
Saat ini, Ocha semakin merasa tak lagi tenang. Terus gusar. Hingga bahkan ibu mertuanya menyadari kegusarannya.
“Ada apa denganmu? Aneh sekali. Bikin pusing saja!” Sentak wanita itu.
Arocha tersadar, ia tersenyum kecil. Kemudian kembali duduk di sofa, tak lagi mondar-mandir. Hanya saja, tangannya masih saling bertautan, guna menenangkan hatinya yang kembali risau.
“Hei! Jawab pertanyaan ku. Ada apa denganmu?”
Arocha tersenyum lagi. Ia tahu, ibu mertuanya ini khawatir padanya, terlihat jelas dari pancaran mata wanita itu.
“Tidak apa mah, hanya merindukan anakmu saja.” Candanya.
Rosalia mendengus, “Jawabanmu tak masuk akal.” Sengitnya kemudian.
“Mah, seandainya aku pergi, pasti kau merasa sangat tenang, bukan?”
Pertanyaan Ocha sangat nyeleneh menurut Rosalia. Bahkan, alisnya semakin bertaut bingung. Ada apa dengan menantunya ini?
“Pergi saja.” Singkat Rosalia. Ia hanya gengsi untuk menutupi rasa penasaran dirinya.
“Baiklah.”
****
Malam ini, seluruh keluarga Alexius berkumpul, kecuali Arocha.
Alexius akan menerangkan serta meluruskan kekeliruan atas ketidak setujuan mereka dengan pernikahannya. Sebab, ia takkan membiarkan untuk kehilangan pujaan hatinya.
“Ada apa kau menyuruh kami berkumpul nak?” Tanya sang kakek.
Yang disauti oleh yang lain pula.
“Iya, tak seperti biasa.” Sahut pamannya.
Alexius tersenyum tenang. Memandang satu persatu keluarganya yang masih tersisa dan ada. Sebab, mereka kebanyakan terlahir menjadi anak tunggal.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu kepada kalian. Dan, setelah itu, kalian harus berjanji untuk tak akan berbuat jahat kepada istriku lagi.”
Rosalia akan protes, belum sempat memprotes, Alexius kembali melanjutkan ucapannya untuk menjelaskan yang dia maksud. Ia menceritakan semuanya tanpa kurang atau lebih apapun. Semua ia luapkan sesuai dengan yang terjadi dan yang ia alami.
Hingga saat cerita selesai, “Ternyata begitu toh ceritanya. Kejam sekali keluarga kak Ana.” Celetuk sepupu Alexius.
“Kau tidak berbohong, bukan?” Tanya Rosalia. Ia masih berusaha menyangkal.
Jelas menyangkal, orang tua, ralat, ibu Adriana adalah teman Rosalia. Maka dari itu, Rosalia setia membela.
Alexius menggeleng, “Terserah mamah jika tak percaya. Tapi, jangan salahkan aku dan istriku bila saat nanti kau menyesal.” Ucapnya.
****
Sejak saat itu, keluarga Alexius lebih terbuka. Lebih menerima kehadiran Ocha sebagai anggota baru keluarga Malik.
Bahkan, Arocha sempat heran. Namun ia tak banyak memprotes. Sebab bila ia memprotes, bisa saja mereka tak lagi menerima kehadirannya seperti saat semula.
“Ambillah dan makanlah sepuasmu.” Ucap Rosalia.
__ADS_1
Satu Minggu sudah berlalu. Dan, Rosalia sudah mulai mendekatkan diri bahkan menyenangi sikap Ocha. Ia sudah menilai dan tahu hal apa yang membuat anaknya sangat mencintai wanita yang sudah menjadi menantunya ini.
“Baik mah. Kau juga sebaiknya makan yang banyak agar tubuhmu tak gampang tumbang. Kesehatan juga diperlukan, bukan?” Kata Ocha.
Sejujurnya rasa canggung itu ada. Tetapi, ia masih tetap bisa menutupi.
Ia bahkan senang, sikap mertuanya lebih terbuka. Dan semoga saja, ia berharap, ini bukan hanya sebuah kebohongan belaka.
“Sayangku, sedang makan apa?” Tiba-tiba saja suara Alexius terdengar. Pipi Ocha memerah, ia malu, sebab masih ada ibu mertuanya.
“Sayang?”
Semakin memerahlah pipinya.
“Hust, Alex, jangan menganggu istrimu. Jangan menggodanya, lihatlah, kasian istrimu malu.” Titah Rosalia.
Alexius tertawa. Ia sengaja menggoda Ocha. Dan, inilah yang ia inginkan. Melihat pipi kemerahan milik sang istri. Pipi yang chubby terlihat semakin menggemaskan kala merona.
“Makanlah yang banyak.” Ucapnya sembari mengelus lembut pipi Ocha.
Ocha yang kesal langsung saja menggeplak lengan Alexius.
