Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku

Bos Dingin Jatuh Cinta Kepadaku
Episode 3: Kebingungan yang Menguat


__ADS_3

Episode 4: Kebingungan yang Menguat


Kata-kata Lucas terdengar begitu jujur dan terbuka, membuat Ava merasa terkejut dan bahkan sedikit gugup. Dia tidak tahu bagaimana merespons pernyataan Lucas, karena perasaannya sendiri masih dalam kekacauan.


"Dalam bisnis, saya selalu mengedepankan profesionalisme dan ketegasan," ujar Lucas dengan suara lembut. "Tapi sejak pertama kali bertemu Anda, ada sesuatu yang membuat saya merasa berbeda. Saya merasa ingin tahu lebih banyak tentang Anda, Ava."


Ava menggigit bibirnya, mencoba mengatasi perasaannya yang bercampur aduk. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan berada dalam situasi seperti ini, berbicara dengan CEO yang dikenal sangat dingin dengan begitu terbuka.


"Saya merasa sama," kata Ava dengan suara lirih. "Sejak pertama kali bertemu Anda, saya merasa... terhubung. Tapi saya juga bingung. Bagaimana mungkin seseorang seperti Anda bisa tertarik pada saya?"


Lucas mengangkat alisnya, senyumnya yang lembut membuat hati Ava meleleh. "Apa yang Anda maksud dengan 'seseorang seperti saya'?"


Ava menggelengkan kepala, merasa malu karena perasaannya yang terlalu terbuka. "Saya hanya seorang pegawai biasa di sini. Dan Anda... Anda adalah CEO yang begitu hebat."


Lucas mendekatkan dirinya sedikit lebih dekat pada Ava, membuat hatinya berdegup lebih cepat. "Ava, saya juga manusia biasa. Saya punya rasa dan perasaan. Saya tidak tertarik pada Anda karena status atau jabatan Anda. Saya tertarik pada Anda karena Anda."


Ava menatap mata Lucas, melihat kejujuran dan ketulusan di dalamnya. Dia merasa seperti hatinya akan meledak, tapi ada juga rasa takut yang muncul. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, bagaimana dia harus merespons perasaan yang begitu kuat.


Lucas meraih tangan Ava dengan lembut, membuatnya melihat ke arahnya. "Ava, saya tahu ini mungkin terlalu cepat dan terlalu mengejutkan. Tapi saya ingin Anda tahu bahwa saya ingin mengenal Anda lebih dalam. Saya ingin tahu apa yang membuat Anda tersenyum, apa yang membuat Anda tertawa, apa yang membuat Anda merasa hidup."


Ava merasa air mata mengembang di mata. Dia tidak pernah merasa begitu dihargai, begitu diperhatikan oleh seseorang. Kata-kata Lucas menyentuh hatinya, merangkulnya dalam kehangatan yang tak terduga.


"Lucas, saya juga merasa hal yang sama," ucap Ava dengan suara gemetar. "Tapi saya bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan."

__ADS_1


Lucas tersenyum dan melepaskan genggamannya dari tangan Ava. "Kita bisa melaluinya bersama. Kita bisa mengambil langkah perlahan, mengenal satu sama lain. Saya tidak ingin membuat Anda merasa terpaksa."


Ava mengangguk, merasa lega. "Saya ingin mengenal Anda juga, Lucas."


Mereka berdua saling tersenyum, merasakan getaran perasaan yang tumbuh di antara mereka. Meskipun masih banyak yang harus dijelajahi dan dipahami, mereka berdua merasa bahwa ini adalah awal yang menakjubkan dari sesuatu yang istimewa.


Tak lama setelah itu, mereka mendapati diri mereka terlibat dalam percakapan yang dalam dan penuh makna. Mereka berbicara tentang impian, ketakutan, dan harapan mereka. Mereka berbagi cerita tentang masa lalu dan merencanakan masa depan.


