
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik jelita yang berasal dari kerajaan Kediri bernama Dewi Sanggalangit. Tak hanya memiliki paras yang elok, ia juga dikenal memiliki kepribadian yang baik. Maka dari itu, banyak sekali raja maupun pangeran dari kerajaan lain yang berminat untuk menikahinya.
Sayangnya, sang putri sepertinya belum berniat untuk membangun rumah tangga. Hal tersebut membuat raja dan ratu bingung, terlebih lagi mereka sudah menginginkan untuk menimang cucu.
Pada suatu hari, raja bertanya kepada Dewi Sanggalangit. “Anakku, sampai kapan kau akan menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?” tanyanya.
“Ayahanda, sebenarnya hamba belum berniat untuk memiliki suami. Kalau ayahanda sangat mengharapkannya, baiklah hamba mau. Akan tetapi, hamba akan meminta sebuah syarat yang harus dipenuhi,” jawabnya.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai syarat tersebut, sang putri belum bisa menjawabnya. Ia pun meminta waktu untuk bersemedi dan memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.
Setelah tiga hari tiga malam melakukan semedi, akhirnya Dewi Sanggalangit menemukan jawabannya. Ia kemudian menemui sang ayah dan menyampaikan apa yang diinginkannya.
Syaratnya adalah sang calon suami nanti harus bisa membuat sebuah tontonan menarik berupa tarian yang belum pernah ada sebelumnya. Nantinya, juga harus dilengkapi dengan barisan kuda kembar berjumlah seratus empat puluh ekor. Tak hanya itu saja, pada tontonan tersebut nantinya juga harus ada binatang berkepala dua.
Meski merasa persyaratan tersebut cukup berat, Baginda Raja tetap mengumumkannya pada khalayak ramai. Siapa pun yang sanggup boleh mengikuti sayembara tersebut.
Ketika mendengar mengenai syarat tersebut, banyak dari raja dan pangeran yang awalnya menggebut-gebu untuk ikut lantas memilih mundur. Pada akhirnya, hanya dua orang saja yang tersisa, yaitu Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin dan Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya.
Saat mengetahui bahwa kedua kandidat tersebut yang menyanggupi, sang raja awalnya begitu terkejut. Pasalnya, kedua orang ini memiliki reputasi yang bisa dibilang kurang baik. Namun, karena sayembara sudah diumumkan, maka tak ada alasan untuk membatalkannya.
Singabarong adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi yang memiliki kepala berwujud singa. Rambutnya begitu lebat dan penuh kutu. Ia memiliki burung merak yang digunakan untuk mematuki kutu-kutunya.
__ADS_1
Ia dikenal sebagai seorang raja begitu bengis dan kejam. Ia tak segan-segan untuk membunuh orang yang tidak mematuhi perintahnya. Selain itu, ternyata ia juga sudah memiliki banyak sekali selir. Hanya saja, ia belum memilih siapa yang menjadi permaisuri karena merasa tidak ada yang pantas, kecuali Dewi Sanggalangit.
Sementara itu, Raja Kelana Swandana memiliki wajah yang tampan dan gagah. Ia pun bisa memerintah kerajaannya dengan baik.Sayangnya, ia memiliki kekurangan, yaitu menyukai anak laki-laki.
Hingga pada suatu hari, ia bermimpi bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik. Ia kemudian mengumpulkan para pejabat istana dan pendeta. Mereka pun sepakat dan berpendapat bahwa gadis tersebut dapat menghentikan kebiasan buruk rajanya.
Maka dari itu, para tetua setuju jika sang raja mengikuti sayembara Dewi Sanggalangit. Mereka percaya bahwa gadis yang ada di mimpi rajanya adalah putri dari Kediri tersebut.
Tidak ingin membuang-buang banyak waktu, kedua raja tersebut kemudian mulai berusaha untuk memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Dewi Sanggalangit. Singabarong sendiri sudah memerintahkan abdi-abdinya untuk mencari kuda kembar. Ia juga menyuruh semua seniman yang ada di kerajaannya untuk membuat tontonan yang menarik.
Namun, ternyata itu semua memang tidak mudah. Meskipun sudah berhasil mengumpulkan kuda kembar, tontonan yang menarik dan binatang berkepala dua belum didapatnya.
