
Sore pun tiba, Bunda Val saat itu juga datang menjemput Val. Kedatangan bunda Val itu sangat disambut oleh orang tua Fara. Sebelum memberitahu Val bahwa ia sudah dijemput, Mama Fara mengajak bundanya Val untuk berbincang sedikit. Namun tak terasa 30 menit sudah mereka berbincang.
Mama Fara dan bunda Val langsung akrab pada saat itu juga, bagaimana bisa? ternyata mereka mempunyai hobby yang sama, dan sangat-sangat sama persis, yaitu bermain Badminton, membuat kue, bahkan membaca komik dan novel. Hal ini membuat perbincangan mereka sangat panjang. Dan beberapa saat kemudian mareka sadar akan waktu, sudah pukul 15:00 sore saat itu. Val pun pulang bersama bundanya.
"Fara, bisakah besok Reksa bermain kesini lagi?"
"Mama mendapat teman baru ya?"
"Betul, baru kali ini mama bertemu dengan perempuan yang sangat-sangat persis dengan mama"
"Loh? tante Selli apa? bukannya hobby mama dan tante Selli sama ya?"
"Jika dibilang sama sih iya, tapi tante Selli tidak benar-benar seperti mama, berbeda dengan bundanya Reksa"
"Akan ku ajak lagi Val kesini kok mah, lagi pula ternyata Val pintar sekali dan cepat tanggap, aku kalah pintar dengannya"
"Oh ya? kalau begitu teruskan belajarmu bersama Reksa"
"Siap mah!"
.
.
.
.
.
Sehari, seminggu,sebulan, setahun dan dua tahun kemudian. Sudah banyak waktu yang terlewat dengan kebersamaan dua keluarga ini. Melukis banyak kenangan indah selama 2 tahun ini, tak terasa bahwa waktu ternyata berjalan sangat cepat. Andaikan waktu bisa diputar, pasti mereka akan memutar ulang kenangan itu dan membuatnya lebih indah lagi.
Melewati banyak kisah, mulai dari pertengkaran dan kemudian berbaikan, bermusuhan walau hanya untuk beberapa saat dan kembali, perjanjian-perjanjian yang mereka buat, hari-hari bahagia yang mereka ciptakan, tak terasa bahwa banyak sekali kisah dalam 2 tahun ini. Entah dalam keadaan senang dan sedih mereka melewati banyaknya rintangan tanpa harus ada yang terlukai. Semua berjalan dengan mulus sesuai dengan harapan, terima kasih semesta sudah mempertemukan mereka dan menyatukan mereka, walaupun berakhir sudah kebersamaan mereka disini. Seperti kisah novel yang lainnya, dan seperti pepatah yang mengatakan bahwa "Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan".
Takdirlah yang menyatukan kita dalam kebersamaan yang indah bagaikan lukisan, namun takdirlah pula yang memisahkan kita dalam rangkaian keadaan yang mendesak. Kali ini aku harus apa? aku ingin berterima kasih kepadamu sang semesta, namun aku juga ingin marah kepadamu.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Bunda, Val main dulu ya" ucap Val yang kini tengah sibuk mempersiapkan dirinya. Tak sabar akan seperti apa bermain dan belajar hari ini dengan Fara, terlintas sekali bayangan-bayangan yang ada dipikirannya.
''Main kemana Val?"
"Ke rumah kak Fara atau mungkin taman?"
"Eh kamu belum tahu ya Val, rumah Fara hari ini sepertinya akan sibuk dan Fara pun, mereka akan pindah ke luar kota karena urusan mereka disini sudah selesai"
"Hah? serius Bunda? kok kak Fara tidak memberi tahu Val?"
Val meneteskan air matanya saat itu juga, tetesan air mata tersebut semakin menderas. Memeluk sang bunda, Val pun menangis menjadi-jadi karena ia merasa bahwa telah kehilangan sahabatnya. "Aduh Val, tenang dulu dong". Ada yang harus bunda jelaskan, tetapi Val malah tidak mau mendengarkan dan memilih mengeratkan pelukannya.
"Assalamualaikum,.. Val?" seorang gadis kecil masuk, yang tak lain adalah Fara.
"Loh, Val kamu kenapa?"
