
Malam harinya.
Rumah Herman.
Suara musik yang dilantunkan dari speaker berukuran besar begitu memekakkan gendang telinga, seakan sedang menegaskan jika ada acara penting di tempat tersebut.
Satu persatu orang mulai berdatangan dan memberi selamat kepada Herman, si bandar judi dan juga istrinya. Termasuk Yudi yang kala itu telah tiba di rumah bosnya dan segera mengucapkan selamat sebagai bukti dirinya telah hadir diacara tersebut.
"Waduh Bos, Nyonya besar! Selamet ya atas ulang tahun pernikahannya. Semoga langgeng sampe kakek nenek," ucap Yudi memberi selamat.
"Makasih Jud!" balas Herman dan istrinya bersamaan.
"Sama-sama Bos, Nyonya!" balas Yudi.
"Heh Jud! Mana bini sama anak-anak elu? Kenapa mereka kagak dateng diacara gua?" tanya Herman.
"Sorry bos, bini Ogut (Saya) mah kagak suka dateng ke acara beginian," balas Yudi cengengesan.
Herman berdecak. "Ck! Alasan aja lu! Gua denger dari si Yulan katanya elu udah pisah ranjang ya sama bini elu?" tanyanya.
"Ya cuma sementara bos, lagian percaya amat si bos sama omongan perempuan? Apalagi sama si Yulan bininya si Ah Chin, mulutnya kayak ember!" balas Yudi.
"Oh begitu? Terus gua denger juga elu katanya mau kawin lagi ya sama daun muda?" tanya Herman kembali.
Yudi tersenyum cengengesan. "Iya Bos, rencananya akhir bulan ini lah Ogut mau kawinin dia," balasnya malu-malu.
"Waduh, elu mau nyaingin gua ya punya bini banyak?" sindir Herman.
"Ya mumpung punya duit banyak Bos, kapan lagi coba!" balas Yudi.
"Ya omongan elu ada benernya juga sih, tapi inget Jud, punya bini banyak itu kudu adil, elu kagak boleh berat sebelah sama bini elu yang satunya lagi. Kayak gua nih, punya bini tiga tercukupi semua. Kagak ada yang ribut, semuanya adem ayem!" nasehat Herman.
"Ya Bos, Ogut bakal inget nasehat Bos Herman," balas Yudi mengangguk saja agar cepet selesai topik pembicaraannya.
Bersamaan dengan hal tersebut Ah Chin bersama dengan kedua anaknya dan juga Yulan telah tiba di rumah Herman. Lalu menghampiri si bandar judi untuk memberikan selamat untuknya.
"Selamat ya Bos, Nyonya!" ucap Ah Chin menjabat tangan Herman.
__ADS_1
"Makasih Ah Chin, Yulan! Sono masuk ke dalam gih makan dulu, ajak anak-anak elu makan sepuasnya!" titah Herman sambil memberikan angpao untuk anak-anaknya Ah Chin.
"Makasih Bos!" ucap Ah Chin.
Yulan segera merampas angpao dari tangan kedua anaknya dan tersenyum berterima kasih. "Terima kasih ya Bos!"
Herman mengangguk. "Hem sama-sama, udah elu sono ikut bini gua ke dalem. Makan yang banyak!" Herman menuntun istrinya agar masuk ke dalam rumah saja dan menyapa para istri dari masing-masing kerabatnya. Lalu ia kembali lagi ke luar rumah untuk berbincang dengan para tamu lelakinya.
"Woi ayo makan!" ajak Herman kepada semua anak buahnya.
Yudi dan Ah Chin menurut dan mereka semua mulai menyantap hidangan mewah yang disuguhkan oleh keluarga Herman.
Setelah kenyang, Yudi mengambil beberapa botol minuman keras. Lalu meneguknya hingga tandas. Seketika terbayang-bayang dalam benaknya, kondisi menyenangkan seperti bosnya itu.
"Megang duit banyak, istri banyak, mobil banyak, rumah mewah. Kapan gua bisa begini," racau Yudi mulai mabuk.
Ah Chin menepuk pundak Yudi. "Eh Jud, baru jam delapan elu udah mabok aja. Acaranya masih lama coy!"
