Bosku Ternyata Vampir

Bosku Ternyata Vampir
Bab 22


__ADS_3

Ketika Lucifer Tera juga sudah meletakkan batu pusaka dan membaca mantra untuk mengimbangi kekuatan dahsyat David Hughes tersebut semua yang ada di sekeliling mereka menatap dengan mata yang takut dan juga cemas.


Dia kekuatan besar itu jika bertemu, maka tak bisa di bayangkan seperti apa kehancuran yang terjadi nanti. Seperti apa efek dari dua kekuatan besar tersebut. Meski tak memakai seluruh kekuatan mereka, tapi pasti akan banyak anggota klan yang terluka. Apalagi vampir dengan kualifikasi kekuatan rendah, atau vampir kelas rendah. Mereka pasti akan terbakar dan mati.


"Habis lah kami David Hughes... Piatră de sfărâmare comună....!"


Setelah berteriak seperti itu, Lucifer Tera langsung mengarahkan batu yang sudah berwarna biru gelap itu ke arah David Hughes.


David Hughes juga dengan cepat mengarahkan tangannya ke arah Lucifer Tera.


Blaarrrrr


Semua mata memandang dengan terkejut, mengetahui dua kekuatan itu meledak di udara. Memang meledak, tapi tidak bertemu satu sama lain. Sebelum bertemu dia kekuatan besar itu sama-sama meledak di udara.


"Cornel!" pekik Lucifer Tera dengan mata marah.


Lucifer Tera marah, seharusnya kekuatan itu bisa melukai sangat parah David Hughes. Tapi malah percuma, dia harus menunggu satu kali dia puluh empat jam untuk mengambilkan kekuatan batu pusaka itu sebelum dapat di gunakan.


Sementara David Hughes terdiam, semua ini sudah dia prediksi sebelumnya. Cornel adalah putra Rechter tertinggi. Artinya Rechter sudah tahu hal ini akan terjadi. David Hughes juga sudah memprediksinya.


Sementara nyonya Rebecca yang juga berada di sana terlihat senang. Dia menghela nafasnya lega. Setidaknya ada yang benar-benar akan mengambil keputusan secara adil tanpa memihak. Dan pastinya Rechter tahu yang terbaik untuk wilayah barat.


Mata semuanya menatap ke arah Cornel yang terlihat agung. Jangan tanya seperti apa Bella melihat pria tampan berkacamata itu. Matanya sampai hampir lepas, mulutnya tak berhenti menganga, taring yang ada di sudut bibirnya bahkan langsung menghilang.


"Jika ingin musnah, katakan saja pada Rechter! tidak perlu kalian saling melukai dan merusak hutan yang indah ini!" ucapannya sangat tenang namun setiap kata yang Cornel ucapkan mampu membuat sendi-sendi vampir yang mendengarkan terasa mau patah, sakitnya benar-benar tak bisa membuat mereka berdiri.


Beberapa vampir kelas rendah langsung ambruk. Bahkan Louis yang memang tidak bisa tahan dengan ilmu hipnotis dan semacamnya langsung terduduk dengan tumpuan kedua lututnya.


Cornel langsung berjalan pelan dengan langkahnya yang setiap langkah mampu membuat vampir yang berdiri di garis itu ambruk atau terduduk kesakitan.


Cornel melangkah ke hadapan David Hughes.


"Dimana wanita suku Baigi itu?" tanya Cornel dengan tatapan dan nada bicara sangat datar.

__ADS_1


"Jangan libatkan dia!" seru David Hughes tak terima.


"Aku hanya bersopan santun padamu sebagai pemimpin wilayah barat, dengan atau tanpa ijinmu pun aku bisa membawanya pada Rechter!" tegas Cornel.


Dan setelah mengatakan itu Cornel menghilang. David Hughes, Lucifer Tera dan Abigail Clayton juga menghilang dari tempat itu.


Semua panik, terlebih lagi Bella Tera.


"Ayah!" teriak Bella.


Hugo juga langsung mendekati Louis untuk membantunya berdiri.


"Ke rumah, Hugo... pelindung rumah untuk melindungi Nadia. Sudah hancur oleh anak Rechter itu!" kata Louis lemah.


