Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku

Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku
Episode 4: Momen Kebersamaan


__ADS_3

Episode 4: Momen Kebersamaan


Setelah pengakuan perasaan mereka, hubungan antara Ava dan Lucas semakin erat. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama, mengeksplorasi dunia baru yang mereka bangun bersama. Setiap momen bersama menjadi istimewa, dan mereka berdua merasa seperti mereka menemukan tempat yang benar-benar mereka miliki.


Di tengah pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, Ava dan Lucas sering meluangkan waktu untuk makan siang bersama atau hanya duduk-duduk di taman. Mereka berbicara tentang masa lalu, impian, dan harapan mereka. Mereka berdua merasa bahwa mereka dapat membuka diri satu sama lain tanpa rasa takut.


Pada suatu sore, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Cuaca cerah dan udara segar membuat suasana menjadi begitu menyenangkan. Mereka berjalan berdampingan, berbicara dengan leluasa tentang apa pun yang terlintas di pikiran mereka.


"Ava, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan," ujar Lucas dengan senyum misterius.


Ava menatapnya dengan penasaran. "Apa itu?"


Lucas mengambil tangan Ava dengan lembut, membuatnya merasa hangat di dalam. "Apa impian terbesarmu, Ava?"


Ava merasa malu karena pertanyaan itu, tetapi dia tahu dia harus jujur. "Saya selalu bermimpi memiliki usaha sendiri, tempat di mana saya bisa mengekspresikan kreativitas saya dan memberikan kontribusi positif bagi orang lain."


Lucas mengangguk, matanya penuh dengan pengertian. "Itu adalah impian yang luar biasa, Ava."


"Apa impianmu, Lucas?" tanya Ava dengan penuh minat.


Lucas tersenyum lembut. "Impianku adalah membangun yayasan yang fokus pada pendidikan anak-anak dari latar belakang kurang mampu. Saya percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik."


Ava merasa semakin terkagum-kagum dengan Lucas. Tidak hanya dia seorang CEO yang sukses, tetapi dia juga memiliki hati yang besar dan peduli terhadap orang lain. Dia merasa semakin bersyukur karena telah memiliki pria yang luar biasa ini di hidupnya.


Sementara itu, di balik kedekatan mereka, ada rahasia yang perlahan-lahan terkuak. Ava mulai merasakan bahwa ada hal yang disembunyikan oleh Lucas, sesuatu yang membuatnya ragu. Dia mencoba untuk tidak memikirkan itu, tetapi perasaan kebingungannya semakin kuat.


Suatu hari, ketika mereka sedang duduk di taman, Ava memutuskan untuk bertanya. "Lucas, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"


Lucas terdiam sejenak, dia tampak terkejut oleh pertanyaan itu. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


Ava menggigit bibirnya, merasa canggung. "Ada saat-saat ketika aku merasa seperti kamu memiliki rahasia yang kamu sembunyikan. Aku hanya ingin tahu, apa yang sedang terjadi?"


Lucas menatap mata Ava dengan serius. "Ava, kamu tahu bahwa aku sangat peduli padamu, bukan?"


Ava mengangguk, merasa cemas dengan arah pembicaraan ini. "Tentu, tapi..."


"Tapi ada hal yang aku khawatirkan," lanjut Lucas. "Aku khawatir bahwa ketika rahasia ini terungkap, itu bisa mengubah segalanya antara kita."

__ADS_1


Ava merasa hatinya berdetak lebih cepat. "Apa rahasia itu, Lucas?"


Lucas mengambil napas dalam-dalam. "Aku memiliki penyakit langka, Ava. Aku tidak ingin membuatmu khawatir atau merasa terbebani. Aku ingin menjaga hubungan kita tetap baik-baik saja."


Ava merasa kaget dan bingung. Tapi dia merasa lebih mencintai Lucas setelah mendengar pengakuan itu. "Lucas, aku tidak peduli dengan penyakitmu. Aku peduli denganmu. Kita akan menghadapinya bersama-sama."


Mereka berdua saling berpegangan tangan, merasa kebersamaan dan dukungan yang tak tergoyahkan di antara mereka. Ava merasa bahwa hubungan mereka semakin dalam, semakin kuat, dan dia siap menghadapi segala rintangan bersama Lucas.


Pengakuan Lucas tentang penyakitnya membawa Ava ke dalam perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa khawatir dan prihatin tentang kesehatan Lucas. Di sisi lain, dia merasa semakin dekat dan terhubung dengannya karena pengakuan yang begitu pribadi.


Beberapa minggu berlalu, dan hubungan mereka semakin erat. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari, merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan. Namun, Ava juga merasa beban karena rahasia Lucas yang ia tahu.


Pada suatu pagi, Lucas mengajak Ava pergi bersamanya ke luar kota. Mereka pergi ke sebuah desa kecil yang indah di pinggiran kota. Ava merasa senang dengan perjalanan ini, tetapi dia juga merasa cemas. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang Lucas ingin katakan.


Mereka berjalan-jalan di sepanjang desa, menikmati pemandangan alam dan udara segar. Setelah beberapa saat, Lucas berhenti dan menoleh kepada Ava dengan tatapan serius.


"Ava, aku tahu kamu khawatir tentang rahasiaku," ujar Lucas perlahan. "Aku ingin membukanya denganmu, agar kamu tahu apa yang sedang terjadi."


Ava menelan ludah, merasa tegang. "Apa itu, Lucas?"