Di antara semua kecanggungan dan kebingungan, Ava merasa bahwa dia telah menemukan seseorang yang bisa dia percayai sepenuhnya. Lucas, yang dikenal sebagai CEO yang dingin, kini adalah seseorang yang telah membuka hatinya padanya.


Hubungan antara Ava dan Lucas berkembang dengan cepat. Mereka menjadi semakin akrab dan saling mengenal satu sama lain dengan lebih dalam. Setiap hari, mereka menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang apa pun yang ada di pikiran mereka, dari pekerjaan hingga impian pribadi.


Saat Ava duduk di ruang kerjanya, dia tersenyum melihat gambar liontin yang masih ada di meja. Liontin itu telah menjadi lambang perasaannya terhadap Lucas. Dia merasa seperti liontin itu memiliki keajaiban, menghubungkan mereka dalam cara yang tak terduga.


Ketika malam tiba, Ava tiba di restoran dengan penuh harap-harap cemas. Dia mengenakan gaun sederhana yang elegan, merasa agak gugup dengan penampilannya. Saat dia memasuki restoran, matanya langsung mencari Lucas.


Dan di sana dia berdiri, mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat lebih tampan dari biasanya. Senyum lembutnya ketika dia melihat Ava membuat hati Ava meleleh. Dia merasa begitu beruntung bisa ada di sini, bersama pria yang dia mulai cintai.


"Kamu terlihat luar biasa," ujar Lucas sambil mendekatinya.


Ava merasa pipinya memanas, tetapi dia tersenyum. "Terima kasih. Kamu juga terlihat luar biasa."


Mereka duduk di meja yang telah dipesan, dan malam itu terasa istimewa. Mereka berbicara tentang banyak hal, tertawa bersama, dan menikmati hidangan lezat yang disajikan. Ava merasa bahwa dia merasa nyaman di samping Lucas, dan dia merasa seperti mereka telah melalui begitu banyak bersama, meskipun baru sebentar.

__ADS_1


Setelah makan malam selesai, mereka berjalan-jalan di sepanjang jalan yang penuh dengan lampu-lampu kota yang berkilauan. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, karena getaran perasaan mereka sudah cukup kuat untuk berbicara sendiri.


Tiba-tiba, Lucas berhenti dan menghadap Ava dengan tatapan lembut. "Ava, ada sesuatu yang ingin saya katakan padamu."


Ava merasa hatinya berdetak lebih cepat. "Apa itu?"


Lucas mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Ava. Ava memandang benda itu dan merasa terkejut. Itu adalah liontin yang dia temukan di lantai, lambang perasaannya terhadap Lucas.


"Dari saat pertama kali Anda menemukan liontin ini, saya merasa seperti kita telah terhubung," ujar Lucas. "Ava, apakah Anda mau menjadi pacar saya?"


Ava terdiam, merasa seperti dunia berputar di sekitarnya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa saat ini akan tiba, dan dia merasa begitu bahagia.


"Lucas, tentu saja!" jawab Ava dengan suara yang gemetar.


Lucas tersenyum lebar dan memasang liontin itu di leher Ava. Mereka berdua merasa seperti saat ini adalah momen yang ditunggu-tunggu, momen ketika perasaan mereka diakui dengan jelas.


Mereka berdiri di tengah kota yang penuh dengan cahaya, merasakan kebahagiaan yang mengalir di antara mereka. Semua keraguan dan kecemasan terasa hilang saat mereka saling melihat dengan penuh cinta.


"Ava, saya ingin Anda tahu betapa istimewanya Anda bagiku," ujar Lucas dengan lembut. "Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan merasakan ini. Tapi dengan Anda, semuanya terasa benar."


Ava tersenyum dan merasa hatinya penuh dengan rasa syukur. Mereka berdua merangkul, merasakan getaran cinta yang tak terbatas di antara mereka.


Akhir Episode 3

__ADS_1


__ADS_2