
Yudi melebarkan kelopak matanya dan menatap marah istrinya itu karena telah berani melayangkan satu tamparan keras di wajahnya hingga memerah. Lalu pria yang ringan tangan itu pun membalas Alin dengan dua tamparan sekaligus dipipi.
"Bini bang-s*at! Si-al*n lu! Udah berani elu gampar gua muka hah!" sarkas Yudi sambil menarik rambut Alin agar masuk rumah lebih ke dalam lagi.
Alin memberontak dan memegang lengan kekar Yudi dengan kedua tangan agar melepaskan rambutnya yang ditarik, bahkan kedua kaki wanita itu menendang-nendang sembarang arah bagian tubuh Yudi yang dapat ia jangkau.
"Lepasin!" sergah Alin setengah memekik.
Namun Yudi enggan menuruti, ia terus menarik rambut Alin, sesekali menampari wajahnya tanpa melepaskan cengkraman dikepala. Bahkan terlihat ada beberapa helai rambut wanita itu rontok berguguran diatas lantai.
Lalu setelah puas menampari wajah Alin, Yudi mendorongnya hingga terjerembab dilantai dan dahinya sempat membentur sudut meja yang berada di ruangan itu hingga berdarah.
Alin meringis kesakitan dan mengusap sesuatu yang terasa mengalir dari dahinya, seketika Alin mengangga sambil menatap darah yang berada di beberapa jari tangannya dan ia pun menangis.
"Masih berani membangkang sama gua? Apa elu enggak sadar kalau gua bisa aja matiin elu sekarang juga?" ucap Yudi membuat hati Alin semakin terasa sakit.
Bukannya Alin tidak ingin mati atau setidaknya pergi dari rumah serasa neraka itu, namun keinginannya saja yang belum tercapai, yaitu mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar ia bisa membawa kedua anaknya pergi menjauh dari suami kasarnya itu.
Dan sebelum uang itu terkumpul, Alin harus terus banyak bersabar menghadapi sikap arogan dari suaminya.
Yudi berjongkok dan menatap Alin remeh. "Harusnya elu itu tahu diri Alin, elu itu cewek. Sampai kapan pun cewek itu kagak bakalan punya tenaga ngelawan lelaki, jadi percuma deh elu marah apalagi main kasar sama gua. Karena yang ada elu bakalan bonyok kayak gini!"
Alin tertunduk menatap lantai, dengan emosi yang menggebu-gebu. Memang benar kata-kata Yudi bahwa dirinya lemah dan tidak punya tenaga untuk melawan, tapi setidaknya ia punya harga diri yang tidak boleh diremehkan oleh siapa pun.
Alin mengangkat wajahnya dan menatap gusar Yudi. "Yang Kokoh bilang memang benar, kalau Alin itu lemah. Tapi walau bagaimana pun Alin juga punya harga diri Koh! Alin ini bininya Kokoh, apa salah Alin marah saat tahu Kokoh udah mulai main perempuan?"
"Harga diri? Elu kagak pantes ngomongin harga diri, Alin! Elu itu cuma bini dan bini sudah seharusnya patuh sama laki dan harusnya elu sadar diri sama penampilan elu sendiri! Lagian itu hak nya gua mau maen sama cewek mana juga, toh gua jajan pakek duit gua ini! Enggak ada urusannya sama elu!" sergah Yudi.
"Walau Alin ini cuma bini, tapi bini juga punya hak Koh! Alin berhak marah sama Kokoh karena udah maen serong sama wanita lain, dimana pikiran Kokoh saat lakuin itu sementara bini sama anak ada di rumah nungguin Kokoh pulang ke rumah!" sentak Alin dengan linangan air mata dan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Yudi merasa geram dan kesal diprotes sebanyak itu oleh Alin, namun keributan itu berhenti setelah bayi Marlina tiba-tiba saja menangis di dalam kamarnya.
Alin buru-buru menghampiri putri kecilnya itu, lalu menimang-nimangnya agar berhenti menangis. "Cup cup cup sayang ..." indung-indungnya. Hingga melupakan sejenak pertengkaran tersebut agar ia bisa fokus menenangkan sang bayi, padahal ia juga butuh penenangan diri.
Sedangkan Yudi yang emosi, lantas pergi dari rumah sambil menutup pintu dengan kasar hingga mengagetkan Alin dan juga bayinya itu, sesekali mengumpat kasar dan berkata tidak akan pulang selama beberapa hari.
