Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku

Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku
Episode 2: Dibalik Fasad Dingin


__ADS_3

Episode 2: Dibalik Fasad Dingin


Pagi di *Delphi Enterprises* dimulai dengan kesibukan yang biasa. Namun, di antara keramaian para karyawan yang bergegas, ada satu figur yang menarik perhatian. Lucas Blackwood, CEO yang dikenal dengan sifatnya yang dingin, sedang melangkah menuju ruangannya dengan langkah mantap.


Namun, di dalam hati Lucas, ada keragu-raguan yang berkecamuk. Setelah bertemu dengan Ava, ada perasaan aneh yang tidak bisa dia pahami dengan jelas. Dia yang selalu mengedepankan profesionalisme tiba-tiba merasa berdebar-debar saat mendekati ruangannya.


"Ava," gumamnya pelan di dalam hati. Nama itu seakan memiliki kekuatan magis yang tidak bisa dia tolak. Dia ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu, lebih dari sekedar kandidat yang akan dia rekrut.


Sementara itu, Ava sendiri tengah duduk di meja kerjanya yang baru. Setelah bergabung dengan *Delphi Enterprises*, hidupnya berubah drastis. Tugas-tugas baru dan tanggung jawab yang lebih besar membuatnya merasa sekaligus terbebani dan terhormat.


Dalam beberapa minggu terakhir, dia berusaha untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Meskipun kadang-kadang dia masih merasa canggung dan tidak yakin, namun semangatnya tidak pernah pudar. Dia tahu bahwa kesempatan ini adalah anugerah yang langka, dan dia berkomitmen untuk tidak menyia-nyiakannya.


Pada suatu hari, Ava mendapat tugas khusus untuk membantu dalam sebuah presentasi penting. Meskipun awalnya dia merasa cemas, namun dia segera merasa termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Tugas ini memberinya kesempatan untuk bekerja langsung dengan Lucas, CEO yang selalu tampil dengan sikap profesionalnya.


Di dalam ruang pertemuan, Ava dan Lucas duduk berhadapan satu sama lain. Materi presentasi sudah tersedia di layar, dan keduanya mulai membahas detailnya. Lucas tampak fokus pada presentasi, tetapi mata Ava mencuri pandang pada ekspresinya yang konsentrasi.


"Ava, bagaimana pendapatmu tentang bagian ini?" tanya Lucas, memecahkan lamunannya.


Ava menggigit bibirnya, berusaha mengumpulkan pikirannya. "Saya pikir, tambahan data statistik akan memperkuat argumen kita," jawabnya dengan hati-hati.


Lucas mengangguk, menyadari saran Ava. "Saya setuju. Lanjutkan."


Dalam diskusi ini, Ava merasa kagum dengan dedikasi dan pengetahuan mendalam Lucas. Tapi di antara kesan profesional itu, ada momen-momen kecil di mana pandangan mereka bertemu, menciptakan getaran aneh di antara mereka.


Setelah beberapa jam, presentasi selesai dibahas dan dipersiapkan. Ava merasa puas dengan kerja kerasnya bersama Lucas. Mereka adalah tim yang tangguh, bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

__ADS_1


Namun, di balik profesionalisme itu, Lucas merasa bingung. Dia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang tumbuh di dalam dirinya. Mereka hanya bekerja bersama dalam proyek ini, tapi mengapa dia merasa seperti ada tali tak terlihat yang menghubungkan mereka?


Setelah presentasi selesai, Lucas menghampiri Ava di meja kerjanya. "Kerja bagus hari ini, Ava," ucapnya dengan senyuman tulus.


Ava tersenyum balik, merasa terharu mendapat pujian langsung dari CEO. "Terima kasih, Mr. Blackwood. Saya senang bisa berkontribusi."


Lucas merasa sedikit tidak biasa ketika Ava memanggilnya dengan 'Mr. Blackwood'. Biasanya dia hanya dipanggil 'Mr. Blackwood' oleh para karyawan, tapi kali ini terdengar berbeda saat datang dari bibir Ava.


Sementara itu, Ava menggigit bibirnya. Dia tahu dia harus tetap profesional, tapi ada getaran aneh yang membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang CEO yang misterius ini.


...****************...


