
**Selamat membaca!
Sepertinya part ini agak panjang karena menuju tahap ending.
Aku gak bisa bikin cerita yang terlalu banyak bab, sehingga aku memutuskan hanya dua puluhan bab saja.
Selanjutnya, masih rahasia ya**!
####
Ternyata benar. Firasat tak mengenakkan dihatinya dan dari mimpinya selama ini itu pertanda. Alexius hancur. Hidupnya, mimpinya, semuanya hancur bersamaan.
Kemarin adalah malam terakhir yang begitu menyenangkan, yang ia alami bersama sang istri.
Siang tadi, saat dirinya sedang meeting bersama para karyawannya, mendapatkan telepon bahwa istrinya di culik.
Ia marah dan kelimpungan bersamaan. Menyalahkan semua anak buahnya yang bertugas menjaga ketat sang istri selama ia tak berada dalam jangkauan istrinya. Namun naas, mereka malah lengah.
“ARGHHH! SIAL! LACAK KEBERADAAN ISTRIKU SEKARANG JUGA DENGAN CEPAT. AKU BERI KALIAN WAKTU LIMA MENIT, JIKA TIDAK, SIAP-SIAP SAJA, ANGGOTA TUBUH KALIAN TERPISAH DETIK ITU JUGA!” Titah Alexius menggelegar di seluruh ruangan. Membuat siapa saja yang mendengarnya merinding ketakutan.
Kacau. Begitulah penampilan Alexius.
Terdengar derap langkah kembali setelah semua anak buahnya pergi melaksanakan perintahnya.
“Aku tak ingin diganggu siapapun.” Sarkasnya.
Sedangkan dua orang yang berusaha mendekatinya diam-diam meringis.
“Alex, tenangkan dirimu. Mengurung diri dan merenung bukanlah sebuah proses menuju hasil.” Ujar pria paruh baya yang tak lain papahnya, Ibrahim.
“Papahmu ben--”
“Tidak ada yang benar ataupun salah. Aku sedang memikirkan cara untuk kembali mendapatkan istriku.” Katanya dengan nada tajam. Kemudian ia berbalik, menatap tajam kedua orang tuanya dan terpaku pada wanita yang melahirkannya, “Bukan mamah kan pelaku penculikan ini?” Tanyanya tiba-tiba.
Kedua orang tuanya mendengus dan menggeleng, “Bisa-bisanya kau berpikir begitu kejamnya pada ibumu sendiri.” Bela sang ayah untuk ibunya.
Alexius tersenyum miring, “Karena selama ini, di rumah ini, hanya mamah lah yang terlihat tetap tak setuju dengan hubungan kami. Terlebih perubahan sikap mamah yang tiba-tiba baik pada istriku membuatku curiga.” Jelasnya.
“Itu karena mamah sudah membuka mata dan hati mamah. Istrimu orang baik, dan sangat cocok menjadi menantu di keluarga ini, untuk menjadi pasangamu.” Jawab sang mamah, Rosalia.
Alexius mengangguk serta mendengus, memainkan lidahnya di pipi bagian dalamnya. Seraya memikirkan berbagai hal yang terjadi belakangan ini.
Pasalnya tak ada hal mencurigakan yang terjadi. Terlebih, mereka tinggal di mansion keluarga Malik, bukan rumah milik Ocha sendiri. Mengapa ini bisa terjadi. Padahal, mansion ini letaknya tersembunyi.
Pasti ada orang dalam!
“Adriana?” Tebaknya dengan lirih. Namun di ruang sunyi itu hanya ada tiga orang saja, jadilah kedua orang tua Alexius mendengar itu.
“Mengapa kau menyebut nama itu?” Tanya Rosalia.
Alexius mengelus dagunya sembari melipat tangan satunya di dada untuk menopang tangannya yang lain.
“Karena, hanya dia dan keluarganya yang sudah mengetahui seluk beluk mansion ini. Sebabnya, orang tuanya adalah sahabat mamah dan papah.” Terdiam sejenak, “Terlebih, dia memiliki dendam besar dengan istriku atas perebutan harta yang tak berhak mereka miliki sama sekali.” Tambahnya dengan nada tajam dan tatapan yang berubah tajam pula.
