
Dia akan menunggu sampai semua tidur sebelum ia memulai. Aku akan tetap berbaring dan berpura-pura tidak sadar, tapi suaranya akan terus ada. Lolongan lemah dalam keputusasaan setiap dia memohon dan mengemis padaku. Memaksaku untuk membantunya untuk mengakhiri hidupnya.
Di siang hari, aku akan berbicara kepada kekasihku tentang malam tanpa tidur kami. Rasa kasihan diwajahnya begitu ketara. Begitu tak berdaya dan pasrah. Ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan. Semua penderitaan harus ditahan oleh dia. Dan sebagai teman, Aku orang kepercayaannya. Satu-satunya orang yang nyaman untuk ia ajak bicara untuk terisak dan untuk diteriaki.
Tidak ada yang keliru jika efek dari stres kini menimpaku. Berat badanku bertambah. Aku tidak nyaman bergerak. Aku semakin depresi. Dokter kami tahu dia punya masalah. Ia tahu sesuatu. Itulah kata yang mereka gunakan. Sesuatu ada yang salah dengan dia! Dokter hanya tak bisa memutuskan itu apa. Yang artinya ia tak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Semalam, kami mengalami masa puncak. Selama berjam-jam, dia terus berteriak menulikan dengan kekuatan yang tak masuk akal. Dia menceritakan padaku dengan rinci soal penderitaannya yang abadi. Penderitaan yang ku lawan dengan begitu lambatnya. Jeritannya mereda begitu energinya menguap. Seperti malam-malam sebelumnya. Tetapi bukannya terisak sedih dan memohon, nadanya berubah sinis kali ini. Kata-katanya berubah menjadi kasar.
“ Aku akan membunuhmu, " dia berbisik. “ Akan kubelah tubuhmu. "
Napasku tertahan di kerongkongan. Dia tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya. Semua ucapan dengkinya selalu dia tujukan pada dirinya sendiri. Ini baru terjadi. Mengerikan.
__ADS_1
Penyebutan si kembar membuatku melompat dari tempat tidur dengan geram dan marah. Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia akhirnya tahu apa yang diperlukan bagiku untuk setuju.
Aku mulai menangis saat membuat persiapan yang begitu kutakuti sejak malam pertama dia memohon padaku untuk mengakhiri hidupnya. Aku tidak mengucap sepatahpun padanya begitu aku siap. Dia terus memanggil dan bertanya apa yang sedang ku lakukan. Aku tidak menjawab. Dia sudah terlalu lemah untuk berteriak. Terlalu lelah. Semua yang dia ucapkan hanyalah kata-kata menyedihkan dan kalimat semacam, “ kumohon… " dan, “ Aku sangat kesakitan. ” kata yang ku dengarkan lagi, lagi dan lagi, tapi sekarang ada tambahan sinis “ " " Atau... kalau tidak… ”
Aku tahu jika ku lakukan apa yang dia minta, aku akan masuk ke dalam penjara. Tapi dengan begini, paling tidak aku akan hidup. Jika aku berhati-hati, aku bisa meminta teman baikku untuk membantu menyembunyikan jasadnya. Mereka sudah mengatakannya dahulu di masa kelam saat ku kunjungi kenyamanan mereka setelah berbulan-bulan tanpa malam yang tenang.
__ADS_1
Akhirnya segalanya siap, dia menyadari apa yang terjadi. Dia menang. Aku merasa muak. Sebagian diriku tahu aku melakukan hal yang benar bahwa penderitaan yang dia tahan sudah terlalu banyak untuk dialami oleh siapapun. Tapi sebagian yang lain yang lebih besar melakukannya karena alasan lain. Aku ingin dia mati. Aku ingin dia pergi dari hidupku, pergi dari hidup putriku, dan pergi dari lingkaran teman dan seluruh keluarga.
Kami pergi ke kamar mandi di mana semua dapat digosok hingga bersih. Beberapa waktu kemudian, 8 bulan penderitaan tanpa tidur kami akhirnya berakhir. Jeritannya berhenti. Permohonannya berhenti. Penderitaannya berhenti. Tak ada yang tersisa selain aku dan jasadnya dan darah. Darah di bak mandi. Darah di tanganku. Darah di hanger baju.