Bukan Novel Romansa Dalan Kuil Suci

Bukan Novel Romansa Dalan Kuil Suci
6


__ADS_3

Kanan dan kiri jalan penuh sesak oleh orang-orang. Namun, jangan tertipu. Aku juga mengira bahwa suasananya pasti akan penuh kebisingan, yang terjadi justru sebaliknya. Suasana di sepanjang jalan tidak jauh berbeda dengan suasana peribadatan di Kuil Suci. Orang-orang ini hanya diam menatapku, sedangkan aku duduk manis sambil memainkan lira di dalam kereta kuda yang terbuka. Ini adalah pengalaman pertamaku untuk diarak seperti ini dan melihat sorot-sorot penuh pemujaan itu benar-benar membuatku merasa canggung. Jiwa persamaan derajatku tidak tahan untuk berteriak, "Aku juga manusia sama seperti kalian!"


Sekarang aku sedang melakukan sebuah kegiatan yang hanya dilakukan setiap satu tahun sekali, yaitu kegiatan menyapa seluruh kerajaan. Tentu saja aku tidak sendiri, aku ditemani oleh satu pelayanku dan puluhan kesatria Kuil Suci. Ngomong-ngomong, tanganku sudah memainkan melodi yang sama berulang-ulang semenjak langit masih cerah hingga kini hampir ditelan oleh gelapnya malam ... tanpa berhenti dan asal kalian tahu, jari-jariku tidak pegal sama sekali.


Tidak heran, sih. Aku saja dapat menanggung hampir satu tahun penuh tanpa tidur, hal-hal kecil seperti ini bukan apa-apa.


"Yang Suci, kita akan tiba di kastel," ucap si kusir, yang juga merupakan kesatria Kuil Suci, keras di tengah-tengah entakan kaki kuda-kuda dan permainan liraku yang semakin terdengar nyaring seiring dengan jalanan yang perlahan-lahan sepi oleh bangunan dan warga, entah karena hari menjelang malam atau karena rombongan kami mulai memasuki komplek kastel.


Tak lama kemudian, sebuah gapura super besar dan tinggi terlihat dari kejauhan. Gapura itu disambungkan dengan tembok, sehingga terlihat seperti kebanyakan benteng abad pertengahan di Eropa. Aku tidak bisa mendeskripsikan arsitekturnya dengan baik, yang jelas tidak seperti kebanyakan gapura di Indonesia yang tidak disambungkan dengan tembok, hanya dipasang di sisi kanan dan kiri jalan. Kalau kalian pernah mengunjungi atau melihat benteng pasti tahu apa yang sedang aku maksudkan.


Sekelompok penjaga yang sedang berpatroli di atas kuda mereka pun langsung mengelilingi kami. Aku pikir mereka tahu bahwa rombongan kami adalah rombongan dari Kuil Suci. Tidak mungkin mereka tidak tahu, mereka seharusnya dapat mengidentifikasi kereta dan pakaian kesatria Kuil Suci. Namun, aku pikir mereka tetap menghentikan kami karena profesionalisme.


"Kami dari Kuil Suci," jawab salah satu kesatria barisan depan kepada pimpinan kelompok penjaga. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata, "Silahkan masuk." Penjaga-penjaga itu lalu menepi---memberi jalan untuk kami---setelah mendengar jawaban dari pemimpin mereka. Sebelum berangkat, para kesatria turun dari kuda dan menyalakan lentera yang terpasang di leher kuda.

__ADS_1


Kemudian salah satu penjaga mengambil baris depan, menuntun kami. Ternyata, perjalanan masih cukup panjang untuk benar-benar sampai di kastel. Jalanannya berliku-liku dan menanjak, sepertinya kastel ini dibangun di daerah dataran tinggi, diperkuat dengan adanya hutan lebat di sepanjang jalan. Aku merasa aku sedang memasuki wilayah kastel terpencil milik bangsawan vampir berumur ribuan tahun. Sangat horor. Apalagi, sekarang benar-benar gelap. Meskipun di sekitar kami cukup terang oleh pencahayaan lentera, suasananya masih terasa horor. Benar-benar sunyi, tidak ada satu pun dari rombongan yang mengeluarkan suara. Hanya derap kuda, suara jangkrik, dan deru angin malam yang terdengar ritmis.