Kedua orang tua Alexius ikut menebak alur dari masalah ini.
****
Setelah lima menit waktu yang diberikan, akhirnya para anak buahnya berbondong-bondong menghampirinya dengan ada yang membawa laptop, berkas-berkas, ponsel, plastik kecil yang sepertinya berisi bukti.
Ia tetap duduk gagah di atas kursi kebanggaan nya dengan tenang menatap anak buahnya. Senyum miringnya timbul. Ia bertepuk tangan.
“Aku mengapresiasi kerja cepat kalian. Aku harap, hasilnya tak ada yang mengecewakan ku.”
Sontak semua anak buahnya itu mengangguk dan menggeleng, meletakkan satu persatu bukti yang mereka bawa. Dan tentunya sudah mereka pastikan tak ada kesalahan sedikitpun.
Lima menit bukanlah waktu singkat yang mengejutkan mereka. Bahkan, dulu saat ada penghianat di dalam perusahaan yang di pimpin Alex, untuk mencari pelaku dan bukti, mereka hanya diberi waktu selama satu menit saja.
__ADS_1
Alexius terdiam, tak ada lagi raut guyonan di wajahnya. Hanya terpasang raut tajam, seriusnya. Meneliti semua hasil kerja lima menit miliki anak buahnya.
Pertama, melihat laptop yang berisi CCTV saat dimana sang istri dinyatakan menghilang. Disana, istrinya sedang bersantai di taman belakang mansion. Kemudian, datang seorang pelayan yang tak ia kenali sedikitpun wajahnya. Memberikan minuman pada sang istri, dan tak lama, istrinya pingsan kemudian di rangkul oleh pelayan wanita itu.
Kedua, menatap berkas-berkas yang dimana berisi identitas lengkap pelayan wanita itu. Ternyata memang suruhan Adriana. Wanita sialan!
Ketiga, berisi bukti. Gelas, botol obat tidur yang membuat istrinya hilang kesadaran, beserta anting yang terlihat mewah yang bukan milik istrinya juga gelang tangan milik istrinya atas pemberian dirinya.
Keempat, ponsel, yang dimana itu adalah lacak keberadaan sang istri. Ya, ia baru ingat, bahwa, anting mewah milik istrinya ia pesankan khusus yang di dalamnya berisi alat lacak kecil. Yang tentunya tak akan diketahui siapapun selain orang terpercaya nya.
Sial, mengapa ia bisa lupa. Bodoh sekali. Panik memang mengacaukan segalanya.
“Ayo kita bergegas ke tempat itu. Kalian susun strategi kalian sendiri. Yang pasti, aku ikut andil didalamnya.” Ajaknya. Kemudian mereka berangkat bersamaan.
Hanya membawa dua mobil biasa yang tak mencurigakan. Mereka duduk berdempetan didalam sana. Demi tak terlihat mencolok.
****
“Stt, tenang, jangan sampai terdengar suara apapun dari langkah kita. Harus berhati-hati.” Titah Alexius kepada para anak buahnya.
Tentu mereka datang tidak dengan tangan kosong. Bahkan, di rumah mewah itu pasti sangat banyak ajudan wanita itu untuk berjaga.
Setelah mengatur strategi dengan singkat, mereka berpencar. Ada yang lewat belakang rumah itu, samping, atas, dan juga pintu tengah rumah itu. Mereka beramai-ramai. Kecuali Alexius, ya hanya dia yang sendiri. Agar tak menimbulkan kecurigaan sedikitpun.
Dengan sengaja, ia kembali ke mobil. Kemudian, menghampiri pos security, dan berlagak tak tahu.
“Apa benar, ini rumah milik Adriana?” Tanyanya. Wajahnya datar tak menimbulkan berbagai macam kecurigaan.
Dia security yang berjaga langsung siaga. Menghampiri Alexius, terlihat raut mereka tak yakin dan sangat tajam. Namun, Alexius santai saja.
“Siapa kau, Tuan? Darimana kau tahu, bahwa pemilik rumah ini bernama Adriana?” Tanya salah seorang security itu.