Lucas mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Aku memiliki penyakit jantung bawaan. Ini adalah sesuatu yang aku hadapi sejak kecil. Tidak ada obat untuk penyakit ini, dan ada risiko yang terlibat."


"Aku mengerti jika kamu ingin mundur," kata Lucas dengan lembut. "Aku tahu ini adalah beban yang besar. Tapi aku ingin kamu tahu sejujurnya tentang aku."


Ava merasa matanya berkaca-kaca. Dia merasa semakin mencintai Lucas setelah pengakuan ini. Dia merasa bahwa ini adalah saatnya dia mengambil keputusan yang besar.


"Lucas, aku tidak akan pergi," ucap Ava dengan tegas. "Aku ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi. Kita akan menghadapinya bersama-sama."


Lucas tersenyum lembut, matanya penuh dengan rasa syukur. Dia merasa seperti dia telah menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dan menerimanya apa adanya.


Mereka berdua saling berpegangan tangan, merasakan kebersamaan dan kekuatan yang ada di antara mereka. Mereka berjanji untuk saling mendukung dan menghadapi segala rintangan bersama.


Setelah hari yang emosional ini, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kota. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, karena beban rahasia telah diungkap dan mereka merasa lebih dekat daripada sebelumnya.


Di akhir perjalanan, ketika mereka tiba di depan apartemen Ava, Lucas berhenti sejenak. "Ava, aku ingin kamu tahu betapa berartinya kamu bagiku. Aku mencintaimu, lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan."


Ava merasa hangat di dalam hatinya. Dia merasa bahwa ini adalah saatnya untuk mengungkapkan perasaannya juga. "Lucas, aku juga mencintaimu. Kamu membuatku merasa hidup, kamu membuatku merasa istimewa."

__ADS_1


Mereka berdua tersenyum dan saling merangkul dengan erat. Mereka merasakan getaran cinta yang begitu kuat, melebihi segala rintangan dan perbedaan yang mungkin mereka miliki.


Setelah pengakuan perasaan dan pengungkapan rahasia yang mendalam, hubungan antara Ava dan Lucas semakin kuat. Mereka melewati setiap rintangan dengan dukungan satu sama lain, dan cinta mereka tumbuh lebih mendalam setiap harinya.


Hari-hari mereka penuh dengan momen kebahagiaan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan di taman, berbagi makan siang, atau hanya duduk di sofa dengan tangan berpegangan erat. Setiap momen bersama mereka adalah berkah, mengingatkan mereka betapa beruntungnya mereka menemukan cinta sejati dalam diri satu sama lain.


Pada suatu hari, Ava mendapat kabar buruk dari kantor. Proyek besar yang dia tangani mengalami masalah yang serius, dan dia merasa tertekan karena tanggung jawab besar yang ada di pundaknya. Lucas merasa khawatir melihat ekspresi wajah Ava yang tegang, dan dia tahu dia harus melakukan sesuatu.


"Ava, apa yang terjadi?" tanya Lucas dengan suara lembut.


Ava menghela napas, merasa frustasi. "Proyek ini semakin rumit, Lucas. Semua tampak begitu kacau."


Lucas mendekatinya dan meraih tangan Ava dengan lembut. "Kamu tidak sendiri, Ava. Kita akan menghadapinya bersama-sama."


Mereka duduk di sofa, dan Lucas mendengarkan cerita Ava dengan penuh perhatian. Dia memberikan dukungan dan saran yang bijaksana, membuat Ava merasa lebih tenang dan percaya diri.


Setelah berbicara dengan Lucas, Ava merasa lebih baik. Dia merasa seperti beban di pundaknya berkurang, dan dia tahu bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini. Mereka berdua bersama-sama merancang rencana untuk mengatasi kendala yang ada.


Malam itu, setelah Ava kembali dari kantor, dia menemukan Lucas menunggunya di apartemennya dengan makan malam yang lezat. Mereka berdua makan dengan penuh kebahagiaan, berbicara tentang berbagai hal yang tidak terkait dengan pekerjaan.


"Kamu membuatku merasa lebih baik, Lucas," kata Ava dengan senyum.


Lucas tersenyum lembut. "Kamu juga membuatku merasa lebih lengkap, Ava. Kamu adalah inspirasiku."


Setelah makan malam, mereka duduk di sofa dengan cangkir teh hangat di tangan. Mereka berbicara tentang masa depan, tentang impian yang ingin mereka capai bersama. Meskipun ada rintangan dan masalah yang mereka hadapi, mereka tahu bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka bisa mengatasi semuanya.


Pada akhir malam itu, ketika Ava bersiap untuk tidur, Lucas mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Dia memberikannya kepada Ava dengan senyum.


Ava membuka kotak kecil itu dan menemukan liontin yang dia temukan di lantai kantor. Dia menatap Lucas dengan mata penuh kejutan.


"Lucas, ini liontin yang sama," ujar Ava dengan suara terkejut.


Lucas tersenyum. "Aku mengambilnya dan menyimpannya. Aku ingin liontin ini menjadi simbol cinta kita, mengingatkan kita bahwa meskipun ada masalah dan rintangan, cinta kita akan selalu menghubungkan kita."


Ava merasa haru. Dia merasa bahwa ini adalah momen yang begitu indah, dan dia merasa sangat beruntung memiliki pria seperti Lucas di sampingnya.


Mereka berdua berbaring di tempat tidur, berpegangan tangan seperti biasa. Mereka merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam kebersamaan mereka, merasakan getaran cinta yang begitu kuat dan mendalam.

__ADS_1


[Akhir Episode 4]


__ADS_2