"Biarin, justru acaranya masih lama gua mau puas-puasin mabok disini! Mumpung banyak minuman mahal nih!" balas Yudi sambil memeluk beberapa botol minuman beralkohol tinggi agar tidak ada orang lain yang mengambil.
"Minum sebotol di acara beginian mah mana cukup, lagian enakan minum daripada melokin bini!" balas Yudi.
"Bebae aja lu Jud, bisa-bisa bini elu bisa dibawa kabur sama orang!" ucap Ah Chin.
"Biarin lah bini diambil orang juga, asalkan jangan minuman ini nih. Waduh kudu ngabisin berapa duit gua beli minuman beginian," racau Yudi dan menciumi botol-botol minuman keras dipelukannya.
"Emang udah kagak ada orang lain dah yang bisa ngalahin elu minum sampe bebotol-botol," ucap Ah Chin sambil geleng-geleng kepala.
Tak berselang lama kemudian, lagu-lagu romantis telah berganti dengan lagu dangdut seiring waktu yang semakin malam.
Yudi nampak sudah hilang kendali dan itu terlihat dari gaya berjogetnya yang semakin hilang arah, akan tetapi walau berjoget dalam kondisi mabuk parah, pria itu masih teringat untuk menyawer seorang biduan.
"Ayo goyang lagi!" seru Yudi menikmati setiap lagu dan juga nyanyian yang dilantunkan.
Sementara itu Yulan menghampiri Ah Chin dan menahan tangannya agar tidak ikut berjoget seperti Yudi.
"Awas lu kalau joget disono, apalagi pake nyawer segala. Mending duitnyq buat gua beli baju!" kecam Yulan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ya gua tahu," balas Ah Chin mengerti dan ia akhirnya cuma bisa duduk-duduk saja di tengah-tengah acara, sambil ngedumel. "Tadi aja gua jangan ajak dia, biar leluasa gua mau ngapain juga. Mana gua mau pergi nengokin si Alin ke rumahnya, kali aja dia seneng gua memaen kesono," batinnya merasa terkekang.
Beruntung disaat dirinya merasa bete dengan kekangan Yulan, Heru putranya dan juga Metta putrinya ingin pulang ke rumah.
"Mah, Heru mau pulang. Kuping Heru sakit denger berisik begini," ucap Heru berteriak sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Ya Mah, Metta juga mau pulang!" timpal Metta merasa tidak nyaman.
"Anak-anak udah ngajakin pulang, elu pulang duluan deh!" ucap Ah Chin.
"Ya pulangnya sama elu atuh Koh, Yulan mana bisa naek motor," balas Yulan.
"Manja amat, rumah kita tuh deket! Jalan kaki juga nyampe, udah deh sono elu pulang duluan. Enggak enak atuh kalau gua pulang cepet, sementara yang lain masih asyik joget!" tolak Ah Chin.
Yulan mencebik. "Ya udah deh Yulan pulamg duluan bawa anak-anak kalau begitu," dengusnya lalu menuntun putranya agar pulang.
"Ya bebae dijalan ya, ntar pulang Papa bawain makanan yang banyak buat Heru sama Metta ya!" pekik Ah Chin sebelum mereka menjauh.
"Ya Pah!" sahut Heru dan Meta bersamaan.
Setelah istri dan anaknya pulang, Ah Chin mulai menjalankan rencananya, yaitu pergi dari acaranya si bandar judi dan menuju rumah Alin.
Terbesit dalam pikiran pria itu untuk mencoba mendekati istri temannya yang sedang sendirian saat ini. Dan beranggapan bahwa dirinya itu datang disaat yang tepat, serta mampu menjadi pria yang berjasa karena rasa simpatiknya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Alin, Ah Chin tidak henti-hentinya tersenyum. Seketika ia terbayang kenangan masa-masa sekolah SMA nya dulu, dimana Alin menjadi adik kelasnya.
Ah Chin sempat menyukai Alin, namun sayang ia sudah keduluan temannya yaitu Yudi. Dan hal tersebut jugalah yang membuat Ah Chin ingin sekali memisahkan Yudi dengan Alin dengan menjerumuskan temannya itu ke arah lembah sesat.
Seperti mabuk-mabukan serta mengenalkannya akan dunia perjudian.
Dan setibanya ia di depan rumah Alin, pria itu segera mengetuk pintu, lalu tersenyum menatap sesosok wanita yang membukakan pintu untuknya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1