Dan setelah Yudi pergi dari rumah, Alin pun menangis sejadi-jadinya. Sambil meratapi semua yang terjadi di depan meja abu leluhur kedua keluarganya.
"Apa yang harus Alin lakukan Pah? Alin sudah tidak sanggup menjalani semua ini ..." lirih Alin sambil terisak-isak.
Tak berselang lama kemudian, Melan yang mendengar keributan di rumah Alin segera masuk ke dalam setelah Yudi pergi menjauh dari rumah.
Dan ia sangat terkejut ketika melihat posisi Alin sudah tersungkur dilantai dengan luka berdarah dikeningnya.
"Alin, Alin!" pekik Melan segera menghampiri dan menguncang-guncangkan tubuh tetangganya itu agar bangun.
Alin membuka kedua matanya yang sempat terpejam, lalu duduk dengan memeluk lututnya.
Alin hanya menangis dan menangis, luka didahinya sampai tak terasa dan terlupakan begitu saja, mengingat ada luka didalam hatinya yang jauh lebih menyakitkan.
Tak mau banyak bertanya, Melan bergegas mengambil kotak P3K dan segera membersihkan darah serta mengobati luka pada dahinya Alin.
"Si Yudi bener-bener udah kelewatan! Sama bini sendiri tega berbuat seperti itu!" batin Melan mengumpat kesal. Karena pertengkaran tadi ia sempet mendengar sekilas masalah yang terjadi diantara keduanya.
Lalu Melan memanggil Ayong adiknya.
"Ayong! Cepet kemari!" panggil Melan.
Ayong pun datang. "Ya Cide (Kakak perempuan tertua), ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Lihat itu udah jam berapa? Sebentar lagi si Yuan keluar sekolah, elu jemput dia gih!" titah Melan.
Ayong mengangguk patuh dan mengerti dengan kondisi tetangganya yang sedang bersedih. "Ya deh Cide, Oweh jemput Yuan dulu."
"Ya, kalau Yuan nanyain bilang aja Mama lagi ada urusan gitu ya!" ucap Melan memberi saran agar Yuan tidak menangis nantinya.
"Ya Cide!" sahut Ayong lalu pergi menjemput Yuan sekolah.
Sementara itu Melan hanya menatap sendu tetangganya yang sedang bersedih hati itu, entah apa karma yang telah diperbuat oleh Alin. Sampai mendapatkan suami tidak berperasaan seperti Yudi, padahal yang ia tahu keluarga Yudi tidak ada yang pernah berlaku kasar apalagi kepada seorang wanita.
"Kalau begini terus Alin mau mati aja Cik, Alin udah kagak sanggup ..." lirih Alin.
"Yang sabar ya Alin, inget sama anak-anak elu Alin. Kalau elu nekad berbuat seperti itu, bagaimana nasib anak-anak elu? Mereka masih butuh perhatian dan kasih sayang dari elu, kalau elu pergi dari dunia ini, nanti mereka hidup sama siapa? Apa elu mau mereka besar sama didikan si Yudi yang udah kagak bener itu?" ucap Melan menenangkan Alin yang masih menangis.
Seketika Alin menghentikan tangisannya dan membenarkan perkataan Melan, bahwa ia memang harus terus bertahan demi kedua anaknya yang masih kecil dan bertahan demi masa depan mereka agar tidak mengikuti jejak suaminya itu.
"Ya Cik, yang dikatakan Encik bener. Alin harus kuat, Alin tidak boleh lemah begitu saja. Demi anak-anak," ucap Alin menguatkan hatinya sendiri.
Melan mengangguk dan tersenyum. "Syukurlah kalau begitu Alin, kalau memang elu butuh ketenangan batin disaat hidup sedang susah dan berantakan kayak begini. Ada baiknya elu mempertebal iman dengan datang ke Vihara, banyak melakukan kebajikan dan berdoa agar hati kita selalu tenang," balasnya menyarankan.
"Alin malu Cik, nanti kata orang Alin datang ke Vihara cuma lagi susahnya doang."
Melan berdecak. "Udah jangan dipikirin omongan orang-orang lain, apalagi si Yulan itu. Dia belum kena karma aja nyindirin elu terus, padahal laki dia sama laki elu kagak ada bedanya."
Alin mengangguk dan merasa sedikit tenang, apalagi saat Melan menuntunnya agar mengucapkan lafalan doa, disaat hati sedang terasa kacau.
.
.
__ADS_1
Bersambung.