Bersama Lelaki Impianku

Bersama Lelaki Impianku
Bab 21


__ADS_3

Waktu tak terasa kembali berjalan dengan cepat. Adriana sudah muncul. Benar bukan? Adriana akan muncul langsung ketika mengetahui gemparnya kabar pernikahan Ocha dan Alexius.


Dua bulan berlalu, setelah ditunggu begitu lama, akhirnya wanita itu berani muncul ke publik. Hal itu menggemparkan khalayak. Sebab, wanita itulah yang ditunggu kedatangannya untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.


Namun, yang terpapar di media, sikap dan wajah Adriana begitu tenang tanpa takut dan rasa bersalah sedikitpun. Hal itu, membuat Arocha merasa resah.


“Kau memikirkan apalagi?Jangan terlalu banyak berpikir, kau bisa jatuh sakit, dan aku tak ingin kau sakit!” Ujar suara bariton Pria yang ia kenali. Alexius, pria itu mendekat padanya serta mengelus lembut dahinya yang tanpa ia sadari sudah mengerut.


“Tidak ada.” Balasnya singkat, ia tersadar.


Alexius mendengus, “Itu bukan jawaban. Lantas, mengapa kau melamun? Dan kau terlihat seperti sedang berpikir keras. Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku sayang!”


Ocha menatap Alexius dalam, jujur, ia takut meninggalkan lelaki itu.


Ia tak mungkin berterus terang pada suaminya perihal rasa resah di hatinya ini, karena ia tak ingin suaminya khawatir akan dirinya.


“Huh, jangan berpikir terlalu keras. Sudah aku bilang, aku tak ingin bahwa kau sampai sakit nanti.”


Ocha tersenyum manis, “Cerewet.” Ocehnya sinis. Alexius terkekeh.


“Kau boleh berbagi pikiran denganku. Supaya tak usah terlalu keras memikirkan hal yang tak berguna itu.”


“Jangan bahas itu lagi. Kau sudah makan?” tanya Ocha, usaha mengalihkan perhatian.


Alexius berpikir sejenak, “Belum.” Jawabnya lumayan lama.


Ocha menabok lengan Alexius, “Huh, mengapa kau berpikir lama?”


Alexius terkekeh sejenak, “Tidak papa. Aku senang menjahilimu.”


“Sudah, ayo aku temani makan.” Ajaknya.


Kemudian, mereka berdua berjalan beriringan dengan Alexius yang merangkul pinggang Ocha menuju ke ruang makan.


####


“Mengapa kau muncul disaat yang tidak tepat?”


“Cih, mam, pap, aku hanya ingin menemui pujaan hatiku. Sial sekali, dia sudah merebut lelaki pujaanku.” Ujarnya sembari menekan kata Dia.


“Sudahlah tak usah memikirkan lagi. Yang terpenting, lanjutkan saja rencana yang sudah kita susun matang-matang.” Ujar seorang pria.


“Benar, lagipula, masih banyak rencana yang belum bisa terlalui untuk benar-benar mendapatkan harta itu.” Tambah seorang wanita dengan mata berbinar-binar.


Lantas, seorang wanita lagi yang berada di sana hanya memutar bola mata malas.


“Lihat saja nanti. Kita dapatkan hartanya, dan aku akan mendapat bonus untuk berdampingan dengan lelaki pujaanku.”


“Hah! Terserah apa katamu.”

__ADS_1


####


“Mengapa kau mengajaknya makan bersama, Alex?!”


Alexius berdecak, “Ini juga rumahku, dia istriku, jadi, aku berhak makan bersamanya.”


Rupanya, berdebat dengan ibunya membutuhkan pikiran yang keras. Sedangkan yang dilakukan Arocha hanya menunduk terdiam setelah menyiapkan makanan ke piring suaminya.


Jujur saja,di dalam hati, ia sudah muak tinggal bersama ibu mertuanya, ingin rasanya kembali ke rumah kecilnya yang sederhana dan terbebas dari drama mengesalkan ini. Namun, ia masih memiliki suami, dan ia harus menghormati keputusan suaminya.


“Gara-gara dirimu, aku dan putraku selalu berdebat. Huh, pembawa sial!”


“Mamah!!!”


“Suttt!” Tekan Arocha pelan seraya menahan lengan suaminya. Ia tahu, pasti suaminya sangat emosi, terlihat dari raut dan telinganya yang memerah, “Emosi tidak boleh dibalas dengan emosi. Itu akan memicu api yang besar.” Ucapnya mengingatkan Alexius.


“Huh, bahkan kau membentakku.” Keluh wanita itu.