Waktu berlalu dengan cepat di *Delphi Enterprises*. Ava semakin terbiasa dengan rutinitas dan tugas-tugas barunya. Setiap hari, dia belajar lebih banyak tentang dunia bisnis yang begitu kompleks, dan dia merasa beruntung bisa bekerja di perusahaan sebesar ini.


Di lain pihak, Lucas juga merasa sesuatu yang tak terduga. Dia yang selalu dikenal dengan kepala dinginnya, sekarang merasa sulit untuk tetap tenang saat berada di dekat Ava. Senyumannya yang tulus, kecerdasannya, dan kepolosan yang dia miliki - semuanya membuatnya merasa berada dalam badai emosi yang tidak dia kenali.


Suatu hari, Ava menerima undangan untuk sebuah acara perusahaan yang besar. Acara tersebut akan diadakan di salah satu gedung tertinggi di kota, dan akan dihadiri oleh para eksekutif penting dari berbagai perusahaan. Ava merasa campur aduk. Di satu sisi, dia merasa terhormat dan senang karena dipilih untuk mewakili *Delphi Enterprises*. Namun di sisi lain, dia juga merasa gugup dan tidak yakin apakah dia bisa menghadapi situasi tersebut.


Di malam sebelum acara, Ava duduk di kamarnya, merenung. Matanya tertuju pada benda kecil di atas meja. Sebuah liontin sederhana yang dia temukan beberapa minggu yang lalu. Saat itu, dia menemukannya di lantai saat berjalan menuju ruang rapat. Liontin itu tampak seperti milik seseorang dan Ava tidak bisa mengabaikannya. Dia mengambilnya dan menyimpannya, berharap bisa menemukan pemiliknya.


Tapi sejak itu, Ava merasa seperti liontin itu memiliki arti yang lebih dalam. Dia merasa seperti ada sesuatu yang menghubungkan liontin itu dengan perasaannya terhadap Lucas. Dia merasa gugup, tapi juga merasa aneh karena pikiran semacam itu.


Acara perusahaan berlangsung dalam suasana yang gemerlap. Ava merasa seperti dia tenggelam dalam keramaian, terpesona oleh pemandangan kota yang indah di malam hari. Dia berusaha untuk berbaur dengan para tamu yang hadir, tetapi hatinya berdebar-debar saat dia tahu bahwa Lucas juga ada di acara ini.


Tiba-tiba, Ava merasa seseorang menghampirinya dari belakang. Dia berbalik dan mendapati Lucas berdiri di hadapannya, mengenakan setelan hitam yang elegan. Matanya memancarkan aura yang mendalam dan misterius, tetapi juga penuh dengan kehangatan yang jarang terlihat.

__ADS_1


"Ava," sapanya dengan suara yang tenang.


Ava terkejut, tetapi berusaha untuk tetap tenang. "Mr. Blackwood, selamat malam."


Lucas tersenyum, dan Ava merasa hatinya berdetak lebih cepat. "Tolong, panggil saya Lucas malam ini. Kita di luar suasana kantor."


Ava mengangguk, merasa canggung. "Baik, Lucas."


Mereka berdua berbicara tentang berbagai hal, dari pekerjaan hingga minat pribadi. Ava merasa nyaman berbicara dengan Lucas, dan dia terkejut betapa mudahnya dia membuka diri di hadapannya.


Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba Lucas berhenti dan menatap Ava dengan tajam. "Apa yang Anda pikirkan tentang saya, Ava?"


Ava terkejut dengan pertanyaan itu. Dia merasa seperti Lucas bisa membaca pikirannya. Dia memutuskan untuk jujur. "Saya pikir Anda memiliki banyak lapisan yang tidak terlihat oleh banyak orang. Anda mungkin terlihat dingin, tapi saya merasa ada lebih banyak di dalam diri Anda."


Lucas terdiam sejenak, matanya terkunci pada mata Ava. "Anda benar," ucapnya pelan. "Saya memiliki alasan untuk menjaga jarak. Tapi, sepertinya semakin sulit bagi saya untuk tetap dingin di dekat Anda."


Ava merasa hatinya melompat, tapi dia juga merasa cemas. "Apa yang Anda maksud?"


Lucas tersenyum lembut. "Saya pikir Anda tahu apa yang saya maksud, Ava."


...----------------...


...----------------...


*Akhir Episode 2*

__ADS_1


__ADS_2