Alexius mengeluarkan sebuah foto, dimana itu adalah foto remaja antara dirinya dan Adriana bersama keluarga mereka kala berkumpul dulu.
Menunjukkan foto itu sebagai piranti tak menimbulkan kecurigaan, “Aku teman dekatnya. Namaku Alexius, keluarga kami dekat. Dan berteman sejak dulu, tentu saja aku tahu.” Ujarnya membalas.
“Baiklah, kami percaya. Anda di persilahkan masuk, Tuan.” Security yang lain mempersilahkan.
Ia mengendarai mobilnya laju menuju halaman parkir didepan rumah itu. Didalam mobil, ia menyeringai.
Rumah ini harusnya milik sang istri. Atas semua bukti yang ia cari, hampir seluruh harta yang dimiliki keluarga Adriana saat ini merupakan milik keluarga Arocha yang terpendam. Dan, mengapa bisa terjatuh di keluarga Adriana?
Itu karena, ayah dari Adriana, yang merupakan teman semasa SMA papahnya itu ialah tangan kanan dari ayah Arocha dulu.
Dengan memasang kaca mata hitam, ia keluar dari dalam mobil dengan elegan. Berdiri menatap sekeliling rumah itu, matanya melirik tajam sekelompok bodyguard yang berdiri siaga. Membenarkan jasnya yang sudah rapi, ia melangkah menuju pintu utama.
Matanya memandang pilar kokoh seraya menaiki tangga rumah mewah bercat putih gading itu.
“Siapa Anda?!” Sentak bodyguard yang berjaga.
Alexius berdehem, sepertinya para bodyguard ini sangat kurang update, hingga, mereka tak ada satupun yang mengenal Alexius. Yang nyatanya, dia pernah menjadi dan selalu menjadi trending topik di dunia tabloid.
“Aku Alexius. Teman dekat dan keluargaku mengenal baik keluarga Adriana. Jadi, bolehkah aku masuk?” Ucapnya sembari kembali menunjukkan bukti foto pada para bodyguard itu. Tentu saja mereka percaya melihat bukti itu.
Pintu utama yang mewah terbuka. Adriana ini bodoh atau bagaimana? Masa, dia tak berantisipasi sedikitpun bila kehadiran nya muncul.
Matanya kembali memandang bergulir sekeliling rumah mewah itu. Sepi.
Tuk... Tuk... Tuk...
Alexius menatap ke arah tangga. Ia tahu, itu langkah sepatu tinggi dari Adriana. Benar saja, tak lama dari itu, wanita itu muncul. Sepertinya, para ajudannya sangat setia pada wanita itu hingga berita kedatangannya langsung dikabarkan pada wanita yang mengaku pemilik rumah.
“Lama tidak berjumpa, sayang!” Ucap Adriana angkuh. Suaranya dilembutkan namun tak membuat Alexius merubah ekspresi di wajahnya itu.
“Ya. Bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia, setelah merebut semua hal yang dimiliki orang lain, termasuk setelah merenggut ingatanku tiga tahun lalu?” Tanyanya sarkas. Ia melirik tubuh Adriana yang menegang.
“Apa maksudmu?” Tanya balik wanita itu. Sembari melangkah anggun menghampiri Alexius. Berdiri menjulang di hadapan Alexius. Tangannya hampir mengelus pipi itu, namun tepisan tangan membuat ia tersenyum tipis.
__ADS_1
“Kau tak berubah. Tetap tidak suka disentuh.”
“Ya. Hanya denganmu, jika dengan wanita lain, aku biasa saja.” Balasnya sarkas.
Adriana membulatkan mulutnya, “Waw! Sangat menakjubkan. Perubahan yang drastis setelah bertahun-tahun kita tak bertemu.”
Mereka bertatapan, Adriana dapat melihat tatapan laser dari lelaki pujaannya itu.
“Apa kedatangan mu disini merindukan ku?” Tanyanya percaya diri.
Alexius mendengus, “Ck,” decaknya. “Aku sedikit memiliki urusan.”
Adriana melipat kedua lengannya didepan dada, “Apa ini tentang wanita bodoh itu? Wanita yang telah merebut hatimu dari sisiku?” Tanyanya.