Singabarong mulai merasa gelisah dan khawatir, jangan-jangan sang lawan sudah bisa menyelesaikan semuanya. Kemudian, dirinya memanggil patih kepercayaannya yang bernama Iderkala.
Selang beberapa hari kemudian, Iderkala kembali ke kerajaannya dan melaporkan semua apa yang dilihatnya. Raja Kelana Swandana ternyata sudah berhasil mengumpulkan kuda kembar beserta tontonan yang begitu menarik.
Mendengar hal tersebut, Singabarong kebakaran jenggot. Ia tentu saja tidak ingin dikalahkan. Kemudian, ia pun menyusun rencana untuk merebut semua pencapaian sang lawan. Disuruhnya sang patihnya untuk menyiapkan prajurit-prajurit yang tangguh untuk menyerang Bandarangin dan merebut semuanya.
Tanpa sepengetahuan Singabarong, ternyata Kelana Swandana sudah mengetahui niat buruk sang lawan. Hal itu diketahuinya setelah mengirim mata-mata karena memiliki firasat yang kurang baik.
Raja yang tampan tersebut tentu saja marah ketika mendengar kalau Raja Lodaya akan menyerang prajuritnya dan merebut usahanya untuk memenangkan sayembara. Ia pun memutuskan untuk menyerang kerajaan lawan terlebih dahulu.
Setelah memilih prajurit-prajurit yang cakap, ia kemudian memimpin perlawanan untuk menyerang Kerajaan Lodaya. Peperangan pun tak terhindarkan.
__ADS_1
Sementara itu, Singabarong tidak tahu kalau kerajaannya sedang diserang. Ia sedang berada di tamansari dan menyuruh si burung merak untuk mematuki kepalanya yang gatal. Kalau di sana, tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya.
Ketenangannya pun terusik ketika mendengar ada suara ribut-ribut dari luar. Ia terbangun dengan burung merak masih bertengger di kepalanya. Sekilas, hal tersebut terlihat seperti ada dua kepala, yaitu singa dan merak.
Sang raja yang lengah merasa terkejut sekali ketika melihat lawannya, Raja Kelana Swandana, sudah ada dihadapannya. Pertarungan sengit antara dua raja yang hebat ini pun tak terhindarkan.
Keduanya saling mengeluarkan jurus untuk mengalahkan satu sama lain. Hingga pada akhirnya, Raja Bandarangin mengeluarkan ilmunya dan membuat kepala sang lawan menyatu dengan burung meraknya.
Masih tidak mau mengalah, Singabarong mengeluarkan keris saktinya lalu menyerang. Dengan sigap, Kelana Swandana pun mengambil cambuknya yang bernama Pecut Samandiman dan mengayunkannya ke arah laki-laki berkepala singa tersebut.
Hal ini membuatnya terlempar jauh dan menggelepar hebat. Setelah itu, tubuh Singabarong menjadi lemas dan kemudian berubah menjadi seekor binatang aneh, yaitu singa berkepala merak.
Meskipun sempat kabur, Kelana Swandana dapat menangkap kembali hewan jelmaan Singabarong tersebut. Ia pun kemudian menggunakan hewan itu untuk menggenapi syarat sayembara Dewi Sanggalangit. Berita ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Sementara itu di Kerajaan Kediri, sang raja sedang merasa gundah. Ia bertanya kembali pada anak perempuannya apakah ia benar-benar bisa menerima Raja Kelana Swandana untuk menjadi suaminya.
Dengan bijak, Dewi Sanggalangit menjawab, “Jika hal itu sudah jodoh hamba akan menerimanya. Siapa tahu kehadiran hamba disisinya akan merubah kebiasaan buruknya itu.”
Beberapa hari kemudian, Raja Kelana Swandana beserta rombongannya menuju ke Kediri. Ia datang dengan diiringi seratus empat puluh kuda kembar, iring-iringan gamelan, gendang, terompet yang riuh, serta seekor binatang berkepala dua.
Kedatangan rombongan tersebut disambut baik oleh Raja Kediri. Karena melengkapi semua persyaratan, pinangannya pun diterima.
Dewi Sanggalangit kemudian menikah dengan Raja Kelana Swandana. Nah, semua persyaratan yang diajukan pada waktu sayembara kemudian digunakan sebagai iring-iringan pengantin. Di kemudian hari, itulah yang disebut dengan Reog Ponorogo.
__ADS_1