belum lagi ia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga kedua anak anaknya itu.
"Udah deh Lin, mending elu berhenti jualan dan nikmati aja duit hasil kerjaan laki elu. Lagian, gua bilangin nih ya, lelaki kalau sudah nyicipin jajan sama cewek diluaran sana. Selamanya akan terus begitu dan sulit untuk berhenti karena keenakan. Apalagi kalau jajannya sama cewek cantik daripada elu, ya jangan harap deh dia mau berhenti!" ucap Yulan kemudian.
Alin nampak pias, kali ini hatinya sudah tidak bisa menahan rasa sakit akibat suaminya ketahuanmain serong dengan wanita lain. Akan tetapi satu hal yang pasti, ia harus menahan semua itu dihadapan semua orang dan bermaksud akan mencecar Yudi dengan beberapa pertanyaan.
Sedangkan Yulan menarik sudut bibirnya. "Aduh Alin, gua tahu elu pasti sakit hati banget ya di gituin sama laki elu. Tapi mau begimana lagi, elu-nya juga susah sih kalau dibilangin."
Yulan lalu berdiri. "Udah dulu ya ngobrolnya, encik mau belanja dulu. Mumpung anak udah masuk ke kelas," ucapnya kemudian meninggalkan Alin yang masih termangu.
Beberapa saat kemudian Alin tersadar, setelah mendengar putrinya menangis karena lapar. Wanita itu bergegas pulang dan menyusuinya setelah sampai ke rumah.
Dan setibanya Alin di rumah dan selesai menyusui Marlin, Alin menghadang Yudi yang ingin pergi dengan memakai pakaian rapi, serta membubuhi tubuhnya dengan minyak wangi.
"Koh," cegah Alin di muka pintu.
__ADS_1
"Mau apa lu berdiri di tengah-tengah pintu begini? Ngalangin orang mau lewat aja, minggir!" sergah Yudi.
"Ada yang mau Alin tanyain ke Kokoh," ucap Alin tidak mau menyingkir.
"Mau nanya apa lu? Gua sibuk nih, buruan!" balas Yudi.
"Apa bener kata Cik Yulan, kalau Kokoh itu kemarin jajan cewek diluaran sana?" tanya Alin dengan berusaha menahan buliran bening pada kedua pelupuk matanya.
Yudi menelan ludahnya kasar dan memalingkan wajahnya. "Iya, emangnya kenapa?" jawab Yudi tanpa dosa.
Air mata Alin seketika berguguran setelah mendengar fakta menyakitkan tersebut. "Jadi, apa tanda merah di leher Kokoh sama wangi farfum dibaju kemarin itu bekas kokoh begituan sama cewek lain hah?"
Yudi menatap wajahnya di kaca nako jendela dan melihat bagian lehernya yang masih tersimpan beberapa jejak percintaanya semalam dengan seorang wanita pela-cur.
Apa boleh dibuat, karena sudah ketahuan oleh Alin. Pria itu pun tanpa ragu mengakuinya.
"Iya, emang semalem gua habis begituan sama cewek lain. Kenapa? Masalah buat elu?" jawab Yudi tanpa merasa dosa sedikit pun.
Alin menelan ludahnya susah payah dan memberikan tamparan keras diwajah Yudi. "Dasar suami hina!" sarkasnya marah.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Mohon maaf jika isi cerita ini mengandung unsur kekerasan, karena sesuai dengan judul cerita. Karya Benang Tanpa Ujung ini isinya mengenai masalah rumah tangga yang tidak ada habisnya.
Bagaimana Alin berjuang keras membesarkan kedua anaknya, walau dihantam badai rumah tangga.
Namun di sisi lain, sebisa mungkin author akan menyiapkan happy ending untuk protagonis wanita.
Tetap dukung karya receh author ini, karena tanpa pembaca, sebagus apapun sebuah karya, tidak akan pernah jadi bermakna.
__ADS_1