Alexius sudah dapat menebak. Pasti Adriana sudah tahu. Karena, tindakan Adriana yang dadakan tentu akan membalas dendam untuk istrinya. Tak lain adalah Arocha.
“Bukan tentang siapa yang merebut siapa. Ini murni kesalahan mu yang dulu meninggalkan ku. Aku dulu sudah susah payah mempercayai kehadiranmu dan menaruh perasaan padamu. Tetapi, kau meninggalkanku.” Jelasnya datar.
Adriana mendekat, menurunkan tangannya yang sebelumnya ia lipat, kemudian mengelus dada Alexius sekali dengan jari lentiknya. Sebelum kemudian Alexius menjauh selangkah.
“Maafkan aku, aku melakukan semua itu untuk---”
“Untuk mendapatkan hati pria lain yang lebih kaya agar hidupmu lebih aman sentosa atas semua harta pria yang kau jerat itu.” Potong Alexius. Ia geram, tentu mengingat itu. Ia merasa dijatuhkan, dihina, atas tindakan masa lalu Adriana padanya.
Dulu, dia bukanlah Alexius yang sekarang. Keluarganya memang kaya, tapi tak pernah sekalipun ia memanfaatkan harta berlimpah milik keluarga nya.
Dan itu sebabnya, Adriana menjadi seperti ini.
“Heh. Kalau begitu, benar bukan, kau mencari istrimu?” Katanya menjeda. Ia tak lagi membahas hal di masa lalu.
“Aku minta izin, untuk menyingkirkan istrimu karena bagiku, dia hanyalah seonggok sampah yang pantas dibuang. Dia merebut semua dariku, dia juga bisa memiliki dengan mudah apa yang harusnya menjadi milikku.” Ucap Adriana menggebu-gebu. Alexius menggeleng tak percaya dengan seringaian bibirnya.
Adriana menepuk dua tangannya. Tak lama, dari arah dapur, tampak empat ajudan Adriana menyeret seorang yang sangat ia kenali. Alexius terkejut marah. Tangannya terkepal, rasa sesak meliputi dadanya.
Melihat, wajah mulus itu sudah di penuhi darah begitu juga tangan serta kaki. Bahkan, ia melihat sendiri, istrinya yang kuat sangat tak berdaya. Matanya terbuka sipit dan sayu. Bibirnya meringis kesakitan. Tubuhnya gemetar.
Oh, wanita mungil kesayangannya.
“Taruh sampah itu di situ.” Titah Adriana menyadarkan Alexius. Kembali rasa marah muncul. Adriana menyuruh keempat ajudannya meletakkan tubuh sang istri di atas sofa usang yang entah sejak kapan ada disana.
Dengan kasar, keempat ajudan itu menaruh, ralat, melempar tubuh lemas sang istri. Tangannya semakin terkepal, giginya bergemalatuk. Matanya memanas menahan air di pelupuk matanya.
“Sekarang kau pilih, untuk, memilih dia, atau keluarga mu?” Tanya Adriana. Yang ia lihat, ia kembali menjentikkan jarinya, kemudian datanglah empat bodyguard lagi. Kali ini, membawa orang tuanya.
Sialan!
“Dari mana Adriana dapat bergerak secepat ini? Bahkan, mamah papah yang tadi saat ku tinggal masih baik-baik saja, sekarang disini dengan keadaan buruk?” Batinnya mengucap.
Netranya bergulir menatap ketiga manusia yang ia sayangi.
“Apa maumu?” Tanya Alexius.
Adriana tersenyum senang, “Hidup berdua bersamamu sampai maut memisahkan kita.” Ujar wanita itu dengan senyum semakin lebar.
Alexius bergidik ngeri. Ia menatap kedua orang tuanya yang menggeleng pelan. Lalu menatap istrinya yang hanya diam menatap dia. Tapi, dia tahu, bahwa ada raut tak rela di tatapan wanita tercintanya itu.
“Dalam mimpimu!”
Bruk
######
Bagaimana? Bukan hal buruk ya
Bosen juga, apalagi sempet kena Wrriter Block.
Semoga kalian senang.
__ADS_1