Bukan Novel Romansa Dalan Kuil Suci

Bukan Novel Romansa Dalan Kuil Suci
4


__ADS_3

Tanpa menunggu aula pemujaan kosong oleh para jemaah, aku dan para pelayan langsung meninggalkan tempat. Walaupun mereka disebut pelayan, sebenarnya mereka adalah pendeta. Tentu saja 'pelayan' orang suci tidak akan menjadi orang biasa. Mereka juga mempunyai kekuatan suci, tentu saja tidak diberkati seperti milikku. Mereka juga memegang posisi yang sangat penting di Kuil Suci, tentu saja dengan aku sebagai bosnya.


Beberapa pelayan yang tidak membawakan harpa pergi menemaniku menuju ke kediamanku. Aku masih saja belum terbiasa dengan tempat ini. Diriku adalah penguasa tempat ini. Jadi, aku pikir wajar jika kediamanku terletak di sudut yang dalam dan terpencil, dengan kata lain lebih privat, dan wajar saja jika aku terkadang masih tersesat. Sebenarnya, untuk mengidentifikasi kediamanku itu mudah; kediamanku ada di lantai paling atas dan di sana hanya ada milikku. Selain itu, hanya orang-orang dengan seizinku yang dapat menginjakkan kakinya di sana, membuat kediamanku menjadi tempat paling sepi di Kuil Suci. Meski begitu, ada terlalu banyak lorong di lantai-lantai bawahnya dan lebih banyak hutan daripada bangunan di area Kuil Suci. Hal ini terkadang membuatku kesulitan mencari tangga. Ditambah, area Kuil Suci sangatlah luas. Tidak seluas kota, tetapi aku pikir seluas satu kecamatan. Serius, aku sama sekali tidak melebih-lebihkan.


Di dunia ini, sihir itu ada. Namun, yang membuatku merasa konyol adalah mengapa sihir seperti sihir terbang sama sekali tidak ada?! Bukankah dalam kebanyakan film dan novel, sihir terbang selalu diceritakan sebagai sihir yang paling dasar? Aku harus menaiki lebih dari empat ratus anak tangga dengan kakiku, ngomong-ngomong! Namun, tidak apa-apa. Aku tidak tega menyuruh mereka untuk menggendongku sampai ke atas dan aku juga tidak ingin digendong, sekalian berolahraga.


Dalam sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Aku sendiri tidak ingin berbicara dengan mereka. Diriku saat ini sedang sibuk mencetak rekor baru. Terakhir kali, aku dapat menaiki seratus anak tangga tanpa istirahat dan sekarang, aku telah melewati anak tangga yang ke-110! Tanpa istirahat!


"Berhenti," kataku. Sayang sekali aku kelelahan setelah anak tangga ke-113. Aku duduk begitu saja di anak tangga, tidak khawatir akan pakaianku yang menjadi kotor. Untungnya, sihir untuk membersihkan kotoran secara instan ada.

__ADS_1


Aku pun menatap pelayan-pelayan di depanku ini. Oh, lihatlah mereka! Mereka mempunyai sepasang kaki yang luar biasa. Kaki-kakiku rasanya sudah seperti agar-agar, sedangkan mereka, masih berdiri tegak! Mereka kemudian balas menatapku, dengan senyum tertutup di wajah mereka. Aku membalas mereka hanya dengan tatapan. Aku ingin tersenyum balik kepada mereka, tetapi aku tidak bisa. Bukan karena aku lebih peduli tentang statusku sebagai orang suci atau apa, tetapi, sekali lagi, ada sesuatu yang mengontrol ekspresiku. Aku pikir hal ini terkait dengan kepribadian dari tokoh Yang Mulia Aeris. Aku sama sekali bukan seseorang yang mahal senyum, meski aku adalah orang yang tidak banyak bersosialisasi.


Tidak tahu sudah berapa lama aku duduk, aku akhirnya berdiri. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku merapalkan mantra untuk membersihkan semua kotoran yang menempel di pakaianku secara instan. Kemudian aku memberi sebuah tatapan yang menyiratkan 'aku akan menaiki tangga' ke salah satu pelayan.