“Jangan menggodaku. Bersikaplah normal seperti biasa. Aku malu. Ada ibu mertua di depanku.” Bisiknya pelan. Sengaja, seraya melirik Rosalia yang masih asyik memakan.
“Kenapa malu? Mamahku juga biasa saja. Ya kan mah? Apa mamah terganggu?” Tanya Alexius.
Ocha menutup wajahnya dengan telapak tangan. Telinganya terlihat memerah.
Tawa Rosalia dan Alexius menguar keras di ruang makan.
****
“Kau tahu? Sudah satu Minggu ini, sikap semua keluargamu berubah. Mereka menjadi lebih baik padaku. Apa ini ada campur tanganmu?”
Alexius terkekeh dengan masih mendekap istrinya hangat.
“Aku tentu tak akan membiarkan istriku tanpa teman. Dan lagi pula, aku sangat tidak suka bila keluargaku tak menerimamu dengan baik. Toh, yang menjalani hubungan itu kan aku, bukan mereka.” Jawabnya santai.
Ocha takjub. Ia begitu bahagia. Ternyata, begitu menyenangkan memiliki seorang teman, pasangan hidup yang sangat menghargai dan setia padanya.
Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan di masa lampau, hingga mendapatkan teman hidup seperti Alexius.
Ocha mengelus rahang suaminya lembut.
“Aku begitu beruntung memilikimu. Dan, aku begitu bahagia bisa hidup denganmu.” Pujinya.
Alexius terkekeh pelan, “Jika kau merasa begitu, aku lebih, lebih dan lebih dari itu. Cintaku padamu lebih besar dari cintamu padaku.” Katanya.
Tiba-tiba rasa resah kembali muncul. Entah apa penyebabnya, rasa aneh ini terus saja muncul kala ia merasa bahagia.
“Apa yang akan kau lakukan bila nanti, aku meninggalkan mu?”
“Kau tidak boleh meninggalkanku.”
Ocha terkekeh, “Itu hanya perandaian saja, suamiku.”
__ADS_1
“Tidak. Sekalipun itu hanya mengandai-andai.” Tegasnya.
****
“Kira-kira, sampai berapa lama lagi masalah ini akan segera tuntas?”
“Masih dalam proses akan aku selesaikan.”
“Bila kau tak cepat, kau bisa kalah dengan wanita itu. Jaga istrimu.”
Ya, percakapan itu berasal dari Alexius dan Abraham, sang ayah.
Jujur saja, ia juga sempat memikirkan itu. Ia bisa kapan saja kalah cepat dengan Adriana.
Apa ia harus mengambil jalur hukumnya sendiri?
Yaitu, dengan menculik Adriana dengan berbagai rayuan, lalu menyodorkan tubuh wanita itu pada kucing kesayangannya? Tapi, apa itu akan berhasil?
“Para aparat itu tak akan cepat tanggap. Sebab, kakek Adriana dahulu adalah pemimpin mereka. Mereka tak akan berani lancang menyentuh cucunya. Maka dari itu, mereka selalu akan mengulur waktu.” Ucap Rosalia. Ia ikut menimpali ketika ia baru saja datang dan mendengar pembahasan kedua lelaki tersayangnya.
“Mamahmu benar nak. Sepertinya, kau memang harus memakai cara lain. Ayolah, seorang bos muda sepertimu tak akan berpikir dua kali untuk menyingkirkan seorang pengganggu bukan?”
***
“Kau kenapa mondar-mandir sayang?”
“Tidak tahu, aku merasa resah.”
“Kemari lah. Tidurlah di sampingku, aku akan setia mendekap mu.”
Ocha menggeleng, “Aku tak tenang bila tertidur. Bahkan aku tak bisa memejamkan mata. Semua terasa sulit.” Keluhnya.
Alexius menghampiri Istrinya, kemudian saat sampai dibelakang tubuh sang wanita, sigap ia memeluk wanitanya dari belakang. Menuntun sang istri menuju jendela besar kamarnya yang tertutup gorden hingga setengah lebar jendela.
Tangannya mendekap erat pinggang ramping Ocha. Mengecup halus bahu dan leher milik istrinya membuat Ocha meremang sedemikian rupa.
“Tataplah cahaya malam. Di mataku, wajahmu berubah menjadi berseri cantik. Setelah itu, kau bisa tertidur lelap tanpa takut. Tenang saja, aku akan selalu ada di sampingmu.”
“Aku... Aku hanya takut. Aku bingung. Aku tak tahu sebabnya...”
“Maka dari itu, lakukanlah saranku. Kau akan tenang.”
“Baiklah.”
“Tapi, semua tak ada yang gratis. Sekalipun kau bisa tertidur, aku akan membantumu agar semakin lelap dalam tidurmu nanti.” Bisiknya.
“Caranya?”
“Olahraga malam bersamaku.”
#####
OMG! Ada-ada saja modusnya Alexius yaa!
Hahaha
__ADS_1