Cerita Rakyat Dan Dongeng

Cerita Rakyat Dan Dongeng
Telaga Bidadari


__ADS_3


Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan. Namanya Awang Sukma.


Awang Sukma mengembara ke tengah-tengah hutan. Dia kagum melihat beragam kehidupan di hutan.


Dia membangun rumah pohon di dahan pohon yang sangat besar. Dia tinggal di hutan dalam keharmonisan dan kedamaian.


Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan mendapat gelar “Datu” .


Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling wilayahnya, dan dia tiba di sebuah danau yang jernih.


Danau itu berada di bawah pohon rindang dengan banyak buah. Burung-burung dan serangga hidup bahagia disana.


“Hmm, betapa indahnya danau ini! Hutan ini memiliki keindahan luar biasa,” ucap Datu Awang Sukma dalam hati.


Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma meniup serulingnya, ia mendengar suara ramai di danau.


Di sela-sela tumpukan batu yang pecah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah danau.


Awang Sukma sangat heran sekaligus terkejut ketika melihat 7 gadis cantik sedang bermain air.


“Mungkinkah mereka bidadari?” pikir Awang Sukma.


Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diawasi dan mengabaikan selendang mereka yang digunakan untuk alat terbang, berserakan di sekitar danau.


Salah satu selendang terletak di dekat Awang Sukma.


“Wah, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan salah satu selendang itu,” gumam Datu Awang Sukma.

__ADS_1


Setelah mengambil satu selendang yang dekat dengannya, Datu Awang Sukma segera berlari untuk bersembunyi kembali. Namun saat berlari tidak sengaja dia menginjak ranting kering.


“Krak”


Mendengar suara ranting kering patah, para gadis terkejut dan langsung mengambil selendang masing-masing.


Mereka dengan tergesa-gesa terbang pergi meninggalkan danau dengan menggunakan selendang ajaib mereka.


Namun ternyata ada seorang gadis yang tidak bisa menemukan selendangnya. Dia telah ditinggalkan oleh semua saudara perempuannya.


Dia sangat ketakutan dan sedih ditinggalkan seorang diri.


Saat itulah, Datu Awang Sukma keluar dari persembunyiannya.


Dia berpura-pura tidak sengaja lewat danau tersebut lalu menanyakan apa yang terjadi.


Putri bungsupun bercerita tentang apa yang dialaminya.


Awalnya Putri bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain, dan dia sudah mulai takut sendirian, maka tidak ada jalan lain selain menerima bantuan Awang Sukma.


Datu Awang Sukma mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Begitu pula dengan putri bungsu.


Dia senang berada di sekitar pemuda yang tampan dan gagah itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami-istri.


Setahun kemudian seorang bayi perempuan cantik lahir dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.


Namun, suatu hari seekor ayam hitam naik ke gudang dan menggaruk permukaan lumbung padi.


Saat Putri bungsu mencoba mengusir ayam hitam itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada tabung bambu yang terletak didalam lumbung padi.

__ADS_1


Ketika tabung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan bersorak.


“Ini selendang saya!” Puteri bungsu menangis. Selendang ajaib itu juga memeluknya.


Putri bungsu merasa kecewa dengan suami yang ternyata selama ini telah membohonginya. Namun disisi lain dia juga saat menyayangi suami dan anaknya.


Putri bungsu akhirnya memutuskan untuk kembali ke Kahyangan.


“Sekarang saatnya aku harus kembali !,” katanya pada dirinya sendiri.


Putri bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayi.


Datu Awang Sukma terpana melihat apa yang terjadi. Dia segera datang dan meminta maaf atas tindakan yang menyembunyikan selendang Putri Bungsu secara diam-diam.


Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dihindari.


“Kanda, tolong jaga dinda Kumalasari dengan baik,” kata putri bungsu kepada Datu Awang Sukma.


“Ketika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam keranjang yang digoyang-goyang. Saya pasti akan segera datang menemuinya,” kata putri bungsu.


Putri bungsu yang telah mengenakan selendangnya, kemudian terbang ke Kahyangan.


Datu Awang Sukma sedih dan bersumpah untuk melarang keturunannya beternak anak ayam hitam yang dianggapnya membawa bencana.


Tempat mandi putri bungsu dan enam bidadari lainnya kemudian dikenal dengan telaga Bidadari.


************************


"𝑷𝒆𝒔𝒂𝒏 𝒎𝒐𝒓𝒂𝒍 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑫𝒐𝒏𝒈𝒆𝒏𝒈 𝑳𝒆𝒈𝒆𝒏𝒅𝒂 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒓𝒖𝒕 𝒉𝒖𝒌𝒖𝒎. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒖𝒓𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 / 𝒑𝒓𝒐𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒓𝒖𝒌."

__ADS_1


************************


__ADS_2