“Sudahlah. Bisakah kalian makan dengan diam dan tenang?!” Sentak sang pemimpin keluarga.


Seketika, suasana kembali tenang. Mereka menatap makanan masing-masing kemudian memakan dengan tenang. Dan suasana senyap timbul.


Tanpa di sadari, Alexius masih menahan kesal dan amarah. Dalam makan, ia menatap sang ibu dengan emosi. Bahkan, tangan yang memegang alat makan pun terlihat sangat erat.


“Sudahlah.” Lirih Arocha menenangkan. Tangannya mengelus lembut paha Alexius yang tertutup meja sebagai pembatas. Ia melakukan hal itu, sebab ia tahu, sejatinya manusia yang diliputi emosi akan terlihat 1000% lebih buruk dari iblis atau syaitan.


####


Tit.


“Hah, mengapa semua kabar tentang wanita itu?”


“Bukankah ini yang kau inginkan? Dia sudah muncul.” Ujar Alexius.


Ocha menghela napas. Ia akan menyimpan rapat-rapat resah yang dirasakan nya.


“Benar. Namun, tetap saja, ah, rasanya tak bisa dijelaskan.” Jawabnya.


Alexius bangkit dari duduknya di pinggir ranjang, kemudian menghampiri Ocha yang duduk di sofa dalam kamar mereka.


Menggendong Ocha dengan tiba-tiba, membuat Ocha terkejut, “Sudah, lebih baik tidur. Sekarang sudah pukul sembilan malam.” Titah Alexius. Ocha mengalungkan tangannya pada leher Alexius.


“Kau sungguh mengejutkan ku. Mengapa senang sekali mengejutkan ku?!” Sentak Arocha lirih.


Alexius terkekeh pelan, namun hal itu membuat hati Ocha berdebar.


Tawanya, senyumnya, sungguh membuat Arocha sanggup dengan mudah menjatuhkan hatinya sedalam mungkin.


“Cukup Cha, Jangan terlalu dalam menaruh rasa itu. Kau akan terlihat buruk jika nanti meninggalkan dirinya.” Batin Ocha seraya memejamkan matanya ketika ia sudah hendak dibaringkan Alexius di atas ranjang.

__ADS_1


####


Tanpa Ocha ketahui, Alexius sudah lebih dulu berinisiatif mencari tahu sebab gerak-gerik sang istri yang terlihat tak tenang.


Ia dengan cepat, menyelesaikan urusannya dengan pihak berwajib tentang Adriana.


Wanita itu, ialah wanita yang sempat ia kagumi dahulu. Namun sekarang, wanita itulah yang akan ia benci dan salahkan sebab dari sedih dan resahnya hati istrinya.


“Sayang, sayang. Kau bahkan belum mengenal suamimu ini sedekat itu. Mungkin kau lupa, siapa suamimu ini.” Gumamnya seraya menatap sebuah figura pernikahan nya itu.


Kemudian, bibirnya terangkat, ia tersenyum, “Kau tak perlu khawatir. Aku akan melindungi dirimu lebih dari aku melindungi diriku sendiri.”


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Alexius kembali mendatarkan wajahnya.


“Masuk.” Titahnya dengan suara bariton.


Ceklek,


Pintu terbuka, dan tertutup kembali. Masuklah seorang pria seraya membawa beberapa dokumen. Alexius tersenyum smirk.


“Bos, saya sudah membawa apa yang anda minta.”


“Duduk, dan taruh itu diatas meja ku. Aku akan mengeceknya. Bila itu benar dan sesuai keinginanku, kau akan ku naikkan gaji dan berikan bonus sebab sudah berhasil menyelesaikan tugas yang ku beri selama satu Minggu ini.”


“Baik bos.” Jawab pria itu dengan senyum lebar dan melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya ini.


####


“Apa kau tak takut, kau pasti akan tertangkap. Berhati-hati lah. Kau sudah menjadi buronan.”


“Ck, buronan sepertiku tak akan ada yang bisa menangkap.” Sombongnya.


“Ya, ku akui begitu. Tapi, berhati-hati tetap harus dilakukan. Ini bukan hanya menyangkut dirimu, tetapi hidupmu juga karirmu. Ingat itu. Lagipula aku tak ingin bila aku juga terkena getahnya.” Jelas orang itu


“Cih, teman macam apa kau ini?!”


“Aku memang temanmu. Namun, aku tak mau bila saat kau tersesat, aku juga ikut tersesat.”


“Lihat kau!”


“Aku peringatkan, berhati-hati lah. Sebab, lawanmu saat ini bukanlah orang sembarangan.”


####


Haii, minta dukungannya boleh gak?


Terimakasihhhhh

__ADS_1


__ADS_2