
Ending#
Duka terus berdatangan bertubi-tubi dalam hati Alexius.
*Rekap Ulang kejadian kemarin.
Bruk.
Dari berbagai arah, berdatangan ajudan, anak buah Alexius. Dan ada pula kedatangan anak buah Adriana. Mereka bertarung. Dan tentunya, Alexiuslah yang menang.
Tapi, dia lengah. Ternyata, Adriana beranjak cepat.
Ia menodongkan sebuah pistol pada kepala istrinya yang sudah tak berdaya. Yang dengan seenaknya diseret bagai anjing oleh wanita gila itu.
“Sudahi perlawanan mu, atau kau akan melihat kematian istri tercinta mu?” Teriak Adriana.
Alexius berhenti. Dan para ajudan Alexius yang sudah menghabisi semua nyawa ajudan Adriana berhenti. Mereka lupa, misi mereka untuk menyelamatkan nyonya kesayangan mereka.
Alexius dengan lirikannya menyuruh ajudannya untuk membuka ikatan pada tubuh kedua orang tuanya. Sedangkan fokusnya, masih menatap dua wanita yang keadaan nya bertolak belakang.
Ia bersedekap dada.
“Jadi, kau ingin menjadi pembunuh untuk yang kesekian kali?” Tanyanya santai. Matanya tak lepas dari istrinya yang tubuhnya semakin gemetar.
Melihat itu, ia tak terima. Rasanya ingin segera memenggal kepala Adriana.
“Tak apa. Selagi itu untuk menyingkirkan hama dari hidupku.” Jawabnya. Alexius menggeleng tak percaya. Sungguh naif bodohnya Adriana yang licik.
“Jangan mendekat!” Sentak Adriana. Ia semakin menekan kepala Arocha membuat Ocha mulai sedikit kehilangan napas.
Adriana tersenyum sinis.
“Ternyata wanita ini sangat berarti ya bagimu. Aku iri. Mengapa sedari dulu, hidup wanita ini selalu lebih beruntung dari pada aku?!” Keluhnya.
“Takdir.” Sahut Bram, Tangan kanan keluarga Malik.
Adriana mendelik, “ Kau orang miskin. Tak usah ikut campur.”
“Cih. Sadarlah Nona, kau pun sama miskinnya padaku. Bahkan, bila bukan karena harta berlimpah milik Nyonya Ocha, kau dan keluarga mu tak kan bisa hidup enak.” Sahut Bram memprovokasi. Itulah tujuannya, agar wanita gila itu lengah.
“Erghh. Kau! Gila. Aku harus membunuh sampah ini dengan cepat!”
Dor
“Tidak!”
Dor
“AROCHA!”
Teriakan itu keluar begitu saja.
-Selesai*.
Tak terasa, air matanya mengalir. Menatap gundukan tanah di depannya. Mengusap batu nisan itu lembut.
“Maafkan aku, karena ku yang tak bisa bertindak cepat, kau harus merelakan nyawa dan hidupmu seperti ini. Kau meninggalkan diriku disini. Maaf... Maaf... Maaf...” Hanya kata Maaf yang mampu ia ucap.
Ia sadar, kata maaf takkan bisa membuat keadaan kembali seperti semula. Yang damai, tenang.
####
“Alex, nak, sudahilah sedihmu. Kau bisa mencari yang lain. Papah akan bantu carikan untukmu.” Ujar papahnya.
__ADS_1
Alexius menatap tajam sang papah.
“Pah, tidak semudah itu. Dia sudah menemaniku lama. Tak mudah menganggantikan dia dengan orang lain. Terlebih, tanpanya di sisiku, belum tentu aku mau kembali pada papah.” Sarkasnya.
Rosalia menghela napas.
“Kau tidak merindukan-nya?” Tanya wanita itu menyela sebelum negara api menyerang.
“Sangat rindu. Mustahil bila aku bilang tidak.” Jawabnya. Matanya menatap mamahnya sendu.
Kedua orang tua Alexius yang mengerti hanya terdiam sembari menenangkan hati putra kesayangan nya.
“Istirahatlah, kau bisa bertemu lagi dengannya besok. Tenangkan dirimu lebih dulu.” Titah Mamahnya.
Alexius mengangguk setuju. Ia merasa lelah, badannya seperti sangat kurang beristirahat. Matanya terdapat lingkaran hitam. Tubuhnya terlihat sedikit kurus. Otaknya tak bisa berkonsentrasi bekerja seperti biasanya.
Pikirannya dipenuhi oleh rasa bersalah, terima kasih dan juga AROCHA, istrinya.
Ia hanya bisa menghela napas berulang kali dalam sehari, semalam.
####
“Sayang, apa kau tak merindukanku?” Ucapnya menatap gemerlap langit malam. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya yang akan gondrong.
“Kau terlihat sangat nyenyak tertidur, hingga kau melupakan aku dan tak lagi datang ke mimpi tidurku. Apa jangan-jangan, kau marah padaku?” Gumamnya.
“Kau sangat cantik seperti bintang itu. Apa aku pantas menggapai dan memeluk bintang itu?”
