Benang Tanpa Ujung

Benang Tanpa Ujung
Bab 23. Tidak pulang.


__ADS_3

Malam harinya.


Sesuai dengan perkataan Yudi sebelumnya yang mengatakan bahwa pria itu tidak akan pulang ke rumah selama beberapa hari, dan ternyata ucapan tersebut nyatalah benar adanya.


Seperti saat sekarang ini, Alin menunggu suaminya yang benar-benar tidak pulang ke rumah.


"Apa dia serius dengan ucapannya tadi?" batin Alin. "Lalu apa yang harus aku jawab jika Yuan bertanya kemana Papanya berada?" batinnya bertanya kembali.


Bersamaan dengan hal tersebut, Yuan menghampiri ibunya yang masih terduduk seorang diri di ruang tamu.


"Mama, apa Papa pulang malam lagi?" tanya Yuan dengan wajah kantuknya.


"Ya, Papa kerjanya jauh. Mungkin tidak akan pulang selama beberapa hari," balas Alin berdusta.


"Tidak pulang? Memangnya Papa kerja dimana sampe tidak pulang beberapa hari?" tanya Yuan ingin tahu.


"Ya Papa kerja ikut temannya diluar kota, sudah jangan bertanya lagi. Kokoh bobo ya, ini sudah malam. Besok kokoh kan harus sekolah dan bangun pagi biar tidak terlambat," jawab Alin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, tapi Mama juga bobo dong. Kan kata Mama tadi Papa enggak pulang hari ini, jadi buat apa nungguin pintu lagi?" ucap Yuan mengajak ibunya agar masuk ke dalam kamar dan beristirahat juga.


"Iya, Kokoh bener. Yuk kita bobo!" balas Alin mengiyakan.


"Ayuk!" ajak Yuan.


"Eh tunggu sebentar Koh! Mama kunci pintunya dulu ya," Alin mengunci pintu rumahnya.


Sesekali menghela nafas panjang, karena untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita itu mengunci pintu tanpa menunggu suaminya pulang ke rumah.


Alin membalikkan badan dan menatap Yuan sambil tersenyum. "Pintunya sudah dikunci, yuk sekarang kita tidur!" ucapnya menuntun Yuan agar kembali ke dalam kamar dan tidur bersama.


...----------------...


Kontrakan.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Yudi tengah berbaring diatas kasur baru didalam sebuah rumah kontrakan deket rumah Herman si bandar judi, sesekali menikmati suasana tanpa ada istrinya yang cerewet.


Ia pun berani pergi dari rumahnya sendiri, karena statusnya kini sudah bekerja menjadi penjual nomor to-gel. Yang membuatnya memiliki banyak uang dari hasil pekerjaan haramnya itu.


Dan selain penghasilannya yang sangat cukup untuk mengontrak di sebuah kontrakan, penghasilan tersebut juga sanggup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.


"Enak juga hidup sendirian begini, serasa masih bujang. Kenapa enggak dari dulu aja gua hidup begini? Setidaknya kepala gua kagak pusing dengerin bacot si Alin yang bawel itu!" gumam Yudi merasa senang sambil membereskan bantal kepalanya.


"Heh! Biar mam-pus lu disono, lagian sok-sok'an ngatur hidup gua!" gumamnya lagi.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Yudi memejamkan kedua mata, sibuk mencari rumah kontrakan seharian ini membuat pria itu begitu pulas tertidur diatas kasur barunya.


Hingga tanpa terasa hari sudah menjelang pagi saja.


Yudi mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali dan refleks memanggil nama istrinya untuk dibuatkan kopi, sebelum kedua matanya itu terbuka sempurna.


"Alin! Sebelom elu pergi bikinin gua kopi item dulu!" pekiknya masih belum sadar jika dirinya tengah sendirian saat ini.


Pria itu mengangkat kepalanya dan merasa bingung, karena suasana sepi dan juga pemandangan setelah bangun tidur agak lain dari biasanya.


"Oh iya gua lupa, gua kan lagi di kontrakan!" ucap Yudi akhirnya tersadar.


Dengan langkah malas pria itu pergi ke dapur dan menyajikan sendiri kopi untuknya, namun karena emosi kemarin ia sampai melupakan jika membuat kopi membutuhkan bahan serta alat-alat yang lain.


"Ya elah! Gua lupa beli kopi, gelas juga kagak ada!" decaknya memaki diri sendiri.


Tak mau ambil pusing, Yudi akhirnya memilih mandi saja. Lalu pergi bekerja dan rencananya akan minum kopi di warung sekalian sarapan pagi.


Dan sebelum pergi bekerja, Yudi menyempatkan diri pulang ke rumah untuk mengambil semua barang-barang pribadinya dan bertemu dengan Alin yang baru saja selesai mengantar Yuan ke sekolah.


Alin nampak terkejut dengan kedatangan Yudi, akan tetapi ia terdiam dan tidak mau bicara apalagi bertanya sesuatu mengenai kabarnya itu.