Pemandangan sepanjang tangga sangatlah indah. Kanan dan kiriku benar-benar penuh pepohonan. Beberapa ranting dengan dedaunan lebat saling menjulur seolah-olah membentuk langit-langit alami. Saat ini belum memasuki musim gugur, sehingga diriku tidak dihujani oleh daun secara dramatis. Sayang sekali aku tidak bisa mengabadikan penampakan yang sangat indah ini .... Betapa menyenangkannya jika aku bisa mendapatkan lukisan diriku yang sedang berdiri di tengah-tengah momen ini ....


Akhirnya, aku telah sampai di kediamanku. Seperti biasa, aku hanya meninggalkan para pelayan tanpa memberikan salam perpisahan maupun ucapan terima kasih. Kasar? Ya ... jika bukan karena ekspresiku dikontrol oleh sesuatu yang tidak aku ketahui ini ....


Begitu pintu ditutup, aku langsung memerosotkan diriku di lantai. Kakiku pegal sekali, ah! Ngomong-ngomong, aku masih perlu beberapa ratus langkah lagi untuk sampai ke kamarku. Serius, aku perlu seseorang untuk menggendongku ....

__ADS_1


Mungkin aku terdengar berlebihan, tetapi kalian harus tahu bahwa aku sama sekali tidak mempunyai kebiasaan berolahraga dan sepertinya stamina tubuh Aeris mengikuti stamina asliku. Secara logika, Aeris harusnya tidak mudah kelelahan seperti ini, kecuali jika dia juga tipe karakter yang lebih suka diam di kamar dan membaca novel sepertiku ....


Payah sekali diriku ....


Bagaimanapun, aku masih harus jalan kaki sendiri.


Arsitektur lorong ini seperti lorong kastil Eropa abad pertengahan pada umumnya. Meskipun terang oleh pencahayaan dari obor-obor yang tidak akan pernah padam ini, aku tetap tidak bisa untuk tidak merasa takut. Jika yang sekarang berjalan adalah aku yang dulu, tentu saja aku akan berlari sekencang mungkin mencari jalan keluar sambil menangis. Namun, tentu saja saat ini aku berjalan dengan beraninya, karena, ya, lagi-lagi oleh sebab yang sama dengan aku yang tidak bisa mengontrol ekspresiku.


Di sepanjang lorong tertutupi oleh mural dan relief. Aku tidak tahu siapa yang membuat semua ini dan menceritakan tentang hal apa saja, tetapi sepertinya tentang kehidupan di alam atas, alam bawah, dan masa kejayaan beberapa orang-orang suci. Namun, dinding dan langit-langit di sepanjang lorong sepertinya didominasi oleh kisah orang-orang suci sebelumnya. Aku melihat banyak sekali relief dan mural yang menggambarkan tentang seorang manusia yang berhasil menusuk makhluk seperti iblis dengan sebuah pedang yang diselimuti oleh cahaya. Seolah-olah sebuah loop, makhluk yang ditusuk selalu sama, hanya manusia yang menusuknya saja yang berbeda. Aku pikir ini ada kaitannya dengan tugas orang suci yang mengalahkan kegelapan, mungkin?

__ADS_1


Aku juga melihat satu dinding penuh dengan lukisan-lukisan yang menyeramkan dan bertemakan kegelapan, sepertinya menceritakan alam bawah. Kemudian yang terakhir adalah sebuah dinding yang sepertinya menceritakan alam atas karena aku hanya melihat kekosongan. Aku sendiri sedikit tidak percaya jika dinding ini tidak menceritakan apa-apa. Jadi, aku berasumsi bahwa dinding ini menggambarkan alam atas. Dalam novel, dunia ini diceritakan hanya memiliki satu dewa. Kalau dianalis menggunakan ilmu cocoklogi, 'alam dewa', 'alam atas', ataupun 'alam surga' di dunia ini adalah sebuah alam yang sangat sepi, sehingga seolah-olah 'kosong' karena hanya ada dia di situ. Maksa banget? Namanya juga cocoklogi. Namun, terlepas dari hal itu, aku juga belum melihat relief maupun mural disepanjang lorong ini yang sekiranya menggambarkan tentang tipikal alam atas---penuh keindahan, taman bunga, dan sebagainya.


Satu hal yang pasti adalah semua ini dibuat dengan luar biasa apik.


__ADS_2