“Aku sangat bodoh. Tak bisa melindungimu begitu saja dari wanita jahat itu.”
“Aku sungguh merindukanmu. Ranjang kita sangat dingin saat aku sadar bahwa kau tak disini lagi.”
“Apa kau akan kembali untukku sayang??”
“Aku mencintaimu.” Ucapnya.
Ia berbicara dengan dirinya sendiri. Menatap sendu langit malam dan bintang yang bersinar cahaya itu.
Indah.
“Kau pasti akan terlihat indah di antara ribuan bintang lainnya kan?”
“Kau pasti tak merasa kesepian lagi, karena ku yakin, disana banyak teman.”
“Aku ingin bertemu padamu. Sangat ingin.”
Dia terus berbicara sendiri. Berulang kali seperti itu. Ia bagaikan orang yang telah kehilangan akal sehatnya.
####
Matanya yang terpejam merasakan sebuah sentuhan hangat. Ia menikmati sentuhan itu. Di bayangan nya, ia melihat istrinya tersenyum cerah padanya.
“Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Semua yang menjadi takdir, harus di terima dengan ikhlas. Nantinya, kebahagiaan di atas pelangi akan tercipta. Kau harus yakin itu. Aku disini untukmu.” Ucap panjang dan lembut wanita itu.
Wajahnya bersinar, kulitnya putih bersih dan cerah.
“Apa kau tak ingin kembali padaku? Memelukku, bahkan menciumku lagi?” Tanyanya sendu.
Istrinya itu mendekat, Alexius menatap hangat mata istrinya, “Aku sangat ingin. Namun, waktu dan dimensi kita berbeda. Sabarlah, aku akan kembali.” Ucap wanita itu kemudian Alexius merasakan dekapan hangat. Yang akan ia balas, namun, perlahan, tubuh itu menghilang bagaikan debu.
Alexius menangis, ia menahan tangan mungil itu, “Jangan pergi!” Suaranya serak berat menahan asa di jiwanya.
“Ingat suamiku, kau harus bahagia. Tunggu aku!”
__ADS_1
Kemudian, tubuh itu hilang bagai debu. Bersamaan dengan angin sepoi yang mendinginkan tubuhnya.
####
“Alex...Alex.. Nak, bangunlah.” Bujuk Rosalia.
Ia khawatir. Tubuh anaknya demam tinggi. Dan dokter keluarga baru perjalanan menuju rumah.
Ibrahim sendiri ikut kelimpungan. Tidak biasanya Alexius akan demam tinggi. Terlebih, mereka melihat air mata keluar perlahan tetes demi tetes dari mata anak lelakinya.
“Ocha..”
“Istriku...Kembalilah, aku menunggumu...”
“Aku merindukan mu...”
Gumaman demi gumaman keluar dari bibir Alexius. Tubuh yang semakin menggigil itu membuat kedua orang tuanya bingung.
Rosalia meringis khawatir.
Menitihkan air matanya, ia menatap sang suami yang juga menatapnya, “Pah, bagaimana? Alex sangat merindukan istrinya.”
Ibrahim menuju istrinya, memeluk kepala istrinya dan mengelusnya lembut, “Sayang sabarlah, tenang, jangan khawatir. Bila sudah waktunya, mereka akan bertemu.”
Rosalia menangis, punggungnya bergetar semakin kencang disertai elusan suaminya itu.
“A-aku khawatir. Kondisi anak kita pah,”
“Stt...sttt..Tenang, sebentar lagi dokter Aron sampai. Tenanglah.” Ujar Ibrahim tetap menenangkan.
Ia juga panik, tapi berusaha tenang dan menjernihkan pikiran.
“Ocha...Kembalilah...”
Gumaman sang anak semakin kencang. Sama seperti tubuhnya, suhu anaknya itu terlihat semakin tinggi, sehingga muncul ruam merah.
Rasa khawatir, berubah lega, ketika para anggota rumah sakit Malik datang beriringan dengan perlengkapan rumah sakit. Mereka bertindak cepat, sedangkan Ibrahim menenangkan sang istri.
Mereka saling menguatkan. Bila Alexius lemah, mereka sebagai orang tua harus mendampingi dan menguatkan. Alexius bukanlah pria lemah, tetapi, dia akan tetap setia bila wanita yang ia cintai pergi meninggalkan nya. Terlebih bila wanita itu sudah meninggalkan kesan baik dalam hidupnya.
Dan wanita itu adalah Arocha.
~Tamat
###
.
**Yeay!! Akhirnya selesai.
24 Bab yang terlihat singkat namun berbagai perjuangan diatas kebimbangan berhasil aku selesaikan..
Maaf atas kekecewaan yang telah hadir karena jarang update bahkan bisa dibilang tidak pernah.
Dan maaf juga untuk ending yang kurang memuaskan..
Untuk kedepannya, aku rasa, akan memberi sedikit kejutan untuk kalian.
Yang semoga saja, akan terjadi.
Terimakasih atas dukungannya selama ini~
See you next My Story**'
__ADS_1