Tidak tahan, aku memainkan lira.


Akan tetapi, sepertinya aku salah langkah. Entah mengapa suasananya tambah mengerikan. Aku mendapat ilusi bahwa aku adalah peri hutan cantik tetapi jahat yang sedang menghipnotis mangsa manusia dengan melodi musik yang indah ....


Aku menghela napas dan meletakkan kembali lira ke sampingku.


"Yang Suci, sebentar lagi kita akan sampai." Sesuai perkataan si penjaga, sebuah gapura kecil terlihat setelahnya. Jalanan setelah gapura sudah berbeda. Jika sebelumnya adalah tanah, sekarang adalah batu-batu yang dijajar dengan rapi, seperti di-paving.


Tidak semua kesatria turun menemaniku. Aku hanya ditemani oleh pelayanku dan seorang kesatria. Sisanya mungkin sedang menuju ke istal untuk memarkirkan kuda dan kereta.


Di tengah-tengah lobi, kami disambut oleh beberapa penjaga kastel dan seorang pria yang aku yakini sebagai pangeran ...? Pria itu tidak memakai baju zirah seperti yang lain, melainkan satu set baju yang menunjukkan bahwa si pemakai adalah seorang bangsawan. Selain itu, dia terlihat masih muda, seperti diusia 20-an atau dibawahnya sedikit dan terutama dia sangatlah tampan.

__ADS_1


Dia tersenyum dan membungkukkan badannya. Tepat setelahnya, tubuhku balas membungkuk dengan sendirinya. Meski aku hanya membungkuk singkat dan tidak cukup rendah, bukankah orang suci adalah eksistensi terkuat dan termulia setelah dewa di dunia ini? Aneh, untuk apa tubuh ini membungkuk?


Dia mengulurkan tangannya. Tanganku dengan sendirinya terulur di atas tangan pria ini. Kemudian, dia membawa telapak tanganku ke bibirnya, mencium buku-buku jariku dengan lembut. "Selamat datang di Kerajaan Annairam, Yang Suci. Izinkan hamba memperkenalkan diri. Nama hamba adalah Xavier dan hamba adalah putra mahkota saat ini."


Sepertinya benar bahwa orang suci adalah eksistensi tertinggi kedua. Kalau tidak, tentu orang sekelas putra mahkota tidak akan membahasakan dirinya sebagai hamba dan memberi tahu namanya dengan ceroboh .... Rupanya Aeris cukup murah hati untuk membungkuk.


"Izinkan hamba untuk menemani Yang Suci ke kamar yang telah dipersiapkan."


"Panggil pelayan dan antarkan sang kesatria beserta pelayan Yang Suci ke kamarnya." Pria ini lalu melambaikan tangannya ke sekelompok penjaga, mengisyaratkan untuk pergi.


Hanya tersisa aku dan pria ini. Dia berjalan di depan, sedangkan aku mengikutinya di belakang. Dia berbicara tanpa henti disepanjang perjalanan. Awalnya, dia berusaha mengajakku berbicara, tetapi Aeris adalah tipe orang yang tidak suka bicara dan dingin. Tentu saja pria ini mendapatkan keheningan sebagai jawaban. Dia pun mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya, terutama kehidupan masa kecilnya.


"Yang Suci, ini adalah kamar Anda. Jika ada sesuatu, Anda cukup membunyikan bel di kamar, tidak perlu keluar mencari pelayan. Hamba akan memerintahkan beberapa pelayan untuk berjaga di sini segera." Dia membungkuk sebentar sebelum pergi.

__ADS_1


Aku langsung masuk dan menutup pintu kamar dengan punggungku.


Kalian tahu, kesimpulan yang aku dapat dari cerita putra mahkota adalah umurku jauh lebih tua darinya. Ternyata, pertemuan ini adalah pertemuan yang kesekian kalinya. Aeris pertama kali melihatnya ketika putra mahkota masih seorang anak-anak dan mereka rupanya cukup 'dekat'.


__ADS_2