Sedangkan Yudi sendiri juga tidak banyak bicara, ia segera masuk ke dalam kamar begitu saja, lalu memasukkan semua baju-bajunya ke dalam tas besar dan kemudian pergi dari rumah itu lagi.


Alin menghela nafas panjang dan menatap punggung suaminya yang telah pergi menjauh, lalu setelah itu ia membuka warung sembakonya karena ada pembeli yang datang.


Alin memutar bola matanya malas. "Encik datang kesini mau belanja apa mau tahu urusan orang lain?" tanyanya ketus.


"Aduh Alin, kebiasaan elu kalau orang nanya suka kagak dijawab! Emangnya salah ya kalau orang nanya?" balas Yulan tidak kalah ketus.


Bersamaan dengan hal tersebut Melan datang ke warung dan segera menegur Yulan yang selalu saja ingin tahu dan ikut campur urusan masalah orang lain.


"Ya namanya orang nanya emang kagak salah, tapi kalau mau nanya juga ada etikanya kali Yulan!" tegur Melan.


Yulan tentu mendengus kesal dan menatap sinis tetangganya itu. "Eh Cik Melan, nyamber aja kayak bensin! Lagian Yulan kan nanyanya sama Alin bukan sama Encik!" ketusnya.


"Lin, elu kagak perlu tanggepin omongan dia. Mending elu nakerin tepung terigu buat Encik sekarang juga," ucap Yulan membuat Alin agar tidak menanggapi perkataan Yulan, yang selalu saja ingin mengorek masalah orang lain tapi tidak pernah memberi solusi.


"Ya Cik, mau berapa kilo terigunya?" tanya Alin dan tidak menghiraukan Yulan yang tengah ngedumel.


"2 kilo setengah Lin," balas Melan.


"Eh Lin, gua duluan yang dateng kesini. Kenapa jadi si Cik Melan yang elu layanin duluan!" protes Yulan saat Melan telah selesai dilayani.

__ADS_1


"Salah sendiri, makanya kalau belanja tuh belanja aja. Kagak usah nyari tahu masalah orang lain buat bahan gosip sama ibu-ibu laen!" sahut Melan membela Alin.


Yulan mendengus, ia sampai tidak jadi belanja karena kesal tidak dilayani belanja, apalagi ada Melan yang tidak menyukai dirinya.


"Ah udah lah Lin, gua mau belanja ke pasar aja! Eneg gua lihat muka elu berdua!" gerutunya lalu pergi.


"Ya udah sono belanja ke pasar, kali aja bisa di utangin tuh tukang sayur sama elu!" sindir Melan sebelum Yulan pergi terlalu jauh.


"Berisik!" cebik Yulan.


Melan menggeleng. "Dasar si Yulan, dari masih gadis sampe sekarang. Kelakuannya tetep aja kagak berubah, demen banget ngegosipin orang! Belom lagi omongannya itu, gede bener tapi kagak sesuai sama kenyataan."


"Ya Cik, Alin juga kagak ngerti sama si Yulan itu. Padahal bilang si Ah Chin gajinya gede, tapi setiap belanja utang melulu disini," balas Alin menimpali.


"Ck! Udahlah jangan dibahas lagi orang kayak gitu Lin, mending elu fokus mencari buat anak-anak elu. Oh iya, ntar malam ada kebaktian. Elu kalau sempet dateng ya ke Vihara," ucap Melan.


"Ya Cik, ntar malam kalau sempet Alin dateng ke Vihara," balas Alin.


"Ya udah, Encik pulang dulu ya. Mau bikin kue buat pesanan," pamit Melan.


"Ya Cik, makasih ya!" sahut Alin.


...----------------...


Berbeda halnya dengan Alin yang mendapatkan uang dari hasil berjualan sayur matang dan juga warung sembako. Yudi mendapatkan uang dari hasil menjual nomor to-gel.


Pria itu semangat mencatat nomor berapa saja yang dipesan oleh pelanggannya sesama gila to-gel, dan mengiming-iminginya dengan keuntungan jika tembus empat angka.


Hal tersebut membuat Yudi semakin memperluas jangkauannya, dengan menawarkan diberbagai tempat lain. Dan hal itu membuat Herman sangat senang, ia sampai memberikan bonus dua kali lipat karena usaha Yudi yang memuaskan.


"Gua demen sama kerja elu Yud, nih bonus buat elu!" ucap Herman melempar beberapa gepok uang bonus.


Yudi nampak berbinar melihat itu semua. "Makasih Bos!" serunya semangat dan melamunkan bayang-bayang ingin membeli kesenangan apa dari uang tersebut.


"Ya, udah sono pulang! Elu mau beli apa kek terserah! Itu hak elu," ucap Herman membuyarkan lamunan Yudi.


"Ya Bos! Siap dah!" balas Yudi lalu pergi dari rumah Herman.


Sementara itu Ah Chin cukup jengkel melihat Yudi selalu saja mendapat bonus lebih, ia sampai meludah dan mengumpat di tempatnya berdiri.


"Udah gua yang masukin elu kerja disini, tapi giliran elu dapet duit banyak, elu malah lupa sama gua. Orang mah bagi gua kek sedikit!" gerutu Ah Chin.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2