Hugo tanpa banyak bicara langsung mengangguk paham. Keduanya langsung menghilang dari tempat itu secepat yang mereka bisa.


Sementara yang lain bingung, nyonya Rebecca meminta mereka membubarkan diri.


"Kalau kalian masih mau hidup. Maka pergi dari sini. Jangan pernah memulai konflik lagi. Rechter sudah turun tangan, jangan macam-macam!" kata nyonya Rebecca dengan wajah serius.


"Berhenti menentang takdir Bella Tera, David Hughes tidak akan pernah bersamamu, begitu pula Cornel. Jika aku jadi kamu, aku akan pulang dan mengintropeksi diri!" ucap nyonya Rebecca yang langsung menghilang bersama pasukannya.


Meninggalkan Bella Tera yang terlihat sangat kesal luar biasa.


Nadia yang sedang berada di rumah sendirian, terus bergerak mondar-mandir di depan pintu. Dia ingin pergi melihat apa yang terjadi, tapi dia juga tidak tahu harus pergi kemana.


Hasilnya sejak tadi Nadia memang hanya seperti setrikaan saja, bolak-balik karena sangat gelisah.


Tapi saat Nadia tengah resah memikirkan David Hughes, angin kencang tiba-tiba bertiup. Suara benda retak sangat keras terdengar, membuat Nadia lantas menutup pintu yang tengah terbuka. Saat Nadia ingin menguncinya, dia merasa ada seseorang atau sesuatu di belakangnya.


Dan begitu Nadia berbalik. Dia melihat seorang pria dengan setelan jas hitam garis-garis juga kacamata seperti bangsawan jaman dulu menatap datar ke arahnya.


"Si... siapa kamu?" tanya Nadia panik karena memang tak pernah melihat pria itu sebelumnya.

__ADS_1


Apalagi dia masuk entah darimana. Tentu saja Nadia sangat panik di buatnya.


Pria itu memperhatikan Nadia Daru ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat Nadia tambah ngeri. Saat dirinya menghadap ke pria itu, tangan Nadia perlahan membuka kunci pintu. Tapi anehnya, kunci pintu itu tidak mau mengikuti gerakan Nadia. Sepertinya malah kunci itu begitu keras dan tak bisa di putar oleh Nadia.


Nadia bertambah panik, dia yakin kalau pria yang ada di depannya itu juga bukan manusia biasa.


Tanpa bicara, pria itu mengulurkan tangannya ke arah Nadia.


Dan dengan sendirinya, Nadia bergerak maju ke arah pria itu. Nadia sangat terkejut, bahkan dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Benar-benar tak bisa menggerakkan tangan, kaki dan semua anggota tubuhnya.


Grepp


Pria itu memeluk pinggang Nadia, membuat Nadia sangat takut. Bahkan mulutnya tak bisa terbuka saat Nadia ingin mengatakan sesuatu pada pria tersebut. Tatapan pria itu membuat Nadia takut.


"Suku Baigi yang terakhir rupanya, menarik!" kata pria itu di depan Nadia.


Nadia bahkan tak mengerti apa yang dikatakan pria itu dan kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Tiba-tiba saja Nadia merasa seperti di angkat. Karena terkejut Nadia pun memejamkan matanya, dan dia pun merasa aneh. Kenapa kekuatan Louis, Hugo bahkan David tak berpengaruh pada Nadia. Kenapa kekuatan pria ini bisa membuatnya tak bisa bergerak.


Ketika Nadia merasa kakinya kembali menyentuh lantai. Nadia membuka matanya.


"Nadia!"


Suara itu sangat familiar, Nadia berbalik dan ternyata itu adalah suara David Hughes. Nadia ingin berlari ke arah David, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.


"Lepaskan dia Cornel!" pekik David Hughes geram.


"Lepaskan Cornel, kenapa senang sekali menghabiskan tenaga mu sendiri!" kata Enrique yang datang menghampiri Cornel.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Cornel membuat David Hughes matanya berubah dari biru menjadi merah.


Lucifer Tera dan Abigail Clayton yang ada di sana pun terkejut mendengar pernyataan putra Rechter yang terkenal tidak suka berurusan pada makhluk yang di sebut wanita.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2