Val merasa heran, bukannya kakak sudah pindah? kenapa suaranya ada disini? ia membalikkan badannya dan matanya langsung tertuju pada Fara. Berlari mendekati Fara dari pelukan bunda, ia malah berganti kepada Fara dan memeluknya se erat mungkin. Bundanya itu sudah tidak merasa heran dengan putranya itu, ia tahu betul bagaimana Val amat sangat menyayangi Fara. Lagi pula kebersamaan mereka sangatlah lucu.
"Kak, please jangan tinggalin Val, kakak udah mau pamit yaa?" ucap Val yang menatap Fara. Fara tak tega melihat air mata yang dikeluarkan oleh anak lelaki kesayangannya. Bahkan sebenarnya Fara pun tidak mau meninggalkan Val dan jauh dari Val. Tapi pekerjaan papanya disini sudah selesai, saatnya ia kembali ke rumah aslinya.
"Val, aku minta maaf, tapi betul, aku datang kesini ingin pamit pergi kepadamu, bunda dan ayah"
"Kakak apakah tidak bisa tinggal disini saja humm?"
"Tidak Val,.. maaf ya"
__ADS_1
Tangis Val pun menyertainya lagi, ia memeluk Fara denhan sangat erat dan tidak ingin menampilkan wajahnya. Ia tidak pernah berpikir apakah Fara akan meninggalkannya ataupun sebaliknya, karena yang ia pikirkan adalah kebersamaannya yang tetap terjalin.
"Oke sini Val, kakak memang harus pindah dan meninggalkan Val disini, tetapi teman Val banyak kan? lagi pula kita akan tetap saling mengabari, kakak yakin nanti kita akan bertemu kembali, mungkin saat bertemu kembali kakak nemuin kamu tidur di kursi lagi ya?" ucap Fara dengan memeluk Val.
"Tapi kan kak, nanti kakak sendiri dan Val juga sendiri, Val tidak bisa ada buat lindungin kakak"
"Hei anak tampan, cengeng, imut, pintar dan adik kesayangan kakak, dengarkan yaa, kita pasti akan bertemu kembali, oke? dan saat itu Val harus benar-benar menjaga kakak ya? Janji?"
Val mengangguk dan berkata "Berjanjilah padaku kak, bahwa kita akan bertemu dan bersama kembali yaa!!! dan Val juga akan menjaga kakak dan terus ada bersama kakak!!!"
Keduanya menatap dan tersenyum, mereka harus merelakan kebersamaan ini untuk sementara. Dan bukan hanya kata-kata, mereka pun menulis janji mereka pada dua buah surat, dan berjanji akan menjaga janji itu. Sesaat kedua keluarga itu pun bertemu, Orangtua Val, dan Fara. Mereka berfoto beberapa kali karena kebersamaan keluarga ini sudah berakhir.
Tidak hanya anak mereka saja yang dekat, Mama dengan sang bunda, dan Papa dengan ayah.
"Kami pamit pergi ya.. Val, Theo, Kiran"
"Iya, hati-hati di jalan ya, barang bawaan kalian sudah lengkap kan?" ucap bunda kepada mama Fara.
"Ah, sudah kok, aku sudah memeriksa semuanya"
"Yasudah, jangan lupa mengabari kami ya Vera!"
"Tentu saja"
Val menggenggam surat dan gelang hitam pasangan dari Fara. Melihat bahwa perlahan Fara menghilang dari penglihatannya membuat Val ingin menangis lagi, dan Val pun berlari menuju arah taman. Ia menangis disana, padahal Fara baru saja pergi sesaat, tetapi Val sudah merasa rindu dengan sosok Fara. Val rasa takkan ada yang mampu menggantikan sesosok Fara dalam hidupnya.
Disinilah awal pertemuan kita, awal kisah kita dan lembaran yang kita buat. Tak kusangka bahwa kamu meninggalkanku sendirian didekat sini. Awal yang menuju akhir walau aku yakin bukanlah akhir yang sesungguhnya. Saat mataku bertemu kembali dengan matamu, aku berharap bahwa awal yang baru akan datang kepadaku dan memberi cahaya serta jalan yang baru.
.
.
.
.
__ADS_1
.